Kasut
29 September 2003
Catatan Perjalanan di Nagro Aceh Darussalam
Nick Tobing
Terbayangkan pun tidak oleh saya untuk datang ke Serambi Mekkah di ujung Pulau Sumatera ini. Apalagi pergi ke sana nyaris tanpa persiapan yang matang. Persiapan yang saya maksud bukan hanya dari segi materi, akan tetapi dari segi mental seutuhnya.

Daerah yang dikenal belakangan hari ini dengan konflik yang berkepanjangan antara TNI dengan kelompok separatis GAM. Pemberlakuan Darurat Militer oleh Pemerintah Pusat menghasilkan yang namanya Pemerintah Daerah Darurat Militer atau yang akrab disebut PDMD oleh masyarakat Aceh, Nangroe Aceh Darussalam.

Catatan seminggu perjalanan ini ditulis sebagai oleh-oleh selama saya berada di Banda Aceh, ibukota Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Kepergian saya dalam rangka tugas pelaksanaan produksi acara musik dangdut untuk tayangan sebuah televisi swasta di Jakarta, sekaligus pula bertujuan untuk menghibur masyarakat Aceh yang haus akan hiburan, setelah sekian lama mereka diliputi ketakutan dan rasa waswas yang berkepanjangan.

Minggu 24 Agustus 2003

Dini hari jam 01:00 WIB ponsel saya berdering, terlihat jelas pada layar display nomor telepon boss saya. Memang, sejak hari Sabtu jalur komunikasi semua tim produksi tetap dalam posisi ‘standby’, artinya tidak boleh dimatikan. Karena bisa saja setiap saat perkembangan situasi keberangkatan ke Banda Aceh mengalami perubahan, bisa lebih cepat atau malah mundur, tergantung berita dari pihak PDMD (Pemerintah Daerah Darurat Militer) sebagai tuan rumah yang punya hajat. Karena berdasarkan rencana besar yang sudah disusun, disepakati acara akan berlangsung pada hari Jumat malam tanggal 29 Agustus 2003 di Blang Padang, lapangan terbuka seperti alun-alun di tengah kota Banda Aceh.

Melalui pembicaraan di ponsel dengan boss, saya diperintahkan agar segera bersiap menuju lapangan terbang TNI AU di Halim sekarang juga. Karena keberangkatan sudah diatur sedemikian rupa menggunakan penerbangan milik TNI AU yaitu pesawat Boeing 707, yang rencananya akan lepas landas pada jam 06:30 WIB bersama dengan awak panggung dan barang-barang keperluan produksi acara, seperti stage rigging, sound system, lighting dan set dekor. Sedangkan sehari sebelumnya sudah diberangkatkan pula awak produksi termasuk kamerawan dan peralatan broadcast lainnya dengan pesawat Hercules milik TNI AU.

Setelah berdoa dengan isteri di kamar untuk memohon pimpinan Tuhan, saya segera menuju Halim dengan bawaan praktis seadanya yang dapat dibawa. Satu jam kemudian, saya sudah tiba di bandara khusus tersebut. Setelah melapor di Pos Penjagaan pada pintu gerbang utama, saya langsung menuju appron untuk kemudian melapor sekali lagi di Pos Piket agar diijinkan menuju pesawat yang berada di tengah landasan. Keadaan landasan saat itu gelap sekali, nyaris tanpa penerangan. Kalaupun ada sinar lampu, hanya nampak di kejauhan saja itu pun pada titik-titik tertentu di sudut hanggar pesawat.

Setelah mendapat ijin dari petugas, saya langsung berjalan kaki dalam kegelapan malam menuju pesawat Boeing 707 TNI AU yang sedang ‘loading’ (memuat barang) untuk diterbangkan nanti pada jam 06:30 WIB ke Bandara Blang Bintang Aceh. Pada saat berjalan kaki seorang diri tersebut, ada kegamangan dalam diri ini. Saya jadi teringat film yang pernah saya tonton dan novel yang saya baca tentang spionase, seakan saya bagian dari cerita-cerita tersebut. Segera saya tepis bayangan-bayangan itu, dan terus melangkah mendekati pesawat sambil menyanyikan Kidung Jemaat yang saya hapal.

Dalam hati saya berkata, “Wah, kacau nih. Ini baru di Halim, bagaimana nanti kalau di Aceh? Tuhan, tolong mantapkan hati saya”, begitu berulangkali saya katakan dalam hati.

Senin, 25 Agustus 2003
Jam 06:30 pesawat siap untuk diberangkatkan menuju pangkalan militer di Blang Bintang Banda Aceh, setelah sebagian barang-barang dimuat ke dalam perut pesawat dengan mengorbankan cukup banyak kursi penumpang yang harus dicopot dari tempatnya. Meskipun demikian, ternyata masih cukup banyak barang yang tertinggal, karena kubikasi yang melewati batas toleransi penerbangan. Sehingga diputuskan untuk diangkut pada pesawat berikutnya.

Baru kali ini saya merasakan terbang tanpa mengenakan ‘seat belt’ (sabuk pengaman) sejak pesawat lepas landas hingga mendarat. Dikarenakan sebagian kursi penumpang dicopot agar barang-barang dapat terangkut. Selama penerbangan posisi saya tepat di atas tumpukan kursi yang dicopot, dan bisa dikatakan ini adalah pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya. Bukan main.

Penerbangan dari Halim ke Aceh memakan waktu dua setengah jam. Saya dan rombongan tiba dengan selamat di bandara militer Blang Bintang yang letaknya di luar kota, sekitar tiga puluh menit waktu tempuh dari Banda Aceh. Sebelah barat bandara dikelilingi perbukitan yang meninggalkan banyak gua bekas penjajahan Jepang dahulu, dan menurut komandan militer yang mengawal rombongan kami, kemarin terjadi ‘kontak’ (demikian istilah mereka) antara pasukan TNI dengan kelompok GAM. Sebagai ketua rombongan, saya tidak ingin menampakkan kecemasan yang berlebihan setelah menerima informasi dari petugas tersebut. Karena saya tahu, hal itu akan menurunkan semangat tim secara keseluruhan.

Setelah bongkar muat barang selesai, dengan pengawalan ketat ‘Voorijders’ (patroli kawal) kami semua menuju Wisma Haji di Banda Aceh tempat kami akan diinapkan. Awalnya pengawalan ini memang terasa agak berlebihan, akan tetapi kami sadar berada di daerah konflik dengan nyawa sebagai taruhannya. Yah, apa boleh buat.

Selasa, 26 Agustus 2003 – Rabu, 27 Agustus 2003

Kesibukan latihan dan koordinasi di lapangan betul-betul menyita waktu seluruh pendukung acara, belum termasuk para artis penyanyi yang akan tiba di Banda Aceh dari Jakarta pada hari Kamis yang akan datang. Suasana kota Banda Aceh memang sengaja dibuat ‘demam artis-artis Ibu Kota’ oleh pemerintah setempat, melalui spanduk yang terpasang di sudut-sudut kota, dan pemberitaan sejumlah media cetak lokal serta radio siaran swasta setempat.

Tidak terbayangkan dari Jakarta sebelumnya, bagaimana antusiasnya masyarakat Aceh ingin melihat penampilan artis serba bisa Dorce Gamalama, mengingat begitu fanatiknya mereka dalam menjalankan Syariat agama yang mereka peluk. Saya mencoba mencari tahu dengan cara hampir tiap malam nongkrong di warung kopi, di sekitar tempat saya menginap. Baru saya tahu jawaban yang sesungguhnya, “Iya lah bang, kami bukan cuma mau melihat penyanyi dari Jakarta. Tapi kami mau ada lawaknya. Orang Aceh senang dengan lawakan, janganlah terlalu serius kali”. Saya jadi mahfum sekarang.

Lalu ada pertanyaan yang bergayut di dalam pikiran saya, mengenai kehidupan beragama di daerah ini. Apakah ada gereja? Dari hasil perbincangan dengan reporter berita televisi yang sudah lama ditugaskan di Nangroe Aceh Darussalam, saya tanyakan hal tersebut. Ternyata jawabannya cukup mengejutkan, hampir tiap kota kabupaten ada satu gereja. Meskipun itu dari berbagai denominasi. Sayangnya saya tidak bisa merasakan secara langsung dan mengikuti persekutuan umat kristiani dalam ibadah-minggu, dikarenakan saya harus kembali ke Jakarta pada hari Sabtu sehari setelah acara usai.

Kamis, 28 Agustus 2003

Jam setengah lima sore keseluruhan artis penyanyi dari Ibukota yang dinanti oleh masyarakat Banda Aceh, sudah siap untuk diarak keliling kota yang merupakan bagian dari kirab artis sesuai jadwal dari PDMD. Belasan mobil terbuka yang ditumpangi oleh artis dengan pengawalan ketat dari aparat termasuk kendaraan tempur panser, mulai bergerak dari lapangan Blang Padang melalui jalan-jalan protokol di Banda Aceh. Kirab berjalan semarak dan mendapat sambutan yang begitu antusias dari masyarakat yang berdesak-desakan ingin melihat dari dekat artis idolanya.

Selama perjalanan, saya melihat ada gereja Katolik yang cukup besar di sana. Akan tetapi saya tidak melihat keberadaan gereja lain, mungkin letaknya agak masuk ke dalam dari jalan protokol yang kami lalui. Saya kembali teringat ucapan dari teman saya sang reporter, yang mengatakan bahwa hampir tiap kota kabupaten di Aceh ini terdapat satu gereja. Puji Tuhan.

Jumat, 29 Agustus 2003

Meskipun acara ‘live’ akan diselenggarakan pada malam hari, sudah ada sekitar lima ribu orang tumplek di ‘venue’ (tempat acara dilangsungkan) Blang Padang, mereka rela menahan teriknya matahari hanya untuk melihat gladi resik para artis tersebut. Mereka memang haus akan hiburan.

Malam hari, tidak pelak lagi semua sudut lapangan dipenuhi oleh lautan manusia yang berdatangan sejak sore hari. Seakan mereka dapat melepaskan beban berat yang menghimpit selama ini, dengan bergoyang dan ikut bernyanyi tanpa ada rasa sungkan atau pun takut. Acara berakhir pada jam dua dini hari. Mereka pulang membawa beragam kesan, dan sepanjang perjalanan tiada henti mereka berceloteh tentang tingkah para artis idolanya ketika berada di atas panggung. Semuanya berlangsung tertib tanpa kerusuhan sedikit pun. Kami semua kagum akan hal itu, rasanya terbayar sudah segala keletihan dan kekhawatiran yang kami bawa dari Jakarta, setelah melihat semuanya ternyata aman-aman saja.

Sabtu, 30 Agustus 2003
Cuaca sangat cerah ketika kami tiba di bandara komersial Blang Bintang, bersiap untuk memasuki pesawat Garuda ke Medan sebagai kota tujuan transit lalu menuju Jakarta. Hati ini diliputi ucapan syukur, “Terimakasih Tuhan, untuk kesempatan yang Kau berikan mengunjungi tanah Aceh ini”. Pesawat pun segera lepas landas menuju angkasa bebas.

 

>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003