|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
30 Nopember 2003
Sudahkah Kita Mengasihi Anak Remaja
Kita?
Tjuk Sumarsono |
|
|
Di zaman modern sekarang ini masih banyak orang tua yang
ingin memaksakan keinginan-keinginan mereka kepada
anak-anak mereka dan “mendikte” agar anak-anak remaja
mereka patuh dan menuruti kehendak orang tua.
Mereka mengeluh: “Saya kehilangan kesabaran dan saya tidak
tahu bagaimana caranya membuat mereka patuh”. Namun
sebagian orang tua masih ada yang berbuat sebaliknya,
mereka takut dan enggan mengontrol dan mengendalikan
anak-anak remaja mereka sehingga anak-anak remaja mereka
dibiarkan untuk memilih dan melakukan apa saja yang mereka
ingin lakukan dan kemudian terjerumus pada perbuatan yang
negatif.
Alkitab Perjanjian Baru mengajarkan kepada para orang tua
Kristen untuk mendidik anak-anak mereka dalam ketaatan dan
moral, seperti dikatakan dalan Efesus 6 ayat 4 demikian:
“Dan kamu, hai bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di
dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam
ajaran dan nasihat Tuhan”.
Dengan demikian jelaslah bahwa Tuhan telah mengangkat
orang tua secara pribadi untuk berhubungan langsung dan
melatih anak-anak mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
Bukan kepada para ahli, guru atau siapapun, melainkan
kepada masing-masing orang tua diberikan tanggung jawab
oleh Tuhan untuk mendidik anak-anak mereka.
Kita sebagai orang tua berkewajiban untuk mendidik dan
mempersiapkan anak-anak remaja kita menuju ke jenjang
dewasa dan masa depan mereka.
Banyak buku-buku yang ditulis oleh para ahli, “Bagaimana
seharusnya mendidik anak-anak remaja kita”, namun ada
kalanya satu dengan yang lain saling bertentangan,
sehingga agak membingungkan.
Saya dan isteri memiliki pengalaman selama 32 tahun
menjadi orang tua dari empat anak-anak kami, dan seiring
dengan itu saya pribadi memiliki pengalaman selama 34
tahun telah membina kerjasama dengan anak-anak buah saya
di perusahaan tempat saya bekerja. Kombinasi pengalaman
rumah tangga dan perusahaan ini, merupakan adaptasi proses
belajar bagi saya dan sangat berguna bagi kami sekeluarga.
Berdasarkan pengalaman itu, dapat saya simpulkan bahwa
keberhasilan mendidik anak-anak kita dimulai dari
penciptaan situasi dan kondisi dalam suatu keluarga untuk
mendukung proses selanjutnya. Di sini saya ingin
mengemukakan intisari bagaimana menciptakan situasi dan
kondisi di dalam keluarga, agar mendukung tercapainya
tujuan kita sebagai orang tua dalam upaya mengemban
tanggung jawab dari Tuhan untuk mendidik anak-anak mereka.
- Pertama: Setiap perusahan memiliki budaya perusahaan dan
begitu pula setiap keluarga juga memiliki budaya rumah
tangga yang berbeda satu dengan yang lain, namun pada
hakekatnya budaya itu terdiri dari dua unsur yang saling
berkaitan, yaitu: Shared Values atau Nilai-nilai yang kita
sepakati bersama dan Common behaviour atau penerapan
perilaku bersama bagi setiap anggota.
- Kedua: Nilai-nilai yang telah kita sepakati bersama
merupakan dasar dari perilaku bersama yang harus kita
wujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Berdasarkan kedua unsur inilah, maka dapat dikemukakan 4 (empat)
norma atau nilai-nilai utama yang disebut “O-P-E-N” untuk
mendasari dan mendukung keberadaan kita sebagai orang tua
dalam mewujudkan cinta kasih kita kepada anak-anak remaja
kita, yaitu sebagai berikut:
|
|
Openthink
|
|
Yang dimaksud dengan “Openthink” di sini bukan hanya
sekadar “keterbukaan”, tetapi diartikan sebagai “Lebih
berani dalam berpikir”. Orang tua perlu menerapkan nilai
tersebut di dalam keluarga dan mengajak kepada setiap
anggota keluarga untuk memberlakukan dalam diri
masing-masing yaitu: lebih berani berpikir, lebih berani
mengemukakan pendapat dan lebih berani menerima dan
menghargai pendapat orang lain di dalam keluarga kita.
Di sana ada keterbukaan, ada kebebasan, ada keberanian,
namun terikat oleh suatu komitmen yaitu: lebih berani
saling menghargai pendapat, satu dengan yang lain. Mengapa
dikondisikan demikian?
Situasi dan kondisi lingkungan eksternal sudah berubah dan
tentu saja telah terjadi suatu perubahan keberadaan para
remaja di kancah sosial dalam beberapa dasawarsa ini. Para
remaja tahun 40-an sampai dengan 60-an sangat berbeda
dengan para remaja masa kini, walaupun masih ditengarai
dengan landasan yang sama, yakni kemandirian dan identitas
diri.
Terjadinya perubahan pola pandang dan pola pikir para
remaja masa kini karena adanya dampak pembaharuan dalam
berbagai bidang dan salah satunya adalah kemajuan
teknologi yang memberikan akses komunikasi dan informasi
yang lebih global. Dengan akses ini berbagai informasi
yang menyangkut kekerasan, kejahatan, seksualitas dan lain
sebagainya diekspos secara vulgar sehingga dapat
mempengaruhi gaya hidup remaja masa kini dan dapat
memudarkan nilai-nilai relijius dalam diri mereka.
Demikian pula, kemampuan intelektual para remaja masa kini
untuk menganalisis karya-cipta dan pola tindak dengan cara
yang logis dapat menimbulkan suatu tantangan bagi para
remaja yang kemudian akan terjadi kemungkinan adanya
pergeseran nilai-nilai tertentu yang akan menggoyahkan
keyakinan mereka, apakah layak diberikan komitmen atau
tidak.
Oleh karena itu orang tua perlu memperhatikan aspirasi
mereka, memberi kebebasan kepada mereka untuk memilih dan
melakukan yang terbaik sesuai keinginan mereka, tetapi
orang tua tetap secara prinsip memberi batasan yang tegas
serta disiplin yang mantap agar mereka dapat memiliki pola
pikir dan pola pandang serta memilih pola tindak yang
benar sesuai norma dan nilai-nilai yang sudah disepakati
bersama.
Cinta kasih kepada anak-anak remaja kita bukan berarti
membiarkan mereka melakukan pola tindak sesuai kemauan
mereka, asalkan mereka senang, akan tetapi orang tua perlu
memberikan formulasi arah dan tujuan yang jelas sebagai
koridor pembebasan dan pembatasan gerak langkah dan pola
tindak anak-anak remaja kita yang kita kasihi. Dengan
diberi kebebasan, namun ada kendali batasan yang tegas dan
disiplin yang mantap, serta arah dan tujuan yang jelas,
maka mereka dapat memotivasi diri sendiri untuk berproses
ke arah yang lebih baik.
Beberapa waktu yang lalu saya kedatangan kawan lama dari
Surabaya, dan mereka suami-isteri yang selalu terbuka pada
anak-anaknya. Mereka menceritakan kepada saya bahwa anak
bungsunya yang saat itu duduk di kelas dua SMU mengatakan
ingin merokok seperti kawannya di sekolah. Mereka menjawab:
“Boleh saja kamu merokok, papa dan mama sediakan 3 batang
rokok untuk kamu isap, silahkan!”.
Setelah anaknya mengisap habis 3 batang rokok, orang
tuanya menanyakan “Apakah kamu suka dengan rokok itu?
Kalau suka, silahkan kamu merokok seperti temanmu itu”.
Tetapi apa jawab anaknya itu? “Saya tidak mau merokok lagi,
Pa, ternyata rokok itu tidak enak”
Peristiwa ini merupakan suatu gambaran bahwa setelah anak
remaja yang ingin merokok itu diberi kebebasan oleh orang
tuanya untuk merokok, ternyata si anak tersebut bahkan
mengurungkan niatnya, dan dia tidak merokok sampai saat
ini. Itulah suatu contoh kebebasan yang terkendali.
|
|
Personal Impact |
|
Personal Impact dapat diterjemahkan dengan “Keteladanan”.
Setiap anggota keluarga, terutama orang tua harus dapat
memberikan keteladanan terhadap anggota keluarga yang
lain. Keteladanan ini divisualisasikan dalam bentuk pola
tindak yang sesuai dengan pola pikir dan pola pandang
serta nilai-nilai yang sudah kita sepakati bersama.
Sebagai orang tua harus dapat mewujudkan “satunya kata
dengan perbuatan dan satunya mulut dengan tindakan” yang
dapat dijadikan teladan bagi seluruh anggota keluarga,
terutama anak-anak remaja kita. Mereka perlu contoh riil
dalam mewujudkan nilai-nilai yang telah disepakati bersama
yang diwujud-nyatakan dalam bentuk tindakan yang konkret.
Misalnya orang tua perlu memberi keteladanan dalam
mendengarkan aspirasi anak-anak, untuk merangsang mereka
agar dapat mendengarkan orang lain. Di sisi lain orang tua
juga dapat memberi teladan suatu sikap positif dalam
bereaksi terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan
oleh mereka. Apakah kita sebagai orang tua menghadapi
masalah ini dengan penuh emosional, dan sampai hati
melukai phisik dan mental mereka? Ataukah dengan suatu
sikap tenang dan perhatian khusus tetapi memberikan
tawaran solusi yang baik kepada mereka.
Perilaku orang tua akan menjadi sorotan bagi anggota
keluarga yang lain, terutama bagi para anak-anak remaja
masa kini yang memiliki kemampuan intelektual untuk
menganalisis karya-cipta dan pola tindak dengan cara yang
logis, sehingga tindakan orang tua yang keliru atau
negatif akan menjadikan bumerang bagi dirinya serta
memudarkan komitmen yang sudah disepakati bersama bagi
anak-anak remaja mereka. Dengan demikian tidak akan
tercipta suatu situasi dan kondisi yang mendukung dalam
rangka mendidik dan mengarahkan anak remaja kita untuk
menjalani proses tahap berikutnya, yaitu ke jenjang
manusia dewasa.
|
|
...>>
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|