|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
26 juni 2004
Apakah Anda Penggemar K.F.C?
Paul P. Poli, SH |
|
|
|
Tulisan ini dibuat dalam kaitan dengan acara Friday
Fellowship GKI Pondok Indah, Jumat, 7 Mei 2004, yang
diselenggarakan oleh Komisi Dewasa. Pokok masalah yang
diangkat adalah mengenai “Metroseksual,” suatu gaya hidup
kota besar.
Mungkin karena masalah gaya hidup yang diangkat Komisi
Dewasa sangat akrab bagi para pemerhati gejala tersebut di
Megapolitan Jakarta, sehingga berhasil ditarik perhatian
demikian banyak peserta yang hadir, yang membuat ramai
suasana diskusi.
Pembicara Erwin Parengkuan, Nico Siahaan, dari kelompok
dewasa muda, ternyata akrab dengan gaya hidup “Metroseksual’,”
sehingga sanggup memberikan informasi aktual. Pada pihak
lain, Pdt. Tumpal Tobing sebagai Pendeta Siswa, mengajak
hadirin melihat dampaknya dalam perspektif proses
Christian Character Building pada generasi penerus di
Sekolah Tirta Marta dan Permata Bunda. Ketrampilan Tika
Panggabean sebagai moderator, dengan gayanya yang khas,
berhasil meramu acara itu, sehingga terjadi interaksi yang
segar dan bermanfaat antara para pembicara dengan para
peserta.
Judul tulisan ini sengaja dibuat demikian untuk merangsang
dan memicu rasa ingin mengetahui pembaca terhadap
singkatan KFC. Secara otomatis kependekan itu pasti
diasosiasikan dengan reklame: junk food Kentucky Fried
Chicken! Padahal kepanjangan dari rangkaian tiga huruf itu
adalah: Pengetahuan (Knowledge), Iman (Faith) dan Karakter
(Character).
KFC itu ditempatkan pada kerangka paradigma di tataran
etika kristiani. Oleh karena itu, berperilaku (conduct)
berdasarkan tatanilai kristiani akan membentuk suatu
sistem (code), yang menghadirkan singkatan SPK, yakni:
Sistem (Code), Perilaku (Conduct), Kristiani (Christian),
yang disingkat menjadi: CCC (Christian Code of Conduct).
Dalam tulisan ini dipilih penggunaan singkatan KFC dan CCC.
Karena berorientasi pada pencapaian kenikmatan (hedonisme)
dalam pemujaan diri sendiri maka gaya hidup “Metroseksual,”
juga bersifat narsistik. (Dalam mitologi Yunani pemuda
Narcissus, jatuh cinta pada bayangan diri sendiri di
permukaan air, dan kemudian mati sebagai sekuntum bunga).
Gaya hidup itu dimanfaatkan dengan baik oleh industri
pemuasan diri, yang mempromosikannya, antara lain, melalui
layar kaca yang hadir di ruangan duduk (living room)
setiap rumahtangga, sehingga menyerupai suatu invasi.
Lalu bagaimanakah dampaknya pada masyarakat, khususnya
generasi penerus dalam program Christian Character
Builiding Pdt. Tumpal Tobing dan jajarannya di Sekolah
Tirta Marta dan Permata Bunda?
|
|
Gambar dan Rupa Allah |
Mukadimah di dalam Tata Dasar, yakni bagian dari Tata
Gereja GKI menyatakan, bahwa “Allah yang hidup, yang
menyatakan diri-Nya dalam Tuhan Yesus Kristus seperti
diberitakan oleh Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru.” (Alinea 1 b, Penjelasan Mukadimah). Dalam konteks
itu Firman Allah menurut Alkitab Perjanjian Lama mengenai
ciptaan manusia, menyatakan: “Baiklah Kita menjadikan
manusia menurut gambar dan rupa Kita.” (Kej. 1:26).
Itulah yang kita imani di GKI, yang diametral bertetangan
dengan ajaran evolusi Darwin, dalam “On The Origin of
Species by Means of Natural Selection.” (1859), bahwa
manusia bukan ciptaan Tuhan tetapi adalah hasil proses
evolusi yang panjang. Melalui tahap sebagai monyet barulah
manusia mencapai keadaannya sekarang ini.
Gaya hidup “Metroseksual” dengan dukungan industri
periklanan dengan cerdik memanfaatkan kecenderungan meniru
pada monyet Charles Darwin. Kecendrungan itu secara
kelakar dikatakan orang: “Monkey see, monkey do.”
Dapat dikemukakan juga ajaran salah seorang pendekar
evolusi lain, yakni filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche
(1844-1900); dia anak seorang pendeta Luteran. Teori
evolusinya memunculkan superman (Uebermensch) ras Aria,
yang menghadirkan pria rupawan gagah perkasa (macho),
berambut pirang dan bermata biru. Penampilan itu dapat
menggoda untuk dijadikan ikon dan idola karena berparas
Oksidental. Perlu dicatat bahwa ajaran superman Jerman
melahirkan ideologi Naziisme ciptaan Hitler. Adapun
Nietzsche sendiri, dia tidak sempat jadi superman, karena
meninggal sebagai pasien Rumah Sakit Jiwa.
Sungguh pun mungkin menolak teori evolusi, namun kebebasan
manusia egosentris, yang hedonistik dan narsistik itu
cenderung meremehkan Tuhan, dan menggeser pemahaman
teosentris. Tetapi kekosongan karena absensi Tuhan (teologi
Nietzsche: Tuhan mati) segera diisi oleh kesetiaan pada
paham yang menyerupai suatu “injil baru” (new gospel),
lengkap dengan para “nabi” dan “rasul, serta “ikon-ikon
pujaan” (brand image). Penyebaran “injil baru” ini,
khususnya melalui layar kaca, dan dilakukan dengan
semangat luar biasa oleh industri pemuasan diri, dan
dibantu oleh industri periklanan, yang mampu menciptakan
kebutuhan (demand creation) akan produk-produk pemuasan
diri.
Kegiatan pemasaran mereka menyerupai suatu invasi, yakni
serbuan massal dengan mengerahkan barisan mass media cetak
dan elektronika. Apabila mereka berhasil, maka kota yang
“diduduki” itu segera divermak wajahnya menjadi belantara
“billboard” (billboard jungle), yang membuat ungkapan
ramah lingkungan suatu lelucon belaka. Dalam hal ini
bahasa iklan yang telah disesuaikan, menyatakan: “ini
injil baru, dan ini baru injil,” karena memberikan
kenikmatan dan kepuasan hidup disertai janji sorgawi “usia
remaja abadi” (eternal youth) bagi para pengikut fanatik
mereka, yang berkantong tebal.
Persaingan menguasai pasar mondial menghalalkan segala
cara. Di samping itu perlu direnungkan, apakah penggunaan
bahan-bahan kimia toksik dalam produk-produk industri
pemuasan diri yang dipasarkan itu cukup aman, sehingga
ramah pemakai (user friendly)? Mungkin karena bisikan hati
nurani, sebagian pelaku pasar sadar dan berusaha merayu
simpati publik seraya membela diri, bahwa mempopulerkan
gaya hidup “Metroseksual” berarti mereka turut membantu
menciptakan lapangan kerja dan selalu setia membayar pajak.
|
|
Lembaga Keluarga |
Lembaga keluarga ciptaan Tuhan (Kej. 2:24) merupakan batu
bata (building block) pembangunan jemaat. (Penulis memilih
istilah jemaat dan bukan gereja, karena istilah disebut
terakhir bermakna lembaga, yang dipakai negara sebagai
istilah hukum tentang gereja, sesuai LN No. 156/1927).
Fokus pelayanan GKI Pondok Indah terhadap keluarga adalah
realisasi kebijakan dalam Tata Gereja GKI yang, antara
lain, menghadirkan Kebaktian Keluarga (pasal 18.4 Tata
Laksana), di samping acara tetap tahunan, yakni Bulan
Keluarga di GKI Pondok Indah.
Memang disadari oleh kita semua bahwa kebaktian minggu
adalah sarana pembentuk persekutuan keluarga-keluarga,
yang dilayani dalam suatu liturgi. Tetapi itu sangat
sementara sifatnya dan terbatas, baik dari aspek waktu (sekitar
satu jam), mau pun interaksi antar pengunjung kebaktian
pada kesempatan tersebut. Oleh karena itu, yang menjadi
masalah ialah bagaimana kita berperilaku dalam hubungan
dengan Tuhan dan sesama kita setelah meninggalkan acara
kebaktian minggu?
Apalagi itu jutru menyangkut bagian terbesar alokasi waktu
kita! Bagaimanakah penggunaan waktu itu? Itulah wujud
ibadah kita di luar kebaktian minggu, dalam perkataan dan
perbuatan (liturgy after liturgy). Adalah sahih untuk
dipertanyakan apakah mungkin pilihan gaya hidup “Metroseksual,”
dapat dipayungi pola CCC dalam hidup keluarga? Atau kita
telah hanyut terbawa arus kehidupan Megapolitan Jakarta?
Terdapat berbagai jenis pelayanan kategorial yang
dilakukan oleh Badan-badan Pelayanan Jemaat (pasal 99 Tata
Laksana), mulai dari Komisi Anak sampai Komisi Senior.
Dalam konteks itu dijumpai pelayanan Komisi Dewasa,
penyelenggara acara “Metroseksual.”
Kepedulian terhadap kualitas keluarga dan interaksi antar
anggota-anggotanya ditempatkan dalam suatu kerangka
pelayanan holistik, seperti diperlihatkan oleh jemaat
perdana di Yerusalem (Kis. 6:1-6). Pemahaman holistik itu
didasarkan atas ajaran Kristus dalam Doa Bapa Kami:
“Jadilah kehendak-Mu di bumi, seperti di sorga.”
Itu adalah suatu doa tetapi sekaligus juga pernyataan
penyerahan diri tanpa syarat oleh pendoa, bahwa semuanya
tanpa kecuali berada dalam penguasaan Tuhan. Penjabaran
prinsip pelayanan holistik itu terdapat dalam cakupan visi
dan misi GKI Pondok Indah, sebagaimana diperlihatkan oleh
susunan Program Pelayanan Tahunan Jemaat.
Pelayanan Komisi Anak mengundang pertanyaan mengapa
kegiatan itu dimulai demikian dini? Alkitab membuat kita
sadar akan hal itu dengan merujuk kepada pernyataan Tuhan:
“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah
mengenal engkau.” (Yer. 1:4).
Oleh karena itu orangtua yang bijaksana, khususnya ibu
yang mengandung perlu melindungi pribadi dalam
kandungannya, yang sudah dikenal Tuhan. Hal itu dilakukan,
antara lain, dengan berusaha menjauhkan diri dari
kecanduan pada produk-produk industri pemuasan diri,
seperti alkohol dan rokok. Risiko penyakit akibat rokok
secara resmi tercantum pada labelnya.
Konsistensi perilaku orangtua yang bijaksana mengungkapkan
relasi berdimensi kasih kepada Tuhan pada jalur hubungan
lalulintas dua arah. Hal itu menjadi rujukan dan panutan
anak dalam pertumbuhannya, termasuk memilih gaya hidupnya!
Gereja dan sekolah memang membantu dan memfasilitasi
pendidikan anak dalam keluarga, tetapi jelas tidak akan
mengambilalih fungsi tersebut, karena itu merupakan fungsi
pokok orangtua (Ula. 6:6-7).
Perlu direnungkan bahwa bukan saja anak yang mengalami
pertumbuhan. Ternyata dalam proses pendidikan itu tanpa
disadari orangtua, mereka pun sebenarnya turut bertumbuh,
yakni dalam kadar kearifan dan kebijaksanaan. Hal itu
ditandai oleh rambut beruban yang dibanggakan (Ams.
20:29), laksana kebanggaan seorang perwira yang dadanya
bertaburan aneka pita tanda jasa, yang pasti tidak akan
ditutupinya dengan cat. |
|
Peran Sekolah |
|
Firman Tuhan dalam Ulangan 6:6-7 yang telah dikutip di
atas, menekankan konsistensi berperilaku orangtua dalam
mendidik anak. Majelis GKI Pondok Indah melihat kehadiran
Sekolah Tirta Marta dan Permata Bunda sebagai sarana dan
lahan pelayanan, yang dipakai untuk membantu orangtua
memantapkan CCC, yang mencakup trilogi KFC dalam kurikulum
sekolah. Penugasan Pendeta Siswa secara struktural berada
dalam jajaran kemajelisan GKI Pondok Indah, khususnya
dilihat dari perspektif pelaksanaan visi dan misinya.
Secara komprehensif dan berencana (jangka panjang) faktor
K dilaksanakan sebagai ungkapan realisasi faktor F
(Yak.1:22) di dalam menghadirkan faktor C, untuk
melengkapi trilogi KFC, yang tercakup dalam kurikulum
sekolah, sehingga secara sistemik mampu menghadirkan CCC.
Angkatan demi angkatan (1 Pet. 2:9) telah dilepaskan
Sekolah Tirta Marta, yang kemudian diperkuat oleh
kehadiran Sekolah Permata Bunda. Itu adalah realisasi
pelayanan GKI Pondok Indah ke arah kaderisasi untuk
mempersiapkan generasi penerus yang berkarakter kristiani,
melalui proses Christian Character Building asuhan Pdt.
Tumpal Tobing dan jajarannya.
Disadari bahwa selama puluhan tahun kita telah membiarkan
diri disandera oleh sistem pemerintahan diktatorial. Demi
keamanan pengendalinya maka sistem itu disakralkan,
sehingga yang diperbolehkan muncul di atas pentas sejarah
hanyalah kader-kader jinak, serta kerdil mungil, laksana
bonsai. Perubahan suasana melalui proses transformasi
memungkinkan terjadinya pertumbuhan dari manusia lama
kepada manusia baru (Ef. 4:17-32).
Proses transformasi yang sedang berlangsung ini
diperhadapkan pada gaya hidup yang, antara lain, berpola “Metroseksual.”
Oleh karena itu kita diajak untuk merenungkan, apakah
pilihan gaya hidup “Metroseksual” itu tidak
mengkontaminasi angkatan-angkatan yang telah dihasilkan
Sekolah Tirta Marta dan Permata Bunda?
Selanjutnya, apakah kader-kader yang telah dipersiapkan
GKI Pondok Indah itu dapat menjadi garam dunia untuk
mencegah proses pembusukan masyarakat, atau malahan larut
terbawa arus gaya hidup “Metroseksual”?
Dalam konteks yang sama, apakah kader-kader itu dapat
berfungsi sebagai terang dunia, atau malahan merelakan
terang itu ditudungi gantang gaya hidup “Metroseksual”?
(Mat. 5:13-14).
Jakarta, 8 Mei 2004
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|