|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Gurat |
|
17 Maret 2005
Hadiah Sindhu Sumargo |
|
|
Kita sudah terlalu sering mendengar dan melihat penjualan
berhadiah, sehingga kita tidak menyadari bahwa hal
tersebut sudah menjadi kebiasaan atau sudah menjadi budaya
menjual di negeri kita. Mulai dari kecap sampai
barang-barang elektronik, semua dijual dengan hadiah.
Hadiahnya sendiri mulai dari piring, gelas sampai kipas
angin. Menjual mobil juga harus dengan iming-iming hadiah,
mulai dari kaca film, karpet sampai CD Changer, ditambah
lagi dengan kupon-kupon undian berhadiah lainnya.
Membeli 5 bungkus mi instan, berhadiah 1 bungkus. Ini
berarti hadiahnya 20% dari harga mi tersebut. Karena
hadiahnya sebesar 20% maka kita segera membelinya dalam
jumlah banyak, walaupun kita tahu bahwa menyantap mi
instan terlampau banyak juga kurang begitu baik. Hadiah,
rupanya memang ampuh untuk menarik pembeli.
Karena hadiah pula kita sering lebih mengutamakan produk
yang hadiahnya menarik ketimbang kualitas produk itu
sendiri. Kita bahkan bisa atau rela mengganti produk demi
hadiah, walaupun produk yang biasa kita konsumsi secara
kualitas lebih baik. Beberapa waktu yang lalu, kertas
tissue di rumah saya berganti dengan yang lebih tipis, dan
setelah saya selidiki ternyata merk yang baru ini
memberikan hadiah gelas. Bayangkan, demi sebuah gelas yang
menurut saya sama sekali tidak menarik, kertas tissue
harus berganti dengan yang tipis.
Menjelang hari-hari raya seperti Lebaran, Natal, Tahun
Baru, yang sering kita dengar sebagai Christmas Sale,
Lebaran Sale, Year End Sale dan berbagai macam Sale
lainnya, menjadi lebih semarak lagi dengan adanya
hadiah-hadiah yang ditawarkan. Bagi para ibu (maaf) ini
adalah kesempatan emas untuk berbelanja sekaligus
mendapatkan berbagai macam hadiah.
Kalau ada waktu senggang, cobalah kita lihat, di manakah
piring hadiah dari membeli Kecap, atau di manakah gelas
hadiah dari membeli Kopi atau di manakah mangkuk hadiah
dari penyedap masakan. Paling-paling mereka teronggok di
dapur dan mungkin tidak sekalipun kita memakainya.
Seberapa seringkah kita memenangi undian karena kita
membelanjakan sekian ratus ribu rupiah di suatu Department
Store?
Gary Chapman, seorang konselor pernikahan, dalam bukunya
Lima Bahasa Kasih mengatakan bahwa ada lima bahasa kasih
yang dapat menghangatkan relasi dengan pasangan kita, juga
dengan anak-anak. Caranya adalah dengan mengetahui apa
bahasa kasih utama mereka. Dari lima bahasa kasih yang
diutarakan, salah satunya adalah Menerima Hadiah. Setiap
orang pasti suka apabila diberi hadiah, tetapi apakah itu
yang menjadi bahasa kasihnya yang utama.
Berhubungan dengan hal itu, melihat begitu banyak hadiah
yang ditawarkan, apakah sebagian besar orang Indonesia
memiliki bahasa kasih utamanya adalah Menerima Hadiah?
Lebih spesifik lagi, apakah sebagian besar wanita di
Indonesia bahasa kasih utamanya adalah Menerima Hadiah,
karena yang paling menyenangi hadiah ketika berbelanja
kebanyakan adalah para ibu?
Namun, hadiah terbesar yang sudah kita terima saat ini
adalah Keselamatan yang diberikan oleh Allah. Keselamatan
yang diberikan dengan pengorbanan yang demikian besar,
yaitu anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus.
Kita masih sering lupa bahwa kita sudah mendapat hadiah
yang luar biasa ini. Ini dapat dilihat dari sikap dan
perilaku kita sebagai umat Kristen. Sebagai orang yang
sudah menerima hadiah yang luar biasa dari Tuhan,
tentunya kita juga harus berbagi dengan sesama jemaat.
Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari senyum, tegur
sapa ataupun jabat tangan, suatu hadiah yang kita berikan
secara gratis. Mari, kita coba mulai melakukannya di plaza
gereja setelah kebaktian. (Ssm) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|