|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Gurat |
|
30 Juni 2004
Sejarah Sindhu Sumargo |
|
|
Seorang anak
yang masih duduk di SD, bertanya kepada ayahnya, “Ayah,
apakah ayah pernah belajar Sejarah?”. Sang ayah dengan
bangganya menjawab, “Tentu, Nak, dan ayah selalu mendapat
nilai 10 untuk mata pelajaran Sejarah”.
Si anak terdiam sejenak, lalu melanjutkan pertanyaannya,
“Apakah pelajaran Sejarah digunakan dalam kehidupan Ayah
sehari-hari?”. Kini giliran sang Ayah yang terdiam, namun
ia segera menjawab, “Tentu saja tidak, Nak, tetapi
pelajaran Sejarah akan menambah pengetahuan kita”.
Dalam banyak buku yang menuliskan tentang kisah-kisah
orang sukses, ternyata kesuksesan itu sangat ditentukan
oleh kemampuan membina relasi dengan orang lain. Dikatakan
bahwa kepandaian, pengetahuan atau keahlian yang banyak
tidak menjamin seseorang untuk sukses. Singkat kata, kunci
sukses adalah “pandai bergaul”.
Dalam rangkaian acara HUT GKI Pondok Indah,
diselenggarakan acara “Kebaktian Tempo Dulu”, yaitu acara
kebaktian khusus bersama para “jemaat mula-mula” GKI
Pondok Indah. Ketika diminta menyampaikan kesan dan pesan,
ada seorang jemaat yang mengatakan bahwa keakraban
diantara jemaat yang pernah ada, sekarang tidak dirasakan
lagi. Beliau terkadang merindukan suasana seperti dulu
lagi, suasana yang penuh dengan keakraban dan persaudaraan.
Dari pengamatan seusai kebaktian, ada beberapa kategori
jemaat kita. Sebagian jemaat langsung meninggalkan gedung
gereja setelah kebaktian selesai, entah ada keperluan lain
atau tidak merasa perlu bersosialisasi dengan sesama
jemaat. Sebagian masih berbincang-bincang di plasa gereja
sambil minum kopi atau teh. Sebagian lagi memang merasa
perlu untuk bersosialisasi dan berkenalan dengan sesama
jemaat.
Umpamanya saja, kita meyakini bahwa kunci sukses seseorang
adalah “pandai bergaul”, yaitu menjalin hubungan baik
dengan orang lain, seperti yang dinyatakan di awal tulisan
ini, maka suasana atau momen setelah kebaktian adalah
waktu yang sangat tepat untuk menjalin hubungan baik
dengan orang lain. Kalau kita merasa tidak mempunyai
kenalan atau teman, manfaatkanlah kebiasaan
berjabat-tangan ketika kebaktian usai. Begitu banyak
kesempatan untuk bertegur-sapa atau tersenyum dengan
jemaat lain, dan yang pasti, jemaat yang kita tegur atau
kita senyumi akan membalas. Lain halnya kalau kita lakukan
di mal atau di pasar, salah-salah kita dianggap kurang
waras atau mempunyai maksud-maksud yang kurang baik.
Dengan menjalin hubungan baik dengan orang lain, maka
suasana akrab dan persaudaraan yang hilang, dapat kita
ciptakan lagi. Mungkin bentuknya tidak seperti “tempo
doeloe”, tetapi suasananya akan tetap terasa dan mewarnai
kehidupan jemaat GKI Pondok Indah, sesuai dengan situasi
dan keadaan pada saat ini. Kita tidak dapat mengembalikan
suasana atau keadaan seperti dahulu ke situasi sekarang.
Situasi sekarang sudah jauh berbeda dengan situasi dahulu.
Boleh-boleh saja kita bernostalgia, mengenang saat-saat
indah di masa lalu, tetapi mengharapkan situasi seperti
itu terjadi lagi pada saat sekarang, rasanya tidak mungkin.
Dahulu jemaat kita hanya berjumlah sekitar 300 orang,
tetapi sekarang jumlahnya sudah lebih dari 2.000 jemaat.
Kita tidak dapat mengembalikan sejarah, tetapi sejarah
masa lalu dapat menjadi inspirasi untuk menciptakan
sejarah baru. Dengan menjalin hubungan baik dengan orang
lain, kita akan mendapat banyak hal. Kita dapat mengetahui
minat, hasrat atau kebutuhan seseorang. Kita juga akan
mendapatkan banyak masukan, baik yang positif maupun
negatif, untuk kehidupan berjemaat kita. Kita juga dapat
mengajak orang lain untuk ikut aktif dalam
kegiatan-kegiatan pelayanan di gereja, dan sebagainya.
Hari Ulang Tahun yang ke 20 ini dapat menjadi momentum
yang baik untuk menciptakan keakraban dan persaudaraan
yang baru.
Jadi, ketika kita ditanya oleh anak kita apakah pelajaran
sejarah itu perlu dalam kehidupan kita, maka kita dapat
menjawab dengan penuh keyakinan, “Perlu sekali, Nak!”.
Selamat Ulang Tahun!
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|