|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Edukasi |
|
13 Oktober 2008
Beda Pola Andrias Harefa |
|
|
Belum lama ini seorang kawan tiba-tiba mengirimkan sandek
(pesan pendek alias sms) berikut: ”Aku kemarin ulang
tahun, tapi sudah dua hari ini aku tak berhenti menangis.
Aku kecewa berat karena belasan tahun menikah suamiku
tidak pernah memberiku sebuah gaun atau kado apa pun.
Sehari sebelum ultah, ia ke Gramedia, dan diam-diam aku
berharap ia membelikan apalah sebagai kado. Pagi hari ia
tak memberikan apa-apa. Sore sepulang dari kantor, aku
melihat ia membawa tas plastik, dan aku berharap ia
membelikanku sebungkus mie goreng. Ternyata isinya jas
hujan. Aku sedih sekali. Aku punya penghasilan puluhan
sampai ratusan juta tiap bulannya, dan aku memiliki
harta benda yang cukup melimpah dalam jumlah yang
miliaran. Tapi bertahun-tahun aku menanti-nanti
kalau-kalau suatu sore suamiku memberikan aku uang,
meski hanya satu juta rupiah. Aku akan sangat berterima
kasih. Tapi itu masih menjadi harapan semata. Aku
berharap, setelah bisa cerita pada seseorang seperti ini,
aku bisa berhenti menangis. Sorry merepotkan kamu ya.”
Dalam kesempatan berikutnya ia menjelaskan, ”Aku memang
dibesarkan dalam keluarga yang hangat. Minimal selalu
ada kado di waktu Natal, ulang tahun, dan naik kelas.
Setelah menikah, dari suamiku aku tidak belum pernah
menerima kado. Dan waktu hal ini aku bicarakan, dia
selalu bilang bahwa ia tak punya budaya merayakan ulang
tahun di keluarganya. Bahkan dia juga bilang apakah
nilai diriku seharga barang yang dikadokan tersebut? Aku
balik tanya, apa artinya cinta tanpa pernah memberikan
apa-apa? Ia cuma diam. Yang tidak masuk akal, aku terus
saja menunggu suatu saat suamiku memberikan sesuatu
untuk aku, meski pun nilainya kecil. Dan aku sendiri
ingin menjadi kado bagi suamiku. Aku ingin mendengar ia
mengucapkan terima kasih karena aku sudah menjadi tulang
punggung keluarga. Aku sudah menanggung semuanya, tetapi
aku merasa tidak mendapatkan penghargaan. Sementara
suamiku sering merasa terganggu dan terusik dengan
hal-hal yang kuharapkan. Jadi, aku berserah pada Tuhan
sajalah.”
Sebagai sebuah sandek, pesan yang bermunculan di layar
ponsel saya itu jelas sudah tidak pendek lagi. Namun
bukan hanya pesannya yang tidak pendek. Isi pesan itu
juga mencoba meringkas kisah yang sesungguhnya cukup
panjang, yang terjalin dalam hitungan puluhan dan
mungkin juga ratusan tahun, bergantung pada seberapa
jauh kita ingin mempelajarinya. Ia bertutur tentang
perbedaan pola asuh yang dialami dua anak manusia dalam
dua keluarga yang berbeda. Dua anak manusia ini juga
mengarungi kehidupan yang berbeda selama sekian puluh
tahun, sampai kemudian mereka disatukan dalam pernikahan.
Perbedaan pola asuh, pengalaman, dan proses pembelajaran
kedua anak manusia itu kemudian menimbulkan masalah
dalam kehidupan keluarga karena mereka telah memiliki
pola pikirnya masing-masing. Perbedaan pola pikir ini
dapat diibaratkan seperti perbedaan bahasa ibu. Yang
satu dibesarkan dengan menggunakan bahasa Jerman,
sementara yang satunya lagi hanya mengerti bahasa Jawa.
Dengan demikian ada masalah serius dalam setiap proses
komunikasi di antara keduanya. Inilah konsekuensi dari
perbedaan yang besar dalam soal pola pikir.
Pola pikir ini kemudian menentukan apa yang oleh Gary
Chapman disebut sebagai bahasa kasih (love language),
yakni cara seseorang mengungkapkan cinta kasihnya. Sama
persis seperti perbedaan bahasa pada umumnya–misalnya
bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Inggris, atau
dengan bahasa India, atau bahasa Italia, atau bahasa
Arab–demikianlah orang dengan bahasa kasih yang berbeda
akan mengalami kesulitan besar untuk saling memahami.
Ada keharusan belajar secara berdisiplin agar pihak yang
satu mampu memahami bahasa kasih pihak yang lain dan
sebaliknya. Kegagalan dalam soal yang satu ini dapat
berakibat hancurnya mahligai rumah tangga yang telah
dibangun selama bertahun-tahun. Sebaliknya, keberhasilan
dalam soal yang satu ini dapat memulihkan hubungan
keluarga secara ajaib dan melampaui akal sehat.
Menurut Chapman, di dunia ini ada lima bahasa kasih.
Kata-kata pendukung (words of encouragement),
hadiah-hadiah (receiving gifts), sentuhan fisik
(physical touch), tindak pelayanan (acts of service),
dan waktu berkualitas (quality time). Masing-masing
bahasa kasih itu berbeda satu sama lain, sama seperti
perb1edaan antara bahasa Indonesia, Inggris, India,
Italia, dan Arab. Tata bahasa, susunan kalimat, kosa
kata, dan cara membacanya berbeda-beda, sehingga mereka
yang berbahasa Indonesia harus belajar dulu agar bisa
berbahasa India atau Arab. Begitu juga sebaliknya,
mereka yang pandai berbahasa Inggris perlu belajar dulu
agar mampu berbahasa Indonesia. Perbedaan bahasa ini
merupakan salah satu wujud konkret dari perbedaan pola
pikir, sebab pola pikir selalu terkait dengan kebudayaan
yang membentuk pola pikir suatu kelompok masyarakat
tertentu.
Dalam kasus kawan saya itu, bahasa kasihnya adalah apa
yang disebut Chapman hadiah-hadiah. Ia memahami bahwa
cinta kasih itu identik dengan pemberian hadiah. Ia
tidak mampu memahami ada bentuk lain dari ungkapan cinta,
seperti katakanlah sentuhan fisik atau tindak pelayanan.
Baginya nilai sebuah hadiah bukanlah pada hadiah itu
sendiri (nilai intrinsik), melainkan bahwa hadiah itu
merupakan pertanda adanya cinta kasih yang sesungguhnya.
Ia mungkin akan sangat senang mengutip ungkapan bijak
seperti ini: orang bisa memberi (hadiah) tanpa cinta,
tetapi orang tidak mungkin mencintai tanpa pernah
memberi (hadiah). Ia memiliki argumentasi yang sahih
untuk mendukung bahasa kasihnya yang utama. Itulah
bahasa ibunya, bahasa yang mendominasi hidupnya.
Sementara amat boleh jadi–meski saya tidak tahu pasti–bahwa
pasangan hidupnya memiliki bahasa kasih yang berbeda.
Perbedaan bahasa kasih ini–sebagai wujud konkret
perbedaan pola pikir–membuat proses komunikasi tidak
berjalan dengan baik. Ada banyak kesalahpahaman yang
menggiring emosi ke arah rasa kecewa dan bahkan frustasi.
Bayangkan saja jika pasangan kawan saya tadi memiliki
bahasa kasih tindak pelayanan. Yang ia harapkan bukanlah
istri yang superhero, melainkan istri yang ada di rumah
dan siap melayani kebutuhan suami saat pulang ke rumah.
Yang ia dambakan adalah istri yang memasak untuknya,
menyiapkan pakaian kerja, dan melakukan hal-hal remeh
temeh lainnya. Yang ia pahami, seorang istri seharusnya
demikian. Itulah bahasa kasih yang dipahaminya. Dan ini
sama sekali bukan soal feodal atau salah-benar. Ini soal
pola pikir dalam konteks cinta kasih. Bukankah ia
sendiri juga frustasi dengan tuntutan istrinya yang
”aneh-aneh” itu?
Jadi, bagaimana solusinya? Saya tidak dalam kapasitas
memberikan jawaban sebagai konselor perkawinan. Saya
memberikan respons dalam kapasitas sebagai seorang kawan
yang berempati. Karena itu saya menyarankannya untuk
mengambil waktu mempelajari bahasa kasihnya dan bahasa
kasih suaminya. Saya juga mengirimkan buku Gary Chapman
untuk mereka berdua. Kalau dibaca bersama-sama, saya
harapkan sedikit membantu memperbaiki hubungan cinta
mereka.
Pola pikir. Pikiran mempunya pola. Dan pola itu ternyata
amat dipengaruhi oleh pola asuh tiap anak manusia. Pola
itu terkait dengan proses pemrograman–baca: pengajaran,
pelatihan, pendidikan, contoh-contoh–yang dilakukan oleh
orang tua, pengajar sekolah, pengajar agama, dan
lingkungan hidup di masa kanak-kanak. Lalu
program-program awal itu menjadi pengalaman, menjadi
bahan refensi utama, menjadi semacam database dalam
memori seseorang, menjadi rujukan ketika ia kelak
menghadapi soal-soal kehidupan di usia remaja dan dewasa.
Dan karena setiap anak manusia memiliki potensi unik dan
pengalaman hidup yang berbeda-beda, maka terciptalah
perbedaan pola pikir.
Pola pikir. Pikiran mempunyai pola. Dan pola itu bisa
berbeda-beda. Sungguh luar biasa! |
|
|
|
Andrias Harefa, Penulis 30 Buku Laris dan fasilitator
www.pembelajar.com |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|