|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
8 Januari 2005
Tingkat Penularan Hiv/Aids Sudah Mengkhawatirkan S Soekamto |
|
|
|
Indonesia telah kehilangan peluang untuk menangkal
percepatan penularan HIV. Saat ini bersama sejumlah negara
di Asia, Indonesia tergolong sebagai negara dengan
epidemik terkonsentrasi. Tingkat penularan HIV/AIDS pada
sub-populasi tertentu mengalami pertumbuhan yang sangat
cepat. Peningkatan drastis terjadi pada para pengguna
narkotika, psiktropika dan zat adiktif suntik. Karenanya,
pelbagai upaya serius untuk menekan laju penularan
HIV/AIDS mendesak untuk segera dilakukan. |
Dalam suatu
jumpa pers di Jakarta pada akhir bulan Nopember lalu
menjelang peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tgl
1 Desember 2004, Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter
Indonesia (IDI) Prof. Dr. dr. F.A. Moeloek mengemukakan
bahwa dampak perluasan epidemi HIV/AIDS telah dirasakan
oleh keluarga-keluarga di Indonesia.
Departemen Kesehatan memperkirakan terdapat sekitar 95.000
sampai 130.000 orang yang tertular HIV. Angka tersebut
adalah angka yang terdata, di luar itu mungkin ada semacam
gunung es, hinggga sebenarnya jumlah riilnya akan menjadi
lebih besar lagi.
Survei terhadap para pelajar SMU yang dilakukan pada th
2002 lalu di Jakarta menunjukkan bahwa banyak remaja
tertular HIV lewat penggunaan narkotika, psikotropika, dan
zat adiktif (napza) melalui suntikan. Sebagian dari mereka
mendekam di lembaga pemasyarakatan, sebagian lagi sedang
berjuang untuk menghentikan kecanduan dan kebiasaan mereka
mengkonsumsi narkoba di panti-panti rehabilitasi,
sementara sebagian lainnya masih terus menggunakan alat
suntik bersama pecandu lainnya.
Dari survei tersebut juga diketahui bahwa sekitar 30
persen pelajar SMU pernah menggunakan napza jenis apa saja.
Dalam hal ini pemerintah, guru, para tokoh agama dan
keluarga mempunyai peran yang besar untuk membantu
mendidik para remaja kita agar tidak coba-coba
mengkonsumsi napza, sebab pada gilirannya ada kemungkinan
di antara mereka ini akan dapat tertular HIV melalui
cara-cara penggunaan jarum suntik secara bersama.
Kondisi semacam ini sungguh sangat memprihatinkan dan
menyedihkan, karena para remaja tersebut sebenarnya
merupakan calon-calon pemimpin bangsa di masa depan.
|
|
Bagaimana sikap kita ? |
Kita sungguh sangat bersyukur, bahwa di lingkungan kita,
yaitu GKI Pondok Indah, kita sudah mempunyai Tim Peduli
AIDS dan Narkoba (TPAN). TPAN ini, dengan bekerjasama
dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) telah melakukan
berbagai penyuluhan di lingkungan Sekolah Kristen Tirta
Marta dan juga ceramah-ceramah dan diskusi di berbagai
gereja di seputar Jakarta.
Seperti diketahui, bahwa di kalangan gereja, saya kira
baru gereja kita saja yang memiliki Tim seperti ini. Oleh
karenanya, merupakan suatu hal yang sangat mendesak bila
Tim ini juga harus diisi dengan darah segar agar dapat
lebih berkiprah lebih luas lagi dengan cara menjalin
kerjasama dengan organisasi-organisasi sejenis di luar
gereja. Darah segar yang dimaksud di atas adalah tenaga
atau personil baru sebagai pengurus TPAN. Kita harus dapat
menunjukkan kepedulian kita melihat situasi penyebaran dan
penularan HIV/AIDS yang terjadi di negeri kita yang sudah
sangat memprihatinkan tersebut. Untuk itu, TPAN harus
dapat menunjukkan greget-nya.
Tim yang kita miliki kiranya juga dapat lebih meningkatkan
perannya, bukan saja hanya melakukan penyuluhan, tetapi
juga pendampingan bagi para OHDA (orang-orang yang hidup
dengan AIDS). Untuk itu tentu saja diperlukan
relawan-relawan yang tangguh dengan bimbingan dari mereka
yang bergerak di bidang ini. Untuk dapat melakukan
semuanya itu, Tim ini juga harus dapat memperoleh dukungan
dana, baik dari Majelis maupun dari jemaat yang tergerak
dan peduli terhadap situasi ini.
Seperti yang dikemukakan oleh Pnt. Samuel A. Oka ketika
membuka pembekalan bagi para aktivis di Pondok Remaja PGI
Cipayung beberapa waktu yang lalu, bahwa Tim ini hendaknya
dapat menjadi unggulan pula di Mabid Oikmas selain GOTA.
Pnt. Oka juga mengharapkan agar Tim ini juga dapat
menyediakan tenaga-tenaga relawan untuk melakukan
pendampingan bagi OHDA.
Tentu kita menyambut baik apa yang dikemukakan oleh Pnt.
Oka tersebut. Lalu, selanjutnya langkah apa yang akan kita
lakukan? Marilah kita pikirkan bersama mengenai langkah
apa yang akan kita ambil bersama-sama dengan TPAN yang
kita miliki ini.
(skt) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|