|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Gurat |
|
30 Juli 2003
Cu-Ek Sindhu Sumargo |
|
|
Suatu hari di
tengah kemacetan di jalan protokol kota Jakarta, tiba-tiba
dari sebuah mobil mewah di depan mobil yang kami naiki
terlempar keluar kulit rambutan, baik dari jendela sebelah
kiri maupun kanan. Bukan itu saja, ternyata kertas tisu
dan gelas plastik juga “ikut terlempar” ke jalan raya.
Melihat kejadian itu, anak saya yang masih duduk di SD
berkomentar, “Bukannya enggak boleh buang sampah
sembarangan, Pa?”. Lalu saya jawab, “Sekarang kamu turun
dan berikan kantong plastik ini kepada mobil itu, bilang
supaya sampahnya dikumpulkan di kantong ini, mungkin
mereka tidak punya tempat sampah di mobilnya”. Setelah
berpikir sejenak, anak saya menjawab, “Nggak ah, nanti
oomnya marah”.
Seorang pengendara mobil wanita, yang diwawancarai oleh
sebuah stasiun TV setelah nyaris menjadi korban dari
penodongan di tengah-tengah kemacetan, mengatakan, “Tidak
ada satu orangpun yang berusaha untuk menolong saya,
padahal saya yakin banyak orang yang menyaksikan peristiwa
ini”.
Kedua peristiwa ini menunjukkan ketidakpedulian masyarakat
terhadap lingkungan sekitarnya. Berani membuang sampah di
jalan adalah indikasi tidak peduli, tidak berani membantu
juga merupakan indikasi tidak peduli. Peduli juga tidak
selamanya membuat orang berani, contohnya ya anak saya itu.
Peduli tidak ada korelasinya dengan berani, tetapi peduli
lebih berkorelasi dengan kepentingan. Selama tidak ada
kepentingannya dengan diri kita, kita tidak usah peduli,
bahasa gaulnya cuek. Tetapi begitu kita punya kepentingan,
maka kita akan menjadi sangat peduli, dan juga menjadi
sangat berani.
Kalau diamati masih banyak perilaku kita yang menunjukkan
ketidakpedulian, misalnya, kita cenderung memilih untuk
hadir dalam pesta pernikahan ketimbang melayat orang
meninggal, apalagi menjenguk orang sakit. Ketika pintu
lift terbuka, banyak orang yang tidak memberi kesempatan
kepada orang lain yang ingin keluar dari lift. Bahkan,
ketika mengambil teh atau kopi di plasa gereja, tidak
jarang terjadi saling serobot.
Kepedulian juga tercermin dari kecermatan menuliskan nama
seseorang. Kelihatannya sepele, tetapi menuliskan nama
seseorang dengan ejaan yang salah, juga menunjukkan
ketidakpedulian kita terhadap orang tersebut. Coba saja
bayangkan ketika nama anda ditulis secara salah, apa yang
anda rasakan?
VISI GKI Pondok Indah adalah “Gereja Indonesia yang
anggota jemaatnya peduli pada pembaruan manusia dan
lingkungan dalam rangka perwujudan misi Kerajaan Allah”,
sedangkan MISInya adalah “Meningkatkan kualitas kepedulian
jemaat, ……….”, dst. Kalau bercermin pada kehidupan
berjemaat kita sehari-hari, Visi dan Misi GKI Pondok Indah
ini rasanya masih jauh panggang dari api. Jadi, keheranan
Pdt. Rudianto yang disampaikan pada khotbah beliau
beberapa waktu yang lalu, sebenarnya tidaklah terlalu
mengherankan. Kualitas kepedulian (jemaat) kita masih
sangat rendah.
Beberapa waktu yang lalu, Majalah Kasut telah menyebarkan
formulir kepada jemaat (disisipkan di Warta Jemaat tanggal
22 Juni 2003) untuk memberikan ucapan Selamat sehubungan
dengan Ulang Tahun GKI Pondok Indah ke 19. Tahukah anda
berapa banyak jemaat yang memberikan respons? Percaya
nggak percaya, ternyata hanya 6 jemaat (!) yang peduli dan
memberikan ucapan Selamat Ulang Tahun kepada gereja kita
yang tercinta ini.
Namun demikian, di tengah-tengah rendahnya kepedulian
jemaat, ternyata masih ada jemaat yang menunjukkan
tindakan nyata dalam mewujudkan kepeduliannya. Dalam suatu
kebaktian dimana dilakukan Baptisan Anak, seorang anak
kecil bermain-main dengan papan petunjuk yang ditempatkan
di dekat deretan bangku di depan. Terlihat cukup
membahayakan, baik untuk anak itu sendiri maupun untuk
orang lain. Setelah beberapa saat, terlihat seorang ibu
yang sebenarnya duduk agak jauh dari papan tersebut,
berjalan dan menyingkirkan papan petunjuk tersebut ke
tempat yang lebih aman. Saya yakin, banyak jemaat yang
peduli terhadap kejadian itu, tetapi yang berani bertindak
ya ibu itu tadi. Walaupun sederhana, itulah contoh nyata
dari wujud kepedulian jemaat terhadap lingkungannya.
Baru-baru ini telah dibentuk Kelompok Kerja (POKJA)
Peningkatan Peran Jemaat. POKJA ini telah mulai bekerja
dengan menyebarkan formulir untuk menjaring usulan dan
saran jemaat terhadap peningkatan peran jemaat. Kita
tunggu saja hasilnya, mudah-mudahan POKJA ini berhasil
menemukan resep yang mujarab untuk mengubah jemaat yang
cuek menjadi jemaat yang peduli. Selamat bekerja! |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|