Kasut
29 Januari 2004
The Barnabas Society
Thomas Suhardja
“…tetapi Barnabas menerima dia [Saulus] dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceritakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus.” (Kis. 9:27).
ANAK PL!

Ketika menulis sharing ini, saya terkenang nostalgia dulu, ketika saya tahun 1990-an menjadi seorang pengurus remaja. Pada waktu itu, saya masih anak PL yang berbaju kotak-kotak hitam, tentunya juga putih abu-abu, agak gondrong dan, kata orang, sedikit “ngocol.” Waktu itu saya ingat betul jabatan saya: wakil ketua remaja.

Meski kelihatannya segala aktivitas organisasi saya lakukan tanpa kesulitan (Anak PL katenye musti cakap berorganisasi man!), saya sering merasakan, bahwa di tengah segala usaha terbaik melakukan berbagai kegiatan pelayanan untuk remaja, saya membutuhkan seorang yang kepadanya saya bisa datang dan bercerita, bertukar pikiran, dan yang akhirnya juga siap memberikan jawaban dan alternatif, kalau saya tidak tahu harus berbuat apa. Singkatnya dengan bahasa sekarang: teman curhat, atau “orang di mana gue bisa punya pegangan.”

Beni (sekarang Tt. Beni Murtono), adalah satu-satunya “kakak senior” yang waktu itu saya rasakan sebagai orang yang membantu saya melalui masa kepengurusan tersebut dengan senyum. Artinya, pelayanan dua tahun tersebut tidak terlalu berat untuk kami lalui seorang diri, karena Beni siap ditanya kalau kami membutuhkan pertolongannya. Namun, kadang-kadang kami harus siap juga bekerja tanpa keterlibatan beliau, mengingat kesibukannya di bangku kuliah, dan keterlibatannya di kegiatan pemuda. Ditambah lagi seingat saya, beliau juga adalah salah satu pengurus atau panitia Remaja Klasis, yang waktu itu sedang punya program besar Bakti Sosial di Sukabumi.

KEBUTUHAN DIDAMPINGI

Menjelang akhir jabatan kepengurusan kami, beberapa pengurus, di tengah bincang-bincang soal ke mana pelayanan kami selanjutnya, menyadari bahwa model seperti Beni diperlukan untuk mendampingi kelompok kepengurusan selanjutnya. Akhirnya kami (saat itu Samuel Nasution, Ester Yusuf dan saya) sepakat untuk tetap tinggal dan bersedia untuk mendampingi kepengurusan selanjutnya, walaupun, misalnya, saya yang adalah pengurus pemuda, akan disibukkan dengan kegiatan pemuda yang saya ikuti.

Selanjutnya, di setiap akhir kepengurusan, saya menyempatkan diri sharing dengan para pengurus, mengenai kebutuhan dan kerinduan saya dulu untuk punya “orang yang bisa jadi pegangan waktu saya membutuhkan.”

Sejak saat itu, mulai kepengurusan Anthonius, Yudith, Rio, Yoan, Merry, Vina, sampai dengan Irlanto, ketua remaja saat ini, beban tersebut terus dibagi kepada para pengurus yang akan berakhir masa tugasnya. Dan akhirnya setiap kali hal tersebut menjadi bagian dari pergumulan membentuk pengurus yang baru: siapakah yang akan menjadi pendamping pengurus untuk kepengurusan yang selanjutnya?

Di tengah perjalanan di atas, muncul juga kerinduan, bahwa pendampingan tidak hanya difokuskan kepada pengurus, tetapi juga kepada remaja, dengan alasan sederhana. Bukankah pelayanan pendampingan adalah juga merupakan kebutuhan para remaja, dan bukan hanya pengurusnya saja? Mulai saat itulah, beberapa pendamping mulai memikirkan secara khusus, di bagian mana mereka akan mendampingi remaja.

Antho misalnya, pernah mendampingi persekutuan remaja. Sanny pernah mendampingi tim tema remaja. Yessi, Iin & Boy menjadi pendamping untuk Vocal Group, sama seperti Purnomo, Yona & Erik, untuk teman-teman remaja yang doyan basket. Tidak ada yang ditunjuk dan menunjuk, semua bekerja dengan kesadaran, mau menjadi teman bagi remaja-remaja di tempat masing-masing.

Baru kemudian di tahun 1999-2000, bersama Antho dan Pdt. Joas, teman-teman pendamping memikirkan suatu bentuk yang lebih formal untuk kelompok ini; kelompok yang bukan remaja, bukan SMP atau SMA, bukan pengurus, dan bukan di umur yang setara dengan remaja SMP dan SMA. Bukan majelis, bukan pendeta, tetapi berkebaktian di remaja dan melakukan pelayanan di sana. Kelompok tersebut juga harus dapat diminta pertanggungjawabannya untuk setiap tingkah lakunya, tindak tanduknya, pikiran serta pekerjaan yang ia kerjakan di dalam pelayanan remaja. Siapakah kami?

THE BARNABAS SOCIETY

Di dalam tahun-tahun itulah, diformulasikanlah suatu bentuk kelompok yang disebut The Barnabas Society. Perkumpulan Barnabas, adalah sebutan untuk sekelompok orang yang mendampingi para remaja, dalam hal ini SMP & SMA, di dalam kehidupan dan pelayanan mereka. Mereka ini yang lebih sering disebut Pendamping Remaja.

Disadari, dan yang karena itu akan terus dilakukan, bahwa pendampingan kepada remaja harus meliputi pendampingan yang sifatnya menyeluruh, baik pendampingan spiritual (para pendamping yang memimpin renungan, persekutuan, diskusi kelompok dsb), dan pendampingan untuk kegiatan remaja seperti di dalam kepengurusan, organisasi kepanitiaan, vocal group, olah raga, dlsb. Untuk itu, The Barnabas Society biasanya mengadakan persekutuan yang berisi ceramah, renungan, diskusi dan sharing pelayanan di dalam bidang pelayanan masing-masing. Ada renungan dan diskusi mengenai psikologi remaja, ada ceramah mengenai bagaimana membawakan renungan yang kreatif untuk remaja. Singkatnya, segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memperlengkapi para Barnabas, untuk melakukan fungsi mereka.

IMPIAN KAMI

Teman-teman yang tergabung dalam The Barnabas Society adalah mereka yang sudah bukan remaja SMP & SMA lagi, tetapi masih memiliki beban pelayanan dan keterlibatan dalam bentuk apapun di remaja. Dengan kesadaran bahwa Kristus lebih dahulu mencintaiku, dan karena itu “apa yang aku alami ini juga yang ingin kuceritakan kepada remaja yang lain,” para Barnabas berbagi “impian,” dan membentuk suatu ikatan. Kami ada hanya agar remaja mengenal dan mencintai Kristus di dalam masa remaja mereka.

Semangat Barnabas, seperti yang terbaca di dalam Kisah Para Rasul 9:27, menjadi simbol dan semangat The Barnabas Society untuk terus memperhatikan, mendampingi dan mendukung teman-teman remaja di dalam mengenal, bertumbuh dan melayani Kristus di masa remaja mereka.

Saat ini tercatat ada lebih dari 20 “Barnabas” yang mendampingi remaja di tingkat pra-remaja, remaja junior dan remaja senior. Siapa pun Anda yang membaca tulisan ini dan tergerak berbagi “mimpi” yang sama dengan kami, bagi para remaja kita, saya mengundang kritik, saran dan masukan, bagi peningkatan kualitas pelayanan ini, dan bagi pelayanan remaja kita di masa yang akan datang. (T)

 

>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003