|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Edukasi |
|
22 Pebruari 2007
Habitus Orang Kaya Andrias Harefa |
|
|
|
Manusia membangun habitus secara perlahan. Dan kemudian habitus itu membentuk nasibnya. – Pandir Karya |
|
|
|
”Apakah habitus
orang kaya yang paling umum?” tanya saya kepada
sejumlah kawan.
”Mereka super pelit,” kata Iin.
”Orang kaya yang saya kenal banyak yang sombong,”
jawab Toni.
”Selalu memperhitungkan segala sesuatunya dengan
cermat,” kata Herlina.
”Tidak suka berhutang,” ujar Didi.
”Suka menawar harga barang yang ingin dibelinya,”
jelas Diah.
”Mereka suka memamerkan kekayaannya,” kata Rudy.
”Cenderung serakah dan asosial,” gagas Yuyun.
”Hanya membeli barang-barang bermerek terkenal,”
ujar Lilik.
”Hidup hemat, cenderung pelit, dan tidak suka
menunjukkan kemampuan mereka yang sebenarnya,” papar
Dewi.
”Suka bangun siang dan tidur dini hari,” kata Indra. |
|
|
|
Habitus
(Latin) bisa berarti kebiasaan, tata pembawaan, atau
penampilan diri, yang telah menjadi insting perilaku yang
mendarah daging, semacam pembadanan dari kebiasaan kita
dalam rasa-merasa, memandang, mendekati, bertindak, atau
berinteraksi dalam kondisi suatu masyarakat… bersifat
spontan, tidak disadari pelakunya apakah itu terpuji atau
tercela, seperti orang tak sadar akan bau mulutnya. Ia
bisa menunjuk seseorang, tapi juga kelompok sosial,”
demikian antara lain penjelasan B. Herry-Priyono (Kompas,
31 Desember 2005).
Perhatikan bahwa habitus ”...telah menjadi insting
perilaku yang mendarah daging”, ”bersifat spontan”, ”tidak
disadari pelakunya”, dan bisa menunjuk kepada ”kelompok
sosial” tertentu. Nah, dengan pemahaman ini, mari kita
coba pikirkan, apa sajakah habitus kelompok sosial ekonomi
atas (baca: orang-orang kaya dan super kaya) yang telah
menjadi insting perilaku yang mendarah daging, bersifat
spontan, dan tidak disadari pelakunya (baca: bersifat
reflek)?
Dari studi literatur tentang kecenderungan perilaku
orang-orang kaya di Amerika dan Asia, serta dari
pengamatan pribadi mengenai perilaku sejumlah kawan yang
kaya di Indonesia, sekurang-kurangnya bisa disebutkan
beberapa habitus yang saling kait mengait satu sama lain
sebagai berikut.
Habitus pertama, dan boleh jadi ini yang terpenting,
mereka menikmati hidup dengan standar jauh di bawah
kemampuan mereka yang sebenarnya. Artinya, secara keuangan
mereka lebih kuat dari apa yang nampak oleh mata
lingkungannya. Mereka lebih kaya dari apa yang mungkin
dipikirkan orang lain di sekitar mereka (tetangganya).
Bila mereka sesungguhnya mampu membeli rumah seharga Rp 10
miliar, maka mereka senang memilih rumah seharga Rp 1
miliar. Jika mereka mampu membeli mobil seharga Rp 2
miliar, mereka senang memilih mobil seharga Rp 600 juta
saja. Sekalipun mereka lebih dari mampu membeli
barang-barang yang dipajang di butik-butik eksklusif atau
pertokoan mewah macam Sogo Departemen Store, mereka tidak
sungkan untuk berbelanja di pusat belanja grosir seperti
di ITC Mangga Dua.
Seorang kawan yang saya duga memiliki harta kekayaan
bersih lebih dari Rp 20 miliar dan tinggal di kawasan
Karawaci, Tangerang, pernah mengatakan kepada saya bahwa,
”Saya menganut pandangan bahwa apa pun yang kita gunakan
dan nampak oleh orang lain seharusnya tidak lebih dari
sepertiga kekuatan kita yang sesungguhnya. Dan kalau saya
bisa menggunakan sepertigapuluh atau bahkan sepertigaratus
dari kemampuan finansial saya untuk hidup nyaman, itu
sudah cukup. Saya tidak suka dikenal terutama sebagai
orang kaya. Saya lebih suka dikenal sebagai orang yang
berkarya”. Pernyataan ini dengan tegas menunjukkan bahwa
ia menikmati hidup di bawah kemampuan yang sesungguhnya.
Karena terbiasa hidup di bawah kemampuan yang sesungguhnya,
maka mereka—orang-orang kaya tersebut—selalu memastikan
bahwa biaya konsumsi mereka jauh di bawah penghasilan
rutin yang mereka peroleh. Itulah habitus kedua.
Jika mereka memperoleh penghasilan rutin (katakan saja) Rp
30-40 juta per bulan, maka mereka telah membiasakan diri
untuk hanya menggunakan sekitar Rp 10-15 juta per bulan
untuk memenuhi kebutuhan bulanan keluarganya. Dan ketika
penghasilan mereka meningkat menjadi Rp 60-70 juta per
bulan pun, mereka tidak merasa perlu untuk mengubah pola
konsumsi mereka. Dalam hal ini yang meningkat secara
langsung adalah jumlah tabungan untuk investasi, karena
biaya konsumsi relatif tetap.
Habitus yang ketiga adalah kebiasaan menyisihkan
dana untuk tabungan dan investasi dulu, dan menyisakan
yang lainnya untuk konsumsi rutin setiap bulannya. Jadi
bukannya menggunakan penghasilannya untuk konsumsi dan
kalau akhir bulan masih tersisa baru ditabung dan
diinvestasikan. Dengan kata lain, mereka terbiasa untuk
mencurahkan cukup banyak waktu untuk memikirkan soal ke
mana dan bagaimana uang mereka ditabung dan diinvestasikan
agar berkembang lebih maksimal. Mereka tidak memberikan
banyak waktu untuk memikirkan cara-cara menggunakan uang
secara konsumtif, untuk berbelanja berlama-lama di
pusat-pusat pembelanjaan. Sebaliknya, mereka memberikan
banyak waktu untuk memikirkan hal-hal yang membuat harta
mereka menjadi makin produktif, tumbuh dan berkembang,
sehingga mereka menjadi mapan secara keuangan.
Setiap kali saya mengingat sejumlah perbincangan ketika
berkesempatan mewawancarai atau sekadar mendengarkan
nasihat orang-orang seperti Mochtar Ryadi, Ir. Ciputra,
Bob Sadino, Jonathan L. Parapak, dan Soen Siregar, saya
merasakan bagaimana ketiga habitus yang disebut di atas
telah terpatri menjadi bagian dari tarikan nafas
orang-orang tersebut. Tentu saja masih banyak lagi habitus
orang-orang yang mapan secara finansial itu. Namun tiga
yang telah dipaparkan di atas adalah habitus yang paling
umum.
Karena itu saya bisa memastikan bahwa kawan-kawan saya
yang lebih suka menampilkan gaya hidup seperti orang kaya,
membiasakan diri untuk berbelanja lebih dulu dan menabung
belakangan, serta senang menghabiskan banyak waktu untuk
memikirkan barang-barang konsumsi (gonta-ganti mobil baru
tiap 1-2 tahun sekali, mengenakan pakaian-pakaian bermerek
yang dibeli secara kredit, makan minum di tempat-tempat
mahal, dan sebagainya), pastilah tidak akan pernah menjadi
orang yang mapan secara keuangan. Orang muda yang suka
foya-foya, hampir pasti akan hidup susah di usia senja.
Sepasti matahari tenggelam di ufuk barat.
Kalau tak percaya, silakan mencoba dan rasakan akibatnya! |
|
|
Tabik Mahardika!
***
Andrias Harefa, Penulis buku terlaris Menjadi Manusia
Pembelajar [Kompas, 2000] dan fasilitator
www.pembelajar.com |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|