Kasut
27 Januari 2005
Pendeta, Harapanku Harapanmu
Pdt. Purboyo W. Susilaradeya
Dari Konven Pendeta/Calon Pendeta/Pendeta Emeritus GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah, 30 November - 2 Desember 2004 Grand Hotel Lembang - Bandung
Mengatur lebih dari seratus anak-anak sekolah Minggu atau katekisan, atau pegiat jemaat dalam sebuah ritret mungkin sulit, tetapi bukan tidak mungkin. Namun mengatur sekitar seratus duapuluh pendeta, calon pendeta dan pendeta emeritus dalam sebuah konven, adalah hampir tidak mungkin. Karena mereka ini adalah orang-orang yang biasa mengatur dan bukan diatur. Namun panitia penyelenggara yang tahun ini ditangani oleh jemaat-jemaat GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah Klasis Jakarta-1, telah melakukannya dengan sangat baik. Acungan jempol harus diberikan kepada mereka.

Tempat penyelenggaraan yaitu Lembang menjanjikan iklim yang sejuk dan ketenangan. Melihat pada berbagai kemudahan yang tersedia, hotel “Grand” di mana konven dilangsungkan dan para peserta menginap, adalah hotel yang pernah merupakan hotel kelas satu. Sayang saat ini keadaannya menimbulkan kesan tidak dirawat dan tidak pernah mengalami pembaruan. Namun hal itu sama sekali tidak mempengaruhi suasana guyub, menyenangkan, bahkan senda-gurau yang riuh di antara para “hamba Tuhan”. Apalagi tahun lalu (2003) konven seperti ini tidak terselenggara.

Memang konven diadakan setiap tahun oleh Badan Pekerja Majelis Sinode GKI SW Jateng sebagai wadah pertemuan dan persekutuan dari para pendeta, calon pendeta dan pendeta emeritus.

Konven adalah satu-satunya kesempatan untuk benar-benar saling berkenalan dan bertemu. Sebab biasanya kesempatan untuk bertemu yang ada hanyalah dalam persidangan-persidangan atau rapat-rapat kerja. Itupun tidak merata, karena tidak semua pendeta dan calon pendeta terlibat dalam pelayanan dalam lingkup klasis maupun sinode wilayah.

Dalam konven kali ini yang hadir dari GKI Pondok Indah adalah Pdt. Tumpal dan Pdt. Purboyo.

Acara konven berjalan dengan baik dan mengalir. Acara yang adalah kombinasi yang cukup baik antara ceramah-ceramah, diskusi yang santai dan ibadah, dengan acara persekutuan dan ekskursi ke museum, serta tentunya tidak lupa mengunjungi factory outlets di jalan Riau. Namun yang sangat menarik adalah tema atau pokok pembicaraan, yaitu “Pendeta: Harapanku Harapanmu”.

Permasalahan yang hendak diperhatikan melalui tema itu adalah pendeta yang selalu dilihat dari dua sisi yang tidak mudah disesuaikan. Pada satu sisi warga jemaat punya harapan-harapan tertentu tentang citra dan fungsionalitas seorang pendeta. Sebaliknya pada sisi satunya para pendeta mengembangkan persepsi sendiri tentang citra dan fungsionalitasnya dalam jemaat. Hal ini kelihatannya sederhana, tetapi dalam praktek tidak jarang menjadi penyebab konflik internal dalam jemaat, maupun dalam diri para pendeta sendiri.

Dalam salah satu sesi seorang penatua dan seorang pendeta, masing-masing memaparkan “harapan-harapannya” tentang citra dan fungsionalitas pendeta. Sang penatua mulai dengan menyampaikan harapannya yang pada dasarnya adalah daftar panjang dari berbagai don’ts (hal-hal yang tidak boleh atau sebaiknya tidak dilakukan) untuk pendeta. Dari mulai gaya hidup yang sebaiknya merakyat, –termasuk cara berpakaian,– hingga tempat-tempat umum yang seharusnya dipantangkan para pendeta, misalnya kafe, bar dan sejenisnya, bahkan gaya dan sikap dalam berbicara yang tidak boleh memberi kesan arogan dan tidak ramah. Cukup merah telinga para pendeta mendengarkan ini semua, walau dicoba untuk ditutup-tutupi dengan tawa dan senda-gurau.

Dan sesudah itu giliran sang pendeta mengutarakan harapannya. Tetapi ternyata yang disampaikannya bukan harapannya terhadap warga jemaat dalam rangka citra dan fungsionalitasnya, melainkan isyarat dari konflik dalam dirinya, akibat kekuatiran bahwa ia tidak akan mampu memenuhi harapan-harapan warga jemaat dari seorang pendeta.

Ia menyebut jabatan pendeta sebagai jabatan yang sarat dengan paradoks. Misalnya seorang pendeta adalah panutan, tetapi sekaligus manusia biasa. Atau juga menurutnya pendeta adalah orang yang peduli pada jemaat, tetapi sekaligus peduli pada diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Lalu dengan sangat hati-hati ia mengusulkan bahwa pendeta yang ideal menurutnya adalah pendeta yang bisa memainkan berbagai peran paradoksal yang disebutnya tadi, secara benar, bertanggungjawab dan seimbang (tidak menekankan yang satu dan mengabaikan yang yang lain).

Ketegangan ini (antara harapan warga jemaat dan harapan pendeta) adalah gambaran yang nyata dari apa yang kerap kali terjadi dalam relasi seorang pendeta dengan jemaatnya, di manapun termasuk di lingkungan GKI. Sesi ini memang tidak memberi jalan ke luar, tetapi hendak menggarisbawahi permasalahan ini. Syukur ada sesi-sesi lain yang memotivasikan para pendeta untuk merenungkan citra dan fungsionalitasnya.

Sebelum sesi harapan-harapan tadi, para pendeta dihadapkan pada sebuah kasus seorang pendeta yang kena “siasat” (penggembalaan khusus) oleh Majelis Jemaatnya. Di sini para pendeta dihadapmukakan pada citra dirinya, serta keharusan untuk menentukan sikap dan peran yang sebaiknya dipilihnya dalam relasi dengan Majelis jemaat maupun dengan para warga jemaatnya sendiri.

Sesudah sesi harapan-harapan tadi, dua orang dosen dari Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, masing-masing membawakan makalah yang bagus. Bagus bukan hanya karena mutu teologisnya, tetapi bagus karena memberi masukan kepada para pendeta untuk lebih jauh mengeksplorasi diri dan introspeksi dalam rangka pelayanan mereka.

Yang pertama adalah makalah dalam terang “etika profesi” berjudul “Pendeta dan Profesionalisme” yang dibawakan oleh Pdt. DR. Yahya Wijaya. Menurut beliau pendeta adalah seorang yang harus profesional dalam konotasi utuh, bukan semata-mata karena “dibayar” atau sebagai pekerjaan tetap. Profesionalisme yang dimaksud adalah profesionalisme yang utuh, yang bisa secara dewasa dan bertanggungjawab bisa mempertanggungjawabkan profesinya. Untuk itu ada tiga aspek yang harus terus-menerus dievaluasi, yaitu pengetahuan dan keahlian, kemandirian, dan motivasi/panggilan.

Makalah kedua dibawakan oleh Pdt. DR. E. Gerrit Singgih berjudul sama dengan tema konven: “Pendeta: Harapanku dan Harapanmu.” Makalah ini adalah refleksi atas pengalaman pribadi beliau sebagai pendeta yang senantiasa berada dalam ketegangan antara harapan warga jemaat dengan harapannya sendiri. Jalan ke luar yang ditawarkannya adalah ketimbang mencari pembenaran harapan siapa yang lebih benar, adalah belajar dari Alkitab. Khususnya dari tokoh Yesus dan Paulus, dalam kepelayanan mereka masing-masing. Di samping itu para pendeta diharapkan untuk senantiasa mengevaluasi fungsionalitas diri secara kritis. Untuk itu beliau agak mengontraskan peran pendeta sebagai “pemimpin” (dengan perhatian pada how the right things are done) dan yang sering diharapkan warga jemaat yaitu sebagai “manajer” (dengan perhatian pada doing things the right way).

Saya tidak terlalu sependapat dengan Pak Gerrit, dan agak condong kepada Pak Yahya. Namun menurut hemat saya berbagai harapan baik dari warga jemaat maupun dari pendeta itu, seharusnya diletakkan di bawah acuan kritis yang mendasar. Yaitu persepsi Alkitabiah tentang tugas panggilan gereja (eklesiologi), tugas dan panggilan pendeta di situ (teologi jabatan), dalam rangka segenap proses dan dinamika gereja dalam usaha mewujudkan tugas panggilan itu (pembangunan jemaat). (pws)

 

>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003