|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
28 September 2003
Apa Kerja Senior dalam Retret? Winanto Soegijo S |
|
|
|
Sebanyak 77 orang dari Komisi Senior GKI Pondok Indah
undur dari kehidupan serta kehirukpikuan mereka di
Metropolitan Jakarta pada tanggal 22 s/d 24 Agustus yang
lalu dalam suatu retret di Bukit Doa Pondok Remaja PGI di
Cipayung, Bogor.
Sebagaimana tertulis di dalam Buku Panduan, maka memang
tepat jika para senior tersebut undur dari kehidupan
mereka sehari-hari di rumah, karena retreat memang
bermakna mundur ke tempat yang sunyi untuk berdoa dan
bergumul serta bersekutu dengan Tuhan Yesus Kristus, sang
Juru Selamat.
Panitia Retret memang sudah memperhitungkan benar-benar
keterbatasan para senior di dalam retret ini sesuai dengan
susunan acara yang tertera di dalam Buku Panduan. Namun
demikian, dinamika para senior masih nampak terlihat pada
waktu mengikuti berbagai kegiatan di dalam acara tersebut
serta kegiatan-kegiatan lainnya diluar acara.
Pada hari kedua, yaitu Sabtu, 23 Agustus, para senior
dikocok oleh seorang pembicara, yaitu Pdt. Lusindo Tobing
yang masih muda itu dari GKJ Nehemia. Dalam sesi yang
dipimpin oleh Pdt. Lusindo Tobing, yang membahas soal “Doa”,
para senior ini “diperlakukan” seperti anak-anak muda,
dengan harus berdiri dan kembali duduk setiap kali disapa
“Apa kabar?” Darinya. Dengan tangkas pula para senior
harus berdiri serta menjawab dengan kata “GOD” yang harus
dieja menjadi G (Jee) O (o) dan D (Dee) dan seterusnya.
Dalam kesempatan ini, Bapak Pendeta yang masih muda ini
nampaknya masih harus mengajarkan alfabet Doa kepada insan
yang “sudah menjelang keberangkatan” mereka menghadap Sang
Pencipta. Puji Tuhan!
Menurut Pdt. Lusindo Tobing, Doa adalah pelajaran iman
untuk selama-lamanya, karena Dia setia. Pdt. Lusindo
Tobing menyebut beberapa contoh mengenai kesetian Tuhan
itu, yaitu:
Mzm 50:15, yang berbunyi: “Berserulah kepada-Ku pada waktu
kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan
memuliakan Aku”;
Yes. 59:1: “Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang
panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak
kurang tajam untuk mendengar”; serta dari beberapa ayat
lainnya seperti;
Yes. 33:3, Yes. 40:31 dan Yun. 2:2 yang intinya adalah:
“Berserulah kepada-Ku maka Aku akan menjawab engkau.”
Menurut Pdt. Lusindo Tobing, setiap orang beriman harus
berpegang pada motto: “Jadikan berdoa gaya hidupmu,
jadikan doa nafasmu, ‘… karena doa orang benar besar
kuasanya’.” (Yak 5:16)
“Doa dan berdoa harus bertujuan memuliakan nama Tuhan,
karena itulah yang terbaik untuk yang Maha Tinggi,”
katanya menegaskan.
Tidak kalah pentingnya peran seorang muda lainnya, yaitu
Pnt. Nugroho Catur Kembar Widjajadi (Didiek), yang pada
kesempatan retret tersebut menyampaikan semacam kesaksian
tentang arti Hidup dan Kehidupan.
Menurut Didiek, Hidup dan Kehidupan, yang baru dialaminya
selama sekitar 40 tahun, secara alkitabiah bersumber pada
Hati.
“Hati adalah sumber kehidupan kita,” katanya, seraya
menambahkan karena “… apa yang keluar dari mulut dapat
menajiskan orang, dan sumbernya tak lain adalah hati.”
(Mat 15:18)
Selain itu, kita dibenarkan atau dihukum juga karena
ucapan kita. (Mat. 12:37)
Oleh karena itu, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan,
karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Ams 4:23)
Pada kesempatan itu, Didiek juga menguraikan suatu
pengalaman hidupnya sebagai suatu kesaksian yang menarik
dalam menghadapi masalah kembarannya.
Dari apa yang dia uraikan, kami para senior memperoleh
pesan bahwa bila kita menghadapi masalah apapun, maka kita
harus bersikap hati-hati, namun tidak terlalu berlebihan.
Hal itu sesuai dengan Mzm 37:5 yang berbunyi: “Serahkanlah
hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya dan Ia akan
bertindak.”
|
|
Terbaik untuk yang Maha Tinggi |
Selama retret tersebut, juga tampil seorang pembicara
yang boleh dikata masih belia di dalam usia, yaitu Sdri.
Riani Suhardja. Sdri. Riani, yang saat ini sedang
menjalani Tahap Aplikasi dalam rangka pemanggilannya
sebagai calon pendeta di GKI Pondok Indah, dalam
khotbahnya di depan para senior pada hari Minggu 24
Agustus, menguraikan makna Hidup yang menurut falsafah
Yunani berarti kesempatan, bahkan sementara kalangan
mengatakannya sebagai “suatu panggung sandiwara.”
Sdri. Riani, dengan mengutip Rasul Paulus dari Flp 1:20,
mengatakan bahwa “Hidup adalah Kristus.”
Dia juga menjabarkan bahwa “Hidup adalah Kristus” itu,
jika:
- Kita mengenal Kristus seperti kita mengenal pasangan
hidup kita;
- Namun tidak cukup jika hanya mengenal saja, kita pun
harus mendengarkan apa yang difirmankan-Nya;
- Selanjutnya kita harus bertindak untuk melayani-Nya agar
dapat memberikan buah.
“Itulah yang terbaik untuk Yang Maha Tinggi,” katanya.
|
|
Kepikunan |
Dan satu-satunya pembicara senior dalam Retret Senior kali
ini adalah Dr. W.M. Roan yang berbicara mengenai “Pikun
dan Penanggulangannya.”
Dr. Roan diberi kesempatan berbicara pada malam pertama,
di mana dalam kesempatan tersebut dia menguraikan berbagai
upaya agar kita dapat mencegah terjadinya “penyakit” lupa
dan kepikunan. Memang ada perbedaan antara pikun dan lupa,
karena orang lupa belum tentu pikun. “Untungnya beliau
belum pikun, tetapi sepertinya sudah menjadi pelupa,
karena biasanya kalau pikun mesti pelupa.”
Perlu dicari siasat agar kita tidak cepat menjadi pikun,
kendati kita mungkin sudah menjadi pelupa. Banyak cara
untuk menghindari kepikunan tersebut. Tetapi yang jelas,
para peserta retret kendati sudah berusia lanjut, namun
mereka masih belum pikun. “Soal lupa, biasalah sebagai
orang yang sudah banyak makan asam-garam (lanjut usia),
yang penting kan belum atau tidak pikun,” kata seorang
peserta.
Meskiupun sudah “senior”, kami tetap akan berusaha untuk
dapat memberikan “Yang Terbaik Untuk Yang Maha Tinggi”,
sesuai dengan tema Retret Senior kali ini.
Demikianlah sekilas laporan mengenai kegiatan Retret
Senior kali ini. Para peserta juga ingin mengungkapkan
rasa syukur dan terima kasih mereka kepada kaum muda atas
kepedulian mereka terhadap kaum senior sehingga mereka
dapat dijauhkan dari putusnya komunikasi dengan Tuhan
dalam sisa-sisa waktu/kehidupan mereka. “Namun yakinlah
bahwa kami tetap berupaya untuk dapat ‘Mempersembahkan
Yang Terbaik Untuk Yang Maha Tinggi,’” kata salah seorang
peserta.
Tuhan memberkati pelayanan kaum muda/dewasa untuk para
senior mereka serta seluruh anggota Tubuh Kristus beserta
carang-carangnya yang dikasihi.
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|