|
Mendengar kata “jatuh cinta” saya teringat kembali suatu
peristiwa yang terjadi 35 tahun lalu, diawal perjumpaan
saya dengan pasangan. Saya jatuh cinta pada pandangan
pertama, aduh… sejuta rasanya jatuh cinta itu kata Titiek
Puspa, tetapi lucunya saya enggan mengungkapkannya.
Jangankan mengungkapkan, kenalpun belum, apalagi saya
pendatang baru yang tinggal di depan rumahnya.
Suatu hari saya diajak seorang kawan pergi ramai-ramai ke
Jakarta Fair, ternyata si “dia” ikut juga. Setelah sampai
di Jakarta Fair, saya kaget bercampur heran, tiba-tiba dia
menggandeng tanganku. Pucuk dicita, ulam tiba, tetapi
ternyata dia menggandengku karena menghindar dari kawan
saya yang selalu mengejarnya. Kemudian kami sama-sama
jatuh cinta.
Padan kata Jatuh cinta, adalah kesengsem atau kasmaran
akan mendatangkan kebahagiaan dan kesegaran secara
rohaniah dan badaniah, suatu euforia, demikian diungkapkan
oleh Gary Chapman dalam bukunya “Lima Bahasa Kasih”.
Pengalaman “jatuh cinta” ini, secara emosional kita saling
terobsesi satu dengan yang lain.
Marilah kita bayangkan pengalaman kita dulu, sewaktu kita
jatuh cinta. Kalau kita bangun pagi, dialah yang pertama
kali masuk dalam benak kita, bukan? Apabila kita
berpegangan tangan, terasa seakan-akan darah kita mengalir
menjadi satu, apalagi bila kita berpelukan rasanya tidak
ingin berhenti dan terus merangsang impian-impian tentang
pernikahan yang indah dan harmonis. Kita sudah terbuai dan
terperangkap pada keelokan atau ketampanan dan pesona
personalitas kekasih kita itu.
Orang yang sedang jatuh cinta memiliki ilusi bahwa
kekasihnya orang yang paling sempurna, sampai-sampai tidak
bisa melihat kekurangannya. Seperti halnya Winda, anak
tetangga saya yang sedang “kasmaran”, tidak ada seorangpun
yang dapat menghalangi niatnya untuk menikah dengan
kekasihnya. Ibunya sering menasehati dan mengingatkan
bahwa kekasihnya itu pernah masuk penjara tiga tahun
lamanya. Winda tidak bergeming dan tetap menjawab:
“Pokoknya saya harus menikah dengan dia”. Kata “pokoknya”
itulah yang menyebabkan Winda terjebak dalam emosionalnya
dan tidak menggunakan pikiran sehat.
Pengalaman jatuh cinta datang secara alami dan memang
diperlukan sebagai dasar perkawinan yang sehat. Pengalaman
ini sangat mengasyikkan dalam kehidupan kita karena kita
selalu bermimpi dan berhayal suatu kebahagiaan dalam
pernikahan. Namun pada kenyataannya masih banyak pasangan
yang baru saja menikah, segera kehilangan perasaan jatuh
cinta itu. Sayang sekali, keabadian pengalaman kasmaran
hanya merupakan fiksi, bukan kenyataan.
Menurut Dr. Dorothy Tennov, seorang psikolog yang telah
meneliti dan mengkaji banyak pasangan, bahwa obsesi
romantis dari pengalaman jatuh cinta itu hanya memiliki
daya tahan rata-rata dua tahun setelah pernikahan.
Kalau
jatuh cinta sudah memudar, maka kedua mata kita mulai
terbuka melihat kenyataan yang ada, ternyata selama ini
kita tidak dapat melihat kutil dan jerawat di wajahnya,
tidak juga menyadari perbedaan sifat dan pola tingkah laku
di antara kita. Tetapi sekarang…, hanya perbedaan kecil
saja, seperti: cara mengeluarkan pasta gigi, cara
memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang atau cara
melipat koran sekalipun bisa menjadi masalah dan ribut
berkepanjangan. Oh… sungguh menjengkelkan dan menyebalkan!
Kalau sudah begini, apakah kita harus berhenti saling
mencintai dan menarik diri, bercerai dan mencari yang
lain? Tentu saja tidak! Kita harus berusaha keras untuk
saling mencintai tanpa euforia obsesi jatuh cinta.
Kita bisa menerima perjalanan jatuh cinta sebagaimana
adanya karena itu sangat wajar dan manusiawi, tetapi kita
sekarang harus mengejar cinta sejati dengan pasangan kita.
Cinta seperti itu memang masih bersifat emosional namun
tidak obsesional. Itulah cinta yang menyatukan emosi dan
akal sehat serta melibatkan kemauan keras dan disiplin
untuk menyadari akan kebutuhan pertumbuhan pribadi
masing-masing. Kebutuhan emosional kita yang paling
mendasar bukan lagi jatuh cinta, tetapi dengan
sungguh-sungguh mencintai dan dicintai pasangan serta
mengenal satu cinta yang bertumbuh dari pikiran sehat,
bukan sekedar naluri.
Sebagai contoh: “Saya perlu dicintai pasangan yang memilih
mencintai saya dan melihat dalam diri saya sesuatu yang
pantas untuk dicintai”. Sebaiknya pola kebutuhan emosional
tersebut tidak saja dipergunakan oleh pasangan suami
isteri (Pasutri) yang telah kehilangan perasaan jatuh
cinta, tetapi juga untuk setiap pasangan pranikah yang
sedang kasmaran perlu menggunakan pola seperti itu serta
memadukan emosi dan pikiran sehat, agar tidak terjebak
dalam impian-impian yang fiktif dan siap menghadapi
kenyataan. Apabila kita sedang mengalami jatuh cinta,
mulailah segera melirik ke arah cinta pada tahap
berikutnya yaitu cinta sejati.
Berbicara tentang cinta sejati, saya tertarik pada
pernyataan Pak Agus Susanto, Pendeta kita, pada khotbah
pemberkatan nikah beberapa minggu lalu, bahwa “Cinta itu
keputusan”. Cinta yang dimaksud adalah cinta sejati, bukan
hanya sekedar jatuh cinta yang tidak memerlukan disiplin
dan tidak berupaya dengan penuh kesadaran, bahkan tidak
terfokus pada pertumbuhan serta perkembangan diri sendiri
dan orang yang dicintai.
Tetapi cinta sejati dalam pernikahan ada upaya untuk
mewujudkan dalam kehidupan nyata dan tumbuh bersama saling
menguatkan. Pernikahan adalah suatu bejana yang mudah
retak, oleh karena itu kita perlu mencurahkan perhatian
untuk memelihara, melindungi dan menguatkan setiap hari.
Hubungan yang suci ini tidak dapat bertumbuh tanpa
keputusan dan komitmen untuk kerja keras dan pengorbanan
diri sendiri. Cinta sejati memerlukan suatu keputusan dan
komitmen untuk mewujudkan janji pada saat pernikahan,
yaitu saling mengasihi, menghormati dan menjagai sampai
maut memisahkan kita.
Hal tersebut, sejalan dengan ungkapan Gary Smalley dan
John Trent tentang cinta sejati dalam bukunya: “Cinta
adalah Keputusan”, yang intinya: Cinta sejati lahir dari
sebuah hati yang berkelimpahan kasih dari Allah yang
membebaskan kita untuk dapat melihat keinginan orang lain,
sehingga ada rasa hormat, rasa menghargai dan keputusan
untuk mencintai yang dinyatakan dan diwujudkan dalam
perbuatan.
Untuk itu seorang suami belajar memandang Tuhan
untuk memenuhi kebutuhan “akan rasa dihargai”, sedangkan
seorang isteri memandang Tuhan untuk memenuhi kebutuhan
“akan rasa aman” dengan demikian masing-masing tidak
saling menuntut kepada pasangannya, tetapi bahkan saling
membagi kasih di antara mereka.
Tetapi sayangnya, kita cenderung lebih menaruh perhatian
pada mobil atau hal-hal lain, bukan menaruh perhatian pada
pernikahan kita. Kita selalu mengganti olie setiap 5000 Km
sekali, mengisi bensin bila tangki hampir kosong, mengecek
dan memeriksakan secara periodik kondisi mesin dan
perlengkapan lainnya, tetapi kita kurang memberikan waktu,
pikiran, upaya dan perhatian yang lembut pada pernikahan
kita, bahkan kita tidak memperhatikan tangki pasangan kita
yang hampir-hampir kosong dan memerlukan pemenuhan
kebutuhan emosionalnya.
Jakarta, September 2003 |