Kasut
28 Agustus 2004
Berkat yang Mengalir untuk beberapa Rumah Tuhan di Daerah

Soekamto

Bermula dari deringan telpon yang penulis terima pada akhir bulan Pebruari yang lalu dari salah seorang anggota jemaat GKI Pondok Indah, bernama Bapak Frans. Dengan suara baritonnya, Pak Frans menanyakan kepada penulis masih ada tidak gereja-gereja yang memerlukan bantuan dan kira-kira berapa jumlah dana yang diperlukan.

Penulis sendiri belum pernah bertemu muka dengan Pak Frans ini, bahkan ketika penulis menanyakan nomor telponnya pun, beliau juga tidak bersedia memberikannya. Penulis sebelumnya sudah dua atau tiga kali berhubungan lewat telpon, juga berkaitan dengan bantuan yang beliau sampaikan kepada beberapa gereja beberapa saat setelah penulis menorehkan laporannya di Majalah Kasut setelah melakukan peninjauan ke beberapa gereja yang akan dibantu di sejumlah desa di Jawa Timur dan Jawa Tengah th 2002 yang lalu

Pada waktu itu Pak Frans meminta agar beliau dikirimi nomor-nomor rekening bank dari sejumlah gereja yang penulis kunjungi agar beliau dapat segera mentransfer dana yang diperlukan bagi kelanjutan pembangunan di rumah-rumah Tuhan tersebut. Ada empat atau lima gereja yang dibantu Pak Frans pada waktu itu.

Pada akhir Pebruari lalu, selagi penulis tengah menyiapkan artikel untuk Kasut, Pak Frans menelpon lagi. Saya mengenali sekali suara beliau, kendati hubungan pertama dengan Pak Frans terjadi sekitar dua tahun lalu. Suara baritonnya itu yang selalu penulis ingat.

Pada waktu itu Pak Frans menanyakan ada berapa gereja yang kira-kira memerlukan bantuan dan berapa dana yang diperlukan. Waktu itu penulis masih belum dapat memberikan jawaban, karena penulis harus mencari berkas-berkas permohonan yang masih ada pada penulis. Beberapa saat kemudian data-data sudah penulis ketemukan dan penulis perkirakan ada lima gereja yang memerlukan dan dana yang diperlukan sebesar sekitar Rp 30 juta.

Beliau mengatakan: “Baiklah kalau begitu, besok uangnya saya transfer ke rekening Pak Kamto dan terserah bagaimana Pak Kamto membaginya.”

Penulis beberapa hari kemudian mencek ke rekening penulis di Bank BNI, namun belum masuk. Baru sekitar seminggu kemudian, yaitu pada awal bulan Maret, Pak Frans menelpon lagi bahwa uangnya telah ditransfer kemarin.

Sebelum penulis pergi ke Bank BNI lagi, penulis mencek sekali lagi gereja-gereja yang akan dibantu, tetapi ternyata jumlah gerejanya bertambah menjadi tujuh gereja. Penulispun kemudian “berhitung” kembali agar dana sebesar Rp 30 juta itu dapat disalurkan secara merata sesuai dengan kebutuhan mereka. Dan akhirnya pada tgl 5 dan 6 Maret dana tersebut penulis transfer ke tujuh gereja tersebut, yang besarnya antara Rp 2,5 juta sampai Rp 7,5 juta.

Ke tujuh gereja tersebut adalah Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU) Jemaat Jatiroto di Jawa Timur dan GKJTU Jemaat Ngancar, Kec. Toroh, Kab. Grobogan di Jawa Tengah masing-masing memperoleh Rp 7,5 juta. Gereja Kristen Jawa (GKJ) Ngulakan, Kulon Progo, Yogyakarta, memperoleh Rp 5 juta, sementara empat gereja lainnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah memperoleh masing-masing Rp 2,5 juta. Ke empat gereja tersebut adalah GKJ Temon di Wates, Yogyakarta, Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI), Gereja Kristen Baitani Jemaat Syalom di Seneporejo, Jawa Timur, GPdI Maranatha di Kandangan, Jawa Timur dan Gereja Pentakosta Tabernakel Jemaat “Kristus Tuhan” di Pesanggaran, Jawa Timur.

Beberapa gereja belum lama ini telah mengirimkan ucapan terima kasih untuk diteruskan kepada Bapak Frans dengan disertai foto-foto perkembangan pembangunan mereka. Di antara mereka juga ada yang mengirimkan kuitansi pembelian bahan bangunan.

Belum lama ini penulis juga menerima sepucuk surat dari seorang hamba Tuhan di sebuah daerah terpencil di selatan timur Jawa Timur, yang intinya memohon bantuan untuk menutup kekurangan pembelian alat transportasi sepeda motor bekas. Mungkin ada di antara pembaca yang tergerak untuk membantu hamba Tuhan ini? (skt)

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003