Inul adalah
satu-satunya artis musik Indonesia yang beritanya masuk ke
majalah Time dan Newsweek dalam satu minggu yang sama.
Inul, yang sampai dengan saat ini belum memiliki satu lagu
hit-pun, karena belum merilis album, tapi konon VCD gelap
Inul telah terjual sebanyak 3 juta keping, sangat luar
biasa, demikian Kafi Kurnia, seorang konsultan bisnis
menulis dalam salah satu kolomnya.
Sejak Inul merambah Jakarta dan setiap stasiun TV swasta
berlomba-lomba menyiarkan pertunjukannya, maka mulailah
timbul pro dan kontra terhadap Inul. Pro dan kontra ini
terus merebak sampai dengan hari ini. Pernyataan pro dan
kontra terus bergulir, baik di media cetak, media
elektronik sampai demo di bundaran HI.
Terlepas apakah pro atau kontra, bila memiliki kesempatan,
setiap orang pasti akan menyampaikan pendapatnya. Mulai
dari musisi, artis, ulama, pejabat, pengacara, sampai
mantan presiden, mengutarakan pendapatnya. Diskusi dan
debat di televisipun digelar. Pokoknya, seru dan heboh.
Semua orang membicarakan fenomena Inul, mulai dari warung
kopi sampai coffee shop di hotel berbintang, baik di rumah
maupun di kantor.
Tapi satu hal yang menarik adalah pernyataan dari Inul,
“Inul akan pulang kampung dan melakukan introspeksi”,
katanya, “merenungkan kembali semua yang sudah terjadi dan
mencoba untuk mengambil hikmahnya”. Inul, sosok yang lugu
dan rendah hati, dalam hal ini telah mengambil sikap
dengan bijaksana. Perasaan kecewa, marah, sedih, sudah
pasti dialaminya, tetapi dia lebih memilih untuk diam dan
melakukan introspeksi.
Dalam melakukan pelayanan, hal pro dan kontra juga sering
terjadi. Ketika ada yang melakukan inovasi-inovasi baru,
misalnya, pasti akan menuai kritik, pasti ada pro dan
kontra. Manusia mempunyai kecenderungan untuk bertahan
dalam situasi yang sudah mapan. Setiap ada inovasi baru
atau ide-ide yang baru, dianggap sebagai ancaman, walaupun
hal itu akan meningkatkan kualitas. Makin banyak orang
yang memiliki orientasi seperti itu, makin sukar melakukan
perubahan. Masyarakat akan menjadi statis dan terkungkung
dalam tembok yang mereka ciptakan sendiri. Bagi mereka,
masa lalu adalah kisah sukses yang harus terus dikenang
dan dipertahankan, padahal, zaman terus berubah dan
berkembang.
Dalam pelayanan, yang utama adalah peningkatan kualitasnya.
Cara, metoda dan pelayannya adalah sarana untuk mencapai
tujuan. Cara dan metoda pelayanan, sepanjang tidak
melanggar tata gereja dan aturan gereja lainnya, boleh
berubah, asal saja tujuannya adalah untuk meningkatkan
kualitas pelayanan.
Dalam hal pro dan kontra, memang harus diakui bahwa kita
tidak dapat memuaskan semua pihak. Dalam melihat suatu
perubahan, kita bisa berada dalam posisi yang pro dan
dalam perubahan yang lain, kita bisa berada dalam posisi
yang kontra. Hal ini tergantung dari mana kita melihat
perspektif perubahan tersebut. Ketika perubahan itu mampu
mengakomodasi kebutuhan kita, maka kita berada pada posisi
yang pro, tetapi bila sebaliknya maka kita berada pada
posisi yang kontra.
Jadi, dalam melihat suatu perubahan, inovasi, kreasi baru,
metoda baru, cara baru, janganlah kita terburu-buru
mengambil sikap. Terlebih lagi kalau kita kurang berkenan,
biasanya kita lantas bersuara keras. Endapkanlah dahulu
apa yang kita lihat, ujilah terlebih dahulu apakah sesuatu
yang baru itu bisa meningkatkan kualitas pelayanan atau
tidak. Terlepas dari setuju atau tidak, kita tetap harus
menghargai kreasi dan inovasi yang baru itu. Kita juga
harus bisa menghargai dan menjaga perasaan mereka yang
berkreasi. Usahakan agar tidak “membunuh” kreativitas
seseorang. Kalau kita mempunyai kepedulian terhadap
pelayanan tersebut, sampaikanlah kritik dan saran kita
secara bijak.
Ada baiknya kita meniru Inul, diam dan introspeksi, tapi…
jangan sampai kita terus pulang kampung.
|