|
Jemaat pertama yang terbentuk di Yerusalem pada hari
Pentakosta, karena pencurahan Roh Kudus. Menurut apa yang
dikisahkan oleh dokter Lukas, jemaat yang terbentuk oleh
Roh Kudus itu, terdiri dari orang Yahudi yang berbahasa
Yunani dan Ibrani. Kebutuhan pelayanan komunitas itu
memerlukan kehadiran tujuh orang diaken dalam diri
Stefanus dan kawan-kawannya, sehingga para rasul “dapat
memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman,” serta
tidak “melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.” (Kis.
6:2-5).
Alkitab Perjanjian Baru memberitakan bahwa kelompok murid
Kristus di Palestina terdiri dari orang-orang Yahudi dari
kawasan Galilea. Sebagai orang Yahudi, partisipasi mereka
dalam kegiatan peribadatan dilakukan di lokasi
pemukimannya yang dipusatkan di sinagog. Oleh karena itu
untuk menemui sesama orang Yahudi di dalam perjalanan
misinya di luar Palestina, Paulus selalu mengunjungi
sinagog.
Keadaan ini berobah setelah para pengikut Kristus
dicap bidat dan dikucilkan dari komunitas Yahudi.
Pengucilan itu disertai pemberian label derogatif, yakni
Kristen (Kis. 11:26), etiket yang sekarang justeru kita
banggakan. Itulah garis pemisah mental di dalam ekuasi:
kami dan kamu. Di dalam konteks itulah terjadi
pengelompokan, yakni suatu proses sosial yang bermuara
kepada eksistensi gereja rumah (house church), seperti
terjadi di Korintus di rumah Akwila dan Priskila (Kis.
18:1-).
Kita jumpai gejala yang sama di daratan Cina, pada
waktu para pengikut Kristus dikejar penguasa. Proses ini
dilihat di dalam peran Roh Kudus, yakni kelanjutan dari
pembentukan jemaat pertama di Yerusalem. Oleh karena itu
Kitab Kisah Para Rasul, sebenarnya merupakan Kisah Karya
Roh Kudus.
GKI, sebagai bagian dari rumpun gereja-gereja reformasi,
secara struktural memberi tempat yang seluas-luasnya
kepada pelaksanaan imamat am orang percaya (1 Petr 2:9).
Doktrin itu dicantumkan dalam Mukadimah Tata Gereja GKI:
“Misi gereja dilakukan oleh semua anggota gereja.” (alinea
3 Mukadimah).
Selanjutnya, bahwa: “Jemaat adalah wujud
kesatuan GKI dan merupakan persekutuan keseluruhan Jemaat
GKI di wilayah itu.,” (ayat 2a pasal 1 Tata Dasar). Dan
Jemaat itu melaksanakan panggilannya, karena: “Mampu
mewujudkan persekutuan serta melaksanakan kesaksian dan
pelayanan.” (ayat 1b pasal 5 Tata Laksana).
Aksentuasi keluarga sebagai jemaat terkecil, yakni batu
bata (building block) di dalam pembangunan jemaat GKI
dijumpai, antara lain, di dalam kehadiran “Kebaktian
keluarga” (ayat 4a pasal 18 Tata Laksana), yang frekuensi
dan substansinya berada di luar pengaturan Majelis Jemaat.
Kebaktian keluarga itu dipimpin oleh suami, ayah, dan
kepala keluarga, yang berfungsi sebagai imam.
Di dalam kerangka berpikir tersebut di atas makalah ini
menempatkan kehadiran Komunitas Basis (Basic Christian
Community = BCC), sebagai suatu gerakan akar rumput yang
bermakna oikumenis di dalam konteks gereja masa depan di
Indonesia. Oleh karena itu perlu kiranya disinggung juga
Pokok-pokok Tugas Panggilan Bersama (PTPB), yang mencakup
juga GKI Pondok Indah, di dalam konteks gerakan oikumenis
institusional oleh PGI, melalui Lima Dokumen Keesaan
Gereja (LDKG).
|
|
Jemaat pertama di Yerusalem di dalam pengamatan dan
penuturan dokter Lukas, seperti disampaikannya kepada
Teofilus, memperlihatkan bagaimana anggapan publik di
Yerusalem terhadap sesama orang-orang Yahudi asal Galilea,
yang adalah murid-murid Kristus. Jangankan S1, tamat SD
saja pun, mungkin tidak. Memang waktu penyusunan SDM, yang
direkrut Tuhan Yesus tidak disyaratkan adanya penyerahan
CV, salinan ijazah (tidak palsu) serta tanpa keterangan
berkelakuan baik dari polisi (gaya kita).
Oleh karena itu,
harap maklum mengapa publik waktu itu mengganggap
orang-orang Galilea itu tidak mungkin dapat berbicara
dalam bahasa Partia, Media, Libia dan sebagainya (K.Ras
2:5-10). Tetapi karena api Roh Kudus, Petrus dan
rekan-rekannya bermetamorfosis, dan menjadi singa panggung.
Sungguh pun sesama orang Yahudi, tetapi di dalam interaksi
mereka ternyata faktor perbedaan daerah sangat menonjol.
Itulah perlakuan yang dialami orang-orang dari luar
Palestina. Kelompok non-Plaestina ini lebih suka berbicara
bahasa Yunani, dari pada Ibrani. Perbedaan bahasa dan
orientasi kedaerahan itu merupakan faktor penyebab
terjadinya diskriminasi pelayanan, yakni terhadap
janda-janda berbahasa Yunani.
Untuk mengindari bahaya api
di dalam sekam, karena suasana konflik, maka para rasul
mengadakan PMJ Khusus (gaya PI), dengan agenda tunggal:
memilih tujuh orang diaken. Mereka diambil dari antara
orang-orang bijak, “yang terkenal baik, yang penuh Roh dan
hikmat.” Karena tidak ada “keberatan yang sah dari jemaat,”
maka terpilihlah, antara lain: “Nikolaus, seorang penganut
agama Yahudi dari Anthiokhia.” (K.Ras 6:1-7).
Ternyata, manual mengenai persyaratan jabatan (job
requirement) dan uraian tugas (job description) jabatan
gerejawi, yakni sebagai penatua dan diaken, yang baru
kemudian dirumuskan Paulus, yakni dalam kasus pendeta
Timotius di Efesus dan pendeta Titus di Kreta (1 Tim
3:1-13 serta Tit 1:5-9).
Masalah isteri pejabat gerejawi
juga belum diatur, tetapi sudah mendapat perhatian dan
dipersoalkan Paulus. Masalahnya, karena Petrus/Kefas biasa
membawa isterinya di dalam perkunjungan gerejawi (1 Kor
9:5). Waktu itu belum ada konven isteri pendeta. Yang mau
dikemukakan di sini ialah bahwa kasus-kasus itu membuka
jendela waktu lampau dan menyingkapkan kepada kita keadaan
jemaat pertama di dalam interaksinya.
Kalau kita sekarang menggunakan istilah kontekstual, maka
pola berpikir itu juga dijumpai di kalangan jemaat pertama
di Yerusalem, yang bermakna penginjilan dalam lingkungan
masyarakat Yahudi. Kasus Kornelius, perwira Romawi, yang
dibaptis Petrus menimbulkan heboh besar di Yerusalem.
Jemaat pertama yang terdiri dari orang-orang Yahudi di
kota itu memang benar telah menerima Kristus. Namun dalam
konteks pola berpikir jemaat pertama itu, karunia Roh
Kudus dianggap hak prerogatif dan ekslusif orang Yahudi.
Oleh karena itu, orang-orang Yahudi yang menyaksikan
peristiwa itu menjadi “tercengang-cengang, karena melihat,
bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa
lain juga.” (Kis. 10:1-).
Kasus di atas membuktikan bahwa kontekstualisasi tidak
menjanjikan akomodasi yang mudah, karena ia menantang diri
sendiri. Sejauh mana fokus kita tetap dapat diarahkan
kepada Injil Kristus, dalam konteks kita masing-masing,
khususnya Jemaat GKI Pondok Indah dengan kebijakan
mengenai pembentukan Komunitas Basis? Dalam hal ini
kiranya masih tetap relevan bagi jemaat GKI Pondok Indah
nasihat Paulus sekitar dua ribu tahun yang lalu kepada
jemaat di Roma: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan
dunia, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.” (Roma
12:2).
Teologi kontekstual selalu bermakna oikumenis, karena
bersifat lintas jemaat. Dikatakan pendekatan oikumenis,
karena terdapat saling mengoreksi dan proses memperkaya
sesama saudara seiman. Sikap ini dijunjung nilai-nilai
yang luhur, seperti yang dijumpai dalam ucapan seorang
tokoh Dewan Gereja Sedunia: “Setiap ungkapan kekristenan
yang timbul dalam bentuk historis tertentu perlu ditantang
oleh bentuk ungkapan lain agar ia tidak menjadi beku, agar
ia senantiasa ingat akan keterbatasannya.” (Visser `t
Hooft, 1967).
Pada pihak lain, ada pesan yang bijak dari seorang teolog
Asia agar tetap bijaksana dan hati-hati, sehingga
janganlah karena keasyikan kita dengan “konteks,” membuat
kita mungkin tidak dapat melihat, dan bahkan melupakan “TEKS,”
yakni: “Firman yang menjadi manusia.” Nasehat yang
diberikannya ialah untuk tetap memelihara keseimbangan
antara kebutuhan akan relevansi dan kesetiaan kepada teks,
yakni dengan rumus: “Setia pada teks, tetapi relevan
kepada konteks.” (Shoki Coe, 1973). Setia kepada “teks”,
menurut pemikir tersebut, merujuk kepada memberikan
otoritas dan otentisitas berita kristiani dalam kehidupan
kristiani. Pada pihak lain, “konteks” merujuk kepada
situasi keseluruhan tempat dan waktu tertentu. Dalam
suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus mengemukakan
pola pemikiran senada: “Tetapi harta ini [Injil] kami
punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa
kekuatan yang melimpah-limpah berasal dari Allah dan bukan
dari kami.” (2 Kor 4:7). Yang dimaksudkan oleh Paulus
ialah bahwa Injil tetap tak berobah, sedang yang berobah,
ialah bejana tanah liat (kemasan)..... |