|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Edukasi |
|
3 April 2007
Pekerjaan Orang Kaya Andrias Harefa |
|
|
|
Pilihlah pekerjaan yang Anda cintai, dan percayalah bahwa uang
akan datang. - Pandir Karya |
|
|
|
”Pekerjaan
seperti apa yang menarik hati orang kaya?,” tanya
saya kepada sejumlah kawan.
”Mana aku tahu,” kata Iin.
”Saya rasa mereka memilih bidang yang dikuasainya,”
jawab Toni.
”Umumnya mereka memilih untuk menjadi entrepreneur,”
kata Herlina.
”Jadi kontraktor akan lebih cepat kaya,” ujar Didi.
”Di lingkunganku hampir semua orang kaya adalah
pedagang,” jelas Diah.
”Pemilik usaha waralaba terkemuka,” kata Rudy.
”Investor yang memutar uangnya di pasar saham,”
gagas Yuyun.
”Pekerjaan yang sederhana tapi untungnya luar biasa,”
ujar Lilik.
”Mereka cenderung bekerja sendiri, entah sebagai
pemilik bisnis atau profesional yang mandiri seperti
dokter, pengacara, atau akuntan,” papar Dewi.
”Pekerjaan yang mendatangkan banyak uang,” kata
Indra. |
|
|
|
Apakah jenis
pekerjaan yang dipilih oleh orang-orang kaya di jagad raya
ini? Apakah ada pekerjaan tertentu yang kalau ditekuni
akan membuat kita pasti menjadi kaya raya? Seberapa besar
pengaruh pilihan jenis pekerjaan dalam membawa seseorang
menjadi orang kaya? Apakah karyawan juga benar-benar bisa
kaya seperti digembar-gemborkan sejumlah penulis di
Indonesia akhir-akhir ini?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat saya kembali
teringat kepada Handi Irawan. Pendiri sekaligus pemilik
Frontier Consulting Group ini pernah menyebutkan bahwa
dari 200.000 orang kaya Indonesia yang memiliki dana
likuid di perbankan sejumlah Rp 1 miliar ke atas, 50-55%
di antaranya adalah kaum pedagang. Sebagian lagi datang
dari kaum profesional seperti pengacara, dokter, dan
konsultan papan atas (8-10%), manajemen atau eksekutif
puncak perusahaan papan atas (9-10%), pemilik bisnis jasa
(5-7%), pemilik korporat raksasa, importir/eksportir
raksasa, dan investor kelas kakap, dan lain-lain. Dengan
kata lain, saluran terbesar yang membawa orang pada
kekayaan finansial adalah menjadi pedagang dan pemilik
bisnis.
Namun, sebaiknya kita tidak terburu-buru berpikir bahwa
untuk menjadi kaya, cara yang terbaik adalah menjadi
pedagang dan pemilik bisnis. Sebab bagaimana pun juga,
dengan pikiran yang tenang kita akan menyaksikan bahwa di
negeri ini ada lebih banyak pedagang dan pemilik bisnis (kecil-menengah)
yang tidak kaya ketimbang yang sungguh-sungguh kaya.
Karena itu kampanye provokatif dengan slogan seperti
”Kalau mau kaya jangan lama-lama jadi karyawan” harus
disikapi dengan kepala dingin. Paling tidak perlu diingat
bahwa jika data yang disebut Handi Irawan akurat, maka
sekitar satu dari sepuluh orang kaya di Indonesia
berstatus resmi sebagai karyawan (baca: manajer-eksekutif).
Dalam buku The Milionaire Mind, yang memuat studi yang
mendalam mengenai sosok, sepak terjang, gaya hidup, dan
segala sesuatu mengenai orang-orang kaya di Amerika
Serikat, Thomas J. Stanley menulis: ”Kategori pemilik
bisnis adalah kelompok paling besar dalam populasi
milyarder, tetapi sebagian besar pemilik bisnis di Amerika
bukan milyarder, dan mereka juga tidak akan menjadi
milyarder sepanjang hidupnya. Sudah jelas, memiliki bisnis
bukan jaminan absolut untuk menjadi kaya, tetapi pemilik
bisnis dapat cukup memperbesar kemungkinan menjadi
milyarder dengan pemilihan bisnis yang hati-hati” (cetak
miring penulis).
Jika dengan studi dan wawancara mendalam selama hampir 30
tahun, peneliti sekaliber Profesor Stanley saja tidak bisa
menunjukkan jenis pekerjaan yang pasti membawa seseorang
kepada kekayaan, maka mungkin persoalannya memang bukan
pada pilihan jenis pekerjaannya. Bagi Stanley, kisah
sukses para orang kaya Amerika hanya menunjukkan sesuatu
yang umumnya saja, yakni bahwa mereka—orang-orang kaya itu—memilih
pekerjaan dan bisnis yang mereka cintai habis-habisan.
Rasa cinta yang mendalam atas karier atau bisnis yang
mereka tekuni itu terutama disebabkan karena karier atau
bisnis tersebut memungkinkan aktualisasi potensi diri atau
bakat-bakat terbaik mereka secara sepenuhnya. Juga karena
mereka merasa bahwa karier atau bisnis yang mereka pilih
itu memberikan penghargaan yang tinggi kepada dirinya,
serta berkaitan dengan impian-impian yang sudah lama
mereka angankan (baca: impian masa kecil).
Faktor-faktor
lain yang sangat diperhatikan oleh orang-orang yang
menjadi kaya itu adalah peluang untuk menjadi mandiri dan
benar-benar mapan secara finansial, potensi keuntungan
yang besar atau penghasilan yang tinggi agar bisa
mengakumulasi harta, dan kebutuhan untuk menjadi bos bagi
diri sendiri (baca: tidak menjadi bawahan langsung dari
pihak manapun).
Jadi, jika kita telah menetapkan hati untuk mau mengejar
kekayaan, maka ada baiknya kita memilih karier atau
memulai sebuah bisnis yang memenuhi sejumlah kriteria
berikut:
- sesuai dengan bakat-bakat dan potensi terbaik diri kita;
- memberikan penghargaan yang tinggi kepada diri kita;
- berkaitan dengan cita-cita masa kecil yang
sungguh-sungguh kita inginkan;
- memberi peluang untuk kita menjadi mapan secara keuangan;
- memberikan potensi keuntungan atau penghasilan yang
besar;
- memungkinkan kita untuk bekerja tanpa banyak diperintah
orang lain; dan
- merupakan bidang kerja atau bisnis yang bisa kita cintai
habis-habisan.
Apakah tandanya bahwa bidang pekerjaan atau bisnis itu
kita cintai habis-habisan? Jimmy Carter, Presiden Amerika
Serikat ke-39, pernah mengatakan bahwa, ”Jika Anda harus
melakukan sebuah pekerjaan atau tugas dan Anda benar-benar
tertarik untuk melakukannya, merasa bersemangat dan
tertantang olehnya, maka Anda akan mencurahkan energi Anda
secara maksimum. Dalam semangat semacam itu semua susah
payah menjadi tidak terasa dan kegembiraan yang muncul
ketika Anda membayangkan yang Anda harapkan akan tercapai,
akan menghapus semua rasa cemas.” (Perhatikan kata-kata
yang saya beri cetak miring). Pekerjaan atau bisnis yang
bisa membuat kita merasakan semua kata yang dicetak
miring, pastilah merupakan sesuatu yang kita cintai.
Atau cara lain untuk mengetahuinya adalah dengan
mengajukan pertanyaan reflektif seperti: Apakah saya
bersedia bangun lebih pagi selama 10 tahun ke depan untuk
mengerjakan hal ini? Apakah saya bersedia menderita untuk
sementara waktu, agar usaha ini berkembang lebih baik?
Apakah saya menikmati saat-saat mengerjakan pekerjaan ini
dan bahkan seringkali menjadi lupa waktu? Apakah saya
memiliki keyakinan bahwa bila saya memilih usaha atau
pekerjaan ini, maka keberhasilan hanyalah soal waktu?
Apakah saya berangkat ke tempat kerja saya dengan hati
riang dan bersiul-siul? Semakin banyak jawaban YA atas
pertanyaan-pertanyaan tersebut, itulah pilihan karier atau
bisnis yang kita cintai. |
|
|
Tabik Mahardika!
***
Andrias Harefa, Penulis buku terlaris Menjadi Manusia
Pembelajar [Kompas, 2000] dan fasilitator
www.pembelajar.com |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|