Kasut
30 Juni 2004
Berbuah Semakin Banyak
S. Soekamto
20 Tahun Perjalanan Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah
Tepat pada tgl 20 Juni 2004 ini Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pondok Indah genap berusia 20 tahun, terhitung sejak didewasakan pada tgl 20 Juni 1984 yang lalu. Namun sebenarnya perjalanan dan pergumulan yang dilakoninya cukup mengalami banyak pasang-surut, jauh sebelum tgl 20 Juni 1984 itu. Namun semua itu dapat dilalui dengan penuh ketegaran, karena dilandasi iman percaya bahwa Allah, Sang Khalik, tidak akan meninggalkan umatnya, bahkan justru akan memberikan sesuatu yang indah di kelak kemudian hari.

Diawali dengan keputusan Majelis Jemaat GKI Kebayoran Baru untuk mengembangkan pelayanannya ke arah selatan, mengingat bahwa jumlah anggota jemaat yang berdomisili di wilayah selatan itu sudah lebih dari 200 orang. Wilayah Selatan itu menurut perwilayahan GKI Kebayoran Baru mecakup Wilayah II dan XI, yang meliputi daerah-daerah Cilandak, Cipete, Terogong, Pondok Indah, Cirendeu dan Cinere.

Dalam rapatnya pada tgl 16 Juli 1978, Majelis Jemaat GKI Kebayoran Baru memutuskan untuk membuka sebuah Pos Kebaktian Minggu di Wilayah II dan XI, yang disebut sebagai Pos Terogong, mulai bulan Agustus 1978. Kebaktian Minggu pertama berlangsung di ruang kafetaria The Joint Embassy School kini The Jakarta International School (JIS) di Jalan Terogong Raya pada hari Minggu, 8 Oktober 1978 dan dihadiri hanya oleh tidak lebih dari 20 orang anggota jemaat. Kebaktian Minggu di JIS ini hanya berlangsung selama beberapa bulan saja dengan jumlah pengunjung yang statis dan bahkan sebelum kebaktian dimulai, beberapa anggota majelis dan jemaat masih harus membersihkan terlebih dahulu ruang kafetaria tersebut, karena biasanya pada malam Minggu atau hari Sabtu ruang tersebut digunakan untuk pesta atau kegiatan lainnya.

Kemudian, karena dirasakan adanya kekurangan animo oleh anggota jemaat untuk mengikuti kebaktian di tempat ini, maka majelis Jemaat GKI Kebayoran Baru terpaksa harus memindahkan tempat kebaktian ini ke rumah sejumlah anggota jemaat yang bersedia ketempatan. Situasi ini juga tidak lebih baik dari kondisi sebelumnya, bahkan jumlah pengunjung kebaktian juga semakin menurun.

Pada tahun yang sama, yaitu pada bulan Mei 1978, Majelis Jemaat GKI Kebayoran Baru juga telah mengusahakan ijin untuk membangun sebuah rumah ibadah di atas sebidang tanah dengan sebuah bangunan di atasnya di Jalan Terogong Raya, tepatnya adalah di Jalan Terogong II di Cilandak. Dan dalam proses pengurusan ijin tersebut, Majelis Jemaat juga menyerukan kepada anggota jemaat di Wilayah II dan XI untuk bekerja bakti dan bergotong royong guna mempersiapkan tempat ibadah tersebut, sambil terus beribadah di rumah jemaat.

Yang Pertama dan Terakhir
Dalam situasi yang terus berpindah tempat ibadah tersebut, Majelis Jemaat GKI Kebayoran Baru kemudian tergerak untuk memindahkan kebaktian tersebut ke tanah dan bangunan yang ada di Jalan Terogong II, dan itu terwujud dalam Kebaktian Perayaan Paska pada hari Minggu, 22 April 1979 jam 08:00 pagi sebagai kebaktian “perdana” bagi anggota jemaat di Wilayah Cilandak, Cipete, Terogong dan sekitarnya. Kebaktian ini diikuti oleh sekitar 300 orang anggota jemaat, yang dimeriahkan oleh Paduan Suara dan atraksi dari anak-anak Sekolah Minggu. Kebaktian Perayaan Paska ini diselenggarakan secara swadaya oleh para anggota jemaat di wilayah ini.

Namun, ternyata kebaktian yang dimaksudkan sebagai awal dari kegiatan Kebaktian Minggu bagi jemaat di wilayah Kebayoran Selatan itu telah mendapat tentangan dari warga masyarakat setempat. Pada Minggu 22 April 1979 malam (malam hari setelah kebaktian), rumah yang digunakan untuk kebaktian pada pagi harinya telah dilempari batu serta ditempeli berbagai macam poster yang menunjukkan perasaan tidak senang warga setempat atas kehadiran tempat ibadah tersebut. Dan dengan suatu pertimbangan yang cukup masak atas situasi yang terjadi, maka Majelis Jemaat GKI Kebayoran Baru memutuskan untuk mengembalikan ibadah Minggu secara bergantian di rumah warga jemaat yang bersedia ketempatan.

Maka dapatlah dikatakan bahwa kebaktian di Jalan Terogong II tersebut merupakan kebaktian yang pertama dan terakhir di tempat tersebut. Hal ini tentu saja telah menimbulkan suatu persoalan baru bagi Majelis maupun warga jemaat.

....>>

>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003