Telepon genggam atau Hand Phone atau yang sehari-hari
lebih dikenal sebagai HP (baca: hapι), pada saat ini sudah
bukan merupakan barang mewah lagi. Hampir semua orang
memilikinya, mulai dari para eksekutif yang berkantor di
gedung-gedung tinggi di daerah segitiga emas Jakarta
sampai tukang Tahu Slawi & Tempe Mendoan, Srabi Solo (di
Jl. RC Veteran, Bintaro), tukang Lumpia Semarang yang
berjualan di depan Pondok Pinang Center di ujung jalan
Deplu Raya, dan masih banyak lagi di tempat-tempat lain.
Perihal merk dan jenis HP-nya, itu perkara lain lagi.
Semua HP, selain dapat dipergunakan untuk berkomunikasi
secara lisan, juga memiliki fasilitas SMS (Short Message
System) yaitu fasilitas untuk menyampaikan pesan singkat.
Fasilitas SMS ini selain praktis, juga tarifnya murah
dibandingkan dengan tarif berbicara.
Begitu praktisnya, hanya dengan memencet-mencet keypad HP,
kita bisa melakukan komunikasi dengan orang lain.
Karenanya kita menjadi lebih sering dan lebih suka
menggunakan fasilitas SMS ketimbang melakukan percakapan
dengan HP.
SMS ini dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau
berita singkat sampai menyampaikan undangan rapat atau
undangan ulang tahun, bahkan sampai mengucapkan selamat
Hari Natal atau Tahun Baru dan berita duka cita. SMS sudah
menggantikan Kartu Ucapan. Itulah yang sedang menjadi
trend saat ini. Memang, kartu ucapan harganya lebih mahal
dari tarif SMS, belum lagi biaya perangko atau ongkos
kirimnya. Sudah begitu, tidak ada kepastian kapan
sampainya kartu kita itu ke alamat yang dituju.
Sedangkan dengan SMS, hanya dalam hitungan detik pesan
atau ucapan itu sudah sampai, bahkan dalam hitungan detik
pula balasannya sudah dapat kita terima kembali. Ucapan
ini juga masih dapat disertai dengan gambar atau foto.
Teknologi komunikasi ini memang sudah sedemikian canggih.
Sebenarnya sih, sah-sah saja mengucapkan selamat Hari
Natal atau selamat Tahun Baru melalui SMS. Kita dapat
membuat kata-kata atau kalimat yang bagus dan indah. Namun
demikian, SMS tidak sepenuhnya dapat menggantikan kartu
ucapan, masih terasa ada yang kurang. Ketika kita menerima
ucapan selamat Hari Natal atau selamat Tahun Baru dengan
kata-kata dan kalimat yang sama walaupun dikirim oleh
teman atau kenalan yang berbeda, maka kata-kata dan
kalimat yang indah itu menjadi kurang bermakna. Ucapan
tersebut menjadi ucapan yang tidak personal atau pribadi,
segera berubah menjadi ucapan yang pasaran.
Pada saat ini, popularitas SMS semakin tinggi, karena
dengan SMS kita bisa memilih seseorang yang tidak kita
kenal untuk menjadi pemenang. Sang pemenang, yang sama
sekali tidak kita kenal itu, akhirnya mendapatkan hadiah
berlimpah, sedangkan kita sebagai pengirim SMS justru
harus mengeluarkan sejumlah biaya, agak ironis, bukan?
Tetapi ternyata si pengirim SMS sama sekali tidak merasa
dirugikan, bahkan ikut gembira ketika pilihannya berhasil
menjadi pemenang. Hampir semua stasiun TV menayangkan
acara semacam ini, bayangkan siapa yang diuntungkan!
Dalam perkembangannya, karena praktis, murah ditambah
faktor kreativitas manusia, SMS dapat digunakan untuk
berbagai upaya, baik yang positif maupun negatif. Tidak
sedikit upaya penipuan dilakukan melalui SMS, dan yang
sangat mengherankan, banyak juga yang tertipu.
Dengan alasan untuk lebih memudahkan konsumen, di beberapa
negara tiket pesawat terbang dapat dibeli melalui SMS.
Untuk memudahkan konsumen pula, kabarnya di Malaysia SMS
dapat digunakan untuk menjatuhkan talak satu bagi suami
yang hendak menceraikan istrinya. Kalau si istri tidak
membalas SMS tersebut, dianggap menerima. Tetapi, kabarnya
kaum wanita di sana tersinggung karena wanita hanya
dihargai Rp. 300,- untuk sekali SMS, Alamak!!.
Dalam pembacaan warta lisan sebelum kebaktian dimulai,
kita selalu diimbau untuk mematikan HP, Pager dan
lain-lain, agar tidak mengganggu kebaktian. Namun masih
banyak yang tidak menaati imbauan ini, bahkan masih ada
jemaat yang ber-SMS-ria pada saat kebaktian. Entah karena
begitu pentingnya sehingga tidak bisa ditunda barang
sebentar atau karena hal-hal lain, saya kurang begitu
paham. Memang, hal ini tidak mengganggu jalannya kebaktian
secara keseluruhan, tetapi paling sedikit akan mengganggu
jemaat yang duduk di sebelahnya. Namun yang lebih penting,
sejauh mana kita memahami etika berkebaktian serta sejauh
mana pemahaman kita mengenai peribadahan?
Dalam ber-SMS, fungsi Tangan dan Mata adalah sangat
penting, tetapi tidak ada hubungannya dengan tema Natal
tahun ini, yaitu Menerima Yesus dengan Telinga, Mata,
Tangan dan Mulut, bukan? Selamat Hari Natal! (ss) |