|
Perjalanan reformasi yang diawali oleh mahasiswa dan
cendikiawan telah berjalan dalam kurun waktu 5 tahun dan
memang terasa membawa angin segar pada perubahan yang tak
kasat mata. Jejak-jejak kedewasaan pemikiran rakyat banyak
pada istilah klasik yang aktual, “demokrasi”, secara
smooth and calmly bergulir begitu rupa dengan cara yang
mantap. Perubahan pola dan cara pemilihan umum di negeri
pertiwi ini merupakan salah satu bukti yang tidak bisa
dipandang sebelah mata.
Perguliran ini sangat terasa di masyarakat dalam dua
putaran pemilihan yang telah lalu. Secara konkrit
masyarakat sudah tidak mau lagi dikadali dengan rayuan
makanan gratis, kaos partai, uang kampanye dan berbagai
iming-iming yang ditaburkan oleh kompetitor dalam
pemilihan. Mungkin mereka menerima, ya tapi hanya sebagai
tambahan penghasilan atau keuntungan pribadi sesaat saja,
dengan semangat opportunisitas, dan bukan merupakan
jaminan ikut memenangkan salah satu kompetitor yang
bertarung.
Semangat ini, penulis rasa, merupakan pola imitating
terhadap pola oppotunis-opportunis yang duduk di wilayah
elite – entah elite politik atau elite ekonomi. Rakyat
banyak telah meniru gejala hanya ambil untung dari mereka
yang menjadi publik figur (walau tidak semuanya).
Fenomena menarik dalam perjalanan bangsa ini menunjukkan
betapa rakyat ingin maju dalam berpikir. Meskipun terjadi
gejala peniruan semangat para opportunis, rakyat banyak
tetap meng-agendakan kerinduan besar terhadap perubahan
besar republik dengan tetap berpikir akan masa depan
bangsanya, baik ekonomi dan atau dimensi kebangsaan yang
lain.
Mereka tetap melakukan kegiatan berpikir dan memilih-milih
terhadap kompetitor yang ada dalam periode-periode
pemilihan. Asumsi dan pengharapan besar mereka pertaruhkan
dalam pilihan mereka guna mendapatkan pemimpin yang
berorientasi pada rakyat dan yang menghasilkan perubahan
yang signifikan.
Mbak Mega and her crew telah berupaya keras meletakkan
dasar yang kokoh bagi kesuksesan jangka panjang dan
berjuang gigih membawa kesejahteraan jangka pendek. Tetapi
rakyat banyak pun berceloteh karena keinginan mereka
jangka pendek dirasa tidak terwadahi. Mereka memandang
tidak hanya jangka panjang tetapi as soon as possible
kemakmuran secara makro harus tercapai.
Mungkin Pak SBY telah memikirkan shorter atau the shortest
ways untuk mewujudkan kemakmuran jangka pendek tanpa
membuang peletakan dasar kemakmuran jangka panjang. Dan
pertarungan wacana yang penulis yakin, akan diwujudkan
dalam pelaksanaan pemerintahan kelak, membawa rakyat
meng-kalkulasi-kan pilihan mereka pada putaran kedua
pemilihan presiden kelak.
Inilah perjudian sekaligus perjuangan terbesar bagi rakyat
untuk memilih. Mbak Mega tinggal mewujudkan lebih banyak
kemakmuran besar dalam jangka pendek, sedang Pak SBY harus
menata jangka panjang dan pendek. Tergantung mana yang
lebih meyakinkan rakyat pada kampanye mendatang, yang
tentunya jangan hanya obral janji.
Sangat tidak bijaksana bila para elite di belakang dua
tokoh kharismatis ini memakai cara-cara lama untuk
mencapai kemenangan dan membawa keuntungan pribadi semata.
Penulis tidak berapriori, tetapi hanya sekadar melihat
kenyataan dualisme manusia bahwa jika ada yang
berorientasi pada rakyat tentu ada yang berorientasi pada
diri sendiri.
Tujuan penulis adalah memancing koalisi partai yang ada
tidak hanya koalisi sipil atau militer, tidak hanya
koalisi agamis atau sekuler, koalisi platform partai yang
sama dan berbagai landasan pada kesamaan tertentu saja.
Koalisi yang terbangun, menurut penulis, adalah baik
karena memacu produktifitas dari 2 kubu ini – dalam ranah
kompetisi sehat tentunya. Tetapi koalisi yang dibangun
janganlah menjadi kereta kencana dari para elite yang
telah kalah pada putaran sebelumnya untuk tetap mendapat
kursi empuk dari si pemenang kelak.
Bila ada di antara pembaca yang terjun langsung dalam
percaturan politik dalam posisi apapun, penulis mengajak
untuk berpikir bukan demi kepentingan pribadi atau
kelompok dengan skala yang lebih kecil daripada kelompok
besar BANGSA INDONESIA.
Pecatur politik adalah pihak kuat yang membawa aspirasi
rakyat untuk kemajuan bersama. Tentu pecatur ini harus
menopang pihak lemah yang berkepentingan, yaitu rakyat
banyak guna meraih sebesar-besar kemakmuran pada rakyat.
Mengutip pesan Alkitab, “yang kuat hendaklah menopang yang
lemah”, dapat memberikan kekuatan pada Anda hai pecatur
politik untuk menguatkan posisi rakyat dalam berbagai
dimensi kehidupannya, bukan untuk menguatkan Anda yang
telah menjadi orang kuat.
Mengutip kembali pesan tersebut, penulis juga mengharapkan
betapa harus jelinya rakyat banyak, termasuk di dalamnya
umat Kristiani, untuk menilai elite mana dan kompetitor
mana yang membawa pesan kemakmuran umat manusia
seluas-luasnya. Pilihlah juga mereka yang mau mengabdikan
diri menjadi pemimpin yang sejati. Ingatlah bahwa cara
untuk menjadi yang utama (baca: pemimpin) adalah dengan
cara menjadi yang terakhir (baca: kemauan menjadi pelayan).
Menjadi pelayan bukanlah pelayan kepada diri sendiri atau
kelompok tertentu tetapi pelayan bagi masyarakat luas,
yaitu BANGSA INDONESIA.
Tidak usah menjadi kuatir akan kemenangan pihak yang
menguntungkan diri sendiri. Masyarakat INDONESIA bukan
masyarakat yang bodoh yang gampang dibodohi, tetapi mereka
adalah masyarakat berpikir secara dinamis dan memiliki
kemampuan menentukan pilihan yang baik.
Hal ini terbukti dengan masuknya Mega dalam putaran kedua
meski banyak pihak menentang posisi perempuan sebagai
pemimpin. Masuknya SBY juga menunjukkan bukan jaminan
militer tidak bisa mendapatkan kesempatan bersaing dengan
sipil meski banyak pihak menentang militerisme (baca:
oknum militer) masuk dalam kancah Indonesia Satu.
Pada pemilu mendatang, penulis pikir, bukan hasil yang
akan dinilai, tetapi proses dimana demokrasi berjalan maju,
yaitu proses hilangnya kepentingan personal atau
kepentingan golongan tertentu, yang diarahkan pada
kepentingan bersama (baca: INDONESIA).
Sama halnya dengan Yesus Kristus yang mau datang untuk
menyelamatkan “SELURUH UMAT MANUSIA”, kita pun, gereja
secara organisatoris maupun persekutuan, sebagai anggota
masyarakat, harus mampu mewujudkan kemakmuran bersama.
Berpikirlah bukan untuk gereja semata tetapi untuk bangsa
ini. Saya yakin doa syafaat yang biasa dinaikkan untuk
bangsa dan negara bukan doa yang egois dimana kemakmuran
hanya untuk orang Kristen. Melainkan doa yang penuh kasih
bagi perbaikan bangsa secara menyeluruh tanpa terkecuali.
Masih ada banyak waktu untuk menimbang-nimbang pilihan
kita. Jelilah dan be smart karena di tangan rakyatlah
demokrasi dapat berjalan dengan baik dalam proses yang
baik dan benar. Elite politik hanya bisa memberikan wacana
tetapi perubahan ada di tangan kita. Quo Vadis Democratio
in Indonesia?
|
|
Ya, benar jika dikatakan kajian di atas adalah kajian yang
didasarkan pada kalkulasi manusia. Sekarang bagaimana kita
dapat mengenal kehendak Tuhan dalam pilihan kita.
Kita mengerti dengan pasti bahwa kehendak Tuhan adalah
kehendak yang terbaik bagi manusia. Tetapi selain mengerti
kita pun perlu memahami Tuhan pasti akan menunjukkan
kehendak-Nya pada kita. Setelah berpikir dengan jeli (hal
ini adalah wajib dilakukan, bukan dengan sembarangan
memilih), doakan pilihan Anda dan pilihlah. Nanti kalau
salah bagaimana? Jangan takut Saudara. Radical Action
pasti akan ada. Apa itu Radical Action?
Seorang tokoh Etika Kristen, Niebuhr, dengan teorinya
tentang Responsible Self, menelorkan pemahaman etika, yang
oleh penulis dipandang sebagai pemahaman imannya juga
tentang “Tuhan yang akan merespon”.
Misalkan bila seseorang mencuri, Tuhan pasti akan
meresponnya dengan menunjukkan bahwa perbuatannya itu
salah melalui teguran orang, penangkapan oleh polisi atau
teguran pendeta dan umat Kristen. Begitu juga dengan kita,
asalkan kita telah menggumulkannya dengan baik, kita akan
mendapatkan respon yang tidak dapat dipastikan waktunya.
Pemahaman kita akan hal ini akan menuntun kita pada
pemahaman bahwa kemenangan salah satu kompetitor dan suara
yang ada kelak merupakan bagian dari rencana Tuhan.
Jangan takut memilih karena apapun yang kita pilih kelak
merupakan bukti dari Maha Dinamisnya kehendak Allah pada
perubahan negeri ini.
Jangan takut untuk memilih karena Allah apapun juga yang
kita pilih ada dalam rencana-Nya dan Allah akan
menunjukkan kehendak-Nya pada kita.
Apapun yang terjadi di dunia ini, pada saatnya nanti,
Allah akan menunjukkan kehendak-Nya dan memberi yang
terbaik pada bangsa ini.
Dengan menggabungkan uraian pertama tadi dan kedua ini,
kita tetap harus berjalan bersama Allah melakukan dengan
menetapkan pilihan pada kompetitor yang memiliki nilai
kasih seluas-luasnya pada rakyat banyak. Bila kita telah
menetapkan pilihan dengan kriteria ini, penulis mengatakan
tidak perlu takut untuk memilih.
Marilah kita lanjutkan perjuangan kita untuk menjadikan
BANGSA INDONESIA tercinta ini menjadi bangsa yang
benar-benar demokratis, dengan tetap berpegang teguh pada
pengharapan kita akan karya TUHAN Allah kita atas bangsa
ini. Dan marilah kita pahami bahwa inilah kehendak Allah
atas bangsa ini.
Perjalanan masih panjang, perjuangan harus tetap
berlangsung dan pengharapan akan Karya Allah harus tetap
ada pada kita. Pada akhirnya penulis mengucapkan selamat
menggunakan hak pilih Saudara masing-masing pada Pemilihan
Presiden putaran kedua pada bulan September yang akan
datang.
*** |