|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Edukasi |
|
17 Nopember 2006
Miskin tapi bahagia Andrias Harefa |
|
|
|
Orang termiskin
yang aku ketahui adalah orang yang tidak mempunyai
apa-apa kecuali uang. (John D. Rockefeller JR) |
|
|
|
|
Dalam rubrik
Kilasan Kawat Sedunia, Harian KOMPAS pernah memuat
ringkasan hasil survei yang menarik perhatian saya. Ia
menceritakan hubungan antara uang—indikator utama yang
sering dipergunakan untuk mengukur seberapa kaya atau
seberapa miskin seorang anak manusia itu—dengan
kebahagiaan. Survei yang unik dan jarang dilakukan ini—setahu
saya belum pernah ada survei semacam ini di Indonesia—mungkin
dapat memberi pelajaran tertentu pada kita. Berikut
petikannya: |
|
|
Pemeo ”uang tak
bisa membeli kebahagiaan” ternyata memang benar.
Sebuah survei di Australia menunjukkan, kaum kelas
menengah di Sydney masuk kategori warga yang paling
menderita di Australia. Sebaliknya, tingkat
kebahagiaan warga yang hidup di beberapa daerah
pemukiman paling miskin malah lebih tinggi.
”Pengaruh uang pada kebahagiaan nyatanya hanya
terasa pada golongan yang luar biasa kaya,” kata Liz
Eckerman, peneliti dari Universitas Deakin, seperti
dikutip kantor berita AFP, Senin (13/2).
”Uang tak bisa membeli kebahagiaan. Ini jelas
terbukti dalam jajak pendapat yang kami lakukan pada
23.000 warga yang sudah kami wawancarai,” kata
Eckerman kepada Radio Australia, ABC. |
|
|
|
Temuan-temuan
yang disusun sejak tahun 2001 menunjukkan bahwa di
Australia, negara di mana tak ada kesenjangan kemakmuran
yang ekstrem, mereka yang hidup paling bahagia ada di
lapisan bawah. Mereka yang happy juga lebih banyak berada
dalam kategori usia 55 tahun atau lebih, lebih banyak di
antara kaum perempuan, dan kebanyakan pula ada di antara
mereka yang menikah alias yang tak men-jomblo.
Survei ditujukan untuk mengungkap kepuasan seseorang
terkait dengan berbagai hal, seperti standar hidup,
kesehatan, pencapaian dalam hidup, dan keamanan. Di antara
150 daerah sasaran survei, salah satu daerah termiskin di
Australia, yakni Wide Bay di pedalaman Queensland,
penduduknya ternyata termasuk yang paling bahagia di
negeri Kangguru itu.
Terus terang, saya tidak tahu seberapa banyak uang yang
harus dimiliki seseorang untuk bisa masuk dalam kategori
kelas menengah di Sydney. Juga tidak terlalu jelas bagi
saya berapa jumlah uang yang dimiliki oleh rata-rata
penduduk Wide Bay di pedalaman Queensland, sehingga mereka
disebut daerah termiskin di negara tersebut. Lalu, berapa
pula harta yang dimiliki seseorang agar bisa disebut
Eckerman sebagai ”luar biasa kaya”? Datanya tidak
disebutkan oleh KOMPAS.
Namun, terlepas dari minimnya data yang bisa kita peroleh,
tetaplah menarik ketika Eckerman, peneliti itu, membuat
kesimpulan bahwa yang hidup paling bahagia di Australia
adalah penduduk di lapisan bawah (miskin); kebanyakan
berusia 55 tahun atau lebih; kebanyakan perempuan; dan
kebanyakan menikah. Mereka inilah yang paling merasa puas
dengan standar hidup mereka, puas dengan kesehatan mereka,
puas dengan pencapaian dalam hidup mereka, dan puas dengan
keamanan di lingkungannya. Mereka inilah orang-orang yang
miskin, tetapi kaya. Miskin dalam harta benda, tetapi kaya
dalam kepuasan hidup. Sungguh sebuah realitas yang
memesona.
Ada beberapa
pelajaran yang saya pulung dari survei di atas.
Pertama,
saya menduga penelitian tersebut menempatkan rasa puas—atas
standar hidup; atas kesehatan; atas pencapaian dalam hidup;
dan atas keamanan di lingkungannya—sebagai indikator utama
kebahagiaan. Dan jika hal itu kita gunakan untuk bercermin,
maka kita bisa mencoba menjawab empat pertanyaan berikut:
- Apakah saya puas dengan standar hidup kita sejauh ini?
- Apakah saya puas dengan kesehatan saya sejauh ini?
- Apakah saya puas dengan apa yang sudah saya capai dalam
hidup sejauh ini?
- Apakah saya puas dengan keamanan di lingkungan saya
sejauh ini?
Bisakah kita menjawab YA dengan mantap untuk keempat
pertanyaan sederhana semacam itu? Atau mungkin jawaban
kita perlu diberi bobot tertentu, katakanlah untuk tiap
jawaban menggunakan skala 1-5. Angka 1 berarti TIDAK PUAS
SAMA SEKALI, angka 2 berarti TIDAK PUAS; angka 3 berarti
CUKUP PUAS; angka 4 berarti PUAS; dan angka 5 berarti
SANGAT PUAS. Sehingga, total nilai 12 berarti CUKUP PUAS
dan total nilai 20 berarti SANGAT PUAS. Mereka yang bisa
mengumpulkan nilai mendekati angka 20-lah yang pantas kita
anggap bahagia. Nah, dengan demikian kita bisa mengukur
seberapa bahagia diri kita masing-masing, setidaknya untuk
saat ini. Lalu kita juga bisa menyadari pada bagian mana
dari keempat hal tersebut yang kita rasa paling meresahkan
dan mengurangi kebahagiaan hidup kita sejauh ini. Dari
sini kita kemudian bisa memikirkan cara-cara yang bisa
dilakukan untuk meningkatkan kebahagiaan kita.
Pelajaran kedua yang saya petik adalah soal hubungan
antara uang/kekayaan dengan kebahagiaan. Sudah lama saya
mengetahui bahwa uang dan kebahagiaan adalah dua hal yang
tidak selalu berkaitan. Setidaknya saya mengenal sejumlah
kawan yang punya uang miliaran rupiah dan kadang mengaku
bahwa hidupnya tidak bahagia. Sementara itu sejumlah kawan
lain yang uangnya tidak sampai miliaran tak pernah saya
dengar mengeluhkan soal apakah dirinya bahagia atau tidak.
Jadi saya sering bingung jika melihat sebagian kawan
berjuang mati-matian untuk bisa kaya karena percaya kalau
kekayaan bisa membuat mereka pasti bahagia. Sementara yang
sudah jauh lebih kaya, mengaku tidak bahagia.
Nah, atas kebingungan inilah survei Eckerman tadi bisa
memberi sedikit penjelasan. Hanya pada orang atau golongan
yang ”luar biasa kaya”, ada hubungan antara uang mereka
dengan kebahagiaan mereka. Seakan-akan ada semacam ambang
batas kekayaan yang bisa membuat kekayaan itu berdampak
langsung pada kebahagiaan. Ambang batas itu tidak disebut,
mungkin satu juta dolar Amerika, atau jumlah yang lebih
besar.
Pelajaran ketiga, dan buat saya paling mengesankan, adalah
kesimpulan survei tersebut yang menunjuk sebuah daerah
termiskin di pedalaman Queensland memiliki penduduk yang
paling bahagia. Kesimpulan ini sungguh membesarkan hati.
Sebab ini membuka kemungkinan bahwa kawan-kawan saya di
pelosok-pelosok yang sulit terjangkau sarana transportasi
modern—seperti di Papua, misalnya—amat boleh jadi adalah
orang-orang yang paling bahagia hidupnya.
Nah, apakah Anda kaya atau Anda bahagia? |
|
|
Tabik Mahardika!
***
Andrias Harefa, Penulis buku terlaris Menjadi Manusia
Pembelajar [Kompas, 2000] dan fasilitator
www.pembelajar.com |
|
|
|
Tidak ada
kemiskinan yang lebih parah selain perasaan
disingkirkan dan tidak diinginkan. (Bunda Teresa) |
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|