|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Gurat |
|
17 Nopember 2007
Rajawali Sindhu Sumargo |
|
|
Mempelajari
kehidupan burung rajawali tidak ada habisnya. Begitu
banyak hal yang luar biasa dalam kehidupan burung rajawali,
dan dari semua itu bisa disimpulkan bahwa rajawali adalah
bukan burung yang biasa, rajawali adalah burung yang luar
biasa!
Kehidupan rajawali berbeda dengan manusia, bahkan
seringkali bertolak belakang. Rajawali selalu berada di
tempat yang tinggi. Rajawali membuat sarangnya juga di
tempat yang tinggi. Sejak menetas, anak burung rajawali
sudah di”program” oleh induk rajawali dengan pendidikan
yang “keras”. Memang, ketika anak rajawali belum bisa
apa-apa, ia dipelihara dan diberi makan dengan baik oleh
induknya. Anak rajawali merasa sangat nyaman berada di
sarangnya yang hangat dan diberi makan secara teratur oleh
induknya.
Sampai saat tertentu, di mana program pendidikan mulai
dijalankan, si induk mulai merusak sarangnya. Rajawali
kecil mulai tidak nyaman, si induk tidak ingin anaknya
terus-menerus berada di tempat yang nyaman. Manusia
cenderung untuk terus-menerus memberikan kenyamanan kepada
anaknya. Kita sering cemas apabila kenyamanan anak kita
terusik. Anak rajawali mulai dididik untuk tidak menjadi
burung yang biasa-biasa saja.
Ketika tiba saatnya untuk belajar terbang, si induk
mendorong/menjatuhkan anaknya dari sarangnya di tempat
yang sangat tinggi. Sebagai manusia, boro-boro kita
mendorong anak kita supaya jatuh, ketika anak kita
terjatuh saja waktu belajar berjalan, kekhawatiran kita
sudah seperti menghadapi hari kiamat (padahal belum tahu
kiamat itu seperti apa). Anak rajawali dipaksa untuk
belajar terbang dan lama kelamaan anak rajawali menjadi
semakin pandai terbang dan mandiri.
Ia mulai mencari makanannya sendiri. Rajawali juga
mengincar mangsanya dari tempat yang tinggi, sehingga
rajawali harus memiliki konsentrasi yang tinggi dan
kemampuan untuk fokus terhadap sasaran. Konsentrasi dan
fokus terhadap sasaran juga diajarkan oleh Begawan Durna
ketika mengajari Arjuna dalam hal memanah, seperti
diceritakan dalam kisah Mahabharata.
Karena hidup di tempat yang tinggi, rajawali bukan hanya
tidak takut terhadap badai, rajawali bahkan akrab dengan
badai. Rajawali bahkan memanfaatkan badai untuk melatih
kekuatan otot-ototnya sembari bersenang-senang, sama
seperti berselancar di laut yang membutuhkan ombak yang
besar. Peselancar selalu mencari ombak yang lebih besar
dan lebih besar lagi.
Manusia
sering tidak tega melihat anaknya “berjuang”, baik dalam
pekerjaan maupun dalam menjalankan kehidupan yang lain.
Kita selalu ingin melindungi dan memberikan kenyamanan,
padahal hal itu mungkin bisa menjerumuskan anak-anak kita.
Manusia sering tidak mendorong anak-anaknya untuk
menghadapi badai, padahal badai sering diperlukan untuk
menempa toughness seseorang. Secara tidak sadar, kita
membuat anak kita menjadi anak yang biasa-biasa saja,
bukan mendidik untuk menjadi anak yang luar biasa.
Dalam kehidupan, kita hendaknya juga seperti rajawali.
Jangan pernah puas dengan kehidupan yang nyaman, tetapi
dengan kualitas hidup yang biasa-biasa saja. Jangan bangga
dengan predikat yang biasa-biasa saja, pekerjaan yang
biasa saja, kinerja yang biasa saja, pelayanan yang biasa
saja, kehidupan rohani yang biasa saja dan lain-lain yang
serba biasa-biasa saja. Tinggalkan kenyamanan dan raih
kehidupan yang luar biasa. Kita tidak ditakdirkan untuk
menjadi orang yang biasa-biasa saja atau menjadi orang
yang rata-rata. Kita diperbolehkan untuk menjadi orang
yang di atas rata-rata, kita boleh menjadi orang yang luar
biasa, seperti burung rajawali. Mulailah belajar terbang
dan berusaha untuk terbang lebih tinggi. Carilah “badai”
supaya “otot-otot” kita kuat.
Semakin tinggi pohon semakin kencang angin menerpa.
Tantangan yang kita hadapi di tempat yang lebih tinggi
akan semakin besar, tetapi hal itu menempa dan membentuk
daya tahan dan toughness kita. Kita akan mendapatkan
banyak pengalaman yang mungkin tidak akan dialami oleh
mereka yang hanya mau menjadi orang yang biasa-biasa saja.
Perjuangan kita tidak akan sia-sia, kita akan menikmati
keindahan dan kemuliaan yang kita terima dari Tuhan.
Ada pepatah
yang mengatakan, “gajah mati meninggalkan gading, harimau
mati meninggalkan belang”, artinya dalam hidup ini kita
harus menjadi manusia yang bermakna, bukan manusia yang
biasa-biasa saja. Ah,… kita memang harus belajar banyak
dari burung rajawali. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|