Kasut
9 Juni 2005
Hari Doa Sedunia
Jetty Wibisono
Pada setiap tahun, di hari Jumat minggu pertama bulan Maret, bersama kaum perempuan di seluruh dunia, kita diingatkan tentang kebersamaan, keprihatinan dan kepedulian kepada saudara-saudara perempuan dari berbagai tempat dengan merayakan HARI DOA SEDUNIA (HDS).

Apa itu HDS?
HDS merupakan Gerakan Perempuan Kristiani yang berasal dari pelbagai latar belakang yang berbeda namun yang bersama-sama bersekutu dalam doa di satu hari pada bulan Maret setiap tahun .

170 negara di dunia ini ikut ambil bagian dalam HDS karena gerakan ini memberikan rasa kebersamaan. Kaum perempuan sedunia, meskipun berada di tempat yang berbeda-beda, tapi bersatu hati memperkokoh iman mereka kepada Yesus Kristus dan membagi harapan dan kebimbangan, kegembiaraan dan penderitaan, pengalaman dan kebutuhan mereka.

Pelayanan Ibadah
Setiap tahun perayaan HDS didasarkan pada satu tema khusus yang dibuat oleh kaum perempuan dari berbagai negara secara bergantian. Dengan demikian ketika kita sedang mempersiapkan ibadah dan berpartisipasi di dalamnya kita sekaligus juga dapat belajar tentang keadaan saudara-saudara perempuan dari berbagai negara. Melalui cara ini pengalaman kaum perempuan semakin diperkaya dan iman kristiani perempuan menjadi lebih dalam serta luas secara internasional yang merupakan salah satu pernyataan oikoumenis.

Tahun 2000 Indonesia mendapat kesempatan untuk membuat liturgi dengan tema “TALITA KUM” atau Bangkitlah Hai Wanita Muda yang didasari pada ayat Markus 5:41. Liturgi disusun oleh PGI. Pada perayaan HDS tahun itu seluruh dunia berdoa untuk pergumulan kaum perempuan muda di Indonesia.

Sejarah HDS
  • HDS diprakarsai oleh sekelompok perempuan awam gereja Presbiterian yang sangat prihatin melihat keadaan buruk yang dialami para imigran Afrika yang menjadi budak belian di Amerika Serikat. Pada tahun 1887, Mary Ellen James, Presiden dari Presbiterian Woman’s Executive Committee for Home Mission dengan beberapa perempuan dari negara tersebut berkumpul untuk mendoakan Pekabaran Injil di negara mereka. Tidak berapa lama kemudian kaum perempuan dari berbagai denominasi bergabung dengan perayaan yang disebut “Hari Doa Tahunan Bagi Rumah Missi”. Dengan bergulirnya waktu, mereka merasa bahwa mereka harus berdoa bukan saja bagi negerinya sendiri melainkan juga untuk pemberitaan Injil di seluruh dunia.

  • Tahun 1890 Gereja Baptis yang tadinya juga mempunyai HDS untuk Pekabaran Injil di luar negeri ikut bergabung dengan tujuan bersama memfokuskan pelayanan kepada keprihatinan terhadap dunia.

  • Tahun 1920 terbentuk Komite Nasional yang mengajak kaum perempuan gereja untuk datang bersama pada setiap hari Jumat pertama minggu sengsara Tuhan Yesus sebagai hari doa bagi pemanfaatan sumber penghasilan rakyat. Persembahan yang terkumpul disalurkan untuk misi di Amerika Serikat dan luar negeri.

  • Tahun 1941 koordinasi HDS menjadi penanggung jawab gerakan antar denominasi baru di Amerika Serikat.

  • Tahun 1967 dibentuk panitia yang terdiri dari perempuan-perempuan yang berasal dari wilayah/negara/benua yang berbeda. World Day of Prayer International Committee (WDPIC) bertugas menentukan tema dan negara penulis yang mempersiapkan bahan-bahan HDS. Indonesia pada saat itu diwakili oleh Pdt. M. Dharma Angkau yang kemudian terpilih menjadi wakil dari benua Asia di WDPIC.

  • Tahun 1969 World Union dari organisasi Wanita Katolik memutuskan untuk bergabung ke dalam WDPIC.

  • Pada Pertemuan Internasional HDS ke 9 di Cape Town, April 1999 hadir peserta dari 92 negara. Hal ini menunjukkan HDS makin meluas seiring dengan langkah kaum perempuan yang membawanya ke berbagai kehidupan di pelbagai penjuru dunia.

  • Sekarang HDS tidak hanya milik kaum perempuan. Materi HDS disiapkan untuk ibadah kaum dewasa maupun anak-anak Sekolah Minggu.

HDS di Indonesia
Awalnya diorganisir oleh sebuah komisi kecil di Malang, tapi sejak tahun 1957 Dewan Gereja-gereja Indonesia membentuk Panitia Pusat Hari Doa Sedunia yang bertugas menerjemahkan dan menyebarkan liturgi HDS ke seluruh Indonesia serta mengatur penggunaan persembahan hasil perayaan HDS.

Tahun 1984 tanggung jawab ini diserahkan kepada Biro Pelayanan Wanita PGI dan untuk anak-anak Sekolah Minggu tetap di bawah koordinasi Departemen Pembinaan & Pendidikan PGI dengan menggunakan jaringan Sekolah-sekolah Minggu.

HDS 2005
Tahun ini GKI Pondok Indah telah merayakannya pada tanggal 18 Maret yang lalu, tema berasal dari jemaat Polandia dengan judul “Hendaklah Terangmu Bercahaya”

Renungan dibawakan oleh Ibu Riani Josaphine dengan dasar Injil Matius 5:13-16 dan 6:22-23 (jadilah terang dan garam dunia). Pujian dipersembahkan oleh Paduan Suara Agape. Untuk kebaktian HDS kali ini dipergunakan roti dan garam yang di Polandia merupakan simbol keramah-tamahan dan persahabatan. Roti yang telah dibubuhi garam dibagikan ke jemaat dengan ucapan “Szczscesc Boze” = kiranya Allah memberkatimu. Lilin-lilin kecil dinyalakan pada waktu doa syafaat yang mengingatkan agar kita juga boleh bersinar bagi orang lain.

Sekitar 70 jemaat hadir dalam acara HDS ini dan sumbangan yang terkumpul sebanyak Rp. 1.766.000,- telah disalurkan ke Biro Perempuan PGI. Sumbangan akan dipergunakan untuk mendukung proyek kemanusiaan, perdamaian serta pemulihan bagi korban bencana alam maupun korban banjir tsunami. Inilah sekilas mengenai HDS. Semoga bermanfaat bagi para pembaca dan sampai bertemu dalam HDS 2006 dengan tema “Signs of the Times” yang akan disusun oleh negara Afrika Selatan.

Sumber: Liturgi HDS 2000 & HDS 2005, Biro Pelayanan Wanita PGI
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003