|
Bermula dari deringan telpon yang penulis terima pada
akhir bulan Pebruari yang lalu dari salah seorang anggota
jemaat GKI Pondok Indah, bernama Bapak Frans. Dengan suara
baritonnya, Pak Frans menanyakan kepada penulis masih ada
tidak gereja-gereja yang memerlukan bantuan dan kira-kira
berapa jumlah dana yang diperlukan.
Penulis sendiri belum pernah bertemu muka dengan Pak Frans
ini, bahkan ketika penulis menanyakan nomor telponnya pun,
beliau juga tidak bersedia memberikannya. Penulis
sebelumnya sudah dua atau tiga kali berhubungan lewat
telpon, juga berkaitan dengan bantuan yang beliau
sampaikan kepada beberapa gereja beberapa saat setelah
penulis menorehkan laporannya di Majalah Kasut setelah
melakukan peninjauan ke beberapa gereja yang akan dibantu
di sejumlah desa di Jawa Timur dan Jawa Tengah th 2002
yang lalu
Pada waktu itu Pak Frans meminta agar beliau dikirimi
nomor-nomor rekening bank dari sejumlah gereja yang
penulis kunjungi agar beliau dapat segera mentransfer dana
yang diperlukan bagi kelanjutan pembangunan di rumah-rumah
Tuhan tersebut. Ada empat atau lima gereja yang dibantu
Pak Frans pada waktu itu.
Pada akhir Pebruari lalu, selagi penulis tengah menyiapkan
artikel untuk Kasut, Pak Frans menelpon lagi. Saya
mengenali sekali suara beliau, kendati hubungan pertama
dengan Pak Frans terjadi sekitar dua tahun lalu. Suara
baritonnya itu yang selalu penulis ingat.
Pada waktu itu Pak Frans menanyakan ada berapa gereja yang
kira-kira memerlukan bantuan dan berapa dana yang
diperlukan. Waktu itu penulis masih belum dapat memberikan
jawaban, karena penulis harus mencari berkas-berkas
permohonan yang masih ada pada penulis. Beberapa saat
kemudian data-data sudah penulis ketemukan dan penulis
perkirakan ada lima gereja yang memerlukan dan dana yang
diperlukan sebesar sekitar Rp 30 juta.
Beliau mengatakan: Baiklah kalau begitu, besok uangnya
saya transfer ke rekening Pak Kamto dan terserah bagaimana
Pak Kamto membaginya.
Penulis beberapa hari kemudian mencek ke rekening penulis
di Bank BNI, namun belum masuk. Baru sekitar seminggu
kemudian, yaitu pada awal bulan Maret, Pak Frans menelpon
lagi bahwa uangnya telah ditransfer kemarin.
Sebelum penulis pergi ke Bank BNI lagi, penulis mencek
sekali lagi gereja-gereja yang akan dibantu, tetapi
ternyata jumlah gerejanya bertambah menjadi tujuh gereja.
Penulispun kemudian berhitung kembali agar dana sebesar
Rp 30 juta itu dapat disalurkan secara merata sesuai
dengan kebutuhan mereka. Dan akhirnya pada tgl 5 dan 6
Maret dana tersebut penulis transfer ke tujuh gereja
tersebut, yang besarnya antara Rp 2,5 juta sampai Rp 7,5
juta.
Ke tujuh gereja tersebut adalah Gereja Kristen Jawa Tengah
Utara (GKJTU) Jemaat Jatiroto di Jawa Timur dan GKJTU
Jemaat Ngancar, Kec. Toroh, Kab. Grobogan di Jawa Tengah
masing-masing memperoleh Rp 7,5 juta. Gereja Kristen Jawa
(GKJ) Ngulakan, Kulon Progo, Yogyakarta, memperoleh Rp 5
juta, sementara empat gereja lainnya di Jawa Timur dan
Jawa Tengah memperoleh masing-masing Rp 2,5 juta. Ke empat
gereja tersebut adalah GKJ Temon di Wates, Yogyakarta,
Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI), Gereja Kristen
Baitani Jemaat Syalom di Seneporejo, Jawa Timur, GPdI
Maranatha di Kandangan, Jawa Timur dan Gereja Pentakosta
Tabernakel Jemaat Kristus Tuhan di Pesanggaran, Jawa
Timur.
Beberapa gereja belum lama ini telah mengirimkan ucapan
terima kasih untuk diteruskan kepada Bapak Frans dengan
disertai foto-foto perkembangan pembangunan mereka. Di
antara mereka juga ada yang mengirimkan kuitansi pembelian
bahan bangunan.
Belum lama ini penulis juga menerima sepucuk surat dari
seorang hamba Tuhan di sebuah daerah terpencil di selatan
timur Jawa Timur, yang intinya memohon bantuan untuk
menutup kekurangan pembelian alat transportasi sepeda
motor bekas. Mungkin ada di antara pembaca yang tergerak
untuk membantu hamba Tuhan ini? (skt) |