Agus
Susanto
Mewujudnyatakan Visi
Jemaat GKI PI adalah jemaat ‚gado-gado‘ baik dari segi
etnik, denominasi gereja maupun sosial ekonomi. Jemaat ini
terdiri dari bermacam-macam suku yang ada di Indonesia (Cina,
Jawa, Madura, Bali, Toraja, Ambon, Dayak, Menado, Batak
dsb). Dari segi latar belakang gereja pun beraneka ragam:
ada GKI, GKJ, HKBP, Pentakosta, Katolik dll. Demikian pula
dengan status sosial ekonomi.
Kenyataan semacam ini, bisa menjadi kekayaan yang
memperluas dan memperkaya wawasan persekutuan kita, tetapi
juga sebaliknya dapat menjadi kendala oleh karena
perbedaan-perbedaan itu sendiri. GKI PI ditempatkan di
tengah masyarakat metropolitan yang cenderung
individualistik, di mana setiap individu orientasinya
kepada kepentingan diri sendiri. Situasi yang semacam ini,
sekaligus menjadi tantangan dengan kehidupan bergereja
kita. Dalam konteks yang seperti inilah GKI PI dan anggota
jemaatnya ditempatkan Tuhan untuk tetap menghadirkan
syalom Allah dalam rangka misi-Nya.
Dalam hal ini GKI PI telah berhasil merumuskan visinya
yaitu: “Gereja Indonesia yang anggota jemaatnya peduli
pada pembaharuan manusia dan lingkungan dalam rangka
perwujudan misi Kerajan Allah.” Namun ingat bahwa visi ini
masih merupakan impian kita bersama, yang menuntut kerja
keras kita untuk mewujudnyatakannya, sehingga mimpi itu
menjadi kenyataan dan bukan sekadar slogan kosong.
Itulah harapan saya!
Rudianto Djajakartika
GKIPI-ku yang Besar dan Lamban??
Besar memang sering diidentikkan dengan kelambanan.
Tidaklah heran dalam jumpa nostalgia yang lalu, banyak
orang juga mengatakan ‘GKI PI sudah menjadi besar dan
cenderung lamban’. Contoh Gajah yang besar dan lamban saya
kira juga menjadi contoh yang tepat. Kalau mengenang 14
tahun yang lalu saya mulai melayani di GKIPI, memang
terasa suasana yang berbeda. Kalau mau dikatakan bahwa GKI
PI tidak segesit yang lalu, saya kira juga ada benarnya.
Tetapi apakah dengan demikian lalu ‘nasib’ ini harus
diterima saja? Kalau gajah mungkin ya, karena gajah memang
akan selalu besar dan cenderung lamban dibanding si kancil.
Tetapi GKI PI bukanlah gajah. Ia adalah sebuah lembaga
gerejawi. Di dalamnya ada sistem dan model persekutuan
yang selalu bisa diarahkan dan dibaharui.
Menjadi besar saya kira adalah cita-cita semua yang
bertumbuh dan berkembang. Namun harus selalu dicari sistem
dan model persekutuan yang tetap dapat memunculkan
kegesitan. Pengefektifan kombas (komunitas basis) serta
pemberian ruang gerak jemaat yang lebih luas adalah salah
satu caranya. Pemberian ruang kreatifitas dalam koridor
yang lebih luwes tanpa harus kehilangan sifat rigidnya
adalah cara lainnya.
Pada dasarnya manusia itu dinamis. Ia juga cenderung akan
mencari keseimbangannya sendiri. Ketika yang dinamis ini
bersekutu dengan yang lain, maka muncullah dinamika
persekutuan. Mari kita arahkan dinamika ini pada tujuan
dan visi GKI PI. Ketika keseimbangan mulai mewujud,
‘diganggu’ sedikit bolehlah, supaya yang tidur jadi ‘bangun’.
Saya jadi ingat ‘multiplier efect’ dalam ilmu ekonomi.
Sedikit stimulus bolehlah, kadang hasilnya bisa berganda
dan luarbiasa. Tentu dalam sebuah sistem, yang besar juga
bisa kita jadikan ‘kecil’ agar muncul kegesitannya!
Selamat ulang tahun yang ke XX GKI PI Ku. Menjadi besarlah
dan berkembanglah, tanpa harus kehilangan kegesitanmu.
Dalam sebuah sistem selalu ada cara untuk tidak kehilangan
kelincahan dalam sebuah kebesaran!
Joas Adiprasetya
Mimpi Saya
Sejak pertama kali saya memulai pelayanan di GKI Pondok
Indah, saya sudah melihat cerahnya masa depan jemaat itu.
Salah satu sebabnya, karena keterbukaan anggota dan
majelis jemaat terhadap kemajuan dan hal-hal baru, selain
juga sumber daya yang luar biasa. Kenyataan ini membuat
saya memasuki pelayanan di jemaat ini dengan antusias.
Saya berani bermimpi bersama dengan seluruh jemaat GKI
Pondok Indah. Dan lebih dari itu, saya berani bangun dari
mimpi bersama demi menggapai mimpi tersebut.
Mimpi saya ––dan semoga pula mimpi kita bersama–– terpusat
pada kehidupan sebuah jemaat yang bertumbuh dan berbuah
dalam segala aspek. Saya memimpikan sebuah jemaat yang
bertumbuh dan berbuah dalam hidup beribadah dan bersekutu.
Sebuah jemaat yang anggota-anggotanya senang berperan
dalam ibadah, aktif dalam persekutuan dan menghargai
komunitas sebagai keluarga mereka sendiri. Misalnya, coba
bayangkan sebuah ibadah minggu yang tidak didominasi oleh
pejabat gereja, namun seluruh elemennya dikerjakan oleh
anggota jemaat. Mulai dari penyambut jemaat hingga petugas
liturgi.
Saya juga memimpikan sebuah jemaat yang bertumbuh dan
berbuah dalam aspek kesaksian dan pelayanan. Bayangkan,
jika semua anggota jemaat terlibat dalam kesaksian dan
pelayanan di lokasi hidup mereka masing-masing, hidup bagi
sesama, tanpa berpikir bahwa melayani harus melalui
kegiatan gerejawi.
Saya juga memimpikan sebuah jemaat yang tak seorang pun
tertinggal dalam pembinaan. Semua terbina sesuai dengan
minat, kebutuhan dan keunikan masing-masing.
Singkatnya, mimpi saya terpapar dalam sebuah kehidupan
jemaat yang tidak makin menggemukkan diri sendiri, sadar
bahwa gereja ada hanya untuk dunia, serta penuh gairah
melakoni hidup sebagai sebuah panggilan. Bukankah semua
ini inti dari visi GKI Pondok Indah?
Konon, jika satu orang bermimpi dunia akan menertawakannya.
Namun, jika banyak orang bermimpi dengan mimpi yang sama,
dunia akan berubah. Perubahan atau transformasi ini hanya
mungkin terjadi jika gerak-layan jemaat kita selalu
mengalami pembaruan terus-menerus. Perlahan, namun pasti.
Penuh antusiasme namun terarah.
Langkah pertama mewujudkan mimpi-mimpi ini, menurut saya,
adalah mulai dari menilai ulang keseluruhan kegiatan
gerejawi. Masih terlalu banyak kegiatan yang menghabiskan
dana dan daya terlampau besar tanpa terarah pada peraihan
visi atau mimpi ini. Lebih baik memiliki kegiatan yang
sedikit namun berarti tinimbang banyak namun kosong makna.
Langkah kedua, menurut hemat saya, adalah diperlukannya
kerelaan dari para aktivis, khususnya pejabat gereja,
untuk membagi beban pelayanan pada mereka yang selama ini
belum aktif. Sebaliknya, mereka yang belum aktif perlu
memikirkan partisipasi konkret yang sesuai dengan minat
dan talenta mereka.
Akhirnya, yang ketiga, diperlukan bentuk-bentuk pembinaan
baru yang menjawab kebutuhan jemaat dan yang tidak sekadar
bercorak one-way, namun partisipatoris dan kreatif.
Mari bermimpi bersama!
Tumpal M.P.L. Tobing
Setelah 20 tahun, lalu apa lagi
yang harus kita lakukan?
Dalam buletin Gereja Kristen Indonesia Kebayoran Baru yang
diterbitkan pada 23 Desember 2001 ditulis demikian: “pada
tanggal 20 Juni 1984, telah dilakukan Kebaktian dan
Upacara Pendewasaan Gereja Kristen Indonesia Kebayoran
Baru Cabang Kebayoran Selatan menjadi jemaat Gereja
Kristen Indonesia Kebayoran Selatan.
Salah satu konsentrasi program dalam jemaat yang baru
dewasa ini, adalah menumbuhkan terus persekutuan antar
anggota jemaat sebagai usaha untuk melakukan konsolidasi
ke dalam dan yang tidak kalah pentingnya adalah
menumbuhkan kesadaran dan tanggungjawab anggota jemaatnya
untuk berdoa dan bekerja bersama membangun sebuah gedung
Gereja.
Empat tahun kemudian upaya dan jerih payah melayani di
ladang Tuhan ternyata terus berbuah buah hingga pada hari
jumat, 17 Juni 1988 jam 16.00 diselenggarakan Kebaktian
Syukur dan Upacara Peresmian Gedung Gereja GKI Pondok
Indah (GKIPI).
Pelayanan GKI PI ternyata tidak hanya berhenti pada
pelayanan ke dalam saja, melainkan terus berkembang
menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab anggota jemaatnya
untuk bersaksi keluar dengan peduli terhadap lingkungan,
seperti yang tertulis dalam rumusan Visi GKI PI yang
disahkan pada 18 Mei 2000 berbunyi „Gereja Indonesia yang
anggota jemaatnya peduli pada pembaruan manusia dan
lingkungan dalam rangka perwujudan misi Kerajaan Allah.
Potret situasi di mana GKI PI berada pada saat ini
diperhadapkan pada suatu tantangan bersama, yaitu
terjadinya perubahan-perubahan besar dan mendasar dalam
pelbagai segi kehidupan umat manusia. Kaidah-kaidah
tingkah laku, pola hidup, tata nilai dan pandangan
filosofis-agamawi sedang mengalami pergeseran, hingga masa
depan yang dihadapi bersama adalah masa depan yang penuh
tantangan berat. Akselerasi perubahan itu dipercepat oleh
revolusi di bidang IPTEK, sarana informasi dan komunikasi,
serta sarana transportasi yang makin canggih, yang memberi
kemungkinan bagi meningkatnya mobilitas kehidupan manusia.
Seiring dengan perubahan-perubahan besar yang terjadi,
muncul berbagai masalah sosial yang makin kompleks,
seperti: kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial,
merebaknya primordialisme, adu kekuatan dan kekuasaan
dengan semboyan "aji mumpung", seperti mumpung lagi di
atas, mumpung lagi hoki, mumpung lagi berkuasa... dan
mumpung-mumpung yang lain lagi.
Dalam kondisi seperti ini, tidak mustahil banyak orang
kehilangan pegangan imannya. Tugas kita yang cukup berat
adalah bertahan untuk tetap berdiri di atas dasar iman
yang benar, tidak kehilangan pegangan.
Dilematikanya, pada satu pihak, masyarakat membutuhkan
pelayanan kita, baik dalam mempertahankan dasar-dasar iman
maupun perealisasiannya dalam bentuk bentuk baru yang
sesuai dengan tuntutan perkembangan. Pada pihak lain,
untuk memenuhi tugas panggilan itu, kita menghadapi
berbagai keterbatasan kemampuan, baik secara struktural,
keterbatasan daya dan dana, serta sumber daya manusia yang
berkualitas unggul.
Keberadaan sekolah Tirta Marta dan Permata Bunda yang
bekerjasama dengan BPK Penabur adalah salah satu bentuk
tanggungjawab GKI PI untuk melaksanakan fungsi kritis,
konstruktif, dan aspiratif bagi kehidupan masyarakat,
bangsa dan negara. Agar dapat ikut ambil bagian secara
konkret dalam masyarakat, maka GKI PI perlu dengan serius
berusaha mengembangkan pribadi-pribadi Kristen untuk
memiliki bakat-bakat kepemimpinan, atau setidak-tidaknya,
memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas kepemimpinan
Kristen.
Dengan demikian, di manapun seseorang Kristen berada,
secara pribadi mampu menampilkan sosok pemimpin Kristen
dalam lingkupnya. Ia memahami rambu-rambu Firman Tuhan.
Tidak tepat jika kita bersikap masa bodoh terhadap
perjalanan bangsa, seperti yang dikatakan oleh
Dr.J.Leimena:”kita berhak menikmati buah perjuangan bangsa
kita, hanya bila kita ikut dalam kesakitannya”. Kelalaian
kita tidak hanya memperkecil peran-peran dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tetapi sekaligus
mempersulit diri kita untuk tetap eksis di tengah bangsa
ini.
Jemaat GKI PI yang sudah menginjak usia 20 tahun telah
cukup makan asam garam terhadap pergumulan bangsanya. Oleh
karena itu, marilah kita sebagai bagian dari jemaat GKI
PI, secara dewasa dan serius ikut ambil bagian dalam Misi
Allah dengan peran-peran kita yang peduli terhadap
perjalanan bangsa ini.
Selamat Ulang Tahun jemaat GKI Pondok Indah yang dikasihi
Tuhan. Ia adalah Gembala yang akan selalu menyertai
perjalanan Gereja-Nya dalam berperan di tengah-tengah
dunia ini.
Purboyo W. Susilaradeya
Jangan Menjadi “Supermarket”
Tetapi “Rumah”
Setelah 20 tahun harus kita gambarkan sebagai apakah GKI
Pondok Indah, jemaat kita ini? Tak terhitung berkat yang
telah dikaruniakan Tuhan kepada jemaat kita, dari berbagai
kemudahan, warga dan simpatisan, hingga berbagai
kesempatan. Ini semua tentu patut kita syukuri. Namun di
balik itu ada semacam kekuatiran bahwa berbagai berkat itu
tidak kita pergunakan seoptimal mungkin.
Kadang-kadang secara bergurau saya menyatakan kekuatiran
saya atas kebaktian Minggu. Orang pergi ke gereja pada
hari Minggu seharusnya pertama-tama untuk berbakti kepada
Tuhan. Namun bisa saja orang pergi ke kebaktian Minggu
seperti pergi ke bioskop. Bukan untuk bertemu orang,
apalagi Tuhan. Tetapi untuk penikmatan diri
(entertainment): melihat film. Maka yang menjadi perhatian
lalu apakah gedung dan berbagai fasilitasnya memadai untuk
menonton film itu dengan nyaman. Kemudian film itu sendiri
tentu harus sesuai selera: tema dan plot ceritanya,
sutradaranya serta tidak lupa bintang utamanya...
Datang ke gereja atau menjadi bagian dari jemaat
kadang-kadang sama menguatirkannya. Jangan-jangan setelah
20 tahun GKI Pondok Indah diharapkan untuk menjadi
“supermarket”. Orang lalu datang tidak perlu sebagai
langganan, dan tidak perlu kenal pada para pramuniaganya
apalagi kasir atau direkturnya. Mungkin kenal tukang
parkir agak perlu supaya diberi tempat parkir yang nyaman
dan kaca spion mobil kita aman. “Barang-barang” yang
ditawarkan harus cukup beragam sehingga para pengunjung
dapat memilih sendiri apa yang dibutuhkannya. Namun yang
lebih menguatirkan lagi adalah apabila kita, sebagai
jemaat, berusaha memenuhi harapan itu. Yaitu sekadar
menjadi supermarket yang memenuhi selera pengunjung,
bahkan kalau perlu menjadi “hypermarket”.
Saya bermimpi GKI Pondok Indah menjadi sebuah “rumah”
bukan dalam arti “gedung” (house) tetapi “rumah tinggal”
(home). Secara visual saya membayangkan “rumah saya, GKI
Pondok Indah” seperti ini:
- Rumah kita itu adalah sebuah rumah yang berdiri di tepi
jalan yang banyak dilalui orang, kelihatan dan nyata...
- Rumah itu ramah dan terbuka: menerima bahkan mengundang
orang untuk datang....
- Rumah bagi semua orang: tua-muda, laki-laki-perempuan,
pintar-bodoh, kaya-miskin, yang sibuk-yang
pengangguran....
- Rumah yang selalu mengingatkan agar para penghuninya
menyadari siapa pemilik rumah kita yang sebenarnya, yaitu
Tuhan...
- Rumah yang diatur dan dikelola sesuai dengan kehendak
sang pemilik...
- Rumah yang terus-menerus direnovasi dan dibangun....
- Rumah yang mempunyai banyak jendela ke segala arah,
sehingga para penghuninya tahu apa yang terjadi di
sekitarnya, sehingga bila perlu pada saat yang tepat
melakukan sesuatu...
- Rumah yang membuat orang kerasan, tetapi tidak
memanjakan orang untuk “tetap” berada di dalam rumah,
namun yang menyediakan segala keperluan dan perlengkapan,
agar setiap penghuninya dapat dengan sukacita memilih dan
menempuh perjalanannya sendiri-sendiri...
- Rumah yang memberi kesempatan kepada para penghuninya
untuk menceritakan kisahnya masing-masing, serta
mendengarkan kisah penghuni yang lain, tanpa perlu
menghakimi dan dihakimi...
- Rumah yang menyediakan kemudahan untuk bersepakat guna
melakukan sesuatu yang baik secara bersama-sama...
- Rumah yang menjanjikan suasana yang menyenangkan,
ketenangan dan kedamaian, bahkan relaksasi...
- Rumah di mana saling memperhatikan dan melayani adalah
semboyan utama...
- Rumah yang .... (silakan isi sendiri)
Dirgahayu GKI Pondok Indah. Dirgahayu rumah kita tercinta.
Mari kita bangun rumah kita ini, agar sang pemilik tetap
mempercayakannya pada kita....!
Riani J. Suhardja
Visi dan Strategi
Walaupun saya terlahir (disidi) di GKI PI, namun baru
tahun ini saya mengikuti acara ulang tahun GKI PI.
Bermimpi untuk sebuah tempat Tuhan berkarya, bagi saya
sama tidak mudahnya dengan bermimpi untuk masa depan diri
sendiri. Namun di atas semuanya, yang tersulit adalah
menemukan Visi. Seorang pernah berkata pada saya, “Ri,
kalau satu orang bermimpi itu biasa, tetapi kalau beberapa
orang bermimpi, itu namanya Visi!” Di GKI PI, ternyata hal
ini sudah terwujud. Sebuah Tim di GKI PI telah merumuskan
mimpi gereja yang disetujui oleh beberapa “pemimpi”. Namun
apalah arti mimpi (atau kalau sudah bisa disebut Visi) itu
jika tidak diwujudkan?
Pdt. Joas dulu pernah berkata pada saya, jika saya ingin
bergabung dengan GKI PI, hal utama yang harus saya
pertimbangkan adalah apakah visi dan misi gereja ini
sejalan dengan visi dan misi saya. Kalau saat ini saya
diminta untuk menyatakan harapan saya ke depan untuk GKI
PI, sebenarnya tentulah tidak jauh berbeda dengan apa yang
GKI PI cita-citakan dalam rumusan-rumusannya. Sebab
menurut hemat saya, saya dipanggil bukan untuk mengubahnya
tetapi untuk mendukung Visi gereja ini.
Dan kalau saat ini saya diminta untuk menggabungkan
keduanya, kira-kira demikian: saya membayangkan, akan
semakin banyak anggota jemaat GKI PI yang menyadari
pentingnya penanaman nilai-nilai hidup Kristiani pada
generasi muda. Sehingga mereka tidak hidup untuk
memperkaya diri sendiri saja melainkan dengan kekayaan
yang terbatas, yang juga berasal dari Tuhan, memiliki
dorongan bersama dan kuat untuk mendukung proses menabur,
memelihara dan mensyukuri pertumbuhan yang terjadi pada
generasi muda.
Secara khusus beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk
pencapaiannya adalah:
- Sektor pembinaan bagi para pendamping dan pengajar
mulai dari pembekalan ajaran, penerapan, sampai pelatihan
pendekatan personal maupun komunal perlu mendapat
perhatian khusus dari para pejabat gerejawi dan pengurus
yang terkait.
- Sektor persekutuan, perlu ditingkatkan khususnya bagi
para orangtua yang berelasi secara langsung dengan
generasi muda di seluruh GKI PI. Keakraban dan kerja sama
antar para pendidik, pengajar serta orangtua sebagai
pelaku utama keduanya, menjadi kunci keberhasilan yang
mendukung pertumbuhan iman serta kedewasaan generasi muda.
- Sektor Penatalayanan menargetkan dalam programnya pada
regenerasi yang bukan hanya terjadi dari tangan ke tangan
(atau tukar guling), tetapi dari generasi ke generasi yang
lebih muda. Dan konsekuensinya, selain ada tim evaluasi
(bukan tim sensor), hadir pula tim yang mengerahkan
pikiran untuk selalu mengimbangi ide-ide generasi muda
dengan para seniornya melalui promosi yang kreatif
sehingga semakin hilang gap antara yang kuno dan yang
kini. Namun hal ini terjadi bukan untuk mengubah esensi
ajaran gereja, melainkan semata terfokus pada upaya
pencarian solusi terhadap masalah kejenuhan terhadap
penyajian terhadap isi yang kurang inovatif.
- Sektor Ibadah dilakukan bukan hanya dibatasi oleh
gedung gereja saja melainkan setiap keluarga memiliki
‘gereja’nya sendiri di dalam rumah yang mempersiapkan
setiap anggotanya tanpa membedakan faktor usia, untuk
sama-sama mendorong memberi diri buat tercapainya visi
misi gereja.
Semoga dengan hal ini generasi muda meneladani, sama
sekali tidak terbuai manja tetapi justru semakin
bersemangat karena sadar tongkat estafet semakin dekat,
khususnya dengan moment bertambahnya usia mereka dan usia
gerejanya.
|