|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
29 Agustus 2004
Prinsip Protestan yang Memerdekakan
Refleksi Menyambut Ulang Tahun Indonesia Joas Adiprasetya |
|
|
|
Prinsip Protestan |
Apa yang membuat sebuah gereja protestan disebut protestan?
Atau, pertanyaan ini bisa dirumuskan secara berbeda begini:
Apa yang membedakan protestantisme dari aliran-aliran
Kristen lainnya?
Jika pertanyaan ini hendak dijawab secara historis, kita
bisa memperoleh jawaban klasik yang selalu mengacu ke
perjuangan para reformator berabad-abad silam. Sebuah
gereja disebut protestan karena mengajukan protes atas
penjualan surat pengampunan dosa oleh gereja Roma Katolik.
Dengan kata lain, protestantisme adalah sebuah
protest-theism, teisme (iman pada Allah) yang terwujud
dalam sikap memprotes. Pasti ada pula yang menjawab bahwa
protestantisme berarti pro-testamentum, pro-Alkitab,
gerakan kembali kepada Alkitab, yang telah direndahkan
oleh gereja Roma Katolik waktu itu hingga setara dengan
tradisi gereja.
Tak keliru tentu kedua jawaban klasik ini. Namun harus
dikatakan bahwa keduanya juga tak sepenuhnya tepat.
Mengapa?
Karena jika hanya itu yang kita tekankan, maka kita tak
lagi memiliki keunikan apa-apa yang membuat kita disebut
protestan, karena sesungguhnya gereja Roma Katolik sendiri
sudah mengalami “reformasi” internalnya sendiri, khususnya
setelah konsili Vatikan ke-2 beberapa dekade lalu. Konsili
ini sungguh merombak bangunan dasar teologi Katolik
sehingga sebagian besar, jika tidak semua, prinsip
utamanya makin menyerupai apa yang kita percayai sebagai
gereja protestan. Kini, mereka menekankan pentingnya
Alkitab, di samping tentu juga tetap menghargai tradisi.
Mereka mengakui bahwa keselamatan didasarkan atas anugerah
dan iman.
Akan tetapi, sesungguhnya dasar utama dari protestantisme
bukan sekadar persoalan unik pada abad ke-16 itu.
Semua persoalan itu historis dan kontesktual sifatnya. Apa
yang melandasi dan melambari seluruh pergerakan
protestantisme hingga ia bisa dan tetap bisa disebut
protestan?
Paul Tillich mengusulkan jawabannya dengan apa yang
disebutnya “Prinsip Protestan” (Protestant Principle).
Menurut Tillich, Prinsip Protestan adalah sebuah sikap
kritis atas segala usaha untuk merelatifkan apa yang
absolut dan mengabsolutkan apa yang sesungguhnya relatif.
Tillich segera menambahkan bahwa prinsip ini berlaku juga
bagi protestantisme. Artinya, siapa saja yang menyebut
diri protestant juga menjadi sasaran sikap kritis ini.
Dalam ungkapan Tillich, Prinsip Protestan menjadi “sumber
bagi dan hakim atas Protestantis-me.” Jika memang demikian,
maka protes-tantisme juga berarti pro-to-be-tested, siap
diuji oleh apa yang diyakininya sendiri.
Jika Anda kemudian bertanya apakah yang sungguh absolut,
maka jawabnya tak lain adalah Allah sendiri. Dengan kata
lain, selain Allah tak ada yang absolut. Gereja tidak
absolut, ajaran atau doktrin tidak absolut. Teologi tidak
absolut. Bagaimana dengan Alkitab? Tanpa ragu saya
mengatakan, Alkitab pun tidaklah absolut, karena Alkitab
adalah kesaksian tentang Allah yang absolut, namun bukan
Allah itu sendiri.
Jika Prinsip Protestan ini dipegang dengan teguh, maka
setidaknya ada tiga akibat yang serta-merta menyertainya.
Pertama, kita memperoleh dasar kuat untuk melanjutkan
proses reformasi. Istilah khas yang kerap dipakai dalam
lingkup gereja adalah: ecclesia reformata sed semper
reformata, gereja yang sudah diperbarui tetapi harus
selalu diperbarui. Karena itu sia-sialah usaha sebagian
kelompok protestan yang dengan gagahnya mengklaim ajaran
mereka sebagai usaha kembali ke doktrin para reformator.
Usaha ini bukan saja sia-sia, karena tidak sesuai dengan
nafas zaman kini, namun juga berbahaya, karena muncul
godaan besar untuk meng-absolutkan ajaran reformator itu
sendiri. Bahkan, sikap kritis yang sama harus ditujukan
kepada mereka yang selalu mengklaim ingin kembali ke
Alkitab, back to the Bible. Bahaya besar yang mengintip
mereka adalah bibliolatri, pemberhalaan dan pengabsolutan
Alkitab. Karena semua yang bukan Allah tidak absolut, maka
seluruhnya perlu selalu dievaluasi ulang, dikritisi dan
diperbarui.
Kedua, Prinsip Pro-testan membuat kita sadar bahwa tidak
ada satu kelompok pun yang bisa mengklaim diri mutlak
benar. Karena lagi-lagi hanya Allahlah yang mutlak benar.
Jika sikap ini dihayati, maka tidak ada lagi kepongahan
untuk menuduh kelompok lain sesat atau keliru, hanya
karena tidak sejalan dengan apa yang kita sendiri yakini.
Ketiga, Prinsip Protestan juga memberdayakan kita untuk
menerima dan menghayati makna kebebasan dan kemerdekaan
kristiani. Hal ini dibahas secara khusus dalam bagian
berikut.
|
|
Kemerdekaan |
|
Karena segala sesuatu yang bukan Allah tidak absolut, maka
kita tidak bisa meletakkan diri di bawah yang bukan Allah.
Bukankah ini pesan utama Paulus ketika ia menulis, “Supaya
kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan
kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi
dikenakan kuk perhambaan” (Gal 5.1). Paulus menawarkan
kepada jemaat Galatia dua model kemerdekaan kristiani yang
membuat mereka “sungguh-sungguh merdeka”.
Pertama, kemerdekaan sejati yang dikerjakan oleh Kristus.
Bagi Paulus, Kristus adalah pemerdeka, pembebas sejati.
Karena itu dalam perspektif kristiani, segala bentuk
pemerdekaan atau pembebasan perlu dihayati dalam terang
karya Kristus. Saya percaya bahwa karya pemerdekaan
Kristus bukan sekadar mencakup “pemerdekaan rohani,”
sebagaimana sering dipahami banyak orang. Namun, karya
Kristus juga memerdeka-kan manusia secara utuh dan
menyeluruh.
Bukankah dengan demikian umat kristiani secara tegas
mengimani pernyataan dalam paragraf ketiga Mukadimah
Undang-undang Dasar 1945, “Atas berkat rahmat Allah Yang
Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur,
supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat
Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Kedua, Paulus juga menulis bahwa kemerdekaan yang
diberikan Kristus itu perlu didampingi dengan kemerdekaan
yang terus-menerus harus diusahakan dan perjuangkan, “…berdirilah
teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”
Kemerdekaan adalah sebuah pemberian sekaligus penugasan.
Dalam bahasa Jerman dipergunakan dua kata yang terkait
erat: gabe (pemberian) dan aufgabe (penugasan).
Saya percaya, salah satu aspek penugasan untuk
memperjuangkan kemerdekaan ini terumus dalam sikap
“protes” atas segala bentuk pengabsolutan yang relatif dan
perelatifan yang absolut. Siapa saja yang menyetujui
Prinsip Protestan terpanggil untuk melakukan protes atas
segala bentuk penindasan, penghapusan kemerdekaan dan
ketidakadilan. Inilah aspek sosial dan politis dari apa
yang disebut protestantisme.
|
|
Paradoks Kemerdekaan |
|
Saya percaya bahwa kemerdekaan atau kebebasan bukanlah
akhir dari segala-galanya. Ia bukanlah tujuan akhir.
Karena jika ia menjadi tujuan akhir yang diperjuangkan
habis-habisan, yang terjadi adalah konflik antara
pihak-pihak yang memperjuangkan kebebasan itu sendiri.
Reformasi menjadi deformasi. Karena itu, kemerdekaan
sejati justru membebaskan pula pihak lain, walaupun untuk
itu kita perlu memberi bentuk lain atas kebebasan kita
sendiri.
Ungkapan terkenal Martin Luther memperjelas maksud saya.
Ia menulis secara paradoksal dalam Concerning Christian
Liberty, “Seorang Kristen adalah tuan yang bebas atas
semua, dan tidak terikat pada apapun; seorang Kristen
adalah hamba yang taat bagi semua orang, dan terikat pada
setiap orang.”
Betapa paradoksalnya. Namun Luther menegaskan bahwa
paradoks kemerdekaan kristiani yang dia ungkapkan
sesungguhnya merupakan parafrase dari ungkapan Paulus
dalam 1 Korintus 9:19, “Sungguhpun aku bebas terhadap
semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang,
supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.”
Bahkan ia menambahkan bahwa ungkapan paradoksalnya
terekspresi paling tepat dalam figur Yesus Kristus yang
“walaupun adalah Tuhan dari segala sesuatu, diperanakkan
dari seorang perempuan, berada di bawah hukum, bebas namun
sekaligus seorang hamba …”
Inilah pola kemerdekaan yang memerdekakan sesama,
kemerdekaan yang bukan “memenangi” (menang atas) namun
“memenangkan” (membuat menang) orang lain. Prinsip
Protestan dengan demikian bukan sekadar sebuah undangan
menjadi nabi yang memprotes segala bentuk absolutisasi
yang relatif dan relativasi Allah yang absolut, namun juga
undangan menjadi hamba yang mengikat diri demi membuka
ikatan orang lain.
Selamat merayakan ulang tahun negara kita tercinta.
|
Bacaan:
Tulisan Paul Tillich mengenai Prinsip Protestan dapat
dijumpai di bukunya, Protestant Era. Anda bisa
mengaksesnya di
http://www.religion-online.org/showbook.asp?title=380. Tillich juga banyak membahas ide ini dalam bukunya yang
lain, Systematic Theology, 3. Sedang tulisan Martin Luther
yang saya kutip berjudul Concerning Christian Liberty,
yang dapat diakses secara online di
http://www.iclnet.org/pub/resources/text/wittenberg/luther/web/cclib-2.html.
Boston, August 2004 |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|