Kasut
28 juni 2004
Selayang Pandang Perjalanan Visi & Misi GKIPI
Sindhu Sumargo
Pada saat GKI Pondok Indah berusia lima belas tahun tepatnya pada saat PMJBA (Persidangan Majelis Jemaat Bersama Anggota) tahun 1999, salah satu tema yang paling mencolok dalam persidangan tersebut adalah munculnya banyak usulan agar gereja kita merumuskan dengan sungguh-sungguh visi dan misinya selaku sebuah gereja.

Bersamaan dengan hal tersebut, Tim Pengenalan Diri (suatu tim bentukan Majelis Jemaat untuk mengukur/melakukan survey pemahaman jemaat tentang pembinaan, kesaksian dan pelayanan pada tahun 1998) yang sudah mendekati akhir pekerjaannya diperpanjang masa pelayanannya dan diperluas tugasnya bahkan diubah namanya menjadi Tim Visi Misi, dengan tambahan beberapa anggota baru.

Proses yang dilalui amat intensif dan penuh pergumulan. Melalui metodologi yang digunakan oleh Tim, diyakini bahwa visi dan misi yang dirumuskan tersebut adalah milik jemaat. Dengan kerjasama yang amat baik dengan anggota jemaat akhirnya dalam Persidangan Majelis Jemaat pada tanggal 14 Mei 2000 rumusan Visi dan Misi GKI Pondok Indah untuk sepuluh tahun ke depan telah berhasil disahkan.

Tim Visi Misi yang telah merampungkan tugasnya tersebut dibubarkan dan dibentuk Tim Strategi, yang akan menerjemahkan rumusan Visi dan Misi tersebut ke dalam strategi dan program lebih lanjut.

Strategi Pelayanan

Penerapan visi dan misi tersebut harus diikuti dengan sosialisasi dan mekanisme implementasi visi dan strategi ke program pelayanan. Berikut ini adalah upaya yang dilakukan oleh Majelis Jemaat:

    A. Sosialisasi

    Dalam rangka sosialisasi Visi-Misi GKI Pondok Indah, diselenggarakan ceramah pembinaan pada tanggal 2, 9, dan 16 September 2000. Dalam salah satu ceramah dengan tema “Pembaruan Gereja Menuju Masa Depan” Pdt Eka Darmaputera mengingatkan bahwa tahap aplikasi atas visi dan misi amatlah penting. Visi dan misi baru akan ada manfaatnya bila hal itu telah direalisasikan dan dengan dilandasi oleh konsep titik tolak dan tujuan yang jelas dan benar. Bahkan setelah itupun kita perlu melakukan evaluasi sebagai dasar untuk melakukan reformulasi, dan dengan reformulasi ini bergulirlah siklus yang baru.

    Sosialisasi dilakukan juga melalui khotbah pada kebaktian minggu, yang mengambil tema dari visi-misi selama 2 bulan berturut-turut di bulan November dan Desember 2000. Bentuk sosialisasi yang lain adalah dengan mewartakan rumusan visi dan misi baik secara lisan antar majelis dan badan pelayanan, misalnya melalui lokakarya program, maupun tulisan melalui warta gereja, majalah Kasut dan juga situs GKI Pondok Indah. Perlu diakui bahwa tahapan sosialisasi yang terus berjalan sampai sekarang ini dilakukan secara terpencar-pencar dan tidak terstruktur.

    B. Komunitas Basis sebagai salah satu Strategi Pelayanan

    Majelis Jemaat meyakini bahwa dua masalah besar yang dihadapi oleh gereja-gereja pada umumnya adalah sejalan dengan ceramah Pdt Eka tersebut di atas yaitu; Insignifikansi internal: keberadaan gereja yang kian tidak terasakan makna fungsionalnya di dalam kehidupan nyata para warganya dan Insignifikansi sosial: ketika kehidupan serta dinamika internal gereja terisolasi, atau seolah-olah tidak mempunyai sangkut paut sedikitpun dengan dinamika sosial di lingkungan di mana mereka berada.

    Untuk memecahkan persoalan tersebut dan mencapai visi-misi, GKI PI menerapkan tiga strategi pelayanan mulai tahun pelayanan 2001/2002 sbb:


    1. Strategi Terpusat bersifat sentral.
      Di mana terdapat gerakan kebersamaan seluruh anggota jemaat menuju pusat. Wahana seluruh anggota jemaat dapat berkumpul bersama, tanpa penggolongan dan pengelompokan. Seluruh anggota jemaat, tua-muda, laki-perempuan, kaya-miskin, bersama-sama dalam sebuah perayaan iman.

    2. Strategi Terpencar bersifat desentral.
      Anggota Jemaat diundang untuk menjalin iman-harap-kasih dalam sentra-sentra persekutuan yang jamak dan di banyak tempat. Strategi ini dikerjakan baik secara teritorial maupun kategorial. Secara teritorial diupayakan adanya komunitas-komunitas yang multisentral, berdasarkan wilayah kehi-dupan mereka. Secara kategorial, diupayakan adanya komunitas-komunitas yang multisentral, berdasarkan kategori usia maupun profesi anggota jemaat.

    3. Strategi Terpancar bersifat sentrifugal.
      Terdapat gerakan keluar, semakin lama semakin meluas, yang menjadi buah dari kedua strategi sebelumnya. Gereja secara keseluruhan maupun bagian-bagiannya memberi arti; menjadi Terang dan Garam, bagi dunia yang dicintai Allah ini.


    Komunitas Basis diyakini sebagai salah satu cara efektif dalam melaksanakan strategi terpencar dan terpancar. Gereja hadir di kelompok-kelompok kecil dan bertumbuh untuk bersekutu, melayani dan bersaksi. Terdapat tiga kelompok besar komunitas yang dapat dikembangkan oleh gereja kita, yaitu kategorial umur, kategorial minat/profesi, dan komunitas teritorial (wilayah). GKI Pondok Indah telah memiliki “modal” dalam hal pengembangan komunitas ini.

    Pembinaan kategorial melalui komisi anak, remaja, pemuda, dewasa dan senior merupakan komunitas kategori umur. Sebelas kelompok musik/paduan suara yang tergabung dalam komisi semawi, pasutri, biro konsultasi psikologi, dan kelompok-kelompok pelayanan di bawah Mabid Oikmas merupakan komunitas kategori minat/profesi.

    Agar pelayanan gereja dapat sungguh-sungguh “terpencar”, maka pengembangan komunitas teritorial yang berasal dari sistem wilayah amatlah penting untuk diwujudkan. Pilot Project Komunitas Basis di wilayah Bintaro telah dimulai pada tahun pelayanan 2001/2002 dan diwujudkan dengan pemben-tukan lima kombas. Namun demikian, pembentukan kombas di wilayah lain baru dapat terlaksana dalam tahun pelayanan 2004 ini. Keterlambatan pembentukan kombas di wilayah lainnya ini kemungkinan besar disebabkan oleh adanya perbedaan karakter di tiap wilayah. Selain itu pola, kurikulum dan cara kerja komunitas basis yang belum dibakukan juga menghambat bergulirnya pembentukan komunitas.

    Pada tanggal 13 Maret 2004, Majelis bidang persekutuan telah melakukan pertemuan bagi para motivator wilayah untuk segera membentuk komunitas basis di wilayahnya masing-masing. Kesaksian dari anggota Kombas Bintaro membuat para motivator semakin tergerak untuk segera membentuk kombas. Atas hambatan karakter wilayah, pola dan cara kerja kombas, majelis bidang menyerahkannya pada kebijakan masing-masing wilayah sepanjang diketahui oleh majelis wilayah. Acara itu diikuti pula dengan pembagian buku panduan dan kurikulum komunitas basis. Sampai saat ini, paling tidak di tiap wilayah selain Bintaro telah terbentuk satu kombas.

    C. Redefinisi Pembidangan Majelis

    Pada bulan September 2002 Majelis Jemaat GKI Pondok Indah melakukan redefinisi pembidangan majelis, yaitu bukan lagi semata-mata hanya berdasarkan tugas gereja melainkan juga termasuk strategi yang dimiliki.

    Dalam diri Mabid Persekutuan, terdapat pula tugas melaksanakan strategi terpencar dan teritorial. Dalam diri Mabid Ibadah, terdapat tugas melaksanakan strategi terpusat. Selain fungsi didaktika, Mabid Pembinaan melaksanakan strategi kategorial dan Mabid Oikmas melaksanakan strategi terpancar. Fungsi pendukung dilaksanakan oleh Mabid Sarpras dalam hal fasilitas sarana gedung, peralatan, dsb serta Mabid Pengembangan Jemaat yang akan mendukung pengembangan kehidupan jemaat melalui pengawasan proses pencapaian visi-misi, mengelola sistem masukan dan penggalangan potensi anggota jemaat.

    Melalui penjelasan di atas terlihat bahwa empat Mabid yang sebelumnya ada telah diperluas menjadi enam mabid dan dengan demikian GKI Pondok Indah diharapkan mampu untuk menjalankan enam tugas gereja yaitu koinonia (persekutuan), didaktika (pembinaan), marturia (kesaksian), diakonia (pelayanan), oikonomia (penatalayanan), dan oikodome (pembangunan jemaat).

    Khusus untuk Mabid Pengembangan Jemaat, sebagai mabid baru dilingkungan gereja kita kini telah diperlengkapi oleh badan pelayanan permanen yang diteguhkan mulai bulan September 2003 yaitu Komisi Strategi dan Program. Cikal bakal komisi ini adalah tim strategi (2001), yang sebelumnya dikenal sebagai tim visi misi (1999) ataupun tim pengenalan diri (1998-Pemahaman Jemaat dan 1994-Profil Jemaat).

Sampai Dimana Kita?

Setelah empat tahun pencanangan visi dan misi, marilah kita mencoba mengukur pencapaian visi dan misi. Perlu diingat bahwa visi dan misi ini diharapkan akan tercapai pada tahun kesepuluh yaitu tahun 2010 atau setara dengan 26 tahun keberadaan GKI Pondok Indah.

Tahap sosialisasi telah dilaksanakan dengan baik pada dua tahun pertama. Namun demikian hal ini perlu terus dikumandangkan mengingat kita juga mengharapkan pertumbuhan jemaat baru di gereja kita yang mungkin pernah mendengar rumusan visi namun belum pernah mendengar rencana pencapaian visi tersebut.

Tahap aplikasi dapat kita coba ukur dari rencana pembentukan kombas sebagai salah satu strategi. Secara jujur kita akui bahwa kita agak “kedodoran” dalam hal tersebut. Target pembentukan kombas teritorial dalam dua tahun setelah pencanangan visi tidak berhasil kita capai. Baru pada tahun keempat para aktivis dan jemaat dapat “mencerna” makna kombas. Itupun baru sebagian.

Mengenai restrukturisasi majelis bidang, (pada tahun kedua setelah pencanangan visi) penulis menganggap sebagai saat yang belum terlambat meskipun bidang bangmat baru dibentuk sebagai pengawas proses pencapaian visi.

Bagaimana halnya dengan sikap pendeta, penatua, aktivis, dan seluruh jemaat GKIPI? Apakah mereka telah menjadi anggota jemaat yang peduli? Hal inilah yang sulit untuk kita ukur pada tahun keempat ini. Namun demikian, mabid bangmat telah melakukan dan mempersiapkan hal-hal berikut sebagai upaya pengukuran maupun upaya pencapaian visi-misi:

  1. Penerapan tema tahun pelayanan terpadu sampai dengan tahun 2010.
    Dimulai pada tahun pelayanan 2003/2004, dua tahun pelayanan pertama sampai dengan tahun 2004/2005 ini menekankan aspek komunitas sebagai encouragement terhadap pembentukan komunitas basis. Dua tahun pelayanan berikutnya akan menekankan aspek kepekaan pada kebutuhan masyarakat lingkungan dan dua tahun terakhir akan menekankan aspek masyarakat yang peka akan kebutuhan warganya.

  2. Penyelenggaraan survey pemahaman jemaat.
    Saat ini di tengah beberapa jemaat yang terkena sampling (seribu calon responden) telah dilakukan survey pemahaman jemaat atas persekutuan, pembinaan, kesaksian dan pelayanan. Kuestioner yang digunakan adalah sama dengan yang dilakukan pada tahun 1998, dengan tujuan komparatif dan juga untuk melihat pertumbuhan jemaat. Dengan dilaksanakannya survey ini diharapkan sikap jemaat juga dapat terukur bila dibandingkan dengan lima tahun yang lalu, khususnya ketika kita mengkaitkannya dengan visi dan misi. Hasil survey rencananya akan dipresentasikan dalam PMJBA Agustus mendatang.

  3. Peningkatan Peran Jemaat
    Menyadari akan besarnya potensi jemaat yang dimiliki khususnya untuk mencapai visi-misi, sekitar bulan April 2003 yang lalu mabid bangmat mengadakan brainstorming dengan rekan-rekan senior mantan penatua. Acara tersebut awalnya adalah untuk menampung saran mereka sebagai jemaat terhadap pencapaian visi dan misi.

    Dari hasil pertemuan tersebut mabid menyimpulkan bahwa inti dari permasalahan yang muncul adalah proses komunikasi yang terjadi di gereja dan peran jemaat yang diharapkan meningkat sehubungan dengan kesadaran akan visi-misi gereja. Forum diskusi berlanjut dan menjadi suatu kelompok kerja khusus untuk melakukan kajian atas Peningkatan Peran Jemaat.

    Kelompok Kerja yang telah memasuki tahun pelayanan kedua ini sedang melakukan inventarisasi permasalahan yang terkait dengan peran serta jemaat, meneliti penyebab masalah dan mengusulkan solusi kepada Majelis Jemaat. Melalui forum ini pula tugas mabid bangmat khususnya untuk sistem masukan dan penggalangan potensi diharapkan dapat terlaksana dengan baik.

  4. Evaluasi atas program-program badan pelayanan
    Evaluasi triwulanan bagi seluruh badan pelayanan yang ada di lingkungan GKI PI telah dimulai dalam tahun pelayanan 2003/2004. Tujuan dari evaluasi ini adalah agar proses kehidupan bergereja terjaga sesuai visi dan misi gereja. Meskipun belum seluruh badan pelayanan melaksanakan evaluasi ini dengan teratur, dampak dari pelaksanaan evaluasi ini dapat dirasakan baik oleh Majelis Jemaat sebagai penentu kebijakan maupun badan pelayanan yang melaksanakan program pelayanan; yaitu kemampuan untuk mengukur posisi relatif terhadap tujuan pelayanan maupun sinergi atas seluruh perspektif yang ada dalam misi gereja.

  5. Koordinasi perencanaan program pelayanan bagi tiap Mabid dan Badan Pelayanan
    Diawali dengan suatu pembekalan untuk badan pelayanan, pada bulan November 2003 lalu Mabid Bangmat melaksanakan pelatihan bagi pembuatan program pelayanan bagi seluruh Mabid dan Badan Pelayanan yang ada di lingkungan GKI Pondok Indah. Tujuan dari program pembekalan ini adalah agar seluruh badan pelayanan memiliki kesamaan persepsi atas tolok ukur yang dipakai dalam pelayanan dan memiliki kerangka program yang fokus dan terintegrasi.

    Melalui pelatihan ini seluruh badan pelayanan mencoba menyusun program pelayanan 2004/2005 sehingga program pelayanan tahun mendatang tersebut dapat lebih fokus pada area pelayanan masing-masing dan terintegrasi dengan badan pelayanan lainnya. Koordinasi perencanaan program pelayanan ini kemudian dilanjutkan dengan suatu Lokakarya Tahunan pembuatan program (Feb ’04) dengan sasaran agar setiap Mabid, Komisi, Tim dan Yayasan memiliki program yang sesuai dengan visi-misi dan tema tahun pelayanan.

    Pencapaian atas program ini berupa penetapan tema pelayanan 2004/2005, perumusan pesan majelis untuk pembuatan program pelayanan bagi setiap mabid dan badan pembantu, perumusan dan penyeragaman format evaluasi dan program, serta terselenggaranya lokakarya evaluasi dan perencanaan program/anggaran.
Penutup

Melihat penjabaran perjalanan visi dan misi GKI Pondok Indah tersebut di atas, ternyata kita masih agak kesulitan dalam mengukur pencapaian visi dan misi di tahun 2010, khususnya dalam hal “meraba-raba” pencapaian di tahun 2004. Berdasarkan pengamatan penulis dan obrolan dengan jemaat, mereka mengamati bahwa kita masih berada di awal perjalanan. Ukuran gampang yang dapat dilakukan jemaat adalah melihat besaran pengeluaran oikmas/diakonia bila dibandingkan dengan sarpras.

Saya pribadi tidak setuju dengan cara mengukur seperti itu. (kecuali bila seluruh pendeta dalam bekerja harus mengisi timesheet seperti di pabrik). Perlu “budaya mengukur” bagi jemaat dan juga menentukan stepping stone atas setiap aktivitas yang dilakukan. (bukan sekadar kelihatan repot). Itu semua perlu konsensus.

Mengukur perlu dilakukan untuk melihat keadaan kita sekarang relatif dengan tujuan yang telah kita tetapkan. Sehingga dengan demikian kita dapat menentukan tindakan korektif dan juga antisipatif yang perlu dilakukan. Bila hal ini telah membudaya, maka menterjemahkan strategi menjadi aksi tidaklah menjadi hal yang sulit. Pengawas proses menjadi kata penting di sini dan peran jemaatpun diperlukan sebagai sumber daya yang mampu melakukan pengukuran.

Sebagai alinea terakhir, penulis ingin mengingatkan juga bahwa visi yang baik adalah visi yang tidak terlalu mudah untuk dicapai namun juga tidak terlalu sulit untuk dilaksanakan.

Coba kita bandingkan: menjadi jemaat yang peduli ... vs menjadi jemaat misioner ... Mana yang lebih mudah untuk dicapai? Silahkan melakukan pengukuran ...



>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003