Kasut
28 Januari 2004
Permenungan tentang seorang bernama Barnabas
Joas Adiprasetya

Permenungan ini ditulis untuk memaknai sekelompok anak muda di GKI Pondok Indah, yang dengan kesadaran menghadirkan diri bagi para remaja, adik-adik mereka, dengan meneladani kehidupan seorang tokoh gereja perdana bernama Barnabas.

Dibandingkan Paulus, maestro penginjilan itu, memang, nama Barnabas tak lebih tersohor. Ini dikarenakan Paulus memang seorang yang bekerja di avant garde, garda depan, ladang penginjilan. Sedang Barnabas . . . seorang yang bekerja di belakang layar. Seorang yang tak terlalu suka dikenal dan terkenal. Namun, bicara soal kualitas seorang pelayan, Barnabas jelas tak kalah dari, jika tak mau dikatakan melampaui, Paulus. Bahkan, dapat dikatakan, Paulus adalah anak asuh Barnabas. Siapa sesungguhnya Barnabas?

Barnabas berarti “anak penghiburan.” Begitu sapaan para rasul pada Yusuf, seorang Yahudi yang lahir di Siprus. Dan sapaan ini agaknya tepat. Di mana pun ia berada, Barnabas senantiasa membawa damai dan penghiburan. Ia juga seorang yang mampu menyelaraskan kata dan karya, ujar dan laku. Dalam Kisah Para Rasul 4:36-37 hanya namanya yang tercatat sebagai satu dari sebagian anggota jemaat perdana yang menyumbangkan harta miliknya untuk menopang orang-orang yang berkekurangan.

Penyebutan nama Barnabas ini tentu bukan kebetulan. Kita bisa menduga bahwa namanya dicantumkan oleh Lukas untuk mengantar pembaca untuk mulai berkenalan dengan “anak penghiburan” ini. Namun untuk maksud ini, penulis mengajak pembaca untuk bersabar, karena kisah dilanjutkan tanpa melibatkan Barnabas. Baru pada Kisah Para Rasul 9:26-28, nama ini muncul kembali dengan potret yang mengagumkan.

Di saat para murid Yesus ketakutan menerima Saulus yang tadinya terkenal sebagai penindas orang-orang Kristen, namun yang kini sudah bertobat, Barnabas tampil sebagai mediator. Barnabaslah yang membawa Saulus ke dalam lingkungan para murid. Ia mempercayai Saulus. Baginya, tak ada satu pun manusia yang tak bisa berubah.

Menerima seseorang yang memiliki masa silam kelam tentu bukan soal mudah, kalau tak mau dikatakan tindakan nekad penuh risiko. Dan apa yang dilakukan Barnabas lebih dari sekadar tindakan nekad. Barnabas menunjukkan itikad baik yang muncul dari iman dan pengharapannya sendiri. Alhasil, Saulus si pembenci orang Kristen akhirnya diterima dalam komunitas yang selama ini dikejar-kejarnya.

Barnabas juga model seorang pemimpin yang menciptakan pemimpin lain. Dalam Kisah Para Rasul 11:25-26 ia mengajak Saulus untuk menjalani tugas pelayanan, langsung di lapangan dan konkret. Sejak itu nama mereka muncul bersamaan: “Barnabas dan Saulus.” Barnabas menjadi pemimpin dan Saulus asisten.

Tetapi, sejak Kisah Para Rasul 13:9, seiring pergantian nama Saulus menjadi Paulus, penyebutan nama kedua orang ini pun berubah: “Paulus dan Barnabas.” Paulus menjadi pemimpin dan Saulus mendampingi. Barnabas adalah seorang pemimpin yang percaya bahwa kepemimpinan kristiani tidak berurusan dengan kekuasaan yang harus dipertahankan mati-matian. Kepemimpinan a la Barnabas adalah kepemimpinan yang mendewasakan, mematangkan dan, sebagai akibatnya, merelakan diri untuk undur.

Hal terakhir yang menarik adalah kemampuannya untuk memberi kesempatan kedua, sama seperti Allah yang selalu memberi kesempatan kedua bagi manusia. Singkatnya, God of the second chance tercermin lewat cara hidup Barnabas. Coba perhatikan Kisah Para rasul 15:36-41. Saat itu Paulus dan Barnabas bertikai karena Barnabas ingin mengajak kembali Yohanes Markus, kemenakannya, yang tak mampu melanjutkan perjalanan penginjilan yang berat beberapa waktu sebelumnya. Markus adalah seorang muda yang tak tahan menderita seperti Paulus dan Barnabas. Dan kini, Barnabas ingin memberinya kesempatan baru untuk menebus kesalahannya dulu.

Paulus menolak gagasan Barnabas (dan dia tak sadar bahwa dia sendiri adalah hasil dari cara berpikir second chance Barbanas). Ketidaksepakatan mereka membuahkan perpisahan. Paulus pergi bersama Silas, Barnabas bersama Markus menuju Siprus, kota asal mereka berdua.

Sejak peristiwa tak menyenangkan itu nama Barnabas hilang dari percakapan. Karir pelayanannya seakan terhenti begitu saja. Bahkan kabar tentangnya pun nihil. Namun, anehnya, muncul sebuah nama ke pentas pelayanan: Markus! Seorang muda yang pernah gagal, namun menerima kesempatan kedua, kini tampil dengan kematangan seorang pelayan. Dari mana semua itu muncul, jika bukan dari Barnabas?

Bahkan Paulus sendiri, di masa tuanya, memuji Markus dan menyatakan betapa ia amat membutuhkan pelayanan Markus (2Tim. 4:11). Ia berkata, “Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku.” Yang lebih mengagumkan, si pemuda gagal ini pada akhirnya tampil sebagai penulis Injil pertama: Injili Markus. Dan nama Barnabas pun tetap tak muncul dalam episode-episode selanjutnya.

Barnabas adalah seorang teladan, seorang yang murah hati dan pembawa damai, seorang yang berani tak terkenal agar Kristus sendiri yang dikenal. Kualitas-kualitas semacam itulah yang menjadi nyala lilin kecil, yang menerangi nurani para Barnabas muda kita, lewat The Barnabas Society. Semoga memang begitu.


 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003