Kasut
30 Agustus 2004
Quo Vadis Democratio in Indonesia
Yonatan Wijayanto
Tulisan ini pada dasarnya merupakan hasil refleksi atas diskusi yang penulis lakukan dengan salah seorang teman yang bernama Bonnie Andreas yang sekarang sedang menjalani praktek bantuan pelayanan di GKI Ciledug Raya. Semoga sumbangsih kami ini dapat bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi para pembaca.
Bagaimana Pemikiran Manusia?

Perjalanan reformasi yang diawali oleh mahasiswa dan cendikiawan telah berjalan dalam kurun waktu 5 tahun dan memang terasa membawa angin segar pada perubahan yang tak kasat mata. Jejak-jejak kedewasaan pemikiran rakyat banyak pada istilah klasik yang aktual, “demokrasi”, secara smooth and calmly bergulir begitu rupa dengan cara yang mantap. Perubahan pola dan cara pemilihan umum di negeri pertiwi ini merupakan salah satu bukti yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Perguliran ini sangat terasa di masyarakat dalam dua putaran pemilihan yang telah lalu. Secara konkrit masyarakat sudah tidak mau lagi dikadali dengan rayuan makanan gratis, kaos partai, uang kampanye dan berbagai iming-iming yang ditaburkan oleh kompetitor dalam pemilihan. Mungkin mereka menerima, ya tapi hanya sebagai tambahan penghasilan atau keuntungan pribadi sesaat saja, dengan semangat opportunisitas, dan bukan merupakan jaminan ikut memenangkan salah satu kompetitor yang bertarung.

Semangat ini, penulis rasa, merupakan pola imitating terhadap pola oppotunis-opportunis yang duduk di wilayah elite – entah elite politik atau elite ekonomi. Rakyat banyak telah meniru gejala hanya ambil untung dari mereka yang menjadi publik figur (walau tidak semuanya).

Fenomena menarik dalam perjalanan bangsa ini menunjukkan betapa rakyat ingin maju dalam berpikir. Meskipun terjadi gejala peniruan semangat para opportunis, rakyat banyak tetap meng-agendakan kerinduan besar terhadap perubahan besar republik dengan tetap berpikir akan masa depan bangsanya, baik ekonomi dan atau dimensi kebangsaan yang lain.

Mereka tetap melakukan kegiatan berpikir dan memilih-milih terhadap kompetitor yang ada dalam periode-periode pemilihan. Asumsi dan pengharapan besar mereka pertaruhkan dalam pilihan mereka guna mendapatkan pemimpin yang berorientasi pada rakyat dan yang menghasilkan perubahan yang signifikan.

Mbak Mega and her crew telah berupaya keras meletakkan dasar yang kokoh bagi kesuksesan jangka panjang dan berjuang gigih membawa kesejahteraan jangka pendek. Tetapi rakyat banyak pun berceloteh karena keinginan mereka jangka pendek dirasa tidak terwadahi. Mereka memandang tidak hanya jangka panjang tetapi as soon as possible kemakmuran secara makro harus tercapai.

Mungkin Pak SBY telah memikirkan shorter atau the shortest ways untuk mewujudkan kemakmuran jangka pendek tanpa membuang peletakan dasar kemakmuran jangka panjang. Dan pertarungan wacana yang penulis yakin, akan diwujudkan dalam pelaksanaan pemerintahan kelak, membawa rakyat meng-kalkulasi-kan pilihan mereka pada putaran kedua pemilihan presiden kelak.

Inilah perjudian sekaligus perjuangan terbesar bagi rakyat untuk memilih. Mbak Mega tinggal mewujudkan lebih banyak kemakmuran besar dalam jangka pendek, sedang Pak SBY harus menata jangka panjang dan pendek. Tergantung mana yang lebih meyakinkan rakyat pada kampanye mendatang, yang tentunya jangan hanya obral janji.

Sangat tidak bijaksana bila para elite di belakang dua tokoh kharismatis ini memakai cara-cara lama untuk mencapai kemenangan dan membawa keuntungan pribadi semata. Penulis tidak berapriori, tetapi hanya sekadar melihat kenyataan dualisme manusia bahwa jika ada yang berorientasi pada rakyat tentu ada yang berorientasi pada diri sendiri.

Tujuan penulis adalah memancing koalisi partai yang ada tidak hanya koalisi sipil atau militer, tidak hanya koalisi agamis atau sekuler, koalisi platform partai yang sama dan berbagai landasan pada kesamaan tertentu saja. Koalisi yang terbangun, menurut penulis, adalah baik karena memacu produktifitas dari 2 kubu ini – dalam ranah kompetisi sehat tentunya. Tetapi koalisi yang dibangun janganlah menjadi kereta kencana dari para elite yang telah kalah pada putaran sebelumnya untuk tetap mendapat kursi empuk dari si pemenang kelak.

Bila ada di antara pembaca yang terjun langsung dalam percaturan politik dalam posisi apapun, penulis mengajak untuk berpikir bukan demi kepentingan pribadi atau kelompok dengan skala yang lebih kecil daripada kelompok besar BANGSA INDONESIA.

Pecatur politik adalah pihak kuat yang membawa aspirasi rakyat untuk kemajuan bersama. Tentu pecatur ini harus menopang pihak lemah yang berkepentingan, yaitu rakyat banyak guna meraih sebesar-besar kemakmuran pada rakyat. Mengutip pesan Alkitab, “yang kuat hendaklah menopang yang lemah”, dapat memberikan kekuatan pada Anda hai pecatur politik untuk menguatkan posisi rakyat dalam berbagai dimensi kehidupannya, bukan untuk menguatkan Anda yang telah menjadi orang kuat.

Mengutip kembali pesan tersebut, penulis juga mengharapkan betapa harus jelinya rakyat banyak, termasuk di dalamnya umat Kristiani, untuk menilai elite mana dan kompetitor mana yang membawa pesan kemakmuran umat manusia seluas-luasnya. Pilihlah juga mereka yang mau mengabdikan diri menjadi pemimpin yang sejati. Ingatlah bahwa cara untuk menjadi yang utama (baca: pemimpin) adalah dengan cara menjadi yang terakhir (baca: kemauan menjadi pelayan).

Menjadi pelayan bukanlah pelayan kepada diri sendiri atau kelompok tertentu tetapi pelayan bagi masyarakat luas, yaitu BANGSA INDONESIA.

Tidak usah menjadi kuatir akan kemenangan pihak yang menguntungkan diri sendiri. Masyarakat INDONESIA bukan masyarakat yang bodoh yang gampang dibodohi, tetapi mereka adalah masyarakat berpikir secara dinamis dan memiliki kemampuan menentukan pilihan yang baik.

Hal ini terbukti dengan masuknya Mega dalam putaran kedua meski banyak pihak menentang posisi perempuan sebagai pemimpin. Masuknya SBY juga menunjukkan bukan jaminan militer tidak bisa mendapatkan kesempatan bersaing dengan sipil meski banyak pihak menentang militerisme (baca: oknum militer) masuk dalam kancah Indonesia Satu.

Pada pemilu mendatang, penulis pikir, bukan hasil yang akan dinilai, tetapi proses dimana demokrasi berjalan maju, yaitu proses hilangnya kepentingan personal atau kepentingan golongan tertentu, yang diarahkan pada kepentingan bersama (baca: INDONESIA).

Sama halnya dengan Yesus Kristus yang mau datang untuk menyelamatkan “SELURUH UMAT MANUSIA”, kita pun, gereja secara organisatoris maupun persekutuan, sebagai anggota masyarakat, harus mampu mewujudkan kemakmuran bersama. Berpikirlah bukan untuk gereja semata tetapi untuk bangsa ini. Saya yakin doa syafaat yang biasa dinaikkan untuk bangsa dan negara bukan doa yang egois dimana kemakmuran hanya untuk orang Kristen. Melainkan doa yang penuh kasih bagi perbaikan bangsa secara menyeluruh tanpa terkecuali.

Masih ada banyak waktu untuk menimbang-nimbang pilihan kita. Jelilah dan be smart karena di tangan rakyatlah demokrasi dapat berjalan dengan baik dalam proses yang baik dan benar. Elite politik hanya bisa memberikan wacana tetapi perubahan ada di tangan kita. Quo Vadis Democratio in Indonesia?

Bagaimana Kehendak Tuhan?

Ya, benar jika dikatakan kajian di atas adalah kajian yang didasarkan pada kalkulasi manusia. Sekarang bagaimana kita dapat mengenal kehendak Tuhan dalam pilihan kita.

Kita mengerti dengan pasti bahwa kehendak Tuhan adalah kehendak yang terbaik bagi manusia. Tetapi selain mengerti kita pun perlu memahami Tuhan pasti akan menunjukkan kehendak-Nya pada kita. Setelah berpikir dengan jeli (hal ini adalah wajib dilakukan, bukan dengan sembarangan memilih), doakan pilihan Anda dan pilihlah. Nanti kalau salah bagaimana? Jangan takut Saudara. Radical Action pasti akan ada. Apa itu Radical Action?

Seorang tokoh Etika Kristen, Niebuhr, dengan teorinya tentang Responsible Self, menelorkan pemahaman etika, yang oleh penulis dipandang sebagai pemahaman imannya juga tentang “Tuhan yang akan merespon”.

Misalkan bila seseorang mencuri, Tuhan pasti akan meresponnya dengan menunjukkan bahwa perbuatannya itu salah melalui teguran orang, penangkapan oleh polisi atau teguran pendeta dan umat Kristen. Begitu juga dengan kita, asalkan kita telah menggumulkannya dengan baik, kita akan mendapatkan respon yang tidak dapat dipastikan waktunya.

Pemahaman kita akan hal ini akan menuntun kita pada pemahaman bahwa kemenangan salah satu kompetitor dan suara yang ada kelak merupakan bagian dari rencana Tuhan.

Jangan takut memilih karena apapun yang kita pilih kelak merupakan bukti dari Maha Dinamisnya kehendak Allah pada perubahan negeri ini.

Jangan takut untuk memilih karena Allah apapun juga yang kita pilih ada dalam rencana-Nya dan Allah akan menunjukkan kehendak-Nya pada kita.

Apapun yang terjadi di dunia ini, pada saatnya nanti, Allah akan menunjukkan kehendak-Nya dan memberi yang terbaik pada bangsa ini.

Dengan menggabungkan uraian pertama tadi dan kedua ini, kita tetap harus berjalan bersama Allah melakukan dengan menetapkan pilihan pada kompetitor yang memiliki nilai kasih seluas-luasnya pada rakyat banyak. Bila kita telah menetapkan pilihan dengan kriteria ini, penulis mengatakan tidak perlu takut untuk memilih.

Marilah kita lanjutkan perjuangan kita untuk menjadikan BANGSA INDONESIA tercinta ini menjadi bangsa yang benar-benar demokratis, dengan tetap berpegang teguh pada pengharapan kita akan karya TUHAN Allah kita atas bangsa ini. Dan marilah kita pahami bahwa inilah kehendak Allah atas bangsa ini.

Perjalanan masih panjang, perjuangan harus tetap berlangsung dan pengharapan akan Karya Allah harus tetap ada pada kita. Pada akhirnya penulis mengucapkan selamat menggunakan hak pilih Saudara masing-masing pada Pemilihan Presiden putaran kedua pada bulan September yang akan datang.

***

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003