Gurat
3 Oktober 2005
Burung Pipit
Sindhu Sumargo
Mungkin pembaca pernah membaca atau mendengar cerita ini;

Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor burung pipit mulai merasa kepanasan dan lalu mengumpat kepada cuaca yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara untuk mencari udara yang sejuk.

Benar, perlahan-lahan dia mulai merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk dan dia makin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.

Terbawa oleh nafsu, dia tidak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, semakin lama semakin tebal dan akhirnya ia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai di tanah, salju yang menempel di sayapnya bertambah tebal. Si burung pipit tak mampu berbuat apa-apa dan menyangka bahwa riwayatnya akan tamat. Dia merintih dan menyesali nasibnya.

Mendengar suara rintihan, seekor kerbau yang kebetulan lewat menghampirinya, namun si burung pipit kecewa mengapa yang datang hanya seekor kerbau. Dia menghardik si kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk tolol itu tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya. Si kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri dan kemudian mengencingi si burung tersebut. Si burung pipit semakin marah dan memaki-maki si kerbau. Lagi-lagi, tanpa banyak bicara si kerbau maju selangkah dan mengeluarkan kotorannya ke atas tubuh si burung. Seketika itu si burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si burung sekali lagi mengira bahwa ia akan mati.

Namun, perlahan-lahan dia mulai merasakan kehangatan, salju yang membeku di tubuhnya mulai meleleh karena hangatnya kotoran kerbau. Dia dapat bernafas kembali dan dapat melihat langit yang cerah. Si burung pipit berteriak kegirangan dan bernyanyi sepuas-puasnya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri dan mengulurkan tangannya mengais si burung. Anak kucing kemudian menimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulunya. Begitu bulunya bersih, si burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati. Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si burung pipit dan tamatlah riwayat si burung pipit ditelan oleh si kucing...

Sesuatu yang seringkali terjadi dalam kehidupan kita. Sebagai manusia, kita lebih sering menonjolkan subyektifitas ketimbang obyektifitas kita. Kita sering tidak bisa mensyukuri apa yang kita alami. Kalau mendapatkan hal yang tidak enak, kita dengan mudah mengumpat dan memaki, tanpa mau berpikir manfaat apa yang bisa diperoleh dari pengalaman itu. Kita cenderung untuk selalu melihat bahwa rumput tetangga selalu lebih hijau.

Kita sering terpengaruh oleh lingkungan kita. Kita sering merasa senang dan bangga dengan kenikmatan yang sekejap sehingga kita tidak bisa melihat ada ancaman apa dibalik kenikmatan tersebut. Kita sering tidak bisa bersyukur atas apa yang kita peroleh. Kita tidak bersyukur masih diberi kehidupan yang layak, kita tidak bersyukur masih diberi kesehatan, kita tidak bersyukur masih diberi kesempatan untuk menolong orang lain. Kita bahkan tidak bersyukur ketika masih diberi kesempatan untuk melayani Tuhan, justru kita cenderung untuk menghindar.

Memang, banyak kendala, hambatan dan ketidaknyamanan ketika kita telah memutuskan untuk melayani di ladang Tuhan. Kendala dan hambatan terbesar biasanya berasal dari dalam diri kita sendiri, namun kita sering menyalahkan lingkungan atau keadaan diluar diri kita. Oleh karena itu, ketika kita telah mengatakan, ‘ya dengan segenap hati’, maka perlu dibangun komitmen, suatu tekad yang teguh yang mampu untuk mengatasi hambatan dan kendala yang dialami. Si burung pipit itu seringkali memang mencerminkan wajah kehidupan kita... (SSM)
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003