Kasut
10 Juni 2005
Sonax Sapora di Getsemani Hitam
Panitia Paska GKIPI 05
Baru-baru ini GKI Pondok Indah melakukan sebuah ibadah untuk ibadah Kamis Putih pada hari Kamis tanggal 24 Maret 2005 jam 19:00 sampai selesai, yang dinamakan: Getsemani Hitam. Sebuah ibadah yang jarang atau mungkin belum pernah dilakukan di GKI Pondok Indah, sebab sebuah ibadah yang seluruh liturginya dimusikkan yang berlatar-belakang Jazz. Dari Votum Salutatio (Salam) sampai dengan Benedictus (Berkat) maupun khotbah dilakukan dalam bentuk musik dan nyanyi. Yang mengatur liturgi ini adalah Pdt. Hosea Abdi Widhyadi. Dan yang melaksanakan liturgi ini adalah Pdt. H. Abdi Widhyadi sendiri bersama dengan Pdt. Tumpal Tobing dan terutama bersama grup musik yang bernama: Sonax Sapora.

Getsemani Hitam adalah sebuah ibadah yang mencoba untuk membawa jemaat hadir saat Tuhan Yesus bergumul antara mati dan hidup di taman Getsemani pada waktu malam. Tidak seorang pun yang mampu mengerti dan merasakan pergumulan-Nya itu, mengapa Yesus menjadi ketakutan dan meminta Bapa-Nya dengan ketidak-mustahilan Bapa-Nya menyingkirkan Cawan Maut itu, mengapa Yesus melakukan tawar-menawar dengan Bapa-Nya, supaya Cawan Maut itu tersingkirkan dari diri-Nya. Namun akhirnya Dia meminumnya juga. Untuk khotbah itu maka musikpun menggambarkannya dalam tiga bentuk sesuai tiga doa yang ucapkan Tuhan Yesus, yang pertama dalam bentuk musik etnis Jawa yang diaransir dalam harmoni modern untuk menggambarkan taman Getsemani yang sepi; yang kedua dalam bentuk musik slow mainstream ballad jazz, untuk menggambarkan kepahitan Cawan Maut itu, yang bagi Yesus mematikan tetapi bagi manusia menghidupkan; dan yang ketiga dalam bentuk musik latin samba yang menggebu-gebu, menggambarkan gemuruhnya perang di Getsemani itu.

Sonax Sapora yang berarti ‘Suara Yang Berbeda’ adalah sebuah band rohani yang didirikan pada tanggal 14 Oktober 1974, sesaat setelah Pdt Hosea Abdi Widhyadi diteguhkan sebagai pendeta untuk musik gerejawi. Pdt H. Abdi Widhyadi mendirikannya tim musik ini untuk musik eksperimen dalam tubuh GKI yang memang waktu itu adalah tabu, liturgi diiringi sebuah band lengkap. Kita memang tahu bahwa band lengkap biasanya dipakai dalam liturgi gereja-gereja yang beraliran pentakostal atau kharismatis. Namun pertimbangan yang dalam dari Pdt H. Abdi Widhyadi adalah: apakah tidak mungkin GKI yang modern ibadahnya diiringi dengan alat musik modern pula? Dan sejak itu dimulailah sebuah perjalanan panjang dari Sonax Sapora yang mencoba masuk dalam ibadah GKI dengan bentuk musik ibadah yang benar-benar memakai alat-alat band yang secara visual membuat banyak jemaat bingung, sebab alat tersebut pasti tidak mampu membuat orang bermeditasi, karena pasti hingar-bingar. Namun karena pencarian bentuk yang tidak pernah usai, Sonax Sapora harus bisa menjadi musik gereja yang mampu membuat orang bermeditasi dan berkontemplatif, yang diharapkan oleh jemaat GKI.

Selain menjadi musik pengiring ibadah, eksperimen yang lain dari Sonax Sapora adalah menjadi musik liturgi komplit, yaitu benar-benar melakukan ibadah dalam bentuk musik dan nyanyi. Ini berarti seluruh liturgi dimusikkan. Mulai dari Votum Salutatio (Salam), Introitus, Pujian, Pengakuan Dosa, Berita Anugerah, Petunjuk Hidup Baru, Khotbah, Credo, Benedictus (Berkat), seluruhnya dimusikkan dan dinyanyikan.

Terutama dalam berkhotbah, selain dinyanyikan oleh para vokalis, alat-alat musikpun harus mampu menterjemahkan khotbah yang disampaikan. Sebuah contoh: adalah sebuah lagu dari tema khotbah “Yesus”, yang berjudul: ‘Dia Bisa Marah’, yang menyatakan bahwa Yesus bisa marah, saat Bait Allah dijadikan tempat jual beli dan bank penukaran uang, Yesus membuat tali menjadi cemeti dan mengobrak-abrik seluruh dagangan di sana. Dimainkanlah sebuah musik yang benar-benar menunjukkan kemarahan Tuhan Yesus. Ada improvisasi drum yang menyatakan pengobrak-abrikan kemarahan Yesus. Namun semuanya dikompos dan diaransir dalam suatu musik yang tidak asal main, namun teratur rapi. Demikian juga ada sebuah lagu dari tema khotbah yang sama, yang berjudul: ‘Dia Bisa Menangis’ yang menggambarkan betapa hati Yesus itu lembut sekali, Dia bisa menangis dengan yang menangis (saat Dia melihat Maria saudara Martha menangis saat Lazarus mati, Yesuspun menangis), musiknya penuh dengan jeritan air mata.

Memang setiap pendeta punya penafsiran sendiri untuk menyatakan suatu kisah apa yang dilakukan Yesus dalam berkomunikasi dengan manusia, demikian juga Sonax Sapora mencoba sedekat mungkin apa yang coba digambarkan oleh Firman Tuhan. Perlu diketahui bahwa teologia Sonax Sapora adalah teologia GKI tulen, yang lebih bersifat oikumenikal dan sosial, nyanyian jemaat pun dipakailah KJ dan NKB.

Dari sejak didirikan Sonax Sapora, memang sudah banyak terjadi perubahan personalianya, namun masih ada yang dari tahun pendirian. Saat didirikannya banyak yang masih mahasiswa, tetapi sekarang sudah menjadi pengusaha dan pimpinan perusahaan, pengajar musik, bahkan ada yang menjadi rektor Universitas Kristen Petra. Seluruh musik dikompos dan diaransir oleh Abdi Widhyadi dan Paul Nugraha (Rektor Universitas Petra). Dan akhir-akhir ini juga bersama Jane Marsela (pianis).

Personal Sonax Sapora adalah: Pianis: Paul Nugraha, Jane Marsela dan Stevina; Gitar: Nyoto Yoseph dan Feni; Bass: Henoch Tjondrowiguno; Drum: Nono Soetedjo; Saxophone dan flute: Abdi Widhyadi; Vokal: Paulina Nainggolan Soetedjo, Anastasia Abdi Widhyadi Situmorang dan Tonny Gultom.
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003