|
Permenungan ini ditulis untuk memaknai sekelompok anak
muda di GKI Pondok Indah, yang dengan kesadaran
menghadirkan diri bagi para remaja, adik-adik mereka,
dengan meneladani kehidupan seorang tokoh gereja perdana
bernama Barnabas.
Dibandingkan Paulus, maestro penginjilan itu, memang, nama
Barnabas tak lebih tersohor. Ini dikarenakan Paulus memang
seorang yang bekerja di avant garde, garda depan, ladang
penginjilan. Sedang Barnabas . . . seorang yang bekerja di
belakang layar. Seorang yang tak terlalu suka dikenal dan
terkenal. Namun, bicara soal kualitas seorang pelayan,
Barnabas jelas tak kalah dari, jika tak mau dikatakan
melampaui, Paulus. Bahkan, dapat dikatakan, Paulus adalah
anak asuh Barnabas. Siapa sesungguhnya Barnabas?
Barnabas berarti “anak penghiburan.” Begitu sapaan para
rasul pada Yusuf, seorang Yahudi yang lahir di Siprus. Dan
sapaan ini agaknya tepat. Di mana pun ia berada, Barnabas
senantiasa membawa damai dan penghiburan. Ia juga seorang
yang mampu menyelaraskan kata dan karya, ujar dan laku.
Dalam Kisah Para Rasul 4:36-37 hanya namanya yang tercatat
sebagai satu dari sebagian anggota jemaat perdana yang
menyumbangkan harta miliknya untuk menopang orang-orang
yang berkekurangan.
Penyebutan nama Barnabas ini tentu bukan kebetulan. Kita
bisa menduga bahwa namanya dicantumkan oleh Lukas untuk
mengantar pembaca untuk mulai berkenalan dengan “anak
penghiburan” ini. Namun untuk maksud ini, penulis mengajak
pembaca untuk bersabar, karena kisah dilanjutkan tanpa
melibatkan Barnabas. Baru pada Kisah Para Rasul 9:26-28,
nama ini muncul kembali dengan potret yang mengagumkan.
Di saat para murid Yesus ketakutan menerima Saulus yang
tadinya terkenal sebagai penindas orang-orang Kristen,
namun yang kini sudah bertobat, Barnabas tampil sebagai
mediator. Barnabaslah yang membawa Saulus ke dalam
lingkungan para murid. Ia mempercayai Saulus. Baginya, tak
ada satu pun manusia yang tak bisa berubah.
Menerima seseorang yang memiliki masa silam kelam tentu
bukan soal mudah, kalau tak mau dikatakan tindakan nekad
penuh risiko. Dan apa yang dilakukan Barnabas lebih dari
sekadar tindakan nekad. Barnabas menunjukkan itikad baik
yang muncul dari iman dan pengharapannya sendiri. Alhasil,
Saulus si pembenci orang Kristen akhirnya diterima dalam
komunitas yang selama ini dikejar-kejarnya.
Barnabas juga model seorang pemimpin yang menciptakan
pemimpin lain. Dalam Kisah Para Rasul 11:25-26 ia mengajak
Saulus untuk menjalani tugas pelayanan, langsung di
lapangan dan konkret. Sejak itu nama mereka muncul
bersamaan: “Barnabas dan Saulus.” Barnabas menjadi
pemimpin dan Saulus asisten.
Tetapi, sejak Kisah Para Rasul 13:9, seiring pergantian
nama Saulus menjadi Paulus, penyebutan nama kedua orang
ini pun berubah: “Paulus dan Barnabas.” Paulus menjadi
pemimpin dan Saulus mendampingi. Barnabas adalah seorang
pemimpin yang percaya bahwa kepemimpinan kristiani tidak
berurusan dengan kekuasaan yang harus dipertahankan
mati-matian. Kepemimpinan a la Barnabas adalah
kepemimpinan yang mendewasakan, mematangkan dan, sebagai
akibatnya, merelakan diri untuk undur.
Hal terakhir yang menarik adalah kemampuannya untuk
memberi kesempatan kedua, sama seperti Allah yang selalu
memberi kesempatan kedua bagi manusia. Singkatnya, God of
the second chance tercermin lewat cara hidup Barnabas.
Coba perhatikan Kisah Para rasul 15:36-41. Saat itu Paulus
dan Barnabas bertikai karena Barnabas ingin mengajak
kembali Yohanes Markus, kemenakannya, yang tak mampu
melanjutkan perjalanan penginjilan yang berat beberapa
waktu sebelumnya. Markus adalah seorang muda yang tak
tahan menderita seperti Paulus dan Barnabas. Dan kini,
Barnabas ingin memberinya kesempatan baru untuk menebus
kesalahannya dulu.
Paulus menolak gagasan Barnabas (dan dia tak sadar bahwa
dia sendiri adalah hasil dari cara berpikir second chance
Barbanas). Ketidaksepakatan mereka membuahkan perpisahan.
Paulus pergi bersama Silas, Barnabas bersama Markus menuju
Siprus, kota asal mereka berdua.
Sejak peristiwa tak menyenangkan itu nama Barnabas hilang
dari percakapan. Karir pelayanannya seakan terhenti begitu
saja. Bahkan kabar tentangnya pun nihil. Namun, anehnya,
muncul sebuah nama ke pentas pelayanan: Markus! Seorang
muda yang pernah gagal, namun menerima kesempatan kedua,
kini tampil dengan kematangan seorang pelayan. Dari mana
semua itu muncul, jika bukan dari Barnabas?
Bahkan Paulus sendiri, di masa tuanya, memuji Markus dan
menyatakan betapa ia amat membutuhkan pelayanan Markus
(2Tim. 4:11). Ia berkata, “Jemputlah Markus dan bawalah ia
ke mari, karena pelayanannya penting bagiku.” Yang lebih
mengagumkan, si pemuda gagal ini pada akhirnya tampil
sebagai penulis Injil pertama: Injili Markus. Dan nama
Barnabas pun tetap tak muncul dalam episode-episode
selanjutnya.
Barnabas adalah seorang teladan, seorang yang murah hati
dan pembawa damai, seorang yang berani tak terkenal agar
Kristus sendiri yang dikenal. Kualitas-kualitas semacam
itulah yang menjadi nyala lilin kecil, yang menerangi
nurani para Barnabas muda kita, lewat The Barnabas
Society. Semoga memang begitu.
|