|
Cerita ini berawal pada pagi hari, tanggal 23 Mei 2004,
ketika penduduk kota Jakarta masih terlelap dengan
mimpi-mimpinya yang indah. Datanglah seorang pemuda yang
punya keinginan untuk menimba ilmu di salah satu gereja
yang ada di ibu kota negara tercinta ini. Pemuda ini masih
merasa asing dengan yang namanya kota Jakarta. Maklum ini
adalah pengalaman pertamanya datang ke Jakarta sendirian
dengan naik bus.
Sesampainya di salah satu perhentian bus yang ada di
Kebayoran Lama. Pemuda ini dengan agak canggung bertanya
kepada salah seorang penumpang yang duduk di sebelahnya;
Maaf Pak, apakah semua harus turun di sini?
Penumpang itu dengan mata masih agak mengantuk berkata:
Ya benar, adik mau pergi kemana?
E
.saya mau ke Pondok Indah, jawab pemuda itu dengan
agak gugup
.
Oo
kalau gitu adik bareng saya saja, kita searah kok
perjalanannya, lanjut bapak itu. (ternyata bapak itu mau
pergi ke Ciputat).
Perjalanananpun dilanjutkan dan pemuda ini sangat
menikmati pemandangan kota Jakarta pada pagi hari, terasa
nyaman belum penuh dengan kemacetan dan asap kendaraan.
Pemuda ini merasa nyaman di dalam mobil karena ia merasa
pasti akan sampai di tempat yang ditujunya.
Namun tiba-tiba pemuda ini tersentak kaget ketika sopir
mobil pengantar penumpang bertanya: Mas, Pondok Indah-nya
sebelah mana?
Dengan tenang dan percaya diri dia menjawab: Jl. Sekolah
Kencana IV/TN 7, Pak.
Wah sebelah mana itu?
Ya
saya juga tidak tahu Pak,sahut pemuda itu.
Lha..mas ini gimana sih.. lanjut sopir itu dengan nada
yang agak kesal.
Ya
udah Pak saya telpon dulu tepatnya sebelah mana. Sang
pemuda mencoba memberikan solusi.
Dan sang pemuda-pun segera menelpon dan setelah itu dia
berkata kepada sopir mobil itu: Cari saja apartemen
Nuansa Hijau, tempat yang saya tuju berada di sebelah
apartemen itu.
Sang sopir menurut pada apa yang dikatakan pemuda tadi.
Dan memang benar, sang pemuda sampai di tempat yang akan
dia tuju yaitu GKI Pondok Indah.
Setelah berada di GKI Pondok Indah, sang pemuda tadi
disambut oleh salah seorang bapak yang saat itu sedang
membersihkan ruangan kantor. Dengan santainya bapak itu
berkata: Wah
mas ini sudah ditunggu dari satu minggu yang
lalu kok baru datang sekarang. Gimana sih?
Mendengar pertanyaan yang demikian pemuda tadi jadi kaget.
Dan dia berkata; Siapa yang bilang saya datang minggu
yang lalu. Orang prakteknya saja baru dimulai tanggal 23
Mei 2004 (hari ini).
Ya
pas telpon kemarin kan bilangnya datang hari Sabtu.
Iya memang hari Sabtu, tapi Sabtu ini, bukan Sabtu minggu
lalu.
Lalu pemuda itu teringat bahwa waktu itu dia telepon
memang minggu lalu dan dia cuma bilang kalau mau datang
hari Sabtu. Dan dia nampaknya tidak menyebutkan tanggalnya.
Karena teringat hal itu maka dengan agak malu-malu dia
berkata kepada bapak tadi;
Oo
.iya maaf Pak, kemarin lupa kasih tahu tanggalnya.
He
he
.
Inilah pengalaman hari pertama datang di GKI Pondok Indah
yang sampai sekarang tidak terlupakan oleh sang pemuda
tadi. Pengalaman pertama yang cukup menyenangkan.
Kesempatan Praktekkan Ilmu
Hari-hari berikutnya dijalani oleh pemuda ini dengan rasa
senang dan nyaman karena ternyata selama berada di GKI
Pondok Indah, sang pemuda dapat memperoleh pengalaman yang
cukup banyak. Sang pemuda ini diberi banyak kesempatan
untuk memimpin dan menerapkan beberapa ilmu yang dia
dapatkan di kampusnya.
Sang pemuda ditempatkan sebagaimana mestinya sebagai
seorang mahasiswa yang baru belajar dan berlatih untuk
menjadi seorang pelayan dan hamba yang baik. Dia tidak
bertemu dengan orang-orang yang perfeksionis, melainkan
dia ketemu dengan orang-orang yang dapat menerima apa
adanya kehadiran sang pemuda dan bersedia untuk memberikan
masukan demi kebaikannya. Oleh karena itu dia merasa
sangat bersyukur mendapatkan tempat praktek pelayanan di
GKI Pondok Indah ini.
Bagi sang pemuda, GKI Pondok Indah merupakan cerminan
untuk belajar tentang kehidupan pelayanan bersama di
tengah-tengah jemaat. Karena di tempat ini dia menemukan
satu bentuk pelayanan yang luar biasa. Dimana setiap
elemen yang ada dapat berjalan secara mandiri tanpa
bergantung kepada sang pendeta. Gambaran jemaat yang
mandiri dapat dilihat dan dirasakan oleh sang pemuda itu
di gereja ini.
Oleh karena itu pada akhirnya sang pemuda yang tidak lain
adalah penulis sendiri mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya atas kesempatan belajar dan bantuan serta
kerjasama semua pihak yang selama ini memberikan dorongan
dan masukan. Kiranya GKI Pondok Indah tetap menjadi gereja
yang tetap melaksanakan misi Allah di tengah-tengah dunia
ini. Marilah kita wujudkan damai sejahtera dalam kehidupan
kita bersama. God Bless Us. (yw/skt)
|