Gurat
30 Mei 2003
Inul Lagi
Sindhu Sumargo
Inul adalah satu-satunya artis musik Indonesia yang beritanya masuk ke majalah Time dan Newsweek dalam satu minggu yang sama. Inul, yang sampai dengan saat ini belum memiliki satu lagu hit-pun, karena belum merilis album, tapi konon VCD gelap Inul telah terjual sebanyak 3 juta keping, sangat luar biasa, demikian Kafi Kurnia, seorang konsultan bisnis menulis dalam salah satu kolomnya.

Sejak Inul merambah Jakarta dan setiap stasiun TV swasta berlomba-lomba menyiarkan pertunjukannya, maka mulailah timbul pro dan kontra terhadap Inul. Pro dan kontra ini terus merebak sampai dengan hari ini. Pernyataan pro dan kontra terus bergulir, baik di media cetak, media elektronik sampai demo di bundaran HI.

Terlepas apakah pro atau kontra, bila memiliki kesempatan, setiap orang pasti akan menyampaikan pendapatnya. Mulai dari musisi, artis, ulama, pejabat, pengacara, sampai mantan presiden, mengutarakan pendapatnya. Diskusi dan debat di televisipun digelar. Pokoknya, seru dan heboh. Semua orang membicarakan fenomena Inul, mulai dari warung kopi sampai coffee shop di hotel berbintang, baik di rumah maupun di kantor.

Tapi satu hal yang menarik adalah pernyataan dari Inul, “Inul akan pulang kampung dan melakukan introspeksi”, katanya, “merenungkan kembali semua yang sudah terjadi dan mencoba untuk mengambil hikmahnya”. Inul, sosok yang lugu dan rendah hati, dalam hal ini telah mengambil sikap dengan bijaksana. Perasaan kecewa, marah, sedih, sudah pasti dialaminya, tetapi dia lebih memilih untuk diam dan melakukan introspeksi.

Dalam melakukan pelayanan, hal pro dan kontra juga sering terjadi. Ketika ada yang melakukan inovasi-inovasi baru, misalnya, pasti akan menuai kritik, pasti ada pro dan kontra. Manusia mempunyai kecenderungan untuk bertahan dalam situasi yang sudah mapan. Setiap ada inovasi baru atau ide-ide yang baru, dianggap sebagai ancaman, walaupun hal itu akan meningkatkan kualitas. Makin banyak orang yang memiliki orientasi seperti itu, makin sukar melakukan perubahan. Masyarakat akan menjadi statis dan terkungkung dalam tembok yang mereka ciptakan sendiri. Bagi mereka, masa lalu adalah kisah sukses yang harus terus dikenang dan dipertahankan, padahal, zaman terus berubah dan berkembang.

Dalam pelayanan, yang utama adalah peningkatan kualitasnya. Cara, metoda dan pelayannya adalah sarana untuk mencapai tujuan. Cara dan metoda pelayanan, sepanjang tidak melanggar tata gereja dan aturan gereja lainnya, boleh berubah, asal saja tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan.

Dalam hal pro dan kontra, memang harus diakui bahwa kita tidak dapat memuaskan semua pihak. Dalam melihat suatu perubahan, kita bisa berada dalam posisi yang pro dan dalam perubahan yang lain, kita bisa berada dalam posisi yang kontra. Hal ini tergantung dari mana kita melihat perspektif perubahan tersebut. Ketika perubahan itu mampu mengakomodasi kebutuhan kita, maka kita berada pada posisi yang pro, tetapi bila sebaliknya maka kita berada pada posisi yang kontra.

Jadi, dalam melihat suatu perubahan, inovasi, kreasi baru, metoda baru, cara baru, janganlah kita terburu-buru mengambil sikap. Terlebih lagi kalau kita kurang berkenan, biasanya kita lantas bersuara keras. Endapkanlah dahulu apa yang kita lihat, ujilah terlebih dahulu apakah sesuatu yang baru itu bisa meningkatkan kualitas pelayanan atau tidak. Terlepas dari setuju atau tidak, kita tetap harus menghargai kreasi dan inovasi yang baru itu. Kita juga harus bisa menghargai dan menjaga perasaan mereka yang berkreasi. Usahakan agar tidak “membunuh” kreativitas seseorang. Kalau kita mempunyai kepedulian terhadap pelayanan tersebut, sampaikanlah kritik dan saran kita secara bijak.

Ada baiknya kita meniru Inul, diam dan introspeksi, tapi… jangan sampai kita terus pulang kampung.
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003