Kasut
26 Maret 2004
Komunitas Basis
Akan Dikembangkan di Semua Wilayah GKI Pondok Indah
S. Soekamto

Dalam tahun pelayanan 2004/2005 ini diharapkan Komunitas Basis (Kombas) sudah akan dapat dikembangkan di seluruh wilayah GKI Pondok Indah, yaitu di luar wilayah Bintaro, seperti wilayah Pondok Indah, Lebak Bulus dan juga wilayah Cilandak.

Wilayah Pondok Indah meliputi kawasan Pondok Indah dan kawasan-kawasan di luar Bintaro, Lebak Bulus dan Cilandak; wilayah Lebak Bulus meliputi kawasan Lebak Bulus, Bona Indah, Cinere dan Ciputat; sementara wilayah Cilandak meliputi kawasan Cilandak, Terogong, Cipete dan sebagian kawasan Pasar Minggu dan Kebayoran Baru.

Dalam pembekalan calon motivator Kombas yang diselenggarakan oleh Komisi Strategi dan Program (KSP) bekerjasama dengan Mabid Persekutuan dan Mabid Ibadah, terungkap kerinduan setiap wilayah untuk dapat segera mewujudkan Kombas ini.

Sementara itu, Pnt. Guntur Tampubolon dari Mabid Ibadah mengemukakan bahwa gagasan untuk membentuk Kombas itu pada awalnya adalah untuk mewujudkan rencana tiga strategi pelayanan di GKI Pondok Indah, yaitu strategi terpusat (ibadah Minggu), strategi terpencar dengan pembentukan Kombas dan strategi terpancar dalam wujud kesaksian, pelayanan dan dialog. Di samping itu juga adanya sinyalemen dari Pdt. Eka Darmaputera, yang menyatakan bahwa dalam kurun waktu 15-20 tahun terakhir ini telah terjadi suatu krisis yang serius di kalangan gereja-gereja Protestan. Ke dalam, gereja-gereja Protestan mengalami insignifikansi internal, dan keluar mengalami insignifikansi sosial.

Yang dimaksud dengan insignifikansi internal adalah keberadaan gereja semakin tidak dirasakan makna fungsionalnya; komitmen dan loyalitas umat juga menurun; serta tidak tumbuhnya komitmen maupun loyalitas pribadi yang otentik dari umat, karena masing-masing orang sibuk dengan kepentingan mereka sendiri. Memang diakui bahwa setiap hari Minggu masih tetap banyak orang yang pergi bergereja, namun dengan sikap seperti orang pergi ke mall karena tidak ada interaksi di antara mereka. Akibat adanya insignifikansi internal ini adalah terjadinya eksodus dari umat ke gereja-gereja lain “yang lebih hidup.”

Insignifikansi sosial yang dimaksud oleh Pdt. Eka adalah ketika kehidupan gereja terisolasi atau seolah-olah tidak mempunyai sangkut-paut dengan kehidupan sosial di lingkungannya. Gereja tidak mempunyai peran yang bermakna terhadap proses perkembangan dan perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Karena tidak berperannya gereja di dalam perubahan masyarakat, maka banyak umat yang bergiat di luar gereja melalui berbagai lembaga atau institusi.

Menurut Pnt. Guntur, hal-hal sedemikian itu tentu tidak kita kehendaki dan oleh karena itu maka kita pandang perlu untuk mengembangkan serta mewujudkan strategi terpencar ini dengan membentuk Kombas ini.

BANYAK MANFAAT

Dengan dipandu oleh Pdt. Rudianto Djajakartika, kemudian para peserta pembinaan yang berjumlah lebih dari 50 orang aktivis dari ke empat wilayah GKI Pondok Indah itu diajak untuk menyimak manfaat apa yang dapat diambil dengan adanya Kombas. Untuk itu, Sdr. Yosia dari Kombas Bintaro diminta untuk ber-sharing tentang pengalamannya mengelola Kombas di wilayah Bintaro dan manfaat apa saja yang dapat ditarik dari keberadaan Kombas ini.

Dalam kesempatan itu, Sdr. Yosia mengemukakan bahwa dengan terbentuknya Kombas, maka akan banyak manfaat yang dapat ditarik serta banyak pengalaman yang dapat ditimba. Satu hal yang sangat penting adalah bahwa kita dapat saling mengenal sesama anggota jemaat yang berada di sekitar tempat kediaman kita.

“Kita sering bertemu dengan seseorang di gereja, namun kita tidak mengetahui bahwa ternyata orang yang bersangkutan tinggal tidak jauh dari rumah kita,” katanya. Berdasarkan pengalamannya menangani Kombas di wilayah Bintaro ini, Sdr. Yosia mengaku bahwa sekitar 90 persen warga jemaat yang tinggal di Bintaro sudah dikenalnya dengan baik. “Ini merupakan suatu keuntungan yang besar, sebab dengan cara mengenal secara lebih intens sedemikian itu, kita akan mudah untuk menjalin suatu jaringan atau network. Kalau ada apa-apa yang perlu kita tangani bersama, kita cukup telpon-telponan dengan para koordinator,” tambahnya

Hal lain yang dapat ditarik manfaat dari Kombas ini adalah bahwa kita dapat saling melakukan sharing atau bersekutu bersama melalui persekutuan doa atau melakukan suatu pelayanan sosial secara bersama-sama dengan warga jemaat maupun warga masyarakat lainnya.

Banyak hal positif dengan adanya Kombas ini. Kita dapat melakukan berbagai kegiatan bersama dalam suatu lingkup yang kecil, baik kegiatan gerejawi maupun kegiatan sosial lainnya.

Pada bagian akhir acara pembinaan ini Pdt. Rudianto kemudian menanyakan kepada peserta pembinaan, apakah mereka juga mempunyai kerinduan untuk segera mewujudkan Kombas di wilayah mereka masing-masing. Dan ternyata secara serentak semua yang hadir menyatakan kesediaan mereka untuk segera membentuk Kombas, yang akan didahului dengan pertemuan-pertemuan pendahuluan dengan para aktivis, penatua dan pendeta wilayah lainnya di masing-masing wilayah.

Sejumlah penatua juga hadir dalam acara pembinaan ini disamping Pdt. Agus Susanto dan Ibu Nani Susanto. (skt)

 

>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003