|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Edukasi |
|
13 Mei 2008
Mindset Andrias Harefa |
|
|
Pola pikir. Begitulah penjaga rubrik bahasa harian KOMPAS
mengusulkan terjemahan kata mindset kepada saya. Sementara
penulis The Science of Success bernama James Arthur Ray
menerangkan mindset sebagai jumlah total dari keyakinan,
nilai-nilai, identitas, ekspektasi, sikap, kebiasaan,
opini, dan pola pikir, tentang diri Anda, orang lain, dan
bagaimana hidup berlangsung. Melalui mindset, Anda
menafsirkan (memaknai) apa pun yang Anda lihat dan Anda
alami dalam hidup. Lalu American Heritage Dictionary menawarkan pengertian mindset sebagai ...a fixed mental
attitude or disposition that predetermines a persons
responses to and interpretation of situation (suatu sikap
mental atau watak yang menentukan respons seseorang dan
pemaknaan atas situasi yang dihadapinya).
Jika pola pikir akan menentukan penafsiran kita terhadap
situasi hidup dan mendikte respons yang akan kita berikan
terhadap situasi yang ada, maka tidakkah ia merupakan
sesuatu yang amat sangat penting untuk dipelajari oleh
setiap orang? Bukankah pola pikir akan mempengaruhi cara
kita menangani nekaragam persoalan kehidupan? Bukankah
pola pikir akan menolong kita mendefinisikan mana peluang
dan mana ancaman? Bukankah pola pikir akan membuat kita
memilih area prioritas hidup? Bukankah pola pikir juga
yang mendikte cara kita menanggapi perubahan di lingkungan
sekitar? Bukankah pola pikir mendorong kita memilih
perilaku tertentu bahkan cara kita memilih dan mengucapkan
kata-kata dalam berbagai konteks kehidupan? Pada akhirnya,
bukankah pola pikir yang akan menentukan nasib seseorang
di kemudian hari?
Kesadaran mengenai pentingnya pemahaman mengenai pola
pikir manusia ini membuat saya bertanya-tanya, mengapa ia
tidak masuk dalam kurikulum sekolah formal? Mungkin ia
memang tidak bersifat mendasar seperti soal
membaca-menulis-berhitung yang diajarkan di sekolah dasar.
Namun apakah ia tidak cukup penting untuk diajarkan,
katakanlah, di tingkat sekolah lanjutan atas, baik untuk
jurusan bahasa, sosial, maupun ilmu pasti? Atau apakah
pemahaman mengenai aspek-aspek pembentuk pola pikir ini
tidak cukup layak untuk dijadikan sebagai mata kuliah
dasar umum (MKDU) di universitas, yang wajib diikuti oleh
setiap mahasiswa baru? Tidakkah soal pola pikir ini lebih
bernilai untuk diajarkan ketimbang penataran Pedoman
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila versi zaman Orde Baru
dulu?
Jika mata pelajaran tentang pola pikir bisa dimasukkan
menjadi bagian kurikulum sekolah lanjutan atas, maka kita
bisa berharap anak-anak remaja belajar memahami dirinya
dengan lebih baik. Sebab, belajar mengenai pola pikir
tentu saja tidak mungkin dilepaskan dari keberadaan otak
sebagai mesin pikiran. Artinya, pelajaran mengenai pola
pikir mesti dimulai dengan menegaskan ciri khas manusia
sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki otak. Otak
manusia memiliki spesifikasi tertentu yang bisa (dan
memang harus) dibedakan dengan otak mahluk non-manusia.
Apa keunggulan otak manusia? Kapan otak itu terbentuk?
Bagaimana cara kerjanya? Apa yang mungkin menghambat
perkembangannya? Apa yang bisa merusak fungsi otak dan
bagaimana dampak yang paling mengerikan dari kerusakan
otak? Apa hubungan antara otak dengan narkoba dan stroke?
Bagaimana otak mempengaruhi kehidupan seksual seseorang?
Bagaimana hubungan otak dengan konsep kecerdasan majemuk?
Benarkah semua orang terlahir cerdas? Dan seterusnya.
Tidakkah mata pelajaran ini akan bisa sangat menarik bagi
kaum remaja dan sekaligus memberikan bekal yang luar biasa
kepada mereka untuk menyongsong masa depannya?
Pelajaran pola pikir akan membantu kaum remaja untuk
menyadari bahwa tiap respons yang diberikannya, dan tiap
penafsiran yang digunakannya untuk memahami situasi yang
dihadapinya, adalah hasil pembelajaran di masa lalu.
Dengan demikian pola pikir dapat diperbaiki atau bahkan
diubah secara total. Setiap orang bukan hanya bisa
learning, tetapi juga mampu untuk un-learning dan kemudian
re-learning. Apa yang sudah dibentuk bisa dihancurkan dan
dibentuk ulang dengan cara tertentu, sepanjang diinginkan
oleh pemilik pola pikir tersebut.
Seperti halnya kecerdasan, sesungguhnya pola pikir bukan
perangkat statis yang permanen. Ia merupakan suatu
perangkat yang aktif dan dinamis, jika dimanfaatkan dengan
baik. Masalahnya, sebagian besar80an persenorang
menganggap dan meyakini bahwa pola pikir, khususnya untuk
orang dewasa, sudah tidak bisa diubah. Anggapan dan
keyakinan inilah yang justru menghalangi proses
perubahannya. Anggapan dan keyakinan ini menjadi self
fulfilling prophecy.
Jika pola pikir tidak bisa diubah, bagaimana kita
menjelaskan fenomena orang yang tadinya baik kemudian
menjadi koruptor? Bagaimana kita memahami penjahat besar
yang kemudian bertobat di penjara dan menjadi Dai atau
Pendeta? Bagaimana kita mengerti orang yang tadinya
bersikap anti-poligami, belakangan malah melakukan
poligami dengan sukacita? Bagaimana kita memaparkan
kenyataan tentang si Polan yang dulu dianggap bodoh dan
pernah tak naik kelas, kemudian menjadi doktor manajemen
bisnis yang terkemuka? Singkatnya, jika kita beranggapan
dan berkeyakinan bahwa pola pikir tidak bisa diubah, maka
ada sejumlah kesulitan mendasar untuk bisa mengerti
mengapa ada orang-orang mengalami transformasi hidup dan
berubah nasibnya secara dramatis. Juga bagaimana kita
menjelaskan harapan-harapan kita tentang masa depan yang
lebih baik?
Jadi, pola pikir merupakan hasil dari sebuah proses
pembelajaran (learning) dan karenanya bisa juga diubah
(unlearning), dan dibentuk ulang (relearning). Ada yang
mudah dan ada yang sulit diubah, memang. Ada yang bisa
cepat, ada yang perlu waktu lama, tentu saja. Ada yang
bisa kita ubah dengan kesadaran sendiri, ada yang baru
berubah setelah mengalami peristiwa tertentu. Ada pula
pola pikir yang bisa kita ubah dengan bantuan terapis,
konselor, dan pihak tertentu yang memang kompeten dalam
soal ini.
Apakah pertanda dari perubahan pola pikir? Mungkin ini:
kita memahami hal yang sama dengan pengertian berbeda;
kita menyadari apa yang semula kita benci ternyata justru
seharusnya kita kasihi; kita tiba-tiba sadar bahwa apa
yang tadinya kita yakini benar ternyata sangatlah keliru;
kita melihat diri kita dengan cara yang berbeda dengan
sebelumnya; kita melihat pekerjaan kita dengan cara yang
berbeda dengan sebelumnya; kita melihat dunia yang sama
dengan kaca mata yang berbeda. Pola pikir yang berubah
tidak mengubah situasi dan lingkungan di mana kita hidup,
melainkan mengubah diri kita sendiri dari dalam.
Pola pikir. Pikiran mempunyai pola. Sungguh luar biasa! |
|
|
Tabik Mahardika!
***
Andrias Harefa, Penulis buku terlaris Menjadi Manusia
Pembelajar [Kompas, 2000] dan fasilitator
www.pembelajar.com |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|