Gurat
9 Juni 2006
Prioritas
Sindhu Sumargo
Hidup adalah merupakan kumpulan dari sejumlah pilihan dan sejumlah keputusan. Mungkin kita tidak pernah merasakannya karena pilihan dan keputusan itu berjalan begitu mengalir, berlangsung seperti otomatis saja layaknya.

Coba saja perhatikan, mulai dari bangun pagi kita sudah dihadapkan kepada suatu pilihan dan harus mengambil keputusan, yaitu bangun atau meneruskan tidur. Nah, keputusan yang kita ambil, biasanya sangat ditentukan oleh prioritas kita. Apa prioritas kita pada pagi hari itu? Apakah hari itu hari kerja atau hari libur, itu akan sangat menentukan keputusan kita. Setelah bangun, kita dihadapkan lagi pada suatu pilihan, mandi atau cuci muka saja. Sekali lagi kita harus mengambil keputusan. Kalau hari itu kita harus bekerja, maka keputusannya akan berbeda dengan bila hari itu hari libur. Setelah mandi, kita dihadapkan lagi pada suatu pilihan, mau memakai baju apa, celana/rok warna apa, dan sebagainya. Lagi-lagi kita harus mengambil keputusan berdasarkan prioritas kita. Kalau hari itu kita harus bertemu dengan seseorang atau harus menghadiri pertemuan penting, maka keputusan memilih baju juga akan berbeda. Pada waktu makan siang tiba, lagi- lagi kita dihadapkan kepada pilihan, mau makan di mana dan mau makan apa dan mungkin juga makan dengan siapa. Demikian, sepanjang hari tanpa kita sadari, kita terus menerus dihadapkan pada pilihan dan harus mengambil keputusan yang sangat ditentukan oleh prioritas kita.

Dalam skala yang lebih besar, proses seperti ini juga terjadi, misalnya di suatu organisasi atau di pemerintahan. Kita juga sering dihadapkan kepada keputusan atau peraturan baru yang diambil oleh pemerintah yang dirasakan kurang pas. Itu disebabkan oleh adanya prioritas yang berbeda. Ambil contoh misalnya peraturan yang masih hangat, yaitu pengaturan tentang merokok. Peraturan ini dikeluarkan tentunya dengan latar belakang kesehatan yaitu untuk mengurangi polusi udara. Lalu bagaimana dengan asap hitam yang dikeluarkan oleh metro mini, bus dan angkutan umum lainnya. Adanya kontradiksi ini menyebabkan suatu peraturan tidak akan bertahan lama, biasanya secara perlahan-lahan akan menghilang dan seolah-olah tidak pernah ada. Itu dapat terjadi karena adanya prioritas yang berbeda antara pemerintah dan rakyat, apakah dalam hal ini prioritasnya politis, populis atau ekonomis. Kita sudah merasakan banyak peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang sifatnya cuma “hangat-hangat” saja yang kemudian hilang tak berbekas. Misalnya aturan untuk mengganti semua istilah, merk atau nama asing dengan istilah, merk dan nama Indonesia. Anda masih ingat?

Ketaatan terhadap peraturan bermula dari diri kita sendiri. Kita masih sering melihat kantong plastik, kulit buah atau kertas tisu terlempar dari mobil mewah. Kita juga terlalu sering melihat orang menyeberang jalan seenaknya, bahkan di jalan tol. Keputusan untuk membuang sampah dari mobil ke jalan raya adalah karena ada prioritas untuk tidak menyimpan sampah di mobilnya yang mewah itu, biarlah sampah itu disimpan di selokan atau got. Kalaupun hal akan menyebabkan banjir, “emang gue pikirin”. Menyeberang jalan seenaknya adalah suatu keputusan yang diambil karena tidak mau berjalan sedikit lebih jauh. Kalaupun nanti tertabrak mobil atau ditangkap polisi, “itu mah gimana nanti lah”

Sebagai jemaat dari sebuah komunitas yang disebut gereja, apakah kita sudah mulai berpikir untuk ikut beraktivitas dalam kegiatan-kegiatan di gereja? Ini juga sebuah pilihan yang dihadapkan kepada kita. Kalau kita memutuskan untuk belum mau ikut beraktivitas, ya tidak apa-apa, mungkin karena prioritas kita saat ini bukan untuk melayani. Sebagai jemaat, kita juga tidak boleh lupa bahwa kita telah menerima anugerah keselamatan dari Allah melalui kematian Yesus di kayu salib. Itu adalah prioritas utama dari Allah untuk kita semua, manusia yang berdosa. Lalu apa yang akan kita berikan sebagai “balasan” kita kepada Allah atas anugerah yang telah kita terima itu? Apakah cukup dengan datang beribadah ke gereja dan memberikan uang persembahan setiap hari Minggu?

Mestinya, mengambil peran untuk melayani di gereja, apakah itu sebagai anggota panitia atau pengurus Komisi atau pengurus badan-badan pelayanan yang lain atau bahkan sebagai Penatua, adalah sangat baik untuk dipertimbangkan. Memang, kita seringkali merasa tidak punya waktu, atau tidak punya “bakat” atau talenta, atau alasan yang paling klasik adalah “belum waktunya untuk melayani di gereja”. Semuanya itu harus dikembalikan kepada prioritas dan keputusannya pun akan diselaraskan dengan prioritas pada saat ini. Mau melayani atau tidak mau melayani adalah suatu pilihan, kalau melayani sudah menjadi prioritas, maka keputusannya adalah mau, dan secara otomatis kita akan memberikan prioritas waktu yang lebih besar untuk melayani. Sekali lagi, hidup adalah terdiri dari sekumpulan pilihan dan sekumpulan keputusan. Tinggal bagaimana kita memberikan prioritas kita. Selamat melayani. (ssm)
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003