|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Edukasi |
|
29 Juli 2007
Cepat Sabar Andrias Harefa |
|
|
Entah karena menganggap saya sebagai orang yang kurang
sabar, kurang optimis, atau kurang gigih, seorang kawan
mengirimkan surat elektronik berisi cerita inspiratif yang
tak jelas asal usulnya. Nama penulisnya pun tak tercantum.
Dan karena tidak bersifat rahasia, tidak membahayakan
orang, dan tidak mengandung fitnah, maka saya kutip di
bawah ini.
Dalam sebuah kisah Tiongkok dikisahkan, ada seorang pemuda
yang hendak belajar kungfu. Datanglah dia pada sebuah
perguruan kungfu. Dia menghadap gurunya dan berkata,
“Guru, ajarilah saya kungfu!”.
Sang guru menerima dia menjadi murid, namun keesokan
harinya sang guru menugaskan dia menjadi seorang juru
masak perguruan. Sambil menyerahkan sebuah cerobong kecil
yang terbuat dari besi kasar beliau berkata “tugasmu
menjadi juru masak dan setiap engkau meniup api dengan
cerobong besi ini, tekan dan remas dengan kuat cerobong
ini. Aku akan mengajarkan kungfu jika cerobong ini sudah
halus dan bayanganku terlihat jelas”.
Bertahun-tahun berlalu. Sang murid mulai tak sabar
terus-terusan menjadi juru masak. Setiap tahun dia
menanyakan kapan dia belajar kungfu, namun sang guru tetap
mengatakan sampai cerobong besi itu halus.
Sampai akhirnya dia menunjukkan cerobong besi yang sudah
halus itu pada gurunya. Sang guru tersenyum dan berkata,
“Sekaranglah saatnya. Aku akan mengajarkan kepadamu ilmu
yang penting, tetapi carikan dulu aku bambu yang paling
keras di hutan”.
Maka berangkatlah sang murid ke hutan. Ia meremas setiap
bambu yang ditemuinya di hutan itu. Herannya tak satu pun
dari bambu-bambu itu yang didapatkannya cukup keras.
Sampai sore hari pun dia tak menemukan bambu yang keras di
hutan itu. Akhirnya sang murid itu pulang dengan tangan
hampa. Dengan kelelahan dia berkata pada gurunya, “Guru,
maafkan saya. Saya sudah mencari ke mana-mana, tetapi
ternyata tidak ada bambu yang keras di hutan. Besok saya
akan pergi ke hutan lain untuk mencarinya”.
Sang guru tersenyum sambil berkata, “Muridku, saat ini
engkau telah menguasai dua hal. Yang pertama kesabaran dan
yang kedua adalah jurus tangan peremuk tulang. Siapa pun
lawanmu, engkau bisa meremukkan tulangnya dalam sekejap.
Jadi, saat ini engkau sudah menjadi salah satu pesilat
tangguh dan sukar dikalahkan. Namun, bukan cuma itu.
Engkau juga telah melatih kesabaranmu yang akan membantumu
untuk bisa mempelajari ribuan jurus-jurus lainnya”.
Pertanyaan dari kisah di atas, apakah benar dengan
kesabaran kita bisa mencapai tujuan kita? Mari kita
samakan persepsi kata sabar terlebih dahulu.
Kesabaran dalam terminologi masyarakat kita banyak
disalahartikan. Masyarakat kita banyak mengartikan sabar
sebagai diam, tidak membalas, menerima ataupun pasrah.
Pengertian ini sangat berlainan dengan arti dalam bahasa
Arab. Sabar dalam bahasa Arab diartikan tetap berusaha,
tetap berjuang dan tetap berharap. Sabar adalah kombinasi
yang harmonis antara rasa syukur, optimisme dan gigih (persistensi).
Rasa syukur dapat mengkonversi kondisi terburuk menjadi
mempunyai hikmah dan kebaikan. Optimisme adalah kemampuan
kita menciptakan harapan. Dan persistensi adalah kesadaran
diri untuk tetap bergerak, berusaha dan berjuang. Itulah
makna sesungguhnya dari kata “sabar”.
Saya berterima kasih kepada kawan yang mengirimkan cerita
di atas dengan cara menuliskan artikel ini untuk dinikmati
banyak orang. Sebab cerita sederhana di atas memang
mengandung sejumlah pelajaran yang menarik bagi siapa saja
yang bersedia belajar. Di tengah masyarakat yang sedang
dihalau oleh ajaran-ajaran cepat lulus, cepat kerja, cepat
naik jabatan, cepat untung, cepat kaya, cepat langsing,
dan serba cepat lainnya, kata “sabar” seolah-olah menjadi
kadaluarsa. Orang yang terkesan sabar menjadi aneh dan
kurang gaul alias ketinggalan zaman.
Memang, kita hidup pada zaman yang bergegas. Informasi,
data, dan berita disebar dengan kecepatan yang tak
terbayangkan oleh orangtua kita dulu. Pesan pendek alias
SMS bertaburan di angkasa untuk kemudian menyusup ke dalam
puluhan juta telepon seluler dalam hitungan detik (di
Indonesia jumlah ponsel yang aktif tak kurang dari 60-an
juta, dan tiap hari lebih dari 80 juta pesan pendek hilir
mudik menembus batas-batas geografis yang dulu menjadi
kendala). Belum lagi sebaran informasi, data, dan berita
yang dikirim lewat jaringan surat-surat elektronik. Semua
perangkat teknologi komunikasi dan informasi itu mendukung
laju pertumbuhan budaya instan, serba cepat dan bergegas.
Sehingga orang-orang yang masih bersedia untuk “sabar”
nampak seperti kawan-kawan dinosaurus.
Masalahnya, dalam satu soal yang amat penting kita
ternyata tetap harus bersabar. Dalam soal yang vital ini
teknologi tak mampu berbuat banyak. Dan “soal” yang
penting tersebut adalah soal membentuk watak alias
karakter manusia. Berada di wilayah kebudayaan, watak dan
karakter—entah itu yang personal maupun komunal—acapkali
kita temukan bersitegang dengan teknologi. Sebagaimana
setiap kemajuan tarik menarik dengan apa yang disebut
tradisi, demikianlah teknologi yang tak sabaran itu
bertikai dengan proses pembangunan karakter yang
mempersyaratkan kesabaran sebagai salah satu komponen
wajibnya.
Membentuk watak tak bisa secara instan. Membangun karakter
tak mungkin dilakukan dalam sekejap mata. Sebab karakter
itu merupakan kumpulan dari habitus, semacam insting
perilaku yang sudah mendarah daging dan karenanya kenyal
tak gampang patah. Apa yang perlahan dibentuk oleh guru
kungfu dalam diri pemuda yang mau belajar kepadanya adalah
mendahulukan yang utama (first thing first). Yang utama
itu adalah watak, karakter, yaitu menjadi orang yang tekun
bekerja, gigih berjuang, sabar menanti saatnya. Di atas
watak yang demikian ini bisa dibangun kompetensi, keahlian,
keterampilan sebagai pendekar peremuk tulang. Keduanya,
baik watak maupun kompetensi yang menyertainya, berjalan
selaras. Ketekunan bekerja dan kesabaran berproses menjadi
jalan menuju lahirnya kompetensi sebagai pendekar peremuk
tulang. Sungguh luar biasa!
Tiba-tiba saya menemukan nasihat kawan saya itu. Ia
mungkin mengirimkan cerita tersebut agar saya mau belajar
untuk menjadi orang yang ”cepat sabar”, dan bukan orang
yang cepat marah. Apakah benar demikian? |
|
|
Tabik Mahardika!
***
Andrias Harefa, Penulis buku terlaris Menjadi Manusia
Pembelajar [Kompas, 2000] dan fasilitator
www.pembelajar.com |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|