Gurat
14 Januari 2005
S.M.S
Sindhu Sumargo
Telepon genggam atau Hand Phone atau yang sehari-hari lebih dikenal sebagai HP (baca: hapι), pada saat ini sudah bukan merupakan barang mewah lagi. Hampir semua orang memilikinya, mulai dari para eksekutif yang berkantor di gedung-gedung tinggi di daerah segitiga emas Jakarta sampai tukang Tahu Slawi & Tempe Mendoan, Srabi Solo (di Jl. RC Veteran, Bintaro), tukang Lumpia Semarang yang berjualan di depan Pondok Pinang Center di ujung jalan Deplu Raya, dan masih banyak lagi di tempat-tempat lain.

Perihal merk dan jenis HP-nya, itu perkara lain lagi. Semua HP, selain dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara lisan, juga memiliki fasilitas SMS (Short Message System) yaitu fasilitas untuk menyampaikan pesan singkat. Fasilitas SMS ini selain praktis, juga tarifnya murah dibandingkan dengan tarif berbicara.

Begitu praktisnya, hanya dengan memencet-mencet keypad HP, kita bisa melakukan komunikasi dengan orang lain. Karenanya kita menjadi lebih sering dan lebih suka menggunakan fasilitas SMS ketimbang melakukan percakapan dengan HP.

SMS ini dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau berita singkat sampai menyampaikan undangan rapat atau undangan ulang tahun, bahkan sampai mengucapkan selamat Hari Natal atau Tahun Baru dan berita duka cita. SMS sudah menggantikan Kartu Ucapan. Itulah yang sedang menjadi trend saat ini. Memang, kartu ucapan harganya lebih mahal dari tarif SMS, belum lagi biaya perangko atau ongkos kirimnya. Sudah begitu, tidak ada kepastian kapan sampainya kartu kita itu ke alamat yang dituju.

Sedangkan dengan SMS, hanya dalam hitungan detik pesan atau ucapan itu sudah sampai, bahkan dalam hitungan detik pula balasannya sudah dapat kita terima kembali. Ucapan ini juga masih dapat disertai dengan gambar atau foto. Teknologi komunikasi ini memang sudah sedemikian canggih.

Sebenarnya sih, sah-sah saja mengucapkan selamat Hari Natal atau selamat Tahun Baru melalui SMS. Kita dapat membuat kata-kata atau kalimat yang bagus dan indah. Namun demikian, SMS tidak sepenuhnya dapat menggantikan kartu ucapan, masih terasa ada yang kurang. Ketika kita menerima ucapan selamat Hari Natal atau selamat Tahun Baru dengan kata-kata dan kalimat yang sama walaupun dikirim oleh teman atau kenalan yang berbeda, maka kata-kata dan kalimat yang indah itu menjadi kurang bermakna. Ucapan tersebut menjadi ucapan yang tidak personal atau pribadi, segera berubah menjadi ucapan yang “pasaran”.

Pada saat ini, popularitas SMS semakin tinggi, karena dengan SMS kita bisa memilih seseorang yang tidak kita kenal untuk menjadi pemenang. Sang pemenang, yang sama sekali tidak kita kenal itu, akhirnya mendapatkan hadiah berlimpah, sedangkan kita sebagai pengirim SMS justru harus mengeluarkan sejumlah biaya, agak ironis, bukan? Tetapi ternyata si pengirim SMS sama sekali tidak merasa dirugikan, bahkan ikut gembira ketika pilihannya berhasil menjadi pemenang. Hampir semua stasiun TV menayangkan acara semacam ini, bayangkan siapa yang diuntungkan!

Dalam perkembangannya, karena praktis, murah ditambah faktor kreativitas manusia, SMS dapat digunakan untuk berbagai upaya, baik yang positif maupun negatif. Tidak sedikit upaya penipuan dilakukan melalui SMS, dan yang sangat mengherankan, banyak juga yang tertipu.

Dengan alasan untuk lebih memudahkan konsumen, di beberapa negara tiket pesawat terbang dapat dibeli melalui SMS. Untuk memudahkan “konsumen” pula, kabarnya di Malaysia SMS dapat digunakan untuk menjatuhkan talak satu bagi suami yang hendak menceraikan istrinya. Kalau si istri tidak membalas SMS tersebut, dianggap menerima. Tetapi, kabarnya kaum wanita di sana tersinggung karena wanita hanya dihargai Rp. 300,- untuk sekali SMS, Alamak!!.

Dalam pembacaan warta lisan sebelum kebaktian dimulai, kita selalu diimbau untuk mematikan HP, Pager dan lain-lain, agar tidak mengganggu kebaktian. Namun masih banyak yang tidak menaati imbauan ini, bahkan masih ada jemaat yang ber-SMS-ria pada saat kebaktian. Entah karena begitu pentingnya sehingga tidak bisa ditunda barang sebentar atau karena hal-hal lain, saya kurang begitu paham. Memang, hal ini tidak mengganggu jalannya kebaktian secara keseluruhan, tetapi paling sedikit akan mengganggu jemaat yang duduk di sebelahnya. Namun yang lebih penting, sejauh mana kita memahami etika berkebaktian serta sejauh mana pemahaman kita mengenai peribadahan?

Dalam ber-SMS, fungsi Tangan dan Mata adalah sangat penting, tetapi tidak ada hubungannya dengan tema Natal tahun ini, yaitu Menerima Yesus dengan Telinga, Mata, Tangan dan Mulut, bukan? Selamat Hari Natal! (ss)
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003