Kasut
30 Oktober 2004
Kerjasama Kemitraan GKI PI & GKJ Waringinsari
Buahkan Hasil Yang Menggembirakan

GKI Pondok Indah dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Waringinsari di Banjar, Jawa Barat sejak tahun lalu telah menjalin kerjasama kemitraan yang bertujuan untuk memberdayakan jemaat dan masyarakat di sekitar GKJ Waringinsari. Upaya pemberdayaan itu terutama sekali dimaksudkan untuk meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat, dengan fokus untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Belum lama ini, tepatnya pada tgl 20 s/d 22 Agustus lalu, bersamaan dengan tugas pelayanan Pdt. Tumpal Tobing ke GKI Tasikmalaya, tiga orang anggota majelis ikut mendampinginya serta menyempatkan diri untuk meninjau perkembangan pelaksanaan program kemitraan tersebut di Waringinsari. Ketiga anggota majelis tersebut adalah Pnt. Albert Napitupulu, Pnt. Charles Joesrimerst dan Pnt. Soehartono Soekamto, sementara itu Ira Tobing juga turut mendampingi Pdt. Tumpal Tobing dalam pelayanan ini.

Rombongan berangkat dari GKI Pondok Indah pada Jumat pagi, 20 Agustus, dan setelah menempuh perjalanan selama sekitar delapan jam kami tiba di Waringinsari, yang terletak sekitar 6 km ke arah tenggara kota Banjar, sekitar pukul 15:00. Rombongan disambut dengan penuh keakraban oleh Pdt. Hartono Jati, majelis serta jemaat GKJ Waringinsari.

Setelah beristirahat sejenak, Pdt. Hartono Jati menyampaikan pengantar mengenai perkembangan yang telah dicapai dari jalinan kerjasama kemitraan antara GKI Pondok Indah dan GKJ Waringinsari. Mengutip keterangan dari Ketua Tim Pengembangan Ekonomi Jemaat (Tim PEJ) GKJ Waringinsari Bpk Sarno, Pdt. Jati menjelaskan bahwa bantuan dana yang diterima dari GKI Pondok Indah dalam rangka kerjasama kemitraan itu telah disalurkan kepada warga jemaat dan anggota masyarakat dengan dibelikan kambing untuk dipelihara dengan sistem gaduh.

Menggembirakan

Berdasarkan sistem gaduh ini, setiap penerima bantuan/pinjaman kambing wajib untuk menyerahkan separoh dari anak kambing yang dilahirkan kepada Tim PEJ (gereja). Biasanya seekor kambing betina melahirkan dua ekor anak sekali beranak dan kambing biasanya beranak dua kali dalam setahun. Namun untuk menjaga mutu, maka biasanya juga ada upaya untuk menunda kelahiran.

Dari jumlah dana bantuan sebesar Rp 21 juta, sebanyak Rp 14.050.000,- telah dibelikan sebanyak 28 ekor kambing, yang dibagikan kepada sebanyak 18 keluarga.

Bpk. Sarno dalam penjelasannya menyebutkan bahwa dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, jumlah kambing yang dipelihara warga telah berkembang menjadi 48 ekor. “Ini berarti ada penambahan sebanyak 20 ekor. Perkembangan ini tentu sangat menggembirakan bagi kami, karena dari situ kami sudah dapat ‘menghitung’ berapa keuntungan yang akan kami peroleh,” kata Pak Sarno. Jika ini dapat terus berkembang, maka niscaya kami akan dapat lebih meningkatkan kehidupan kami.

Sekarang ini harga kambing atau domba dengan ukuran sedang adalah sekitar Rp 600.000,- per ekor. Adapun jenis kambing yang dipelihara para warga di sini adalah dari jenis Ottawa dan domba.

Sementara itu, sisa dana yang ada, yaitu sekitar Rp 7 juta, digunakan untuk ‘menyewa’ lahan pertanian (sawah) yang juga digarap oleh warga jemaat/masyarakat dan hasilnya dibagi dua, separoh untuk penggarap dan separoh lagi untuk Tim PEJ (gereja). Harga sewa lahan pertanian tersebut adalah sebesar Rp 5 juta untuk 1400 meter persegi (satu ubin) dan sekali panen dapat menghasilkan sekitar 200 kg gabah kering.

Karena masih banyaknya peminat untuk memelihara kambing maupun untuk menyewa lahan pertanian, maka Pdt. Jati juga mengungkapkan harapannya agar kiranya GKI Pondok Indah dapat meningkatkan bantuannya kepada warga jemaat GKJ Waringinsari. “Yang dapat menarik manfaat dari bantuan ini bukan hanya jemaat, tetapi juga warga masyarakat yang ada di sekitar gereja kami. Ini merupakan suatu wujud kepedulian kami kepada warga yang ada di sekitar kami,” katanya menambahkan.

Dalam menanggapi harapan Pdt. Jati tersebut, baik Pdt. Tumpal Tobing, maupun Pnt. Albert Napitupulu dan Pnt. Charles Joesrimerst meminta agar GKJ Waringinsari mengajukan suatu proposal baru untuk dapat dibahas di tingkat majelis di GKI Pondok Indah.

Pada Sabtu siang, rombongan diajak untuk melihat dari dekat kambing-kambing yang dipelihara oleh warga maupun lahan pertanian yang digarap oleh warga jemaat setempat. Selain memelihara kambing dan bertani, warga jemaat serta masyarakat di sekitar GKJ Waringinsari juga menjalankan industri rumahan berupa pembuatan gula merah (jawa) dan tikar pandan.

Seusai makan siang, rombongan melanjutkan perjalanan ke Tasikmalaya, di mana Pdt. Tumpal Tobing pada hari Minggu, 22 Agustus melakukan pelayanan di GKI Tasikmalaya. (skt)

 

>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003