|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Gurat |
|
18 April 2006
Kalau mau, pasti Bisa! Sindhu Sumargo |
|
|
Sebagai manusia, kita mempunyai kecenderungan untuk lebih
menyukai lingkungan lama yang sudah kita kenal ketimbang
lingkungan yang baru. Contoh, kalau kita harus pergi ke
suatu tempat yang belum pernah dikunjungi, maka paling
tidak timbul berbagai pertanyaan mengenai tempat tersebut,
apalagi kalau di sana tidak ada seorang pun yang kita
kenal. Dalam bidang pekerjaan pun demikian. Di tempat
kerja yang baru, pasti akan timbul sedikit kekhawatiran
apakah kita akan diterima oleh lingkungan di perusahaan
itu, bagaimana kira-kira boss kita yang baru, dan
sebagainya.
Manusia juga mempunyai kecenderungan untuk bertahan di
suatu lingkungan, baik dalam pergaulan maupun dalam
pekerjaan. Kalau kita sudah merasa cocok dengan suatu
lingkungan, maka kita menjadi ”malas” untuk bergaul di
lingkungan yang lain, apalagi kalau sudah mempunyai ikatan
emosional dengan kelompok tersebut. Di lingkungan yang
baru kita sering merasa tidak nyaman, kita harus
menyesuaikan diri lagi, baik dengan orang-orang yang baru
dan dengan situasi yang baru pula. Kita harus mulai dengan
berbasa-basi, membaca situasi, dan lain sebagainya yang
pada dasarnya kurang menyenangkan. Demikian pula dengan
pekerjaan, kalau kita suka dengan pekerjaan kita saat ini,
ada perasaan ”malas” untuk pindah kerja, kecuali ada
sesuatu yang sangat menarik. Tetapi hati-hati, ada pepatah
yang mengatakan bahwa, ”cintailah pekerjaanmu, namun
jangan jatuh cinta kepada perusahaan tempat kamu bekerja,
karena kamu tidak tahu kapan perusahaan itu tidak
mencintai kamu lagi”. Dalam situasi seperti sekarang ini,
banyak perusahaan yang tiba-tiba bisa tidak mencintai kita
lagi.
Adanya perasaan ”malas” untuk bersosialisasi di lingkungan
yang baru adalah sangat manusiawi. Akan tetapi, suka atau
tidak suka, dalam hidup ini kita seringkali diharuskan
untuk berada di situasi dan lingkungan baru, seperti
contoh ketika memulai pekerjaan yang baru tadi. Ternyata,
kalau kita ”dipaksa” untuk bersosialisasi dan bergaul
dengan orang-orang yang baru kita kenal, walaupun pada
mulanya tidak nyaman, lama-kelamaan kita mulai bisa
terbiasa dan bahkan sedikit demi sedikit kita mulai
meninggalkan bahkan melupakan kelompok yang lama. Makanya
ada pepatah lain yang mengatakan, ”kalau punya kawan baru,
kawan lama jangan dilupakan”.
Komunitas Basis, yang sudah dibentuk di semua wilayah GKI
Pondok Indah, ternyata belum sepenuhnya berjalan
sebagaimana yang diharapkan. Masih dirasakan banyak
kendala dalam realisasinya, antara lain kendala waktu.
Hampir semua anggota Kombas adalah orang-orang sibuk,
sehingga sulit menemukan waktu yang cocok untuk semua.
Kendala lainnya adalah kesamaan minat. Belum ditemukan
minat yang sama dari masing-masing anggota sehingga sulit
untuk melakukan suatu kegiatan. Kendala lain lagi adalah
materi atau isi dari pertemuan yang diadakan, sehingga
terjadi kegamangan untuk mengadakan pertemuan atau
persekutuan Kombas, dan masih ada kendala-kendala lain
lagi.
Untuk mengawali suatu persekutuan atau pertemuan Kombas,
coba undang 10–20 keluarga yang berada di lingkungan
tempat tinggal kita. Mulailah dengan saling berkenalan,
berbincang mengenai hal-hal yang ringan, berbagi
pengalaman iman dan lain sebagainya. ”Paksakan” untuk
menentukan waktu untuk berkumpul kembali, sebagaimana
layaknya kita ”dipaksa” untuk hadir di kantor. Temukan dan
cari minat atau kegiatan yang disukai bersama. Buat suatu
kegiatan yang bermanfaat bagi orang lain. Maka, sedikit
demi sedikit akan muncul suatu ikatan, dan akan timbul
suatu keinginan untuk bertemu kembali.
Contoh yang paling jelas adalah ketika didirikan kelompok
Paduan Suara di salah satu wilayah. Awalnya, anggota yang
satu hanya sebatas kenal dengan anggota yang lain, namun
karena ”dipaksa” untuk berkumpul (untuk berlatih) seminggu
sekali dan oleh karenanya ”terpaksa” pula
berbincang-bincang dengan anggota kelompok, maka lama
kelamaan timbul keakraban dan rasa keterikatan dengan
kelompok ini, sehingga untuk berkumpul seminggu sekali
tidak lagi dirasakan sebagai ”paksaan”, bahkan timbul
kerinduan untuk hadir setiap kali berlatih. Ini semua
disebabkan adanya minat dan keinginan yang sama dari
setiap anggota kelompok.
Sebagai anggota dari salah satu Kombas, marilah kita
mencoba untuk ”memaksakan” diri untuk bertemu dan
berkumpul dengan sesama anggota Kombas. Mari bincangkan
dan temukan minat dan kegiatan yang disukai bersama. Mari
kita mencoba membuka hati kita untuk melakukan hal-hal
yang bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan.
Melakukan pertemuan atau persekutuan Kombas bukanlah
masalah bisa atau tidak bisa, melainkan masalah mau atau
tidak mau. Kalau tidak mau, pasti tidak bisa. Kalau tidak
mau maka akan terlihat banyak sekali kendala. Tetapi kalau
mau, maka pasti bisa. Kalau mau, kita tidak akan melihat
kendala-kendala yang ada, tetapi akan melihat
solusi-solusi yang mungkin dilakukan. Selamat berKOMBASria.
(Ssm) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|