Kasut
25 September 2003
Jatuh Cinta
Tjuk Sumarsono

Mendengar kata “jatuh cinta” saya teringat kembali suatu peristiwa yang terjadi 35 tahun lalu, diawal perjumpaan saya dengan pasangan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama, aduh… sejuta rasanya jatuh cinta itu kata Titiek Puspa, tetapi lucunya saya enggan mengungkapkannya. Jangankan mengungkapkan, kenalpun belum, apalagi saya pendatang baru yang tinggal di depan rumahnya.

Suatu hari saya diajak seorang kawan pergi ramai-ramai ke Jakarta Fair, ternyata si “dia” ikut juga. Setelah sampai di Jakarta Fair, saya kaget bercampur heran, tiba-tiba dia menggandeng tanganku. Pucuk dicita, ulam tiba, tetapi ternyata dia menggandengku karena menghindar dari kawan saya yang selalu mengejarnya. Kemudian kami sama-sama jatuh cinta.

Padan kata Jatuh cinta, adalah kesengsem atau kasmaran akan mendatangkan kebahagiaan dan kesegaran secara rohaniah dan badaniah, suatu euforia, demikian diungkapkan oleh Gary Chapman dalam bukunya “Lima Bahasa Kasih”. Pengalaman “jatuh cinta” ini, secara emosional kita saling terobsesi satu dengan yang lain.

Marilah kita bayangkan pengalaman kita dulu, sewaktu kita jatuh cinta. Kalau kita bangun pagi, dialah yang pertama kali masuk dalam benak kita, bukan? Apabila kita berpegangan tangan, terasa seakan-akan darah kita mengalir menjadi satu, apalagi bila kita berpelukan rasanya tidak ingin berhenti dan terus merangsang impian-impian tentang pernikahan yang indah dan harmonis. Kita sudah terbuai dan terperangkap pada keelokan atau ketampanan dan pesona personalitas kekasih kita itu.

Orang yang sedang jatuh cinta memiliki ilusi bahwa kekasihnya orang yang paling sempurna, sampai-sampai tidak bisa melihat kekurangannya. Seperti halnya Winda, anak tetangga saya yang sedang “kasmaran”, tidak ada seorangpun yang dapat menghalangi niatnya untuk menikah dengan kekasihnya. Ibunya sering menasehati dan mengingatkan bahwa kekasihnya itu pernah masuk penjara tiga tahun lamanya. Winda tidak bergeming dan tetap menjawab: “Pokoknya saya harus menikah dengan dia”. Kata “pokoknya” itulah yang menyebabkan Winda terjebak dalam emosionalnya dan tidak menggunakan pikiran sehat.

Pengalaman jatuh cinta datang secara alami dan memang diperlukan sebagai dasar perkawinan yang sehat. Pengalaman ini sangat mengasyikkan dalam kehidupan kita karena kita selalu bermimpi dan berhayal suatu kebahagiaan dalam pernikahan. Namun pada kenyataannya masih banyak pasangan yang baru saja menikah, segera kehilangan perasaan jatuh cinta itu. Sayang sekali, keabadian pengalaman kasmaran hanya merupakan fiksi, bukan kenyataan.

Menurut Dr. Dorothy Tennov, seorang psikolog yang telah meneliti dan mengkaji banyak pasangan, bahwa obsesi romantis dari pengalaman jatuh cinta itu hanya memiliki daya tahan rata-rata dua tahun setelah pernikahan.

Kalau jatuh cinta sudah memudar, maka kedua mata kita mulai terbuka melihat kenyataan yang ada, ternyata selama ini kita tidak dapat melihat kutil dan jerawat di wajahnya, tidak juga menyadari perbedaan sifat dan pola tingkah laku di antara kita. Tetapi sekarang…, hanya perbedaan kecil saja, seperti: cara mengeluarkan pasta gigi, cara memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang atau cara melipat koran sekalipun bisa menjadi masalah dan ribut berkepanjangan. Oh… sungguh menjengkelkan dan menyebalkan! Kalau sudah begini, apakah kita harus berhenti saling mencintai dan menarik diri, bercerai dan mencari yang lain? Tentu saja tidak! Kita harus berusaha keras untuk saling mencintai tanpa euforia obsesi jatuh cinta.

Kita bisa menerima perjalanan jatuh cinta sebagaimana adanya karena itu sangat wajar dan manusiawi, tetapi kita sekarang harus mengejar cinta sejati dengan pasangan kita. Cinta seperti itu memang masih bersifat emosional namun tidak obsesional. Itulah cinta yang menyatukan emosi dan akal sehat serta melibatkan kemauan keras dan disiplin untuk menyadari akan kebutuhan pertumbuhan pribadi masing-masing. Kebutuhan emosional kita yang paling mendasar bukan lagi jatuh cinta, tetapi dengan sungguh-sungguh mencintai dan dicintai pasangan serta mengenal satu cinta yang bertumbuh dari pikiran sehat, bukan sekedar naluri.

Sebagai contoh: “Saya perlu dicintai pasangan yang memilih mencintai saya dan melihat dalam diri saya sesuatu yang pantas untuk dicintai”. Sebaiknya pola kebutuhan emosional tersebut tidak saja dipergunakan oleh pasangan suami isteri (Pasutri) yang telah kehilangan perasaan jatuh cinta, tetapi juga untuk setiap pasangan pranikah yang sedang kasmaran perlu menggunakan pola seperti itu serta memadukan emosi dan pikiran sehat, agar tidak terjebak dalam impian-impian yang fiktif dan siap menghadapi kenyataan. Apabila kita sedang mengalami jatuh cinta, mulailah segera melirik ke arah cinta pada tahap berikutnya yaitu cinta sejati.

Berbicara tentang cinta sejati, saya tertarik pada pernyataan Pak Agus Susanto, Pendeta kita, pada khotbah pemberkatan nikah beberapa minggu lalu, bahwa “Cinta itu keputusan”. Cinta yang dimaksud adalah cinta sejati, bukan hanya sekedar jatuh cinta yang tidak memerlukan disiplin dan tidak berupaya dengan penuh kesadaran, bahkan tidak terfokus pada pertumbuhan serta perkembangan diri sendiri dan orang yang dicintai.

Tetapi cinta sejati dalam pernikahan ada upaya untuk mewujudkan dalam kehidupan nyata dan tumbuh bersama saling menguatkan. Pernikahan adalah suatu bejana yang mudah retak, oleh karena itu kita perlu mencurahkan perhatian untuk memelihara, melindungi dan menguatkan setiap hari. Hubungan yang suci ini tidak dapat bertumbuh tanpa keputusan dan komitmen untuk kerja keras dan pengorbanan diri sendiri. Cinta sejati memerlukan suatu keputusan dan komitmen untuk mewujudkan janji pada saat pernikahan, yaitu saling mengasihi, menghormati dan menjagai sampai maut memisahkan kita.

Hal tersebut, sejalan dengan ungkapan Gary Smalley dan John Trent tentang cinta sejati dalam bukunya: “Cinta adalah Keputusan”, yang intinya: Cinta sejati lahir dari sebuah hati yang berkelimpahan kasih dari Allah yang membebaskan kita untuk dapat melihat keinginan orang lain, sehingga ada rasa hormat, rasa menghargai dan keputusan untuk mencintai yang dinyatakan dan diwujudkan dalam perbuatan.

Untuk itu seorang suami belajar memandang Tuhan untuk memenuhi kebutuhan “akan rasa dihargai”, sedangkan seorang isteri memandang Tuhan untuk memenuhi kebutuhan “akan rasa aman” dengan demikian masing-masing tidak saling menuntut kepada pasangannya, tetapi bahkan saling membagi kasih di antara mereka.

Tetapi sayangnya, kita cenderung lebih menaruh perhatian pada mobil atau hal-hal lain, bukan menaruh perhatian pada pernikahan kita. Kita selalu mengganti olie setiap 5000 Km sekali, mengisi bensin bila tangki hampir kosong, mengecek dan memeriksakan secara periodik kondisi mesin dan perlengkapan lainnya, tetapi kita kurang memberikan waktu, pikiran, upaya dan perhatian yang lembut pada pernikahan kita, bahkan kita tidak memperhatikan tangki pasangan kita yang hampir-hampir kosong dan memerlukan pemenuhan kebutuhan emosionalnya.

Jakarta, September 2003

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003