|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Gurat |
|
3 Mei 2005
Abu Gosok Sindhu Sumargo |
|
|
Apakah anda
masih ingat akan abu gosok tradisional yang dijajakan
secara berkeliling, baik dengan cara dipikul maupun yang
memakai gerobak dorong? Apakah pada saat ini anda masih
sering menjumpainya? Entah kalau di kota, kalau di daerah
Ciputat, Rempoa atau Bintaro kita masih sering menjumpai
khususnya pada pagi hari.
Hampir setiap pagi ketika berangkat ke kantor saya bertemu
dengan pedagang abu gosok. Sering pula saya berpikir
apakah di zaman instan seperti sekarang ini, di mana peran
abu gosok sudah digantikan oleh produk-produk modern yang
banyak dijual di toko-toko, abu gosok tradisional itu
masih laku?
Satu hal yang menarik adalah, hampir semua pedagang abu
gosok ini menjual atau membawa balon gas, bola plastik
atau trompet kertas bersama-sama dengan abu gosoknya. Ini
adalah kombinasi yang aneh, bukan? Cobalah sekali-sekali
anda perhatikan kalau bertemu dengan penjual abu gosok.
Dikarenakan rasa ingin tahu yang cukup besar, suatu ketika
saya bertanya kepada salah satu pedagang abu gosok,
mengapa harus membawa balon, bola dan terompet? Dengan
sedikit tersipu-sipu, dia mengatakan bahwa balon, bola
atau trompet ini adalah untuk menarik perhatian anak-anak.
Kalau si anak minta dibelikan balon atau bola tersebut,
biasanya ibu dari anak itu juga membeli abu gosok.
Para pedagang abu gosok ini menerapkan satu konsep
penjualan yang paling sederhana, di mana konsep penjualan
yang lebih canggih sering disebut sebagai one stop
shopping. Dengan konsep ini, penjual harus menyediakan
barang-barang yang diperlukan oleh siapapun juga, sehingga
pembeli tidak perlu lagi berbelanja barang-barang yang
dibutuhkan di beberapa toko, cukup datang ke satu toko
saja.
Sebagaimana kita ketahui, pada tahun ini GKI Pondok Indah
sedang menggalakkan pembentukan Komunitas Basis, yang
lebih dikenal dengan Kombas. Sampai saat ini sudah
terbentuk 18 Kombas di 4 (empat) wilayah. Anggota Kombas
adalah setiap anggota keluarga, baik itu ayah, ibu maupun
anak-anaknya. Di waktu yang akan datang, kegiatan jemaat
diharapkan akan lebih banyak di Kombasnya masing-masing.
Perubahan konsep aktivitas jemaat ini harus pula dibarengi
dengan perubahan konsep berpikir jemaat itu sendiri, yaitu
dari konsep yang terpusat menjadi terpencar. Sebagai
konsekuensi dari akan banyaknya aktivitas jemaat di
masing-masing Kombas, maka akan dibutuhkan pula jemaat
yang memiliki kreativitas dan aktivitas yang tinggi
sebagai motivator atau fasilitator untuk menghidupkan
kegiatan Kombas.
Mengingat bahwa anggota Kombas itu terdiri dari berbagai
usia, maka perlu juga dipikirkan agar kegiatan-kegiatan
yang direncanakan harus dapat mengakomodasi minat dan
kebutuhan seluruh anggota Kombas. Acara atau kegiatan
Kombas juga harus mengadopsi konsep one stop shopping
tadi. Tidak mudah memang, untuk itu sangat dibutuhkan
konsistensi dan persistensi dari para motivator dan
fasilitator serta komitmen yang tinggi dari para
anggotanya.
Kalau penjaja abu gosok saja memiliki kegigihan untuk
bertahan dengan cara yang kreatif, maka kita akan malu
kalau aktivitas Kombas kita tidak berjalan sebagaimana
yang diharapkan. Selamat berKOMBASria. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|