Gurat
30 April 2004
L.U.B.E.R
Sindhu Sumargo
Pada tanggal 5 April 2004 yang lalu, rakyat Indonesia telah melaksanakan salah satu haknya, yaitu memilih calon-calon wakilnya yang akan duduk di parlemen.

Berbeda dengan Pemilihan Umum (Pemilu) yang lalu, Pemilu kali ini dilakukan dua kali atau mungkin tiga kali. Pemilu yang berikutnya adalah pada tanggal 5 Juli 2004 yang akan datang untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. Dan kalau tidak ada calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapat suara 51 %, maka pemilihan ini akan diulang, kalau tidak salah pada bulan September 2004.

Pemilihan Umum tanggal 5 April yang lalu, jatuh pada hari Senin dan hari itu dinyatakan sebagai hari libur nasional. Penetapan sebagai hari libur juga berbeda dengan Pemilu-pemilu yang lalu, di mana justru hari pencoblosan dipilih pada hari kerja dan para karyawan mencoblos di kantornya masing-masing.

Tanggal 5 Juli yang akan datang, juga jatuh pada hari Senin, dan hari itupun hampir dapat dipastikan akan ditetapkan sebagai hari libur, demikian pula bila harus dilakukan Pemilu yang ketiga. Jadi, dalam tahun 2004 ini kita masih mempunyai jatah libur tambahan satu atau dua hari lagi. Asyik, bukan?

Perbedaan lain yang sangat mencolok dibandingkan dengan Pemilu yang lalu adalah jumlah Partai yang begitu banyak serta calon-calon anggota DPD/DPRD yang jumlahnya sangat banyak dan yang sangat sedikit dikenal. Masih banyak lagi perbedaan, antara lain adalah Bilik Suara dan Kotak Suara yang kontroversial itu. Jadi, Pemilu kali ini adalah Pemilu yang benar-benar berbeda dengan yang sebelumnya.

Kalau pada Pemilu-pemilu yang lalu, kita mengenal slogan LUBER, yaitu singkatan dari Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia, maka pada Pemilu kali ini slogan LUBER tersebut dipelesetkan menjadi Lucu, Berantakan dan Ribet. Betapa tidak, TPS tempat kami mencoblos berada di lapangan sepak bola. Ada 4 TPS yang didirikan dengan terburu-buru dan sangat sederhana. Di TPS itu ada 4 buah bilik suara yang diletakkan di meja panjang, dan karena tingginya hanya sekitar 50 sentimeter, maka sambil mencoblos kita bisa mengobrol dengan orang yang ada di bilik sebelah.

Tiba-tiba bertiup angin kencang, bilik suara yang terbuat dari logam setipis kaleng kerupuk, yang hanya diletakkan di atas meja terbang tertiup angin, pemilih yang ada di bilik itu sibuk menyelamatkan surat suara yang lebar dan banyak itu supaya tidak ikut terbang. Pemandangan yang sangat lucu dan semua hadirin tertawa terbahak-bahak, termasuk juga para petugas TPSnya.

Dari awal sudah terlihat tanda-tanda bahwa persiapan Pemilu kali ini berantakan. Tender pencetakan surat suara, pembuatan bilik suara dan kotak suara sudah menuai kritik. Semakin dekat dengan “dead-line” makin tampak kekacauannya. Belum lagi masalah distribusi, sampai-sampai kapal perangpun dikerahkan untuk mendistribusikan barang-barang keperluan Pemilu. Namun, bukti keberantakan Pemilu kali ini terlihat dari sekian ratus bilik dan kotak suara di beberapa daerah yang tidak digunakan, entah mengapa.

Ribetnya di mana? Yang sangat terasa adalah ketika membuka dan melipat kembali surat suara, lebih sulit dari melipat koran. Ukuran kertaspun tidak seragam. Ketika surat suara dibuka, ukurannya lebih besar dari bilik suara, sehingga perlu diangkat seperti membaca koran. Setelah mencoblos, keribetan berikutnya adalah ketika melipat kertas suara tersebut. Itulah gambaran seputar “pesta demokrasi” di negeri kita yang berlangsung beberapa waktu yang lalu.

Gambaran serupa juga sering kita jumpai di pelayanan. Kita seringkali mempersiapkan suatu acara atau kegiatan secara tidak bersungguh-sungguh, menganggap diri sudah berpengalaman, sudah biasa. Akibatnya, acara menjadi tidak seperti yang diharapkan, kesulitan yang timbul tidak dapat diantisipasi dengan baik. Dalam pelayanan, kita seringkali bersikap dan bertindak tidak profesional. Kita cenderung untuk mudah “memaklumi” dan mudah “memaafkan”, “Nggak apa-apalah, ini ‘kan pelayanan”, itu ungkapan yang sering kita dengar. Ungkapan yang terdengar sangat sejuk dan bijak, namun menjerumuskan.

Lain halnya dengan sikap dan tindakan kita di kantor atau di pekerjaan. Kita diwajibkan untuk bersikap dan bertindak secara profesional. Contoh kecil saja, ketika kita diundang rapat dengan Direksi atau kita mengundang staf kita untuk rapat, apakah kita bisa bersantai-santai dan datang terlambat, atau cuek saja? Tentu saja tidak, kalau perlu kita hadir 10 – 15 menit sebelum rapat dimulai dengan membawa setumpuk dokumen. Bagaimana dengan sikap kita untuk menghadiri rapat dalam pelayanan? Di pekerjaan, yang kita “layani” adalah manusia, maka seharusnya dalam pelayanan kita mempunyai sikap dan cara-cara yang lebih profesional, karena yang kita layani adalah Tuhan, Allah yang berkuasa atas diri manusia, yang telah menyelamatkan kita melalui anak-Nya, Yesus Kristus.

Seringkali kita berkilah bahwa di pelayanan kita tidak mendapatkan imbalan atau gaji, sehingga kita menyediakan waktu yang lebih banyak untuk pekerjaan kita. Alasan itu memang betul, tetapi jangan lupa, imbalan atau gaji yang kita terima dari pekerjaan kita, bukankah berasal dari Tuhan juga? Selamat melayani.


Kombas adalah salah satu kegiatan yang dapat memperkuat “akar pohon”. Ajak sebanyak-banyaknya jemaat untuk ikut aktif dalam kegiatan Kombas. Kombas dapat melakukan kegiatan apa saja untuk menghimpun jemaat. Motivator dan Koordinator Kombas diharapkan dapat melihat dengan jeli, kegiatan apa yang dapat menarik minat jemaat atau anggota Kombasnya. Aktivitas Kombas dengan sendirinya akan mendukung aktivitas jemaat di wilayah, seperti Persekutuan Wilayah.

Aktivitas Kombas juga akan mendukung aktivitas-aktivitas Komisi, baik yang diselenggarakan di Gereja maupun di tempat lain. Aktivitas Kombas juga akan mendukung program-program kepedulian terhadap lingkungan di sekeliling kita. Apabila Kombas-kombas dapat tumbuh dan beraktivitas di Wilayah, berarti GKI Pondok Indah berhasil membangun akar yang kuat, sehingga Tumbuh dan Berbuah hanya soal waktu saja.

Lantas, bagaimana dengan tema pelayanan di atas, apakah sudah sesuai dengan kondisi pada saat ini? Biarlah kita berpegang pada kata-kata ini: Do the best and God will do the rest.
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003