Gurat
30 Nopember 2003
Instan
Sindhu Sumargo
Kata instan diadopsi dari kata bahasa Inggris “instant” yang artinya seketika, segera, serta-merta. Kata ini akan lebih jelas artinya bila dipakai untuk menjelaskan benda-benda seperti mie instan atau kopi instan, yang artinya mie yang dapat segera disajikan atau kopi yang siap saji, tidak perlu menunggu waktu yang lama. Masih banyak lagi benda-benda instan seperti ini, khususnya di dunia makanan, antara lain sambal instan, santan instan, dan masih banyak lagi.

Zaman sudah demikian instant-minded sampai-sampai kita bisa mendapatkan persetujuan kredit membeli barang elektronik jauh lebih cepat daripada menunggu dihidangkannya seporsi toge goreng. Zaman instan ini bukan tidak ada dampaknya. Cobalah kita tanya anak kita, apakah mereka pernah membayangkan bagaimana caranya membuat serbuk kopi. Hampir dapat dipastikan, bagi mereka yang namanya kopi itu ya yang disebut three in one itu. Mungkin mereka tidak pernah membayangkan bahwa untuk dapat menjadi minuman, buah kopi harus melalui suatu proses terlebih dahulu.

Keadaan serba instan yang sudah hampir membudaya ini membuat kita cenderung untuk menuntut yang serba cepat pula. Kita menjadi agak mengabaikan proses. Kita sering lupa bahwa tidak ada orang dewasa yang tidak melalui masa kanak-kanak. Tidak ada anak-anak yang tidak melalui masa bayi. Tidak ada seseorang yang menjadi juara secara tiba-tiba, dia harus berlatih terlebih dahulu selama bertahun-tahun. Proses adalah fase-fase yang sangat penting dalam kehidupan kita.

Menanamkan kedisiplinan pada anak misalnya, itu perlu waktu, kita tidak mungkin melihat mereka sekonyong-konyong menjadi disiplin. Perlu ada proses yang panjang. Menanamkan kebiasaan-kebiasaan sejak mereka kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, akan membuat anak menjadi disiplin untuk membuang sampah pada tempatnya. Kebiasaan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan yang ditanamkan bertahun-tahun sejak anak-anak masih kecil, akan membuat mereka menjadi disiplin untuk melakukannya.

Kebiasaan-kebiasaan baik yang ditanamkan kepada anak sejak kecil, bukanlah suatu kesia-siaan. Kita akan melihat hasil investasi yang kita tanam itu bertahun-tahun kemudian.

Demikian pula dalam proses menanamkan nilai-nilai atau norma, baik nilai-nilai budaya maupun spiritual. Menanamkan nilai-nilai pada anak tidak cukup dengan kata-kata, juga tidak efektif dengan janji-janji (hadiah), tetapi yang terpenting adalah keteladanan. Orang tua harus memberi contoh nyata dengan perilakunya. Kita tidak bisa mengharuskan anak-anak berdoa sebelum makan, kalau kita sendiri tidak melakukannya. Bagaimana mungkin kita mengajarkan kepada anak-anak bahwa sekolah minggu itu penting, kalau kita sendiri tidak datang di kebaktian hari Minggu.

Kita sangat beruntung hidup di zaman teknologi yang canggih, yang dapat memberikan kemudahan-kemudahan, akan tetapi harus diingat bahwa tidak semua hal bisa dibuat instan. Ada yang harus melalui proses, yang mungkin akan memakan waktu bertahun-tahun. Membina keluarga yang harmonis, perlu waktu yang lama, menanamkan nilai dan norma kristiani apa lagi.

Begitu banyak tantangan dan godaan yang beredar di sekitar kita, begitu banyak hal-hal negatif yang terlihat lebih menarik, terutama bagi anak-anak, di sekitar kita. Kemajuan teknologi seperti siaran TV dari manca negara, internet, play station, permainan seperti counter strike dan lain-lain sudah menjadi “candu” bagi anak-anak kita. Dengan kemajuan teknologi, ternyata anak-anak perlu mendapat pendampingan dan pengarahan yang lebih dari para orang tua.

Jadi, kalau kita masih menyayangi anak-anak kita, jangan biarkan mereka terlampau bebas untuk “bermain” dengan teknologi, tetapi sisihkanlah waktu lebih banyak untuk mereka. Biarkan yang instan itu kopi dan mie instan saja.
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003