|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Edukasi |
|
16 Januari 2008
Berpengetahuan Andrias Harefa |
|
|
Dalam banyak kasus orang kaya dan orang berpengetahuan (pintar)
merujuk pada manusia yang berbeda. Orang-orang yang
dikagumi karena kekayaannya, sebagian besar tidak
menunjukkan pengetahuan yang mengagumkan. Sementara
orang-orang yang kita kagumi karena pengetahuannya yang
luar biasa, tidak memiliki kekayaan yang berlimpah. Orang
pintar yang juga kaya raya atau orang kaya yang juga
berpengetahuan luas jumlahnya sangatlah sedikit di
masyarakat. Namun, ada sinyalemen yang mengatakan bahwa
jumlah yang sedikit ini nampaknya akan meningkat secara
signifikan di waktu-waktu mendatang. Mengapa?
Sejarah menunjukkan kepada kita tentang berbagai macam
sosok orang super-kaya di muka bumi ini.
Pertama, para tuan tanah yang sebagian berarti raja-raja
dan kaum bangsawan yang mendapatkan sejumlah hak istimewa
karena kelahirannya di negeri tertentu.
Kedua, kaum penguasa politik yang memiliki tentara dan
menempatkan dirinya dalam daftar nama kaum diktator yang
merampas apa saja yang mereka inginkan dari pihak lain.
Ketiga, kaum penemu dan pemilik tambang, entah tambang
emas, timah, minyak, batubara, dan sebagainya.
Keempat adalah pemilik pabrik, kaum industrialis yang
mulai hadir sejak Revolusi Industri di akhir abad ke-18.
Kelima adalah kaum investor yang menguasai pasar keuangan
dunia.
Keenam adalah kaum pedagang yang menangguk keuntungan dari
proses negosiasi untuk disribusi dan pertukaran barang
antar perusahaan sampai antara negara dan benua.
Itulah wajah enam kelompok besar orang-orang super kaya
yang ditunjukkan sejarah kepada kita. Di antara kelompok
itu, mungkin saja ada segelintir orang kaya raya yang juga
dikenal karena kepintarannya. Jumlahnya yang segelintir
membuat kita sulit mencari nama untuk disebutkan sebagai
contoh konkret.
Belakangan ini, sejarah juga mulai mencatat nama-nama baru
dalam daftar orang-orang terkaya yang sering
dipublikasikan majalah seperti Forbes di Amerika sana. Dan
kalau disimak daftar nama itu dalam 20-an tahun terakhir,
maka ada sejumlah nama yang menarik untuk disimak.
Pendiri dan pemilik Microsoft Corp Bill Gates, misalnya,
telah bertahan sedikitnya 14 tahun sebagai orang terkaya
nomor wahid. September 2007 kekayaannya sekitar 59 miliar
dollar AS atau 560 triliunan. Pendiri dan CEO Oracle Larry
Ellison, dengan kekayaan 26 miliar dolar AS, ditempatkan
di urutan ke-4. Ellison juga telah berulang kali
bertengger dalam daftar orang-orang terkaya itu.
Yang baru masuk dalam daftar 10 peringkat teratas versi
Forbes 2007 adalah pasangan pendiri Google Inc, yakni
Sergey Brin dan Larry Page. Di usia 34 tahun, mereka
menduduki peringkat ke-5 dengan total kekayaan 18,5 miliar
dolar AS, empat kali lipat dibanding 3 tahun lalu. Dan
jangan lupakan juga Michael Dell yang sempat menjadi orang
terkaya di bawah usia 40 tahun beberapa waktu silam.
Mereka inilah yang mencatatkan sejarah baru dan sekaligus
mengajarkan kita bahwa dengan modal pengetahuan, dalam hal
ini pengetahuan tentang komputasi, orang bisa masuk dalam
daftar orang terkaya dunia. Dan karena pengetahuan
merupakan sumber daya yang terbarukan, maka mereka—setidaknya
telah dibuktikan dalam kasus Bill Gates dan Larry Allison—bisa
menjadi kaya secara berkelanjutan. Dan jangan lupa bahwa
orang-orang terkaya dengan modal pengetahuan ini juga
dianggap sebagai orang-orang yang paling berpengetahuan,
orang pintar yang menjadi kaya karena kepintarannya.
Yang juga menarik dari kisah-kisah orang kaya bermodalkan
pengetahuan itu adalah modal awal usaha mereka relatif
terbatas. Ellison memulai Oracle tahun 1977 dengan modal
2.000 dolar AS. Michael Dell memulai usahanya di awal
tahun 80-an dengan modal 1.000 dolar AS, menggunakan
asrama mahasiswa sebagai tempat kerja. Jadi, modal
terbesar mereka bukan uang dan bukan fasilitas yang luar
biasa. Modal utama mereka adalah pengetahuan tentang
komputasi dan spirit kewirausahaan yang membara. Mereka
bukan tipe orang pintar yang suka menghambakan diri untuk
mendapatkan gaji. Sebaliknya, mereka justru orang yang
lebih percaya bahwa gagasan-gagasan mereka—sekalipun
nampak tidak galib bagi lingkungan kala itu—bernilai
tinggi dan layak diperjuangkan mati-matian. Mereka
memiliki penglihatan yang tajam dan visi bisnis yang
membangkitkan gairah untuk mendedikasikan hidupnya di
bidang yang menantang pemikiran terbaik. Mereka memulai
bisnis mereka sebagai individu-individu otonom,
manusia-manusia swasta, orang-orang yang otentik, di awal
usia 20 tahunan.
Kenyataan seperti ini mungkin akan mengingatkan kita pada
visi warisan dewa manajemen paling terkemuka di abad ke-20
lalu, Peter F. Drucker. Dalam Management Challenges for
the 21st Century Drucker antara lain mengatakan, “Aset
paling berharga bagi perusahaan pada abad ke-21 adalah
pengetahuan dan pekerja terpelajar. Pengetahuan telah
menjadi modal bagi pembangunan ekonomi, menggantikan
sumber daya alam yang tidak dapat menjadi andalan karena
dapat terdepresiasi, bahkan mengakibatkan perusakan
lingkungan yang ujungnya merugikan umat manusia”.
Mengingat Drucker, tiba-tiba saya merindukan di daftar
nama 10 orang terkaya di Indonesia versi majalah GLOBE
ASIA di tahun 2012 dan seterusnya, akan muncul nama-nama
baru. Nama-nama yang menunjuk kepada orang-orang muda usia
30-an tahun, yang menjadi orang terkaya bukan karena bau
tembakau. Bukan pula karena warisan persekongkolan bisnis
era Orde Baru atau Orde Reformasi. Melainkan menjadi kaya
karena berpengetahuan dalam bidang tertentu. Mereka yang
memulai usaha dengan modal terbatas dan tidak mendapatkan
fasilitas istimewa dari penguasa politik negeri ini.
Mereka yang memiliki jiwa manusia swasta, individu otonom,
yang menjadi inspirasi baru bagi generasi internet. Mereka
yang percaya bahwa keunggulan kompetitif Indonesia tidak
boleh didasarkan pada sumber daya alamnya lagi, melainkan
harus diutamakan pada basis pengetahuan yang terus
berkembang dan terbarukan. Mereka yang paham benar arti
kata learning, unlearning, and re-learning.
Apakah saya bermimpi? Bagaimana pendapat Anda? |
|
|
Tabik Mahardika!
***
Andrias Harefa, Penulis buku terlaris Menjadi Manusia
Pembelajar [Kompas, 2000] dan fasilitator
www.pembelajar.com |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|