Kasut
30 Maret 2004
Rumah Tuhan yang Nyaman
Samuel W. Suhartono/S Soekamto
Apakah yang dimaksud dengan Rumah Tuhan di sini? Gedung Gerejakah? Ya betul sekali! Lalu bagaimanakah membangun atau mempunyai Rumah Tuhan yang nyaman? Apa maksudnya? Yang mewah seperti istana rajakah?

Nyaman atau dalam bahasa sononya “comfort” bisa diartikan macam-macam. Namun yang dimaksud nyaman di sini adalah secara fisik badan kita merasakan enak tidak ada keluhan terlalu panas atau terlalu dingin, terlalu terang atau terlalu gelap, dan telinga kita tidak juga mengeluh terlalu keras atau terlalu mendengung alias tidak dapat mendengarkan khotbah pendeta dengan jelas dan jernih.

Kalau tidak nyaman akibatnya kita pulang dari kebaktian merasa sedikit tidak “sejahtera”, istilah kerennya, karena tidak dapat mendengar dengan baik firman yang disampaikan oleh pendeta. Karena selama di dalam gedung gereja tangan tak henti-hentinya mengibas terus karena terlalu panas/gerah (bahkan kadang ada ibu hamil atau lansia yang pingsan karena kekurangan udara segar, padahal Tuhan sudah memberi kepandaian kepada manusia untuk menciptakan alat penyegar udara).

Atau karena yang terdengar masuk ke telinga hanya suara keras saja tetapi tidak jelas kata-katanya atau kebetulan duduk di area yang memang tidak dapat mendengar sama sekali atau istilahnya “blank spot”. Apabila “akustik ruang” dan “sound system” tidak dirancang dengan baik banyak terdapat blank spots. Hal ini dapat kita amati mengapa jemaat tertentu duduknya selalu di tempat yang sama sejauh mereka beribadah di gereja yang sama karena mereka sudah survey dengan berpindah pindah tempat duduk untuk memperoleh tempat yang nyaman.

Sebagai contoh Gedung Gereja GKI Pondok Indah, pada kebaktian pertama dan kedua tempat duduk di bawah balkon lebih penuh dibandingkan dengan di bagian depan balkon. Hal ini dapat dianalisa, karena suara dari pengeras suara langsung terdengar ke telinga, dan suara pantul ke dinding samping tidak ada dan pantulan dari plafon juga minim sekali karena sudah dipasang peredam. Pantulan hanya terjadi pada dinding belakang, inipun hanya pantulan pertama saja, pantulan berikutnya tidak terjadi karena bagian kanan dan kiri terbuka dan plafon ada peredam.

Jadi kesimpulannya, tempat duduk di bawah balkon lebih nyaman untuk mendengarkan khotbah karena tidak ada echo atau gema akibat pantulan dari plafon, dinding, maupun lantai berkali-kali. Jika pantulan terjadi lebih dari lima kali dan bercampur dengan suara yang datang berikutnya, maka hal itu akan mengakibat terjadinya lafal suara yang tidak jelas.

Kepandaian Berkembang
Manusia diberi kepandaian yang terus berkembang dan makin canggih untuk menciptakan peralatan yang membuat hidup kita lebih nyaman. Orang membangun rumah atau gedung pertemuan umum atau apalah istilahnya, pokoknya tempat berteduh atau tempat berlindung dari sengatan matahari pada waktu siang dan dari tiupan angin dingin pada waktu malam hari.

Manusia juga berpikir bagaimana kalau ia berkata-kata dapat terdengar sampai beberapa kilometer jauhnya tanpa harus berteriak setengah mati maka ia menciptakan alat pengeras suara. Tentu kita juga tak melupakan Edison yang berusaha keras untuk menemukan cara bagaimana cahaya terang pada malam hari bisa lebih nyaman tidak bersusah payah menebang pohon lalu membakar kayunya atau dengan sumbu yang dicelup ke dalam minyak lalu dibakar yang kesemuanya menimbulkan asap yang menyesakkan pernapasan manusia dan rawan kebakaran.

Demikianlah manusia terus menciptakan alat-alat untuk membuat dirinya nyaman, membuat rumah atau tempat berteduh dengan berbagai macam model termasuk interiornya sehingga terciptalah disiplin ilmu “Arsitektur”, yang mempelajari bagaimana membangun rumah atau bangunan apapun fungsinya yang dikaitkan dengan keindahan dan kenyamanan.

Tampak indah saja tapi tidak nyaman untuk ditempati tentu tidak akan dipakai. Untuk kenyaman tersebut perlu bantuan disiplin ilmu yang lain yaitu Teknik Fisika yaitu yang mempelajari fisika bangunan yang meliputi “Sound”, “Lighting”, dan “Thermal Comfort”.

Di sini berbagai macam bahan bangunan diuji ketahanannya terhadap sound (seberapa jauh bahan tersebut memantulkan, menyerap suara dan meneruskan suara), terhadap cahaya (bagaimana perilaku bahan tersebut bila kena cahaya, memantulkan atau memendarkan cahaya), terhadap panas (jenis bahan bangunan yang mana yang bisa menyerap panas dengan baik sehingga pemakaian energi listrik menjadi hemat, yang tentu dibarengi dengan design ventilasi yang memadahi). Nah kedua disiplin ilmu tersebut harus melakukan kompromi untuk menghasilkan bangunan yang indah dan nyaman sehingga orang merasa “comfort” tinggal di dalamnya.

Untuk kenyamanan di dalam gedung gereja tentu yang harus kita pikirkan adalah “thermal comfot”nya dan gema (echo).

Pertama, thermal comfort akan menentukan apakah jemaat yang duduk beribadah merasa kegerahan/kedinginan atau tidak, hal ini bisa diatasi dengan pemilihan bahan bangunan yang mampu menyerap/menghambat intrusi panas terutama dari atap. Genteng atau atap metal saja tidak cukup harus ditambah thermal insulation yang cukup supaya suhu di dalam ruang sesuai dengan kondisi orang di dalamnya, dalam hal ini “duduk”. Kalau di dalam ruang kantor atau pabrik di mana orang di dalamnya banyak bergerak tentu suhu yang diperlukan agar nyaman akan berbeda. Juga jenis pakaian yang dipakaipun ikut menentukan juga suhu berapa yang nyaman.

Kedua tentang echo, harus diperhatikan berapa detik suara akan hilang dengan sendirinya. Misal di gedung gereja, “reverberation time” yang diperlukan agar suara pendeta dapat didengar dengan jelas harus di bawah dua detik, tetapi untuk musik harus sekitar 2,5 detik agar frequency low, mid, dan high dapat terdengar dengan apik. Oleh karena itu diambil jalan tengah antara 2 s/d 2,5 detik. Yang ini memang perlu memperhatikan ruangannya, bagaimana bentuk interiornya dan berapa persen permukaannya yang keras dan berapa persen yang lunak, bentuknya banyak dekorasi atau sederhana saja? Juga apakah banyak bagian yang terbuka atau tertutup rapat, semuanya itu akan mempengaruhi kualitas suara akhir yang sampai ketelinga orang.

Yang paling mudah memasang sound system ditempat terbuka (ketika kebaktian padang misalnya) di mana tidak ada pantulan sama sekali yang diperlukan hanya seberapa kuat suara dapat terdengar di tempat yang paling jauh, kalau satu loudspeaker tidak cukup hanya perlu menambah beberapa lagi pada jarak tertentu dan dengan teknik time delay sehingga suara dari loudspeaker paling depan kalaupun masih bisa menjangkau tempat yang jauh datangnya harus bersamaan dengan suara dari loudspeaker kedua, ketiga dan seterusnya.

Masalah kualitas suara menjadi makin rumit bila di dalam ruangan atau gedung gereja misalnya, oleh karena itu selain keindahan, “acoustical room performance” harus diperhatikan, walaupun harga sound systemnya mahal kalau acoustic performancenya kurang, maka hasilnya tentu tidak akan nyaman.

Penyejuk Udara
Zaman makin maju, kualitas hidup juga meningkat, industri berkembang pesat. Ada baik dan ada juga buruknya. Kemajuan industri mempengaruhi lapisan ozon yang makin menipis sehingga suhu udara di permukaan bumi juga terasa makin panas. Misalnya bila kita tanyakan kepada orang tua kita yang sudah tinggal di suatu tempat yang dulunya nyaman tetapi sekarang setelah banyak sekali bangunan berdiri terasa tidak nyaman lagi. Kalau musim panas kepanasan dan debu makin tebal dan kalau musim hujan bisa kebanjiran karena tanah yang berfungsi menyerap panas dan air makin sedikit.

Melihat kondisi ini, orang lalu berpikir bagaimana supaya bisa tetap nyaman walaupun kondisi cuaca sudah berubah. Maka diciptakanlah peralatan penyejuk udara sekaligus juga bisa menjadi penyegar udara karena udara baru yang dihasilkan sudah disaring dan dibersihkan dari debu.

Dengan memakai alat penyejuk dan penyegar udara tentu akan menambah biaya hidup, oleh karena itu kita juga harus memilih system yang baik dan efisien serta aman terhadap lingkungan (freon free agar tidak semakin membuat tipis lapisan ozon di atmosfir kita) dan juga perlu memperhatikan “Thermal Insulation” dari gedung agar bisa menghemat pemakaian listriknya. Sebab intrusi panas dari luar ke dalam gedung lewat atap dan dinding gedung akan mempengaruhi berapa besar kapasitas penyejuk dan penyegar udara yang dipakai.

Disamping itu, saluran penyejuk dan penyegar udara harus dirancang dengan thermal insulation yang baik agar tidak terjadi losses (kebocoran) dalam perjalanan dan tidak menimbulkan kondensasi yang bisa mengakibatkan kerusakan pada bagian gedung karena selalu kena tetesan air akibat kondensasi tadi.

Lalu Bagaimana?
Akhirnya Rumah Tuhan yang bagaimana yang kita dambakan? Bolehkah atau pantaskah kita membangun gedung gereja atau kalau memang boleh kita sebut Rumah Tuhan, yang indah dan nyaman untuk menyenangkan hati Tuhan? Kalau Rumah Tuhan indah dan nyaman kita berharap anak-anak Tuhan yang beribadah di dalamnya bisa nyaman mendengarkan suara Tuhan dengan baik sehingga Firman Tuhan dapat diserap masuk ke dalam hati masing-masing dan dibawa pulang ke rumah dengan damai dan sejahtera. Apabila jemaat damai sejahtera tentu Tuhan juga akan senang dan kita dapat menjadi lilin-lilin kecil yang memancarkan cahaya Kristus secara terpencar di lingkungan kita masing-masing.

Pada akhirnya mari kita coba renungkan cerita dalam Markus 14:3-9, bagaimana jawaban Tuhan terhadap orang yang memprotes seorang wanita yang menuangkan minyak wangi yang mahal harganya ke atas kepala Tuhan Yesus:

KETIKA YESUS DITUANGI MINYAK WANGI


Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon yang dahulu menderita penyakit kulit yang berbahaya, seorang wanita datang kepada-Nya. Ia membawa sebuah botol pualam berisi minyak wangi yang mahal, dibuat dari akar wangi. Waktu Yesus sedang duduk makan, wanita itu memecahkan botol itu dan menuangkan minyak wangi itu ke atas kepala Yesus.

Beberapa orang yang berada di situ menjadi marah dan berkata satu sama lain, “Apa gunanya minyak wangi itu diboroskan? Minyak itu dapat dijual dengan harga lebih dari tiga ratus uang perak (sekeping uang perak sama dengan upah harian seorang pekerja biasa, kalau kita asumsikan dengan gaji seseorang bararti 300 uang perak sama dengan gaji 10 bulan) dan uangnya diberikan kepada orang miskin!” Maka mereka marah kepada wanita itu.

Tetapi Yesus berkata, “Biarkan dia! Mengapa kalian menyusahkan dia? Ia melakukan yang terbaik dan terpuji terhadap-Ku. Orang miskin selalu ada diantara kalian. Setiap waktu kalau kalian mau, kalian dapat menolong mereka. Tetapi Aku tidak selamanya bersama-sama kalian. Wanita ini telah melakukan apa yang dapat ia lakukan. Ia sudah menyiapkan Aku dengan minyak wangi untuk penguburan-Ku sebelum waktunya.

Percayalah! Di seluruh dunia, di mana saja Kabar Baik dari Allah disiarkan, perbuatan wanita ini akan diceritakan juga sebagai kenangan kepadanya.”
(Sws/skt)


>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003