|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
26 Januari 2005
Bad Habits: Menyampaikan Persembahan dengan Baik & Benar S. Soekamto |
|
|
Jika kita
perhatikan, banyak di antara anggota jemaat gereja kita
ini menyampaikan persembahan seolah-olah hanya merupakan
suatu rutinitas dalam rangkaian ibadah, sehingga dalam
menyampaikan pun kadang-kadang dilakukan dengan sembrono.
Artinya, banyak di antara uang persembahan tersebut yang
di-untel-untel sehingga uang persembahan tersebut
menjadi kucel. Bahkan ada pula di antara kita yang
menyampaikan
persembahan tersebut tanpa dipersiapkan terlebih dahulu,
sehingga akhirnya terbawa pula bungkus permen atau strook
belanja di supermarket atau department store.
Mestinya kita harus menyadari, bahwa kita menyampaikan
persembahan tersebut adalah untuk Tuhan bagi pelayanan
serta pekerjaan Tuhan di dunia ini yang pengelolaannya
dilakukan oleh majelis jemaat. Karena persembahan ini
untuk Tuhan, maka selayaknya jika kita juga menyampaikan
persembahan tersebut dengan baik dan benar. Artinya kita
sudah harus menyiapkan terlebih dahulu di rumah sebelum
kita berangkat menuju gereja atau tempat ibadah. Kita
pilih pecahan uang, berapapun nilai nominalnya, yang akan
dipersembahkan yang masih dalam keadaan baik dan bukan
yang kumal.
Dapat juga persembahan tersebut dilipat dengan baik atau
jika mungkin dimasukkan ke dalam amplop atau dibungkus (jangan
dengan kertas tissue) dengan kertas yang bersih.
Jika persembahan tersebut dimaksudkan untuk persembahan
khusus, seperti perpuluhan, persembahan syukur atau
lainnya, kini majelis jemaat sudah menyiapkan
amplop-amplop persembahan tersebut di setiap bangku dan
jemaat tinggal mengisinya dengan menuliskan nama serta
maksud persembahan tersebut dan kemudian dapat dimasukkan
ke dalam kantong persembahan atau kotak-kotak yang
tersedia di setiap pintu masuk.
Kita mestinya juga harus ingat akan firman Tuhan yang
tercantum di dalam Roma 12:1, yang berbunyi: Karena itu,
saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan
kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai
persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan
kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Jadi
dengan jelas di situ ditegaskan bahwa ibadah yang sejati
adalah dengan mempersembahkan tubuh kita sebagai suatu
persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan
kepada Allah. Oleh karena itu, sudah selayaknyalah bagi
kita semua untuk dapat menyampaikan persembahan itu secara
layak dan baik serta benar. Karena Tuhan sendiri
sebenarnya menuntut agar kita mempersembahkan tubuh kita
sebagai suatu persembahan yang hidup untuk melayani Tuhan
dan sesama.
Kita hendaknya juga ingat bahwa kita datang ke gereja
adalah untuk beribadah dan berbakti kepada Tuhan, sehingga
dengan demikian apa yang kita perbuat dan lakukan di
gereja, termasuk memberikan persembahan, hendaknya kita
lakukan dan kerjakan dengan sebaik mungkin pula. Selain
itu, hendaknya kita juga datang ke gereja sebelum ibadah
dimulai sehingga tidak akan mengganggu kekhusukan jalannya
ibadah yang sudah dimulai. Selamat beribadah dan berbakti.
Tuhan memberkati! (skt) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|