|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Gurat |
|
30 Januari 2004
Ramalan Sindhu Sumargo |
|
|
Tidak terasa, kita sudah berada di awal tahun 2004. Waktu
demikian cepat berlalu, rasanya belum lama kita merayakan
pergantian tahun dari tahun 2002 ke 2003 eh, tau-tau kita
sudah berada di tahun 2004.
Seperti biasa, pergantian
tahun diwarnai dengan perayaan, dari perayaan sederhana di
rumah-rumah sampai pesta di hotel-hotel mewah. Setiap
akhir tahun, para artis, penyanyi dan MC kebanjiran order,
bahkan seorang penyanyi terkenal bisa mengisi acara di dua
atau tiga tempat pada malam itu.
Tetapi, tahukah anda, disamping profesi artis, penyanyi
dan MC, profesi apa yang juga “laku keras” menjelang
pergantian tahun? Ya, mereka yang berprofesi sebagai
peramal, paranormal ataupun fortune teller. Banyak orang
yang mempertanyakan nasib, keberuntungan, jodoh sampai
situasi politik dan keamanan. Apalagi pada tahun ini akan
diselenggarakan Pemilihan Umum yang diikuti oleh 24 partai.
Pasti seru ‘kan?
Mengapa banyak orang yang ingin tahu terlebih dahulu
tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari? Hal ini
sebenarnya wajar-wajar saja. Manusia pada dasarnya
memiliki rasa ingin tahu yang besar. Tetapi, kalau sudah
tahu, lantas mau apa? Apakah kita mulai terpengaruh dengan
ramalan tersebut? Apakah kita bersiap-siap menghadapi
kejadian yang diramalkan, atau bahkan menjadi was-was dan
takut kalau-kalau kejadian yang diramalkan itu benar-benar
terjadi. Bagaimana kalau hal itu tidak terjadi? Namanya
juga ramalan, bisa terjadi bisa tidak, sama dengan ramalan
cuaca.
Ramalan atau Prakiraan cuaca yang sudah menggunakan metoda
ilmiah saja sering meleset, apalagi ramalan yang
didasarkan pada metoda yang “sulit dimengerti”. Tidak
sedikit orang mengaku dirinya Kristen percaya perihal
ramal-meramal ini. Ada yang bukan sekadar percaya, tetapi
aktif datang kepada para peramal untuk bertanya dan bahkan
meyakini benar bahwa hal itu akan terjadi. Kasus Pondok
Nabi yang meramalkan kiamat jatuh pada tanggal 10 November
2003 adalah salah satu contoh.
Manusia itu memang makhluk yang unik, yang kadang juga
aneh. Manusia cenderung lebih cepat percaya kepada hal-hal
yang negatif ketimbang hal-hal yang positif. Berita-berita
negatif lebih cepat menyebar dan dikonsumsi. Menceritakan
kisah-kisah sukses lebih sulit dipercaya daripada
menceritakan kisah-kisah kegagalan. Kesuksesan atau
keberhasilan seseorang sering dianggap sebagai kebetulan,
sedangkan kegagalan seseorang dianggap sebagai hal yang
biasa, wajar dan normal. Mengapa demikian, karena
prosentase orang yang sukses sangat kecil dibandingkan
dengan orang yang gagal. Itu sudah menjadi hukum alam.
Kembali ke soal ramal-meramal, sebetulnya ada satu hal
yang sudah pasti, yaitu mengenai Kabar Keselamatan. Coba
kita simak Firman Tuhan yang mengatakan “Sebab Aku ini
mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku
mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan
damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk
memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia
29:11). Tidak cukupkah Firman Tuhan tersebut menjelaskan
kepada kita? Sudah jelas bahwa Dia mempunyai rancangan
yang indah untuk kita, mengapa seringkali kita tidak
mempercayainya?
Itulah uniknya manusia, tetap saja orang lebih sulit
meyakininya dan cenderung lebih mempercayai suatu ramalan,
sesuatu yang belum pasti. Suatu yang memerlukan kerja
keras, yang membutuhkan banyak waktu, yang membutuhkan
pengorbanan, yang membutuhkan proses yang panjang, pada
umumnya kurang disukai. Orang lebih suka mengerjakan
sesuatu yang hasilnya dapat segera dinikmati, yang
sifatnya instan.
Mempercayai ramalan tidak memerlukan kerja keras, tinggal
menunggu saja. Mempercayai ramalan membuat orang menjadi
apatis, tidak membangun motivasi. Yang pasti, pada awal
tahun 2003 yang lalu, tidak ada seorang peramalpun yang
meramalkan bahwa kesebelasan Indonesia akan dikalahkan 0 –
6 oleh kesebelasan Thailand di arena Sea Games Vietnam.
Jadi, masih percaya ramalan atau percaya Firman Tuhan dan
kerja keras? |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|