Gurat
24 Desember 2007
Belajar dari Keteladanan Yusuf dan Maria
Sindhu Sumargo
Dalam kehidupan sehari-hari, pasti kita sering berhadapan dengan situasi yang tidak menyenangkan. Contoh sederhana, ketika kita sedang terburu-buru pergi ke suatu tempat atau berangkat kerja, kondisi jalan yang biasanya lancar tiba-tiba menjadi tersendat atau macet. Reaksi yang paling sering muncul adalah menggerutu, dan tidak jarang kita bereaksi berlebihan terhadap hal yang sangat kecil saja. Gara-gara mesin pendingin udara yang tidak berfungsi saja, kita bisa ber-reaksi seperti “kiamat sudah dekat”. Hanya karena rebutan tempat parkir, padahal masih banyak tempat lain, kita bisa ber-reaksi seperti “beruang lapar”, dan sebagainya.

Bagaimana caranya agar supaya kita tidak terpengaruh secara negatif dalam menghadapi situasi yang tidak menyenangkan seperti itu? Caranya adalah kita harus memiliki kemampuan atau sikap untuk menyesuaikan diri dengan hal-hal di luar kendali kita. Jalanan macet adalah hal di luar kendali kita, matinya mesin pendingin udara dan tempat parkir diserobot orang juga di luar kendali kita. Masalahnya, mampukah kita menyesuaikan diri dengan situasi itu sehingga kita tidak menjadi “stress”, yang bisa menimbulkan reaksi yang berlebihan.

Coba kita simak yang berikut ini. Bayangkan apabila Yusuf dan Maria tidak memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan hal-hal di luar kendali mereka, mungkin kisah Natal tidak seperti yang kita kenal sekarang. Yusuf harus menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa tunangannya, Maria, sedang mengandung. Bisa saja Yusuf lantas memutuskan hubungan dengan Maria, tetapi malaikat utusan Allah yang memberitahukan bahwa Maria mengandung oleh karena kuasa Roh Kudus dan akan melahirkan Yesus, sang Putra Allah, membuat Yusuf malah menikahi Maria. Dalam situasi ini, Yusuf mampu untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapi, situasi yang di luar kendalinya.

Tahun-tahun pertama dalam pernikahan yang biasanya merupakan tahun-tahun yang menyenangkan, bagi Maria dan Yusuf tidak seperti itu, mereka harus menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan yang tidak direncanakan itu, kehamilan yang sangat tidak biasa. Penyesuaian terhadap situasi itu adalah masalah yang sangat berat dan membutuhkan komitmen yang sangat tinggi di antara mereka.

Belum selesai dengan masalah yang pertama, mereka harus segera meninggalkan Nazareth menuju ke Bethlehem. Dalam usia kehamilan yang lanjut, Maria harus menunggang seekor keledai, di samping bukan hal yang lumrah pada waktu itu, ini juga bukan perjalanan yang mudah. Sebagian besar ibu-ibu yang akan melahirkan pada masa sekarang, tentunya akan diantar dengan mobil ke rumah sakit. Kalau boleh memilih, Maria mungkin juga tidak mau menunggang seekor keledai. Bayangkan kalau mereka tidak memiliki sikap dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan hal-hal di luar pengendalian mereka.

Ketika sampai di kota Bethlehem, setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, ternyata mereka tidak kebagian hotel atau kamar untuk menginap. Pasti ada rasa kesal, kecewa, frustrasi dalam diri mereka. Katanya anak yang dikandungnya itu adalah Putra Allah, mengapa Allah tidak menyediakan tempat yang layak untuk mereka? Kalau hal itu terjadi pada saat sekarang, pasti akan disediakan kamar yang terbaik di hotel Hilton atau Sheraton, walaupun hotel tersebut penuh karena ada seminar atau rapat kerja suatu partai. Tetapi, malam itu ternyata Maria harus rela untuk bermalam di sebuah kandang yang beralaskan jerami. Mereka bahkan mengucap syukur, karena paling tidak sudah ada tempat untuk berlindung dari dinginnya malam. Dan malam itu..., Anak Allah lahir.

Coba bayangkan, kalau Yusuf dan Maria tidak memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan hal-hal di luar kendali mereka, mungkin kita tidak akan mengenal kisah Natal sebagaimana yang kita kenal saat ini.

Jalanan macet yang menyebabkan kita terlambat datang ke kantor atau bertemu dengan seseorang masih jauh lebih ringan ketimbang apa yang dihadapi oleh Yusuf dan Maria. Tidak berfungsinya mesin pendingin udara, jauh lebih ringan dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Yusuf dan Maria. Serobot-serobotan tempat parkir tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan yang dialami oleh Yusuf dan Maria. Kita harus belajar dan berlatih untuk memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan hal-hal di luar kendali kita. Kita masih sering mengedepankan complain, ego, kepentingan diri sendiri, kritik terhadap hal-hal yang membuat kita tidak nyaman. Ya..., kita memang harus belajar banyak dari Yusuf dan Maria. Selamat Hari Natal. (Ssm)
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003