Kasut
26 Agustus 2004
Ceritaku Bagimu

Yonatan Wijayanto

Cerita ini berawal pada pagi hari, tanggal 23 Mei 2004, ketika penduduk kota Jakarta masih terlelap dengan mimpi-mimpinya yang indah. Datanglah seorang pemuda yang punya keinginan untuk menimba ilmu di salah satu gereja yang ada di ibu kota negara tercinta ini. Pemuda ini masih merasa asing dengan yang namanya kota Jakarta. Maklum ini adalah pengalaman pertamanya datang ke Jakarta sendirian dengan naik bus.

Sesampainya di salah satu perhentian bus yang ada di Kebayoran Lama. Pemuda ini dengan agak canggung bertanya kepada salah seorang penumpang yang duduk di sebelahnya; “Maaf Pak, apakah semua harus turun di sini?”

Penumpang itu dengan mata masih agak mengantuk berkata: “Ya benar, adik mau pergi kemana?”

“E….saya mau ke Pondok Indah,” jawab pemuda itu dengan agak gugup
.
“Oo…kalau gitu adik bareng saya saja, kita searah kok perjalanannya,” lanjut bapak itu. (ternyata bapak itu mau pergi ke Ciputat).

Perjalanananpun dilanjutkan dan pemuda ini sangat menikmati pemandangan kota Jakarta pada pagi hari, terasa nyaman belum penuh dengan kemacetan dan asap kendaraan. Pemuda ini merasa nyaman di dalam mobil karena ia merasa pasti akan sampai di tempat yang ditujunya.

Namun tiba-tiba pemuda ini tersentak kaget ketika sopir mobil pengantar penumpang bertanya: “Mas, Pondok Indah-nya sebelah mana?”

Dengan tenang dan percaya diri dia menjawab: “Jl. Sekolah Kencana IV/TN 7, Pak.”

“Wah sebelah mana itu?”

“Ya…saya juga tidak tahu Pak,”sahut pemuda itu.

“Lha..mas ini gimana sih..” lanjut sopir itu dengan nada yang agak kesal.

“Ya…udah Pak saya telpon dulu tepatnya sebelah mana.” Sang pemuda mencoba memberikan solusi.

Dan sang pemuda-pun segera menelpon dan setelah itu dia berkata kepada sopir mobil itu: “Cari saja apartemen Nuansa Hijau, tempat yang saya tuju berada di sebelah apartemen itu.”

Sang sopir menurut pada apa yang dikatakan pemuda tadi. Dan memang benar, sang pemuda sampai di tempat yang akan dia tuju yaitu GKI Pondok Indah.

Setelah berada di GKI Pondok Indah, sang pemuda tadi disambut oleh salah seorang bapak yang saat itu sedang membersihkan ruangan kantor. Dengan santainya bapak itu berkata: “Wah…mas ini sudah ditunggu dari satu minggu yang lalu kok baru datang sekarang. Gimana sih?”

Mendengar pertanyaan yang demikian pemuda tadi jadi kaget. Dan dia berkata; “Siapa yang bilang saya datang minggu yang lalu. Orang prakteknya saja baru dimulai tanggal 23 Mei 2004 (hari ini).”

“Ya…pas telpon kemarin kan bilangnya datang hari Sabtu.”

“Iya memang hari Sabtu, tapi Sabtu ini, bukan Sabtu minggu lalu.”

Lalu pemuda itu teringat bahwa waktu itu dia telepon memang minggu lalu dan dia cuma bilang kalau mau datang hari Sabtu. Dan dia nampaknya tidak menyebutkan tanggalnya. Karena teringat hal itu maka dengan agak malu-malu dia berkata kepada bapak tadi;
“Oo….iya maaf Pak, kemarin lupa kasih tahu tanggalnya. He…he….”

Inilah pengalaman hari pertama datang di GKI Pondok Indah yang sampai sekarang tidak terlupakan oleh sang pemuda tadi. Pengalaman pertama yang cukup menyenangkan.

Kesempatan Praktekkan Ilmu

Hari-hari berikutnya dijalani oleh pemuda ini dengan rasa senang dan nyaman karena ternyata selama berada di GKI Pondok Indah, sang pemuda dapat memperoleh pengalaman yang cukup banyak. Sang pemuda ini diberi banyak kesempatan untuk memimpin dan menerapkan beberapa ilmu yang dia dapatkan di kampusnya.

Sang pemuda ditempatkan sebagaimana mestinya sebagai seorang mahasiswa yang baru belajar dan berlatih untuk menjadi seorang pelayan dan hamba yang baik. Dia tidak bertemu dengan orang-orang yang perfeksionis, melainkan dia ketemu dengan orang-orang yang dapat menerima apa adanya kehadiran sang pemuda dan bersedia untuk memberikan masukan demi kebaikannya. Oleh karena itu dia merasa sangat bersyukur mendapatkan tempat praktek pelayanan di GKI Pondok Indah ini.

Bagi sang pemuda, GKI Pondok Indah merupakan cerminan untuk belajar tentang kehidupan pelayanan bersama di tengah-tengah jemaat. Karena di tempat ini dia menemukan satu bentuk pelayanan yang luar biasa. Dimana setiap elemen yang ada dapat berjalan secara mandiri tanpa bergantung kepada sang pendeta. Gambaran jemaat yang mandiri dapat dilihat dan dirasakan oleh sang pemuda itu di gereja ini.

Oleh karena itu pada akhirnya sang pemuda yang tidak lain adalah penulis sendiri mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesempatan belajar dan bantuan serta kerjasama semua pihak yang selama ini memberikan dorongan dan masukan. Kiranya GKI Pondok Indah tetap menjadi gereja yang tetap melaksanakan misi Allah di tengah-tengah dunia ini. Marilah kita wujudkan damai sejahtera dalam kehidupan kita bersama. God Bless Us. (yw/skt)

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003