|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Gurat |
|
5 Marer 2008
Berbagi Sindhu Sumargo |
|
|
Manusia, sebagai makhluk hidup, pada dasarnya mempunyai
kecenderungan untuk berbagi dengan sesamanya. Berbagi
dalam berbagai hal, mulai dari berbagi cerita, berbagi
pengalaman, berbagi pekerjaan, berbagi makanan bahkan ada
yang punya kebiasaan untuk berbagi uang. Kebiasaan berbagi
ini lebih terasa kental di lingkungan yang homogen dan
sederhana, seperti di desa-desa.
Di masyarakat perkotaan, di mana masyarakatnya sangat
hiterogen, kebiasaan berbagi ini sudah sangat sulit kita
temukan, terutama berbagi hal-hal yang positif. Kalau
berbagi hal-hal yang negatif, malahan sering kita temui.
Misalnya dalam menghadapi pekerjaan yang sulit atau
pekerjaan yang tidak ada imbalannya, kita cenderung untuk
mudah berbagi dengan orang lain, tepatnya menyerahkan
pekerjaan tersebut kepada orang lain. Di dalam pelayanan
pun, disadari ataupun tidak, kita sering melakukan hal-hal
semacam itu, yaitu membagikan pekerjaan yang berat dan
tidak menyenangkan kepada orang lain.
Dengan situasi dan kondisi saat ini, di masyarakat kota
metropolitan yang katanya modern ini, kebiasaan berbagi
ini sudah semakin langka. Yang terjadi bahkan sebaliknya,
ada kecenderungan untuk mengambil atau menguasai sesuatu
yang bukan milik dia. Berbagi jalan yang bukan milik kita
saja, seringkali kita tidak rela. Kita lantas memasang
portal atau polisi tidur, hanya karena tidak mau terganggu,
padahal jalan itu adalah jalan milik negara.
Di kompleks perumahan di mana teman saya tinggal, ada
cerita yang menarik tentang portal ini. Hanya karena tidak
mau jalan di depan rumahnya dilalui oleh banyak kendaraan,
terutama pada waktu pagi dan sore hari, salah satu pemilik
rumah di jalan itu membuat portal di ujung jalan, sehingga
para pemakai jalan harus berputar dan tidak melewati
rumahnya. Akibatnya sekarang jalan itu menjadi sepi, hanya
dilewati oleh penghuni atau yang hendak bertamu saja.
Suatu hari tersiar kabar bahwa rumah si pembuat portal
didatangi tamu yang tidak diundang alias maling di siang
hari bolong. Ada sedikit kehebohan, sudah dipasangi
portal, koq malah dimalingi. Yang lebih menarik lagi,
peristiwa tersebut terulang kembali beberapa minggu
kemudian, di rumah yang sama. Entah malingnya sama atau
maling yang lain, orang-orang bertanya kenapa justru rumah
itu lagi yang disatroni. Apakah maling-maling itu merasa
sakit hati karena si pemilik rumah itu adalah pemrakarsa
pemasangan portal, tidak ada yang tahu.
Memasang portal justru membuat para satpam menjadi kurang
waspada, mereka merasa portal sangat membantu pengamanan
di lingkungannya. Para satpam kini lebih senang menonton
teve di posnya masing-masing ketimbang berpatroli. Apalagi
kalau ada siaran pertandingan sepak bola, hampir dapat
dipastikan tidak ada satpam yang berpatroli. Hal yang sama
dirasakan juga oleh para maling, bagi mereka portal juga
sangat membantu kelancaran pekerjaannya. Mereka tahu
persis, kalau para satpam itu jarang berpatroli di daerah
yang banyak portalnya.
Cerita lain tentang portal adalah di kompleks perumahan di
mana kami tinggal. Kali kecil yang membelah kompleks
perumahan kami, di mana beberapa waktu yang lalu ada
kloset yang dibuang di sana, diapit oleh dua buah jalan.
Satu jalan lebih tinggi dari yang lain. Nah, kalau hujan
besar, kali tersebut kerap meluap, seperti yang terjadi
beberapa waktu yang lalu. Luapan air kali tersebut dengan
sendirinya akan mengalir ke daerah yang lebih rendah dan
membuat jalan yang lebih rendah menjadi banjir. Banyak
mobil dan angkot yang terjebak di jalan itu, bahkan ada
yang mogok. Salah satu sebabnya karena jalan diseberangnya,
yang lebih tinggi dan yang tidak kebanjiran itu tidak bisa
dilewati kendaraan karena di portal. Ironisnya, para
penghuni rumah di jalan itu malahan menonton orang-orang
yang kebanjiran di seberang.
Bahkan di kala orang lain mengalami kesulitan pun, kita
tidak mau segera berbagi dengan membuka portal, kita lebih
senang menonton peristiwa kebanjiran atau kemacetan yang
terjadi. Di sisi lain, pada saat yang sama kita sedang
mengangkangi jalan yang bukan milik kita dengan portal.
Luar biasa, bukan? Rasa kepedulian tampaknya sudah tumpul,
bahkan mungkin sudah tidak ada lagi. Hanya karena kita
tidak mau terganggu dengan lalu lalang kendaraan di depan
rumah, lalu kita menutup jalan itu. Bukankah itu adalah
suatu sikap dan perilaku yang sangat egois serta sangat
mementingkan diri sendiri, padahal jalan itu bukan milik
kita.
Jalan itu dibuat sebagai salah satu fasilitas umum, baik
di kompleks perumahan maupun di luar kompleks. Karena
benda yang bernama portal itu, sekarang banyak jalan yang
sudah berubah fungsi, antara lain jadi pangkalan taksi,
area berjualan makanan, tempat parkir, tempat bermain
bulutangkis dan lain sebagainya. Padahal di sekitarnya
banyak kendaraan yang membutuhkan lebih banyak bahan bakar
lagi karena harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk
sampai ke tujuannya, hanya gara-gara portal.
Hal lain yang jarang kita bagikan adalah pengalaman iman,
yang kita kenal dengan kesaksian atau sharing. Kita sering
malu (atau sombong?) untuk berbagi pengalaman yang
berhubungan dengan kehidupan iman kita. Di berbagai
persekutuan, apakah itu di Persekutuan Wilayah, di
Persekutuan Kombas atau di persekutuan-persekutuan yang
lain, jarang sekali ada warga yang mau bersaksi atau
berbagi pengalaman iman. Bersaksi tidak usah dengan
pengalaman yang spektakuler, yang hebat. Cukup dengan
cerita-cerita kecil saja, yang diyakini di dalamnya adanya
campur tangan Tuhan. Mungkin akan banyak juga teman
sepersekutuan kita yang bisa mengambil manfaat dari
pengalaman atau cerita-cerita kecil yang dibagikan.
Bersaksi adalah berbagi tentang hal-hal yang positif.
Janganlah kita membuat portal-portal dalam pikiran kita,
hanya karena kita malu atau merasa tidak percaya diri
untuk berbagi. Jangan sampai pikiran-pikiran kita nanti
disatroni maling, sehingga kita benar-benar tidak bisa
membagikan apa-apa lagi karena sudah digondol maling.
(Ssm) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|