Kasut
25 Juni 2003
Mimpi dan Pandangan para Pendeta/Calon Pendeta GKIPI
Pada tanggal 20 Juni 1984 Gereja Kristen Indonesia Kebayoran Baru Cabang Kebayoran Selatan diresmikan menjadi Gereja Kristen Indonesia Kebayoran Selatan. Pada ulang tahunnya ke 4 di gedung gereja yang baru, nama GKI Kebayoran Selatan diubah menjadi GKI Pondok Indah. Dan saat ini GKI Pondok Indah telah berusia 20 tahun.

Pada awalnya Pdt. Agus Susanto adalah satu-satunya pendeta. Kini termasuk Riani J. Suhardja, GKI Pondok Indah dilayani oleh 6 orang pendeta/calon pendeta. 6 orang berarti 6 kepribadian, 6 gaya, 6 persepsi, 6 pendekatan dan 6 cara memandang. Di bawah ini silakan simak dan nikmati 6 pandangan dan mimpi dari 6 pelayan GKI Pondok Indah itu dalam menyambut Hari Ulang Tahun GKI Pondok Indah ke 20.


Agus Susanto

Mewujudnyatakan Visi

Jemaat GKI PI adalah jemaat ‚gado-gado‘ baik dari segi etnik, denominasi gereja maupun sosial ekonomi. Jemaat ini terdiri dari bermacam-macam suku yang ada di Indonesia (Cina, Jawa, Madura, Bali, Toraja, Ambon, Dayak, Menado, Batak dsb). Dari segi latar belakang gereja pun beraneka ragam: ada GKI, GKJ, HKBP, Pentakosta, Katolik dll. Demikian pula dengan status sosial ekonomi.

Kenyataan semacam ini, bisa menjadi kekayaan yang memperluas dan memperkaya wawasan persekutuan kita, tetapi juga sebaliknya dapat menjadi kendala oleh karena perbedaan-perbedaan itu sendiri. GKI PI ditempatkan di tengah masyarakat metropolitan yang cenderung individualistik, di mana setiap individu orientasinya kepada kepentingan diri sendiri. Situasi yang semacam ini, sekaligus menjadi tantangan dengan kehidupan bergereja kita. Dalam konteks yang seperti inilah GKI PI dan anggota jemaatnya ditempatkan Tuhan untuk tetap menghadirkan syalom Allah dalam rangka misi-Nya.

Dalam hal ini GKI PI telah berhasil merumuskan visinya yaitu: “Gereja Indonesia yang anggota jemaatnya peduli pada pembaharuan manusia dan lingkungan dalam rangka perwujudan misi Kerajan Allah.” Namun ingat bahwa visi ini masih merupakan impian kita bersama, yang menuntut kerja keras kita untuk mewujudnyatakannya, sehingga mimpi itu menjadi kenyataan dan bukan sekadar slogan kosong.

Itulah harapan saya!


Rudianto Djajakartika

GKIPI-ku yang Besar dan Lamban??

Besar memang sering diidentikkan dengan kelambanan. Tidaklah heran dalam jumpa nostalgia yang lalu, banyak orang juga mengatakan ‘GKI PI sudah menjadi besar dan cenderung lamban’. Contoh Gajah yang besar dan lamban saya kira juga menjadi contoh yang tepat. Kalau mengenang 14 tahun yang lalu saya mulai melayani di GKIPI, memang terasa suasana yang berbeda. Kalau mau dikatakan bahwa GKI PI tidak segesit yang lalu, saya kira juga ada benarnya.

Tetapi apakah dengan demikian lalu ‘nasib’ ini harus diterima saja? Kalau gajah mungkin ya, karena gajah memang akan selalu besar dan cenderung lamban dibanding si kancil. Tetapi GKI PI bukanlah gajah. Ia adalah sebuah lembaga gerejawi. Di dalamnya ada sistem dan model persekutuan yang selalu bisa diarahkan dan dibaharui.

Menjadi besar saya kira adalah cita-cita semua yang bertumbuh dan berkembang. Namun harus selalu dicari sistem dan model persekutuan yang tetap dapat memunculkan kegesitan. Pengefektifan kombas (komunitas basis) serta pemberian ruang gerak jemaat yang lebih luas adalah salah satu caranya. Pemberian ruang kreatifitas dalam koridor yang lebih luwes tanpa harus kehilangan sifat rigidnya adalah cara lainnya.

Pada dasarnya manusia itu dinamis. Ia juga cenderung akan mencari keseimbangannya sendiri. Ketika yang dinamis ini bersekutu dengan yang lain, maka muncullah dinamika persekutuan. Mari kita arahkan dinamika ini pada tujuan dan visi GKI PI. Ketika keseimbangan mulai mewujud, ‘diganggu’ sedikit bolehlah, supaya yang tidur jadi ‘bangun’. Saya jadi ingat ‘multiplier efect’ dalam ilmu ekonomi. Sedikit stimulus bolehlah, kadang hasilnya bisa berganda dan luarbiasa. Tentu dalam sebuah sistem, yang besar juga bisa kita jadikan ‘kecil’ agar muncul kegesitannya!

Selamat ulang tahun yang ke XX GKI PI Ku. Menjadi besarlah dan berkembanglah, tanpa harus kehilangan kegesitanmu. Dalam sebuah sistem selalu ada cara untuk tidak kehilangan kelincahan dalam sebuah kebesaran!


Joas Adiprasetya

Mimpi Saya

Sejak pertama kali saya memulai pelayanan di GKI Pondok Indah, saya sudah melihat cerahnya masa depan jemaat itu. Salah satu sebabnya, karena keterbukaan anggota dan majelis jemaat terhadap kemajuan dan hal-hal baru, selain juga sumber daya yang luar biasa. Kenyataan ini membuat saya memasuki pelayanan di jemaat ini dengan antusias. Saya berani bermimpi bersama dengan seluruh jemaat GKI Pondok Indah. Dan lebih dari itu, saya berani bangun dari mimpi bersama demi menggapai mimpi tersebut.

Mimpi saya ––dan semoga pula mimpi kita bersama–– terpusat pada kehidupan sebuah jemaat yang bertumbuh dan berbuah dalam segala aspek. Saya memimpikan sebuah jemaat yang bertumbuh dan berbuah dalam hidup beribadah dan bersekutu. Sebuah jemaat yang anggota-anggotanya senang berperan dalam ibadah, aktif dalam persekutuan dan menghargai komunitas sebagai keluarga mereka sendiri. Misalnya, coba bayangkan sebuah ibadah minggu yang tidak didominasi oleh pejabat gereja, namun seluruh elemennya dikerjakan oleh anggota jemaat. Mulai dari penyambut jemaat hingga petugas liturgi.

Saya juga memimpikan sebuah jemaat yang bertumbuh dan berbuah dalam aspek kesaksian dan pelayanan. Bayangkan, jika semua anggota jemaat terlibat dalam kesaksian dan pelayanan di lokasi hidup mereka masing-masing, hidup bagi sesama, tanpa berpikir bahwa melayani harus melalui kegiatan gerejawi.

Saya juga memimpikan sebuah jemaat yang tak seorang pun tertinggal dalam pembinaan. Semua terbina sesuai dengan minat, kebutuhan dan keunikan masing-masing.

Singkatnya, mimpi saya terpapar dalam sebuah kehidupan jemaat yang tidak makin menggemukkan diri sendiri, sadar bahwa gereja ada hanya untuk dunia, serta penuh gairah melakoni hidup sebagai sebuah panggilan. Bukankah semua ini inti dari visi GKI Pondok Indah?

Konon, jika satu orang bermimpi dunia akan menertawakannya. Namun, jika banyak orang bermimpi dengan mimpi yang sama, dunia akan berubah. Perubahan atau transformasi ini hanya mungkin terjadi jika gerak-layan jemaat kita selalu mengalami pembaruan terus-menerus. Perlahan, namun pasti. Penuh antusiasme namun terarah.

Langkah pertama mewujudkan mimpi-mimpi ini, menurut saya, adalah mulai dari menilai ulang keseluruhan kegiatan gerejawi. Masih terlalu banyak kegiatan yang menghabiskan dana dan daya terlampau besar tanpa terarah pada peraihan visi atau mimpi ini. Lebih baik memiliki kegiatan yang sedikit namun berarti tinimbang banyak namun kosong makna.

Langkah kedua, menurut hemat saya, adalah diperlukannya kerelaan dari para aktivis, khususnya pejabat gereja, untuk membagi beban pelayanan pada mereka yang selama ini belum aktif. Sebaliknya, mereka yang belum aktif perlu memikirkan partisipasi konkret yang sesuai dengan minat dan talenta mereka.

Akhirnya, yang ketiga, diperlukan bentuk-bentuk pembinaan baru yang menjawab kebutuhan jemaat dan yang tidak sekadar bercorak one-way, namun partisipatoris dan kreatif.

Mari bermimpi bersama!


Tumpal M.P.L. Tobing

Setelah 20 tahun, lalu apa lagi yang harus kita lakukan?

Dalam buletin Gereja Kristen Indonesia Kebayoran Baru yang diterbitkan pada 23 Desember 2001 ditulis demikian: “pada tanggal 20 Juni 1984, telah dilakukan Kebaktian dan Upacara Pendewasaan Gereja Kristen Indonesia Kebayoran Baru Cabang Kebayoran Selatan menjadi jemaat Gereja Kristen Indonesia Kebayoran Selatan.

Salah satu konsentrasi program dalam jemaat yang baru dewasa ini, adalah menumbuhkan terus persekutuan antar anggota jemaat sebagai usaha untuk melakukan konsolidasi ke dalam dan yang tidak kalah pentingnya adalah menumbuhkan kesadaran dan tanggungjawab anggota jemaatnya untuk berdoa dan bekerja bersama membangun sebuah gedung Gereja.

Empat tahun kemudian upaya dan jerih payah melayani di ladang Tuhan ternyata terus berbuah buah hingga pada hari jumat, 17 Juni 1988 jam 16.00 diselenggarakan Kebaktian Syukur dan Upacara Peresmian Gedung Gereja GKI Pondok Indah (GKIPI).

Pelayanan GKI PI ternyata tidak hanya berhenti pada pelayanan ke dalam saja, melainkan terus berkembang menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab anggota jemaatnya untuk bersaksi keluar dengan peduli terhadap lingkungan, seperti yang tertulis dalam rumusan Visi GKI PI yang disahkan pada 18 Mei 2000 berbunyi „Gereja Indonesia yang anggota jemaatnya peduli pada pembaruan manusia dan lingkungan dalam rangka perwujudan misi Kerajaan Allah.

Potret situasi di mana GKI PI berada pada saat ini diperhadapkan pada suatu tantangan bersama, yaitu terjadinya perubahan-perubahan besar dan mendasar dalam pelbagai segi kehidupan umat manusia. Kaidah-kaidah tingkah laku, pola hidup, tata nilai dan pandangan filosofis-agamawi sedang mengalami pergeseran, hingga masa depan yang dihadapi bersama adalah masa depan yang penuh tantangan berat. Akselerasi perubahan itu dipercepat oleh revolusi di bidang IPTEK, sarana informasi dan komunikasi, serta sarana transportasi yang makin canggih, yang memberi kemungkinan bagi meningkatnya mobilitas kehidupan manusia.

Seiring dengan perubahan-perubahan besar yang terjadi, muncul berbagai masalah sosial yang makin kompleks, seperti: kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial, merebaknya primordialisme, adu kekuatan dan kekuasaan dengan semboyan "aji mumpung", seperti mumpung lagi di atas, mumpung lagi hoki, mumpung lagi berkuasa... dan mumpung-mumpung yang lain lagi.

Dalam kondisi seperti ini, tidak mustahil banyak orang kehilangan pegangan imannya. Tugas kita yang cukup berat adalah bertahan untuk tetap berdiri di atas dasar iman yang benar, tidak kehilangan pegangan.

Dilematikanya, pada satu pihak, masyarakat membutuhkan pelayanan kita, baik dalam mempertahankan dasar-dasar iman maupun perealisasiannya dalam bentuk bentuk baru yang sesuai dengan tuntutan perkembangan. Pada pihak lain, untuk memenuhi tugas panggilan itu, kita menghadapi berbagai keterbatasan kemampuan, baik secara struktural, keterbatasan daya dan dana, serta sumber daya manusia yang berkualitas unggul.

Keberadaan sekolah Tirta Marta dan Permata Bunda yang bekerjasama dengan BPK Penabur adalah salah satu bentuk tanggungjawab GKI PI untuk melaksanakan fungsi kritis, konstruktif, dan aspiratif bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Agar dapat ikut ambil bagian secara konkret dalam masyarakat, maka GKI PI perlu dengan serius berusaha mengembangkan pribadi-pribadi Kristen untuk memiliki bakat-bakat kepemimpinan, atau setidak-tidaknya, memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas kepemimpinan Kristen.

Dengan demikian, di manapun seseorang Kristen berada, secara pribadi mampu menampilkan sosok pemimpin Kristen dalam lingkupnya. Ia memahami rambu-rambu Firman Tuhan. Tidak tepat jika kita bersikap masa bodoh terhadap perjalanan bangsa, seperti yang dikatakan oleh Dr.J.Leimena:”kita berhak menikmati buah perjuangan bangsa kita, hanya bila kita ikut dalam kesakitannya”. Kelalaian kita tidak hanya memperkecil peran-peran dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tetapi sekaligus mempersulit diri kita untuk tetap eksis di tengah bangsa ini.

Jemaat GKI PI yang sudah menginjak usia 20 tahun telah cukup makan asam garam terhadap pergumulan bangsanya. Oleh karena itu, marilah kita sebagai bagian dari jemaat GKI PI, secara dewasa dan serius ikut ambil bagian dalam Misi Allah dengan peran-peran kita yang peduli terhadap perjalanan bangsa ini.

Selamat Ulang Tahun jemaat GKI Pondok Indah yang dikasihi Tuhan. Ia adalah Gembala yang akan selalu menyertai perjalanan Gereja-Nya dalam berperan di tengah-tengah dunia ini.


Purboyo W. Susilaradeya

Jangan Menjadi “Supermarket” Tetapi “Rumah”

Setelah 20 tahun harus kita gambarkan sebagai apakah GKI Pondok Indah, jemaat kita ini? Tak terhitung berkat yang telah dikaruniakan Tuhan kepada jemaat kita, dari berbagai kemudahan, warga dan simpatisan, hingga berbagai kesempatan. Ini semua tentu patut kita syukuri. Namun di balik itu ada semacam kekuatiran bahwa berbagai berkat itu tidak kita pergunakan seoptimal mungkin.

Kadang-kadang secara bergurau saya menyatakan kekuatiran saya atas kebaktian Minggu. Orang pergi ke gereja pada hari Minggu seharusnya pertama-tama untuk berbakti kepada Tuhan. Namun bisa saja orang pergi ke kebaktian Minggu seperti pergi ke bioskop. Bukan untuk bertemu orang, apalagi Tuhan. Tetapi untuk penikmatan diri (entertainment): melihat film. Maka yang menjadi perhatian lalu apakah gedung dan berbagai fasilitasnya memadai untuk menonton film itu dengan nyaman. Kemudian film itu sendiri tentu harus sesuai selera: tema dan plot ceritanya, sutradaranya serta tidak lupa bintang utamanya...

Datang ke gereja atau menjadi bagian dari jemaat kadang-kadang sama menguatirkannya. Jangan-jangan setelah 20 tahun GKI Pondok Indah diharapkan untuk menjadi “supermarket”. Orang lalu datang tidak perlu sebagai langganan, dan tidak perlu kenal pada para pramuniaganya apalagi kasir atau direkturnya. Mungkin kenal tukang parkir agak perlu supaya diberi tempat parkir yang nyaman dan kaca spion mobil kita aman. “Barang-barang” yang ditawarkan harus cukup beragam sehingga para pengunjung dapat memilih sendiri apa yang dibutuhkannya. Namun yang lebih menguatirkan lagi adalah apabila kita, sebagai jemaat, berusaha memenuhi harapan itu. Yaitu sekadar menjadi supermarket yang memenuhi selera pengunjung, bahkan kalau perlu menjadi “hypermarket”.

Saya bermimpi GKI Pondok Indah menjadi sebuah “rumah” bukan dalam arti “gedung” (house) tetapi “rumah tinggal” (home). Secara visual saya membayangkan “rumah saya, GKI Pondok Indah” seperti ini:

  • Rumah kita itu adalah sebuah rumah yang berdiri di tepi jalan yang banyak dilalui orang, kelihatan dan nyata...

  • Rumah itu ramah dan terbuka: menerima bahkan mengundang orang untuk datang....

  • Rumah bagi semua orang: tua-muda, laki-laki-perempuan, pintar-bodoh, kaya-miskin, yang sibuk-yang pengangguran....

  • Rumah yang selalu mengingatkan agar para penghuninya menyadari siapa pemilik rumah kita yang sebenarnya, yaitu Tuhan...

  • Rumah yang diatur dan dikelola sesuai dengan kehendak sang pemilik...

  • Rumah yang terus-menerus direnovasi dan dibangun....

  • Rumah yang mempunyai banyak jendela ke segala arah, sehingga para penghuninya tahu apa yang terjadi di sekitarnya, sehingga bila perlu pada saat yang tepat melakukan sesuatu...

  • Rumah yang membuat orang kerasan, tetapi tidak memanjakan orang untuk “tetap” berada di dalam rumah, namun yang menyediakan segala keperluan dan perlengkapan, agar setiap penghuninya dapat dengan sukacita memilih dan menempuh perjalanannya sendiri-sendiri...

  • Rumah yang memberi kesempatan kepada para penghuninya untuk menceritakan kisahnya masing-masing, serta mendengarkan kisah penghuni yang lain, tanpa perlu menghakimi dan dihakimi...

  • Rumah yang menyediakan kemudahan untuk bersepakat guna melakukan sesuatu yang baik secara bersama-sama...

  • Rumah yang menjanjikan suasana yang menyenangkan, ketenangan dan kedamaian, bahkan relaksasi...

  • Rumah di mana saling memperhatikan dan melayani adalah semboyan utama...

  • Rumah yang .... (silakan isi sendiri)

Dirgahayu GKI Pondok Indah. Dirgahayu rumah kita tercinta. Mari kita bangun rumah kita ini, agar sang pemilik tetap mempercayakannya pada kita....!


Riani J. Suhardja

Visi dan Strategi

Walaupun saya terlahir (disidi) di GKI PI, namun baru tahun ini saya mengikuti acara ulang tahun GKI PI.

Bermimpi untuk sebuah tempat Tuhan berkarya, bagi saya sama tidak mudahnya dengan bermimpi untuk masa depan diri sendiri. Namun di atas semuanya, yang tersulit adalah menemukan Visi. Seorang pernah berkata pada saya, “Ri, kalau satu orang bermimpi itu biasa, tetapi kalau beberapa orang bermimpi, itu namanya Visi!” Di GKI PI, ternyata hal ini sudah terwujud. Sebuah Tim di GKI PI telah merumuskan mimpi gereja yang disetujui oleh beberapa “pemimpi”. Namun apalah arti mimpi (atau kalau sudah bisa disebut Visi) itu jika tidak diwujudkan?

Pdt. Joas dulu pernah berkata pada saya, jika saya ingin bergabung dengan GKI PI, hal utama yang harus saya pertimbangkan adalah apakah visi dan misi gereja ini sejalan dengan visi dan misi saya. Kalau saat ini saya diminta untuk menyatakan harapan saya ke depan untuk GKI PI, sebenarnya tentulah tidak jauh berbeda dengan apa yang GKI PI cita-citakan dalam rumusan-rumusannya. Sebab menurut hemat saya, saya dipanggil bukan untuk mengubahnya tetapi untuk mendukung Visi gereja ini.

Dan kalau saat ini saya diminta untuk menggabungkan keduanya, kira-kira demikian: saya membayangkan, akan semakin banyak anggota jemaat GKI PI yang menyadari pentingnya penanaman nilai-nilai hidup Kristiani pada generasi muda. Sehingga mereka tidak hidup untuk memperkaya diri sendiri saja melainkan dengan kekayaan yang terbatas, yang juga berasal dari Tuhan, memiliki dorongan bersama dan kuat untuk mendukung proses menabur, memelihara dan mensyukuri pertumbuhan yang terjadi pada generasi muda.

Secara khusus beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk pencapaiannya adalah:

  1. Sektor pembinaan bagi para pendamping dan pengajar mulai dari pembekalan ajaran, penerapan, sampai pelatihan pendekatan personal maupun komunal perlu mendapat perhatian khusus dari para pejabat gerejawi dan pengurus yang terkait.

  2. Sektor persekutuan, perlu ditingkatkan khususnya bagi para orangtua yang berelasi secara langsung dengan generasi muda di seluruh GKI PI. Keakraban dan kerja sama antar para pendidik, pengajar serta orangtua sebagai pelaku utama keduanya, menjadi kunci keberhasilan yang mendukung pertumbuhan iman serta kedewasaan generasi muda.

  3. Sektor Penatalayanan menargetkan dalam programnya pada regenerasi yang bukan hanya terjadi dari tangan ke tangan (atau tukar guling), tetapi dari generasi ke generasi yang lebih muda. Dan konsekuensinya, selain ada tim evaluasi (bukan tim sensor), hadir pula tim yang mengerahkan pikiran untuk selalu mengimbangi ide-ide generasi muda dengan para seniornya melalui promosi yang kreatif sehingga semakin hilang gap antara yang kuno dan yang kini. Namun hal ini terjadi bukan untuk mengubah esensi ajaran gereja, melainkan semata terfokus pada upaya pencarian solusi terhadap masalah kejenuhan terhadap penyajian terhadap isi yang kurang inovatif.

  4. Sektor Ibadah dilakukan bukan hanya dibatasi oleh gedung gereja saja melainkan setiap keluarga memiliki ‘gereja’nya sendiri di dalam rumah yang mempersiapkan setiap anggotanya tanpa membedakan faktor usia, untuk sama-sama mendorong memberi diri buat tercapainya visi misi gereja.

Semoga dengan hal ini generasi muda meneladani, sama sekali tidak terbuai manja tetapi justru semakin bersemangat karena sadar tongkat estafet semakin dekat, khususnya dengan moment bertambahnya usia mereka dan usia gerejanya.



>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003