|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
10 Desember 2004
Penatua, Orang yang Dituakan Andar Ismail |
|
|
Seorang murid katekese diuji lisan tentang pengetahuannya
mengenai jabatan pelayanan dalam gereja.
Terjadilah tanya jawab sebagai berikut:
Penguji : "Coba sebutkan apa tugas pendeta".
Murid : "Berkhotbah dan mengunjungi orang sakit".
Penguji : "Bagus. Sebutkan tugas diaken atau syamas".
Murid : "Mengumpulkan persembahan dan membantu orang miskin".
Penguji : "Bagus sekali. Sekarang sebutkan apa tugas
penatua atau tua-tua".
Murid : "Duduk di bangku paling depan dalam kebaktian tiap
minggu".
Cerita itu hanya sebuah karikatur, namun ada juga
kebenaran di dalamnya, yaitu bahwa ada – mungkin termasuk
para penatua juga – yang mengira bahwa fungsi penatua
cukup sekadar duduk di bangku depan dalam tiap kebaktian.
Sebenarnya sejak awalnya, yaitu di gereja abad pertama,
jabatan penatua sudah bermuatan fungsi yang berat. Salah
satu sebutannya adalah presbuteros dari kata presbutes
yang berarti orang yang tua atau orang yang lebih tua.
Rupanya sejak awalnya dari seorang penatua diharapkan
sikap seorang sesepuh, yaitu orang yang dituakan atau yang
dipandang tua karena sifat-sifatnya yang bijak.
Di Kisah Para Rasul dan beberapa epistle yang
menggambarkan kehidupan gereja abad pertama tampak tiga
tugas utama para penatua;
- Tugas pertama adalah memelihara atau menggembalakan jemaat.
Kepada para penatua di jemaat Efesus, Paulus berkata, “…
jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan
Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat
Allah…” (Kis. 20:28). Kata penilik di ayat ini adalah
terjemahan dari episkopous yang kata kerjanya berarti
mempedulikan, mengindahkan atau memelihara sama seperti
orang memelihara tanaman.
- Tugas kedua adalah memimpin atau mengatur jemaat. Di Titus
1:7 digunakan istilah pengatur rumah Allah. Kata Yunaninya,
yaitu oikonomon berarti pengelola atau pelaksana usaha.
Para penatua berfungsi mengelola jemaat supaya jemaat
menjadi hidup dan berkembang, tertib dan teratur.
- Tugas ketiga adalah menjaga kemurnian ajaran gereja. Di
Kisah Para Rasul 20:29-31 Paulus mengingatkan kemungkinan
adanya orang, baik dari dalam maupun dari luar, yang
“berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar”.
Dalam rangka pelayanan mengajar ini agaknya di gereja abad
pertama kemudian diadakan pembagian tugas presbiter
menjadi presbiter-pengatur (ruling leders) dan presbiter
pengajar (teaching elders). Perhatikan sebutan “mereka
yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar” di 1
Timotius 5:17. Dari jabatan penatua pengajar ini kemudian
berkembang jabatan yang kini kita sebut pendeta.
Bertanya tanggung jawab seorang penatua menyebabkan
beratnya pula kualifikasi yang diharapkan dari seorang
penatua. Di 1 Timotius 3 ada daftar yang rinci tentang
perilaku yang dijadikan syarat bagi penatua, yaitu: “…tak
bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri,
bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar
orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah,
pendamai, bukan hamba uang, seorang kepala keluarga yang
baik…, janganlah ia seorang yang baru bertobat… mempunyai
nama baik di luar jemaat…” (ay. 2-7).
Daftar ini dapat membuat hati kita kecil. Siapa yang mampu
memenuhi segala persyaratan itu? Dalam prakteknya, mungkin
tidak ada orang yang mampu memenuhi semua persyaratan itu.
Namun itu bukan berarti bahwa segala persyaratan itu boleh
kita abaikan. Persyaratan itu dicantumkan di situ untuk
mengingatkan kita bahwa jabatan penatua sebagai penatua
dituntut perilaku yang bisa dijadikan teladan bagi orang
lain.
Persyaratan yang diajukan untuk para pelayan gerejawi
bukan dimaksud supaya kita menyerah dan berkata, “Saya
tidak layak”. Jabatan gerejawi adalah sebuah anugerah
Tuhan kepada gereja yang diberikan atas dasar kemurahan
hati-Nya. Dalam buku Penatua-Jabatan dan Pekerjaannya
Abineno menulis bahwa jabatan gerejawi “tidak berdasar
atas kebaikan atau prestasi dari mereka yang memangkunya”.
Ibarat sebuah alat mungkin kita merasa tidak memenuhi
kualifikasi, tetapi jika Tuhan mau memakai kita sebagai
alat-Nya, maka kita bisa menjadi alat yang berguna di
dalam tangan-Nya.
Beratnya tanggung jawab pelayanan gerejawi juga tidak
boleh menjadikan kita berkata, “Saya tidak sanggup.”
Mungkin saja tidak semua tugas itu bisa kita laksanakan,
melainkan hanya sebagian saja. Pelayanan kepada Tuhan
tidak diukur dari banyaknya yang kita perbuat, melainkan
dari kesungguhan dan kesetiaan kita melakukan pelayanan
itu. Calvin berkata, “Yang penting bukanlah apa yang kita
kerjakan dengan kekuatan kita, melainkan apa yang
dikerjakan oleh Allah melalui kita.”
Jabatan penatua adalah pelayanan yang berat tanggung jawab
dan tuntutannya. Di gereja Korea penatua disebut Yang-No-Nim.
Yang berarti panjang, wibawa, bijak, terpelajar atau
pemimpin. No berarti matang atau tua. Penatua adalah
seorang yang panjang pikiran, panjang wibawa, panjang
sabar, panjang akal, berjiwa pemimpin yang bijak, matang
dalam kepribadiannya, pokoknya berperilaku seperti seorang
yang patut dituakan. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|