|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Gurat |
|
13 September 2006
Merdeka Tapi Taat Sindhu Sumargo |
|
|
Pengertian Merdeka, sering
disalahartikan sebagai boleh melakukan apa saja, tidak
usah mengikuti aturan, boleh berbuat seenaknya dan
sebagainya, pokoknya semau gue. Memang, menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia kata Merdeka, artinya bebas dari
tekanan, berdiri sendiri, tidak dibatasi, tidak
dihalang-halangi, tidak terikat dengan. Akan tetapi,
sebagai sebuah negara yang merdeka, maka negara akan
membuat peraturan agar kehidupan di negara tersebut
berjalan dengan baik dan teratur, tidak semrawut. Dan
sebagai warga negara, kalau ingin disebut sebagai manusia
beradab, tentunya kita harus menaati peraturan tersebut.
Taat, lagi-lagi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
artinya patuh menuruti perintah dengan ikhlas. Kata
ikhlas di sini adalah penting, karena ikhlas artinya
sukarela, tidak terpaksa, bukan karena rasa takut dan
tidak pamrih. Kalau kita membuang sampah di tempat sampah,
kita melakukannya dengan sukarela, tanpa paksaan. Kalau
kita tidak membuang kulit rambutan atau kantong plastik
atau gelas plastik atau kertas tisu dari mobil ke jalan,
kita melakukannya dengan sukarela dan tanpa ada paksaan.
Kalau kita berhenti di lampu lalu-lintas yang menyala
merah pada jam 12 malam, kita melakukannya dengan ikhlas,
bukan karena rasa takut ditangkap pak polisi atau karena
terpaksa. Kalau kita tidak berbicara atau mengobrol
apalagi bercanda pada saat ibadah berlangsung, maka kita
juga melakukannya dengan sukarela, bukan karena terpaksa.
Kalau kita sudah melakukan itu semua, kita dapat
dikategorikan sebagai manusia atau warga negara yang taat.
Tetapi ketaatan kita itu baru diberlakukan kepada atau
untuk diri kita sendiri.
Di negera tetangga, di mana negara tersebut membeli atau
mengimpor air bersih, ada peraturan bahwa tidak boleh
menyuci mobil dengan menggunakan selang karena hal itu
merupakan pemborosan air. Alkisah, ketika ada seseorang
yang menyuci mobilnya dengan menggunakan selang air,
tetangga dari orang yang menyuci mobil itu melaporkan hal
itu kepada polisi dan polisi datang untuk menegur orang
tersebut. Yang menarik adalah, sang tetangga yang terkesan
jahat karena dia melaporkan perbuatan tetangganya itu ke
polisi, sebenarnya dia taat kepada peraturan dan peduli
terhadap negara karena tetangganya itu memboroskan air
yang diimpor oleh negaranya. Pemborosan itu bisa berdampak
juga pada orang-orang lain, bagaimana kalau cadangan air
itu habis, misalnya.
Di negara tetangga yang lain, ada larangan untuk
menggunakan HP atau melakukan percakapan telepon sambil
mengemudi. Hal ini adalah untuk mencegah terjadinya
kecelakaan lalu lintas yang dapat merugikan diri kita
sendiri maupun orang lain. Ketika ada seseorang yang
menelepon sambil mengemudi, bisa saja pengemudi lain yang
melaporkan pelanggaran itu kepada polisi, jadi jangan
heran apabila tiba-tiba ada pak polisi yang menghentikan
mobil anda walaupun pada saat itu anda tidak sedang
menelepon. Pengemudi melaporkan hal itu ke polisi karena
dia taat kepada peraturan serta peduli terhadap
keselamatan orang lain. Kedua contoh tersebut di atas
adalah satu contoh ketaatan yang sudah lebih maju, bukan
sekadar untuk diri sendiri, tetapi sudah memikirkan
kepentingan orang banyak.
Bagaimana sikap kita mengenai
ketaatan tersebut, apakah masih diberlakukan untuk diri
sendiri saja atau kita juga sudah memikirkan orang banyak?
Mungkin kita bisa mulai dari lingkungan yang kecil di
sekitar kita. Kalau kita sudah mau mulai memikirkan orang
banyak, beberapa contoh pertanyaan di bawah ini perlu kita
renungkan :
- Apakah kita tidak akan membuang sampah sembarangan?
- Apakah kita sudah berani menegur orang yang membuang
sampah seenaknya di jalan?
- Apakah kita tidak akan melanggar lampu lalu lintas
walaupun kondisi jalan sudah sepi?
- Apakah kita masih melakukan percakapan telepon atau
bahkan menulis SMS sambil mengemudi?
- Apakah kita tidak mengobrol apalagi bercanda ketika
mengikuti kebaktian di gereja atau di suatu persekutuan?
- Apakah kita sudah berani menegur orang yang
mengobrol atau bercanda di suatu kebaktian, karena hal
itu mengganggu banyak orang?
- Dan tentunya masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan
lainnya.
Semua ini kembali kepada diri kita masing-masing,
bagaimana kita menyikapi ketaatan terhadap peraturan.
Merdeka sih merdeka, tapi harus taat dong ya?! Dirgahayu
Republik Indonesia!
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|