|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
27 Agustus 2004
Membangun Persekutuan
Tjuk Sumarsono |
|
|
GKI Pondok Indah membangun Komunitas Basis yang merupakan
salah satu cara yang efektif untuk melaksanakan strategi
terpencar dan terpancar. Diharapkan Gereja dapat hadir di
kelompok-kelompok kecil dan bertumbuh untuk bersekutu,
melayani dan bersaksi.
Kita dapat bertumbuh bersama-sama dalam persekutuan yang
hangat, karena kita sebagai manusia beriman dan juga
makhluk sosial membutuhkan orang lain, dan komunitas
sebagai wadahnya. Melalui Komunitas Basis dapat mendorong
terwujudnya Visi GKI Pondok Indah, di mana anggota
jemaatnya peduli pembaharuan manusia dan lingkungan dalam
rangka mewujudkan Misi Kerajaan Allah.
Sebelum kita membicarakan bagaimana membangun Persekutuan
(Fellowship) melalui komunitas, marilah kita simak ayat
Perjanjian Baru dari Kolose 3:15 yang mengatakan:
“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu,
karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu
tubuh. Dan beryukurlah”.
Sejalan dengan ayat tersebut, Mazmur 133:1 juga menyatakan:
“Sesungguhnya, alangkah baiknya dan indahnya, apabila
saudara-saudara diam bersama dengan rukun”.
Setelah memperhatikan ayat-ayat tersebut, kita mengerti
bahwa Tuhan menghendaki agar kita menjalin kehidupan
bersama, menjadi satu tubuh Kristus. Kita saling berbagi
pengalaman dalam suatu kelompok orang percaya berdasarkan
persahabatan dan persaudaraan. yang biasa disebut
“Persekutuan” atau “Fellowship”.
Namun dewasa ini kata “fellowship” atau “persekutuan”
kehilangan makna alkitabiah, yang sering diartikan dalam
percakapan santai, sosialisasi, makan-makan bersama dan
bersenang-senang. Pesekutuan bukan sekadar berkumpul
bersama dalam pelayanan, tetapi benar-benar menjalani
kehidupan bersama yang saling berbagi dan tidak
mementingkan diri sendiri, tetapi saling melayani, saling
memperhatikan, menciptakan kenyamanan, memberikan
persembahan, dan hal-hal yang berkenaan dengan inti dari
Alkitab.
Kita dapat melakukan kebaktian di gereja, tetapi kita
tidak dapat melakukan persekutuan bersama orang banyak.
Persekutuan yang terbaik adalah dalam lingkup yang lebih
kecil, seperti Tuhan Yesus menetapkan paling banyak 12
orang murid yang selalu bersama Dia.
Demikian pula kehidupan dalam Tubuh Kristus, orang
kristiani diharapkan dapat ikut serta membangun
kelompok-kelompok dalam gereja yang melakukan kegiatan
persekutuan, baik di rumah-rumah, dalam kelas sekolah
minggu, dalam kelompok pemahaman Alkitab, dalam kelompok
Pasutri, atau dalam kelompok yang lain. Kegiatan ini
sangat memungkinkan bila dibentuk dalam kelompok kecil
yang merupakan komunitas, dan bukan dalam kelompok yang
besar.
Tuhan telah memberikan janji yang luar biasa kepada
kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari orang percaya,
dalam Matius 18:20 mengatakan, “Sebab di mana dua atau
tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di
tengah-tengah mereka”
Agar persekutuan dapat mencapai tujuan, maka persekutuan
dalam kelompok-kelompok kecil ini perlu dibangun, dibina
dan dipupuk untuk menjadi komunitas yang benar. Di sini
saya mengetengahkan saran Rick Warren dalam bukunya “The
Purpose Driven Life”, bagaimana membangun persekutuan yang
benar, adalah sebagai berikut:
|
|
Saling Mengungkapkan Kenyataan |
Dalam persekutuan, bukan hanya sekadar pembicaraan
basa-basi, tetapi benar-benar mengungkapkan dari hati ke
hati, dan bilamana perlu berbagi (sharing) dengan
mengeluarkan “isi perut” kita. Itu dapat terjadi apabila
dalam satu kelompok saling jujur tentang keberadaan mereka.
Mereka secara jujur mengemukakan kepedihan, mengungkapkan
perasaan, mengakui kesalahan, keragu-raguan, dan ketakutan,
serta menyampaikan kelemahan-kelemahan mereka dan minta
dibantu dalam doa.
Kebenaran sering bertolak belakang dalam kenyataan,
kadang-kadang kita temui di antara mereka terlihat
menunjukkan sikap jujur dan rendah hati, namun
kenyataannya hanya di permukaan saja, hanya berpura-pura,
berpolitik dan memainkan peran palsu serta membungkus
pembicaraan dengan sopan santun yang dibuat-buat. Orang
sering menggunakan topeng, mamakai pelindung dan berlaku
tidak wajar, oleh karena itu perilaku seperti ini akan
mengakibatkan kehancuran persekutuan yang kita bangun.
Kita perlu hidup terbuka agar mengalami persekutuan yang
nyata. Dalam I Yohanes 1:7–8 mengatakan, “Tetapi jika kita
hidup di dalam terang sama seperti Dia di dalam terang,
maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain,
dan darah Yesus, anak-Nya itu menyucikan kita dari pada
segala dosa. Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa,
maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada
di dalam kita”.
Kegelapan akan menyembunyikan kesedihan, ketakutan,
kesalahan, dan keretakan, tetapi di dalam terang kita
membawa semua itu menjadi nyata dan terbuka serta berani
mengaku siapa diri kita yang sebenarnya. Kita akan lebih
bertumbuh bila kita berani mengambil risiko, dan risiko
yang terberat adalah menegakkan kejujuran dalam diri kita
sendiri dan juga kepada sesama. Dalam Yakobus 5:16a
mengatakan, “Karena itu kamu saling mengaku dan saling
mendoakan, supaya kamu sembuh”
|
|
Saling Memberi dan Menerima |
Saling memberi dan menerima adalah merupakan seni di dalam
membangun relasi antar sesama dan itu tergantung satu
dengan yang lain. Dalam I Korintus 12:25 mengatakan,
“Supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi
supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling
memperhatikan”.
Saling memberi dan saling menerima adalah merupakan
jantung dari persekutuan, yaitu: membangun relasi yang
timbal balik, tanggung jawab dalam berbagi (sharing), dan
saling menolong satu dengan yang lain.
Dalam Roma 1:12 mengatakan, “Supaya aku ada di antara kamu
dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh
imanmu maupun imanku”.
Seluruh anggota harus lebih berpendirian tetap dalam iman
kita ketika orang lain berjalan bersama dan mendorong
semangat kita. Alkitab memerintahkan kepada kita untuk
selalu berrtanggung jawab, saling mendorong, saling
melayani dan saling menghormati. Kita bertanggung jawab
kepada setiap anggota tubuh Kristus, karena Tuhan
menghendaki kita untuk mengerjakan apa saja untuk membantu
mereka.
|
|
Saling Merasakan Duka-Cita |
Saling merasakan duka-cita, bukan berarti memberi nasehat
atau menawarkan jalan keluar, atau berpura-pura membantu,
tetapi seharusnya kita “simpati”, yaitu ikut serta dan
berbagi kepedihan hati seorang kepada yang lain. Namun
kata yang lebih tepat adalah “empati” yaitu: mengenali
perasaan, pikiran, sikap dan jiwa orang lain. Dalam empati,
kita mengatakan: “Saya mengerti apa yang terjadi pada diri
anda dan saya ikut merasakan bagaimana perasaan anda”
Dengan demikian kita dapat mempertemukan dua kebutuhan
manusia yang mendasar, yaitu kebutuhan untuk dimengerti
dan kebutuhan untuk pembenaran perasaan. Setiap kali kita
perlu mengerti dan menegaskan perasaan seseorang, berarti
kita sudah ikut berperan serta membangun persekutuan.
Namun kita ini sering terburu-buru untuk menentukan
sesuatu dan tidak memiliki waktu untuk memberikan simpati
atau empati kepada orang lain. Atau karena kita masih
dikungkung oleh rasa sakit hati dan rasa kasihan pada diri
sendiri, maka kita sering mengabaikan simpati atau empati
pada orang lain.
Kita memerlukan kelompok kecil yang terdiri dari
orang-orang yang memiliki kesetiaan pada Tuhan untuk dapat
menarik kita dan menguatkan kita, bila ada salah seorang
yang mengalami duka-cita. Hal itu diharapkan agar di dalam
kelompok kecil ini, tubuh Kristus semakin nyata
keberadaannya. |
|
Saling Memberikan Kemurahan Hati |
Persekutuan
adalah suatu tempat untuk menyatakan kemuliaan Tuhan, dan
persekutuan akan menjadi lebih sempurna bilamana kemurahan
hati kita masing-masing dapat mengalahkan penghakiman. Dan
itu semua memerlukan kerendahan hati kita masing-masing,
karena kita dapat saja tersandung jatuh dan membutuhkan
pertolongan untuk dapat kembali ke jalan yang benar.
Maka kita harus saling memberikan dan saling bersedia
menerima kemurahan hati seorang terhadap yang lain. Dalam
II Korintus 2:7 mengatakan, “Tetapi yang kami berikan
ialah hikmat dari Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang
sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi
kemuliaan kita”.
Kita tidak dapat melakukan persekutuan tanpa pengampunan.
Tuhan mengingatkan kita, dalam Kolose 3:13a sebagai
berikut: “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain”.
Oleh karena itu kepahitan dan kekesalan hati selalu
merusak persekutuan. Memang kita adalah manusia yang tidak
sempurna dan orang berdosa, kadang-kadang sakit hati yang
tidak ternilai dapat terjadi pada diri kita, ketika kita
bersama-sama bersekutu dalam waktu yang cukup lama. Sakit
hati, baik yang dalam maupun yang dangkal, sangat
memerlukan kemurahan hati serta kelapangan dada untuk
mengampuni orang lain. Ini sangat bermanfaat untuk
menyempurnakan persekutuan kita.
Kemurahan Tuhan kepada kita memotivasikan kita untuk
mengampuni orang lain. karena Tuhan selalu siap sedia
mengampuni kita. Ketika kita sakit hati terhadap orang
lain, kita boleh memilih: “Apakah saya akan menggunakan
energi dan emosi saya untuk membalas dendam atau
penyelesaian?” Keduanya jangan dilakukan. Tetapi ampunilah
dia karena Tuhan juga mengampuni kesalahan kita.
Banyak orang segan untuk memberikan kemurahan hati karena
mereka belum mengerti perbedaan antara “kepercayaan” dan “pengampunan”.
Pengampunan berarti membiarkan berlalu apa yang sudah
terjadi, sedangkan kepercayaan memerlukan proses
pembaharuan tingkah laku untuk masa depan.
Pengampunan harus segera dilakukan, apakah yang
bersangkutan meminta maaf atau tidak, sedangkan
kepercayaan harus dibangun kembali dari waktu ke waktu.
Kepercayaan memerlukan penilaian, dan jika seseorang
berkali-kali menyakiti hati kita, maka sesuai perintah
Tuhan, kita tetap mengampuni, namun tentu saja kita tidak
cepat menaruh kepercayaan kembali kepadanya dan kita tidak
ingin membiarkan dia selalu menyakiti hati kita.
Tempat terbaik untuk memperbaiki kepercayaan kepada
seseorang, adalah dalam kelompok kecil yang dapat memberi
dorongan dan tanggung jawab. Oleh karena itu sangat
dianjurkan agar kita ikut serta dalam kelompok kecil yang
memiliki komitmen untuk menegakkan persekutuan yang benar.
|
Persekutuan merupakan inti dari kehidupan Kristiani, dan
bila kita tidak mengikuti persekutuan seperti ini, kita
akan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri dan
pengalaman dalam kehidupan bersama orang percaya, karena
kita diciptakan untuk komunitas. Namun dalam membangun
komunitas perlu suatu proses pembinaan dan pemupukan agar
komunitas tersebut dapat bertumbuh lebih subur dan
bermanfaat bagi kita serta mendatangkan kemuliaan bagi
Tuhan.
Dalam upaya memupuk komunitas, Rick Warren menuliskan
demikian: “Apabila anda merasa lelah dalam mengikuti
persekutuan imitasi yang penuh kepura-puraan, tentu saja
anda ingin membina dan memupuk menjadi persekutuan yang
benar-benar mencintai komunitas. Maka anda memerlukan
beberapa pilihan yang mengandung risiko, yaitu: (1)
kejujuran, (2) kerendahan hati, 3) saling menghormati, (4)
saling menjaga rahasia dan (5) memerlukan keteraturan
mengalokasikan waktu bersama untuk menbangun relasi”
Lima hal yang disarankan oleh Rick Warren untuk memupuk
komunitas tersebut, masih diperlukan komitmen dari
masing-masing anggota untuk melaksanakan kebersamaan
dengan berani menanggung risiko, yaitu: harus dapat
menghilangkan sifat egois dan mementingkan diri sendiri.
Dengan bantuan Roh Kudus kita dapat menciptakan
persekutuan di antara orang percaya, tetapi Dia akan
memampukan kita, terletak pada pilihan dan komitmen yang
kita buat. Rasul Paulus memberi jalan keluar dalam Efesus
4:3 demikian: “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh
oleh ikatan damai sejahtera” Ia menekankan adanya
kekuasaan Tuhan dan upaya kita untuk mewujudkan suatu
komunitas Kristiani yang penuh cinta kasih.
Dengan demikian, dapat kita simpulkan, bahwa komunitas
bukan sekadar berhura-hura, tetapi saling menguatkan dalam
pertumbuhan spiritual kita. Apabila kita ingin membangun
persekutuan, berarti kita harus berani meluangkan waktu
untuk selalu bertemu dalam kebersamaan. Kita perlu membina
dan memupuk kelompok dengan menggunakan sembilan
karakteristik sebagai persekutuan yang alkitabiah, yaitu:
1) Saling membagi perasaan (Authenticity)
2) Saling mendukung (Mutuality)
3) Saling memberikan simpati/empati (Sympathy / Empathy)
4) Saling memaafkan dan memiliki kemurahan hati (Mercy)
5) Saling menegur dengan kejujuran dan cinta kasih
(Honesty)
6) Saling mengakui kelemahan (Humility)
7) Salingmenghargai perbedaan (Courtesy)
8) Saling tidak menyebar gossip (Confidentiality)
9) Mengutamakan kebersamaan kelompok (Frequency)
Kiranya Tuhan memberkati kita dalam upaya membangun
persekutuan, agar Komunitas Basis sebagai salah satu
Strategi Pelayanan GKI Pondok Indah, dapat kita wujudkan
bersama. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|