|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
27 Juli 2006
The Da Vinci Code, Mestikah Membuat Kita Resah? Pdt. Purboyo W. Susilaradeya |
|
|
Di tengah hingar-bingar berbagai tanggapan atas buku dan
film “The Da Vinci Code” (DVC) dalam berbagai bentuk dan
format, tulisan kecil ini tidak hendak menawarkan sesuatu
yang lain atau baru apalagi melengkapi yang sudah ada.
Bahkan, GKI Sinode Wilayah Jawa Barat sudah menerbitkan
buku yang amat baik tentang ini: “The Da Vinci Code -
Sebuah Telaah Kritis dan Sikap Teologis”.
Sebaliknya, – karena berada di tengah belantara bisa
menyebabkan orang kehilangan arah, – tulisan ini hendak
memilah isyu-isyu utama yang menjadi atau dijadikan
persoalan dalam karya Dan Brown itu, serta membicarakannya
secara sederhana. Selain itu motivasi yang sama kuatnya
dengan yang pertama itu adalah niatan kita bersama, jemaat
Tuhan, khususnya GKI Pondok Indah, untuk dapat menentukan
sikap yang dewasa terhadapnya. |
|
|
|
Mengapa DVC begitu menghebohkan |
Pertama-tama, tidak pelak lagi Dan Brown adalah seorang
penulis handal dalam berbagai segi. Pemilihan tema, plot,
narasi dan artikulasinya patut diacungi jempol.
Dibandingkan tiga novelnya yang lain DVC memang lebih
mencuat dari segi teknik penulisan. Namun yang lebih
menjadikan DVC, terutama bukunya, amat laku (sampai minggu
terakhir April 2006: telah terjual 40 juta buah dalam 44
bahasa, dan sejak akhir Maret 2006 edisi paperback telah
terjual 6 juta buah), adalah pemilihan temanya, yang pada
satu sisi (berusaha) mengguncangkan apa yang selama ini
diyakini bahkan diimani umat kristiani, dan yang pada sisi
lain menggugat ketidakadilan jender yang dilakukan oleh
gereja (Katolik) terhadap kaum perempuan.
DVC lalu mendapatkan perhatian yang amat luas dari
berbagai pihak. Berbagai tanggapan dikemukakan terutama
oleh pihak umat kristiani yang hendak “meluruskan
kebenaran”, baik dari gereja Katolik (Dan Brown sempat
dikutuk bahkan difatwa mati oleh umat Katolik di India),
maupun dari gereja Protestan, baik dari kubu injili/fundamental,
maupun kubu moderat/arus utama. Sayangnya berbagai
tanggapan itu tidak hanya saling tumpang-tindih, tetapi
saling tidak sepakat bahkan ada yang sempat saling
menyalahkan/menyerang. Dan tentunya dari pihak “mereka
yang berseberangan dengan kekristenan” kehadiran DVC
disambut baik karena dianggap mendukung agenda mereka.
Namun dari pihak intelektual yang sama sekali tidak hendak
membela gereja atau umat kristiani, kritik atas akurasi
historis DVC juga marak. Akibatnya justru DVC baik buku
maupun kemudian filmnya kian laku keras. Selain secara
finansial hal ini amat menguntungkan bagi Dan Brown,
pesannya melalui DVC kian mempengaruhi orang. |
|
|
|
Asumsi-asumsi utama yang melandasi alur cerita DVC
|
DVC dibangun dengan plot yang apik dan lumayan menegangkan,
sehingga cukup mengasyikkan untuk membacanya. Menurut
hemat saya filmnya tidaklah sebaik bukunya. Namun ia
mempunyai kekuatan juga karena terkadang visualisasi dan
permainan kamera yang baik bisa berbicara lebih banyak
ketimbang kata-kata. Yang menjadi persoalan umat kristiani
(baca: kita) adalah berbagai asumsi yang melandasi alur
cerita DVC. Beberapa asumsi, – atau menurut Dan Brown
“fakta historis”, – yang utama dalam DVC adalah sebagai
berikut:
- Ada sebuah organisasi rahasia yang bernama “Biarawan
Sion” (The Priory of Sion) yang anggotanya meliputi
orang-orang prominen seperti Sir Isaac Newton, Victor
Hugo, dan tentunya Leonardo Da Vinci. Organisasi ini
didirikan untuk menjaga sebuah rahasia besar, yaitu “Cawan
Suci” (the Holy Grail).
- Cawan itu ternyata bukan sekadar “Cawan Perjamuan”
menurut legenda dari Raja Arthur, tetapi “keturunan dari
Yesus” (bahkan dalam DVC disebutkan bila dalam legenda
cawan suci itu berisi darah Yesus yang tertumpah di kayu
salib, maka dalam pengertian kiasan cawan itu ialah ‘rahim
wanita’ dalam hal ini Maria Magdalena, yang berisi darah =
keturunan Yesus). Karena sebenarnya menurut DVC Yesus
menikah dengan Maria Magdalena dan mempunyai keturunan.
Bahkan Marialah yang pada prinsipnya diserahi untuk
memimpin gereja sepeninggal-Nya.
Bukti-bukti tentang ini termaktub dalam injil-injil yang
pernah dilenyapkan oleh gereja, tetapi yang syukur
sekarang masih ada yang tersisa, yaitu antara lain injil
Filipus, injil Yudas, injil Maria Magdalena. Injil-injil
ini lebih otentik dan lebih tua daripada injil-injil yang
ada dalam Alkitab sekarang ini.
- Rahasia ini harus dijaga dengan ketat (melalui berbagai
cara unik yang melibatkan banyak simbol dan kode) karena
para anggota Biarawan Sion dikejar-kejar oleh pihak gereja
(Katolik) yang hendak melenyapkan segala bukti bahwa Yesus
mempunyai keturunan. Juga berbagai bukti tentang Maria
Magdalena, seorang wanita, yang seharusnya memimpin gereja.
- Usaha pelenyapan bukti-bukti itu sudah terjadi sejak
zaman kaisar Konstantin yang mengadakan sidang
gereja-gereja pada abad 4 (konsili Nicea tahun 325). Dalam
sidang itu, –atas pengaruh dan desakan Konstantin, –
diputuskan untuk membakar injil-injil dan semua tulisan
dalam Alkitab waktu itu yang memuat kisah dan bukti bahwa
Yesus adalah manusia biasa (termasuk perkawinannya dengan
Maria Magdalena). Dan sebagai gantinya, – dengan
Konstantin sebagai sponsor,–ditulislah Alkitab secara baru,
yang menekankan bahwa Yesus adalah Tuhan.
- Biarawan Sion ternyata berhasil menyembunyikan rahasia
mereka, khususnya keturunan langsung dari perkawinan Yesus
dengan Maria Magdalena. Oleh karena itu usaha gereja (Katolik)
untuk melenyapkan rahasia itu (bukti bahwa Yesus manusia
dan mempunyai keturunan) tetap dilakukan. Baik itu dalam
bentuk tekanan dan ketidakadilan jender terhadap kaum
perempuan, maupun melalui sebuah organisasi gereja (Katolik)
yang juga rahasia, yaitu “Opus Dei”. Organisasi ini
bersedia menempuh jalan dan memakai cara apapun demi
melenyapkan rahasia, bahkan bila perlu melakukan
pembunuhan-pembunuhan. Tentang ini Dan Brown memakai
ilustrasi masa inkwisisi, ketika gereja melakukan
perburuan terhadap mereka (khususnya perempuan) yang
dianggap tersesat (memraktikkan sihir/guna-guna).
- Maka sebenarnya kekristenan adalah sebuah kebohongan
besar. Terutama Yesus yang manusia itu “dijadikan” Tuhan
atas rekayasa manusia/gereja dengan bantuan Konstantin.
Selain itu juga soal Maria Magdalena, yang sebenarnya
istri Yesus, pemimpin gereja yang sejati, direduksi gereja
menjadi perempuan biasa, bahkan dengan stigma negatif.
Sehingga hingga saat ini gereja tetap melanjutkan tindakan
pemasungan hak-hak dan keutamaan perempuan. DVC bermaksud
untuk menyingkapkan kebohongan itu dan menemukan kebenaran.
|
|
Fakta-fakta historiskah asumsi-asumsi dalam DVC itu? |
Bahwa asumsi-asumsi di atas meresahkan banyak orang
tidaklah perlu diherankan. Apalagi bagi mereka yang tidak
mengenal keterangan mengenai isyu-isyu itu dalam sejarah.
Dan yang juga turut membuat resah atau bingung, adalah
klaim Dan Brown bahwa “Biarawan Sion”, “Opus Dei” serta
berbagai deskripsi tentang benda-benda seni, arsitektur,
dokumen dan ritus misteri dalam DVC adalah fakta yang
akurat.
Itu belum semua. Dalam pengantar bukunya Dan Brown
mengucapkan terima kasih kepada banyak pihak yang telah
membantunya dalam riset untuk penulisan DVC. Ini jelas
memberi kesan bahwa DVC dibangun di atas fakta-fakta
historis. Benarkah demikian? Mari kita simak
keterangan-keterangan atau fakta-fakta di bawah ini:
- “Biarawan Sion” memang ada. Tetapi tidak seperti yang
digambarkan Dan Brown. Ia ada dalam 3 periode yang
berbeda-beda. Pada mulanya ia adalah sebuah “tatanan
monastik” (biarawan) yang didirikan di Yerusalem pada
tahun 1100, yang kemudian dihisabkan ke dalam ordo Jesuit
pada tahun 1617.
Dalam periode kedua dan ketiga “Biarawan Sion” didirikan
dan dipimpin oleh seorang Perancis anti-Yahudi yang
bernama Pierre Plantard. Tahun 1953 ia dipenjarakan karena
tuduhan penipuan. Tahun 1954 ia mendirikan “Biarawan Sion”
untuk menolong mereka yang tidak mempunyai tempat tinggal
dengan memberikan tempat tumpangan sederhana (shelter).
Tahun 1957 kelompok ini bubar.
Tetapi pada tahun 1960 dan 1970-an Plantard menciptakan
rangkaian dokumen yang disusun untuk membuktikan bahwa
“ada” garis keturunan dari Yesus dan Maria melalui
raja-raja Perancis ke dirinya sebagai ahli waris yang sah.
Ia menyebut diri dan teman-temannya sebagai “Biarawan Sion”
dan meletakkan dokumen-dokumennya di berbagai perpustakaan
di Perancis, termasuk Perpustakaan Nasional.
Pada tahun 1973 Plantard mengakui di bawah sumpah di
hadapan hakim bahwa semua dokumen yang berkaitan dengan
“Biarawan Sion” itu adalah rekaannya sendiri. Ia tidak
dihukum, namun mendapatkan peringatan yang keras. Karena
ia dianggap sebagai orang yang aneh namun tidak berbahaya
(untuk kejelasannya lihat www.priory-of-sion.com).
Mungkin inilah sumber inspirasi Dan Brown tentang garis
keturunan Yesus yang berada di Perancis. Fakta di atas ini
justru diputarbalikkan atau “dimanfaatkan” olehnya untuk
memperkuat argumennya sendiri. Dokumen-dokumen yang diakui
Plantard hasil karangannya sendiri digunakan dan
diperlakukan Dan Brown sebagai dokumen otentik dan sebagai
sumber utamanya.
- “Cawan Suci” adalah sebuah legenda abad pertengahan
tentang cawan (piala) yang digunakan dalam Perjamuan
Terakhir. Istilah itu pertama kali muncul dalam Perceval (tahun
1170), sebuah tulisan mengenai legenda (tidak ada bukti
historis) Raja Arthur dan kerajaan Camelot. Sama sekali
tidak ada hubungannya dengan Maria Magdalena, apalagi
dengan Yesus.
- Lalu bagaimanakah hubungan Yesus dengan Maria
Magdalena? Mungkin sebaiknya kita mulai dahulu dengan
pertanyaan apakah Yesus menikah.
Di dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam injil-injil
tidak pernah dikisahkan bahwa Yesus menikah. Tetapi bahwa
Yesus tidak menikah juga tidak secara eksplisit dinyatakan.
Yang ada hanyalah “bukti tidak langsung” yang darinya bisa
ditarik kesimpulan bahwa Yesus tidak menikah, karena Ia
tidak disebutkan sebagai “yang mempunyai istri” (1
Korintus 9:5).
Dokumen Kristen mula-mula yang lain juga sama sekali tidak
menyinggung bahwa Yesus (pernah) beristri. Bila keluarga
Tuhan disebutkan, maka biasanya yang dimaksud adalah ibu
atau saudara-saudara-Nya.
Sedangkan Maria Magdalena menurut injil-injil adalah:
- wanita yang disembuhkan dari roh jahat atau berbagai
penyakit (Lukas 8:2-3)
- salah seorang perempuan yang mengikuti dan melayani
Yesus (Markus 15:40; Matius 27:55-56)
- salah seorang perempuan yang menyaksikan penyaliban
Yesus (antara lain Lukas 23:49)
- salah seorang perempuan yang menyaksikan penguburan
Yesus (Matius 27:57-61; Markus 15:42-47)
- saksi pertama kebangkitan Yesus (Markus 16:1-8; Matius
28:1-10; Lukas 24:1-12; Yohanes 20:1-18)
Bahwa Maria Magdalena adalah seorang pelacur adalah
tafsiran yang kurang tepat. “Wanita berdosa” yang
mengurapi Yesus dalam Lukas 7:37 tidak disebutkan namanya.
Namun secara mudah dan agak otomatis (warisan tafsiran
sejak abad 3) ia diasosiasikan dengan Maria Magdalena.
Betapapun tidak ada petunjuk bahwa Yesus lebih dekat
padanya ketimbang dengan murid yang lain, seperti misalnya
kedekatan-Nya dengan Yohanes, sehingga disebut sebagai
murid yang paling dikasihi-Nya. Sebaliknya hal itu diklaim
DVC dengan landasan tulisan dalam injil-injil Gnostik (khususnya
injil Filipus dan injil Maria Magdalena).
Maka persoalannya adalah manakah yang harus lebih
dipercaya? Injil-injil dalam Alkitab kita, atau
injil-injil yang tidak masuk dalam kanon Alkitab?
- Benarkah Konstantin mengumpulkan gereja-gereja khusus
untuk mengesahkan doktrin bahwa Yesus adalah bukan manusia
biasa melainkan Tuhan, sebagaimana klaim DVC?
Konsili Nicea di tahun 325 diselenggarakan karena
persoalan yang bermula pada Arius, seorang penatua, yang
menolak keyakinan bahwa Yesus benar-benar Tuhan.
Menurutnya Yesus bisa saja kadang-kadang manusiawi dan ada
saat-saat di mana Yesus ilahi. Pandangannya ini ditolak
dalam konsili Nicea karena kesaksian tentang Yesus sebagai
Tuhan-manusia justru adalah yang lazim dalam
tulisan-tulisan Bapa Gereja (Yustinus Martir, Clemen dari
Aleksandria) yang bersumber pada tulisan-tulisan Kristen
yang kemudian menjadi bagian dari Perjanjian Baru (Yohanes
20:28; Yohanes 6:69; Filipi 2:5-11; Kolose 2:9 dan lainnya).
Namun persoalan itu tidak selesai di Nicea. Ia berlanjut
pada konsili-konsili lainya hingga Konsili Chalcedon tahun
451.
DVC mengklaim pula bahwa dalam konsili Nicea semua dokumen
termasuk injil-injil Gnostik yang memuat kemanusiaan Yesus
diputuskan untuk dimusnahkan.
Sejauh ini tidak pernah ada bukti historis bahwa
Konstantin memerintahkannya. Yang dimusnahkan adalah
tulisan-tulisan pengikut Arius yang menyesatkan.
Kitab-kitab Perjanjian Baru sudah diakui sebagai pegangan
orang Kristen (baca: gereja) secara bertahap jauh sebelum
masa Konstantin (Marcion tahun 140, Ireneus akhir abad 2,
Origenes tahun 254).
Dan sesudahnya mulai tersusun daftar yang kian mendekati
apa yang kita miliki sekarang (Eusebius tahun 337,
Athanasius tahun 367). Ini khususnya untuk membedakan mana
yang “benar” dan mana yang Gnostik dan tulisan-tulisan
lain dari abad 2 dan 3. Namun secara resmi seluruh kitab
dalam Alkitab seperti yang kita miliki sekarang disahkan
dalam Sinode di Kartago tahun 397, 72 tahun setelah
Konsili Nicea.
Kiranya jelas bahwa tulisan-tulisan Gnostik tidak lebih
tua ketimbang tulisan-tulisan dalam Perjanjian Baru. Dan
tulisan-tulisan itu tidak masuk kanon Perjanjian baru
karena tidak memenuhi kriteria:
- ditulis oleh rasul atau orang yang dekat dengan rasul
- diterima dan dipakai dalam kebaktian-kebaktian.
Dan pada akhirnya yang paling menentukan adalah apakah
dalam terang kriteria di atas, tulisan-tulisan itu
memberitakan “kabar baik” dalam diri Yesus serta dalam
hidup dan karya-Nya.
- “Opus Dei” yang digambarkan DVC sebagai organisasi yang
bertekad dengan cara apapun untuk memusnahkan bukti
kemanusiaan Yesus, yaitu “Cawan Suci”, keturunan Yesus,
ternyata amat berbeda dengan kenyataannya.
“Opus Dei” yang berarti “pekerjaan Allah”, adalah sebuah
organisasi awam gereja (Katolik) didirikan oleh Josemaria
Escriva di tahun 1928. Tujuan organisasi ini adalah
pemberdayaan kaum awam (non-klerus). Karakeristiknya
adalah (memang) penyangkalan diri dan perbuatan baik yang
dicirikan oleh kesediaan berkorban.
Organisasi ini diterima dan diakui gereja sejak tahun
1950. Pendirinya telah disahkan sebagai santo. Majalah
Times telah membahas organisasi ini dengan panjang lebar,
termasuk mewawancarai beberapa anggotanya. Seperti biasa
ada anggota yang kerasan dan menganggap semuanya baik,
tetapi ada juga yang keluar karena merasa tidak cocok.
Namun tidak ada sama sekali indikasi bahwa “Opus Dei”
adalah organisasi seperti yang dilukiskan oleh DVC. |
|
Bagaimanakah seharusnya kita menyikapi DVC? |
Betapapun hebatnya tekad DVC untuk menyingkapkan
“kebenaran” tentang iman Kristen yang menurut klaim Dan
Brown didasarkan pada suatu kebohongan besar, upaya itu
sendiri tidak lebih daripada rentetan berbagai kebohongan.
Oleh karena itu menurut hemat saya ada 2 hal yang perlu
kita perhatikan dalam upaya menyikapi DVC:
- Bagaimanapun dan apapun klaim dari penulisnya, DVC
adalah sebuah karya fiksi yang di dalamnya sang penulis
menggunakan haknya sepenuhnya untuk berpendapat apapun.
Oleh karena itu menurut hemat saya kita, yang membaca buku
dan/atau menyaksikan filmnya, harus memperlakukannya
sebagai fiksi. Tidak kurang dan tidak lebih.
Sangat arif apa yang dikatakan oleh Romo Franz
Magnis-Suseno SJ dalam majalah Tempo edisi 22-28 Mei 2006,
halaman 46: “Saya sendiri jelas mau menonton The Da Vinci
Code. Bukan hanya supaya dapat menjawab kalau orang tanya,
melainkan karena saya mengantisipasi nikmatnya menonton
thriller itu. Saya kira umat saya juga sudah keluar dari
masa puber (atau dari masa badak: begitu ada sesuatu yang
membuat marah, tanduk turun, buntut naik, mata kecil tapi
tajam mengambil fokus, lalu tanpa terganggu oleh pikiran,
menyerang lurus ke depan). Mereka bisa menikmati film yang
bagus, sambil sedikit misuh-misuh (sehat bagi jiwa, lho!)...”
- Orang percaya apalagi gereja, tidak perlu goyah atau
runtuh imannya gara-gara seorang Dan Brown, atau siapapun
di masa depan yang bicaranya amat meyakinkan. Bukankah
kita seharusnya adalah orang-orang yang: “...bukan lagi
anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin
pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan
mereka yang menyesatkan?.” (Efesus 4:14)
Atau meminjam bahasa Ati, Meilita, Samuel, Karina, Merry,
Maryoko dan kawan-kawan lain remaja/pemuda: “Pokoknya gua
percaya sama Tuhan Yesus seperti yang tertulis dalam
Alkitab ... DVC...? So what gitu lho...!” |
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|