|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Gurat |
|
4 September 2007
Memberikan Solusi Sindhu Sumargo |
|
|
Pendeta. Rudianto Djajakartika dalam khotbahnya pada Hari
Ulang Tahun Republik Indonesia ke 62 tanggal 17 Agustus
2007 yang lalu, mengingatkan kepada kita apakah kita telah
mengisi kemerdekaan ini dengan sikap dan cara yang
berkenan kepada Allah.
Mengemudikan kendaraan dengan tidak mengindahkan
keselamatan dan aturan yang berlaku, apakah merupakan
sikap dan cara dari bangsa yang merdeka dalam mengisi
kemerdekaannya?
Kalau di resepsi pernikahan terjadi saling serobot ketika
antre mengambil makanan, apakah juga cerminan dari bangsa
yang merdeka?
Seorang teman bercerita bahwa dia habis berlibur ke
Amerika dan selama di Amerika dia menyewa mobil. Suatu
hari dia salah parkir dan harus membayar “tilang”. Dengan
bangga dia bercerita bahwa dia tidak membayar “tilang”
tersebut sampai pulang ke Indonesia. Beberapa waktu
kemudian, ada tagihan di kartu kreditnya sebesar “tilang”
yang harus dibayar. Dia lupa bahwa administrasi di negara
maju sangat canggih, lain dengan di negeri sendiri. Di
sana dia bisa dilacak, di mana dia menyewa mobil dan
berapa nomor kartu kreditnya.
Gwen Stefany, seorang penyanyi Amerika yang sedang naik
daun dan kerap berbusana sexy, ketika mengadakan
pertunjukan di Malaysia dihadapkan kepada dua pilihan,
berbusana dengan sopan atau ijin pertunjukannya dibatalkan.
Gwen akhirnya memilih pilihan yang pertama.
Ada pepatah, “Di mana bumi dipijak, di situ langit
dijunjung”, yang artinya kita harus menyesuaikan diri
dengan aturan, kebiasaan, hukum, dan lain-lain, di mana
kita berada.
Ketika kita berada di luar negeri, kita dengan mudah bisa
menaati aturan untuk tidak membuang sampah sembarangan
atau menyeberang jalan di tempatnya. Tetapi mengapa kita
tidak bisa (mau?) menaati aturan di negeri sendiri.
Hal ini terdengar agak aneh, tetapi inilah yang terjadi.
Bahkan yang lebih aneh lagi adalah sikap dan cara berpikir
teman saya tadi. Ibaratnya, dia menginjak bumi Amerika
tetapi dia masih menjunjung langit Indonesia. Akibatnya,
biaya tilangnya dibebankan ke kartu kreditnya. Sebenarnya
masih banyak lagi contoh-contoh perilaku aneh seperti itu.
GKI Pondok Indah memiliki jemaat yang beragam, bukan saja
dari sisi etnis dan suku, tetapi juga dari sisi asal
gereja, hal itu juga yang mendorong diadakannya acara
Bulan Seni di bulan Agustus ini. Adakalanya kita merasa
tidak puas, entah terhadap kebijakan dan arah pelayanan
gereja, atau mungkin terhadap kenyamanan beribadah, atau
mungkin terhadap khotbah para pendetanya, atau mungkin
juga terhadap penyejuk udaranya, atau terhadap kopi dan
tehnya dan lain-lain.
Terhadap berbagai ketidaknyamanan yang mungkin kita
rasakan, sebagai anggota jemaat tentunya kita boleh
bertanya, mengajukan usul atau bahkan complain. Di zaman
orde yang lalu, ada ungkapan “kritik yang membangun”,
tetapi ungkapan tersebut rasanya kurang pas. Kritik adalah
kritik, kalau usulan untuk perbaikan lebih tepat dikatakan
sebagai “memberi solusi”. Apabila ada hal-hal yang kurang
berkenan, mari kita memberikan solusi agar supaya GKI
Pondok Indah semakin berkembang dan semakin dekat dengan
Visi dan Misinya. Memberikan solusi juga merupakan salah
satu cara yang baik dan berkenan kepada Allah dalam
mengisi kemerdekaan kita.
Saat yang paling tepat untuk “memberikan solusi” adalah
pada saat berlangsungnya Persidangan Majelis Jemaat
Diperluas atau yang lebih dikenal dengan PMJD, dan PMJD
yang terdekat adalah yang akan diadakan pada tanggal 2
September 2007 .
Selamat bersidang dan “memberikan solusi”. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|